Banyak Melakukan Kesalahan

1368 Kata
Ezra kaget ketika mendapati Jacky sedang duduk di ruang tamu rumah Alika. Direktur perusahaan jasa detektif tempatnya bekerja itu tidak kalah kaget ketika mendapati dirinya berdiri di ambang pintu. Untuk menyembunyikan rasa kaget, Ezra memencet bel di dekat pintu. "Masuk saja, Ez!" suruh Jacky. "Kamu belum dikasih jatah cokelat sama Alika ya?" Ezra tersenyum saja menanggapi gurauan Jacky. Ia duduk di sebelah direkturnya itu. Ezra melirik jam dinding. Ia menjadi gelisah karena meninggalkan Pak Maman dan mobil Alika di dekat pos polisi. "Saya mau bertemu Kak Alika, Pak." "Alika sedang periksa ke dokter, diantar sama ibunya," beritahu Jacky. Kegelisahan Ezra semakin menjadi. Jika ia tidak berhasil membawa STNK, urusannya bisa runyam. Ia akan kena tilang polisi. "Sudah lama perginya, Pak?" Ezra mulai berkeringat. Ia sangat gelisah. "Baru lima menitan," jawab Jacky. Ezra menelan ludah. Petugas polisi sedang menunggunya, sedangkan ia belum tahu bagaimana caranya mendapatkan STNK mobil Alika. Gadis itu sedang periksa ke dokter. Nomor ponselnya juga sedang tidak aktif. "Wajah kamu pucat, Ez!" Jacky menatap wajah Ezra. "Kamu baik-baik saja?" Ezra mengangguk. "Iya, Pak." "Saya kan sudah menyuruhmu buat istirahat. Kenapa malah ke sini?" gugat Jacky. "Kamu nggak usah mencemaskan Alika. Ia hanya kelelahan saja." Ezra tersenyum dipaksakan sambil melirik jam dinding. Waktu terus berjalan. Pak Maman dan mobil Alika masih berada di pos polisi. Jika terlalu lama berada di sini, ia merasa tidak enak hati kepada Pak Maman. Meskipun Ezra tahu nomor ponsel Alika sedang tidak aktif, ia tetap saja meneleponnya. Itu ia lakukan bukan karena mengharap ada keajaiban, tapi untuk mengalihkan perasaan gelisah yang semakin sulit disembunyikan. Jacky melirik layar ponsel Ezra. "Ponsel Alika nggak aktif. Sudah, tenang saja. Alika akan baik-baik saja." Ezra tersenyum dipaksakan. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. "Saya kok nggak melihat mobil Alika ya?" ujar Jacky. "Aku pikir mobil itu dibawa kamu." Wajah Ezra pucat. Ia tidak mungkin memberitahu Jacky kalau mobil Alika sekarang berada di pos polisi. Ia baru bisa membawanya pulang jika berhasil menunjukkan STNK kepada petugas polisi. "Tadi Alika dan ibunya pakai taksi online ke dokternya," beritahu Jacky. Kegelisahan Ezra mencapai puncak. Ia serba salah. Jika memberitahu Jacky masalah yang sedang dihadapinya, maka ia akan berada dalam masalah. Sang direktur akan tahu kalau ia bekerja tanpa pendampingan Alika. Itu pelanggaran serius. Sedangkan jika ia diam saja, untuk sementara ini memang aman, tetapi jika pada akhirnya ketahuan, maka masalah yang dihadapinya akan semakin berat. Ponsel Ezra berdering. Ia merogoh saku celana, berharap itu panggilan telepon dari Alika. Sayangnya ketika melihat layar, ternyata Pak Maman yang menghubunginya. Ezra melirik Jacky. "Maaf, saya keluar sebentar buat menerima telepon." "Iya." Ezra ke teras. Ia menjawab panggilan telepon Pak Maman. "Mas Ezra masih lama nggak?" tanya Pak Maman gelisah. Mata Ezra mengawasi ke rung tamu. Ia berbicara dengan suara pelan. "Maaf, Pak, saya belum ketemu Alika. Ia lagi periksa ke dokter. Nomor ponselnya juga sedang nggak aktif." "Aduh!" "Saya juga bingung nih, Pak," ujar Ezra. "Masalahnya petugasnya nanyain terus, Mas. Mereka sebentar lagi selesai operasi." Ezra mendengus tertahan. Kalau ia menunggu sampai Alika pulang pasti masih sangat lama. "Terus gimana nih, Mas?" Pak Maman semakin gelisah. Hari semakin sore. Ia harus segera pulang ke rumah. Ezra kehabisan akal. Ia merasa tidak enak hati meninggalkan Pak Maman terlalu lama di pos polisi. "Ya sudah, Pak. Saya balik ke sana saja." "Tapi nanti kena tilang, Mas." "Nggak papa, Pak. Itu urusan nanti," ujar Ezra parau dengan nada pasrah. "Ya sudah, Mas, hati-hati." Panggilan telepon berakhir. Ezra memesan ojek online. Dengan langkah gontai, ia kembali ke ruang tamu. Ezra berdiri di depan Jacky. "Saya pamit dulu ya, Pak?" Jacky mengerjap. "Saya juga pengen pulang tapi sudah terlanjur bilang kepada ibunya Alika untuk menjaga rumah, jadi saya harus menunggu mereka pulang." "Bapak dikabari kalau Alika sakit?" tanya Ezra. "Enggak, saya dalam perjalanan pulang dan rencananya mau mampir sebentar. Sampai di sini ternyata Alika sedang sakit." Ezra mengangguk-angguk. "Begitu ya, Pak? Mmhh, kalau begitu saya pamit pulang ya, Pak?" Jacky mengangguk. "Hati-hati di jalan." Ezra mengerjap. Ia segera meninggalkan ruang tamu. Ia sengaja menunggui pengemudi ojek online di pinggir jalan. Kalau berada dekat Jacky, ia khawatir ditanyai macam-macam. Empat menit kemudian ojek online menjemput Ezra. Ia meminta kepada pengemudinya untuk mempercepat kendaraannya. Dalam perjalanan, perasaan Ezra kacau. Ia gagal mengambil STNK. Itu berarti ia harus siap mendapatkan tilang. Namun, ia menghibur diri sendiri, setidaknya Jacky tidak mengetahui kalau dirinya sedang mendapatkan masalah. Jika mengetahuinya, pasti direktur itu akan bertanya macam-macam. Ujung-ujungnya ia akan ketahuan melakukan penyelidikan sendirian, tanpa didampingi Alika. Ojek online terus melesat kencang. Ezra memejamkan mata. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri yang selalu ceroboh sejak didaulat sebagai asisten detektif. Kecerobohan pertama yang Ezra lakukan cukup memalukan. Ia melakukan kesalahan prosedur mendasar dalam mengemudi. Alika sempat menegurnya waktu itu dan mengingatkannya bahwa kesalahan yang ia lakukan bisa berakibat fatal. Kesalahan kedua Ezra memang tidak begitu fatal, tapi sebagai seorang asisten detektif, tidak seharusnya mengajak orang lain dalam penyelidikannya. Ia mengajak Nadia untuk menguji analisanya. Celakanya, ia mengulangi kesalahan yang sama: ia mengajak Pak Maman ikut dalam penyelidikan. Kesalahan ketiga adalah yang paling memalukan. Ia dipinjami mobil tapi tidak menanyakan STNK-nya. Kesalahan itu berpotensi menimbulkan masalah besar. Beruntung tadi Jacky tidak menanyakan lebih lanjut perihal mobil Alika. Angin bertiup kencang di sore hari ini. Ezra terus larut dalam pikirannya. Sementara ojek online masih melesat di jalan raya dengan kecepatan tinggi. Ezra merapatkan kerah bajunya. Tamparan angin membuat ia merasa kedinginan. Ia baru ingat kalau tadi siang belum makan. Selama perjalanan, Ezra tidak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri. Baru beberapa hari bertugas menjadi asisten detektif saja sudah melakukan banyak kesalahan mendasar. Jika ia terus seperti itu, maka Alika dan Jacky kemungkinan besar tidak akan mempercayainya lagi, padahal menjadi asisten detektif adalah kesempatan emas baginya untuk membuktikan bahwa dirinya layak menjadi detektif. "Sudah sampai titik tujuan, sesuai aplikasi, Mas," beritahu pengemudi ojol. Ezra membuka mata. Ia telah sampai di dekat pos polisi. Wajah Pak Maman yang tadi mendung, seketika cerah melihat kedatangan Ezra. "Petugasnya masih di pos, Pak?" tanya Ezra. "Masih, Mas." Ezra berjalan menuju pos polisi. Dengan perasaan kesal pada diri sendiri ia harus mengatakan pada petugas bahwa dirinya tidak bisa menunjukkan STNK. Dengan berat hati, ia harus siap menerima jika nanti mendapatkan surat tilang. Itu resiko yang harus ia tanggung karena telah melakukan kesalahan. Ponsel Ezra berdering. Alika menelepo. Ezra merasa senang bukan main. "Halo!" sapa Ezra. "Ez, ini Alika. Maaf tadi aku sengaja mematikannya soalnya diteror terus." Ezra cemas. "Diteror?" "Iya, nanti aku ceritakan. Aku masih antre di klinik," ujar Alika. "Kamu menelepon ada apa?" "Kak Alika, tadi aku ke rumahmu, tapi kakak sedang periksa ke dokter. Bagaimana keadaan kakak?" "Ya beginilah, tapi nggak usah khawatir, aku cuman kecapean saja," ujar Alika. "Ada apa kamu ke rumahku?" "Mau menanyakan STNK." "What?" Alika yang tadi bersuara lemah kini kembali kepada mode aslinya. "Kenapa baru sekarang menanyakannya?" "Maaf, Kak." Ezra merasa bersalah, meskipun sebenarnya dalam hati kecil ia juga menyalahkan Alika karena meminjamkan mobil kepadanya tanpa memberikan STNK. "Kamu kena razia polisi?" tebak Alika, cemas. "Iya," jawab Ezra parau. Alika mendengus. "Kenapa sih kamu nggak pernah fokus? Kamu sadar nggak kalau sejak awal kamu banyak melakukan kesalahan?" Ezra menelan ludah. "Iya, Kak, saya minta maaf." "Terus sekarang kamu kena tilang?" "Belum, Kak. Petugasnya meminta aku mengambil STNK. Makanya tadi aku ke rumah kakak." "Owalah!" Alika merasa lega karena Ezra tidak kena tilang. "Kamu buka laci dasbor. Di sana ada dompet gantungan kunci. Ada STNK di dalamnya. Gantungan itu putus, jadi aku taruh di laci dasbor." Ezra menarik napas lega. Ia tersenyum senang. "Alhamdulillah!" "Kamu cari gih!" "Iya, Kak." Ezra membalikkan badan. Ia menuju mobil. Panggilan telepon masih berlangsung. "Gimana, ada?" tanya Alika. "Sebentar, Kak!" Ezra membuka pintu mobil. Ia masuk dari pintu depan kiri. Dibukanya laci dan memang benar ada dompet gantungan kunci. "Dompetnya ada, Kak." "Buka!" Ezra menjepit ponsel ke telinga dan bahunya. Kedua tangan ia gunakan untuk membuka dompet. Ia merasa lega ketika mendapati STNK di sana. "STNK-nya ada, Kak!" "Ya sudah, cepet tunjukin sama petugasnya," suruh Alika. "Setelah itu kamu balikin ke rumahku. Parkirkan mobilnya di garasi." "Baik, Kak!" Panggilan telepon diakhiri Alika. Ezra segera mengambil STNK, kemudian menuju pos polisi. Hari sudah sangat sore. Ezra memutuskan untuk meneruskan penelusuran rute besok pagi. Setelah menunjukkan STNK kepada petugas, ia harus mengantar Pak Maman pulang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN