Geram

1261 Kata
Jacky mencari kontak Pak Maman. Setelah menemukannya, ia menarik napas dalam-dalam. Jempolnya menggantung di atas layar, hanya berjarak satu sentimeter saja. Sekali jempol itu menyentuh ikon bergambar telepon, panggilan akan langsung terhubung ke Pak Maman. "Huft!" Jacky menjauhkan jempol dari layar ponsel. Keraguan kembali menyergapnya. Ia tidak sampai hati untuk mengabarkan berita kurang mengenakan ini kepada sahabat dekatnya ketika sekolah dulu itu. Jacky dan Pak Maman telah lama terpisah sejak dua puluh dua tahun lalu. Mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Jacky meneruskan pendidikan hingga S2, sambil merintis usaha jasa detektif. Sedangkan Pak Maman sejak masih sekolah sudah giat membantu orang tuanya di sawah. Suatu saat di sebuah reuni sekolah, Jacky bertemu dengan Pak Maman yang wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Ia merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan sahabat dekatnya dulu, namun kebahagiaannya tidak berlangusng lama ketika mendengar kalau anak gadis semata wayang Pak Maman yang bernama Septi, hilang. Sebagai sahabat yang memiliki kantor jasa detektif swasta, Jacky terpanggil untuk membantu menemukan anak dari sahabatnya tersebut. Ia tahu kondisi perekonomian Pak Maman sedang susah, sehingga semua biaya penyelidikan akan ia tanggung sendiri semuanya. Sayangnya, niat dan semangat Jacky terkendala dengan keadaan semua detektifnya sedang menangani kasus. Beruntung, Alika menyanggupi untuk menangani kasus tersebut. Sejak awal, Jacky sadar benar kalau Alika sangat sibuk menangani dua kasus lain sekaligus. Itu membuatnya khawatir, Alika akan kelelahan. Apa yang ia khawatirkan akhirnya terjadi. Baru tiga hari menerima kasus itu, Alika jatuh sakit. Berdasarkan pemeriksaan medis, Alika mengalami kelelahan. Dokter menyarankan agar detektif itu istirahat total minimal tiga hari. Itu membuat Jacky harus menunda kelanjutan penyelidikan kasus hilangnya Septi. Jacky tahu, sejak ia menawarkan bantuan untuk menyelidiki kasus hilangnya Septi, Pak Maman sangat berharap kepadanya. Sedangkan kini situasinya Alika harus istirahat total selama dua hari. Setelah itu Jacky harus mengurangi beban detektif andalannya itu. Berdasarkan progres, Alika hampir menyelesaikan kasus perselingkuhan. Selain itu Alika juga sudah berminggu-minggu menangani kasus teror. Dua kasus itu tidak bisa dilimpahkan ke detektif lain. Terpaksa Jacky harus menunda kasus hilangnya Septi sampai Alika menyelesaikan salah satu dari dua kasus tersebut. Jacky harus menyampaikan perihal itu kepada Pak Maman, namun ia tidak sampai hati membuat sahabatnya kecewa. Jacky memelototi layar. Bagaimanapun juga ia harus menyampaikan itu kepada Pak Maman. Sehingga ia menguatkan hati untuk menggerakkan jempol menyentuh ikon telepon. Panggilan berdering. Jika Jacky membatalkannya, Pak Maman tetap saja akan menelepon balik. Maka ia membiarkannya sampai panggilannya terjawab. "Halo, Pak Jack!" sapa Pak Maman. Suara Pak Maman terdengar antusias. Rasa tidak enak hati Jacky menjadi semakin besar. "Halo, Pak Maman." Jacky berusaha agar nada suaranya terdengar wajar. "Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." "Wah, semoga itu berita baik," harap Pak Maman. Jacky menahan napas. "Sayangnya apa yang ingin aku sampaikan barangkali akan membuat Pak Maman kecewa." Pak Maman terdiam sejenak. "Seperti yang Pak Maman ketahui, kasus hilangnya Septi ditangani Alika. Berita kurang baiknya, sekarang Alika sedang sakit. Dokter menyarankan agar beliau beristirahat total minimal selama dua hari ke depan." "Iya, lalu?" Pak Maman bisa menduga ke mana arah pembicaraan Jacky. "Terus-terang, selain menangani kasus hilangnya Septi, Alika juga sebelumnya sedang menangani dua kasus lain." Jacky menarik napas dalam-dalam. "Alika kelelahan karena kurang beristirahat. Saya terpaksa harus mengurangi beban beliau." Pak Maman menunggu kelanjutan ucapan Jacky sambil menebak kemungkinan buruk, kasus hilanganya Septi yang akan dikorbankan. "Jika bisa memilih, tentu aku ingin kasus hilangnya Septi menjadi prioritas Alika. Masalahnya adalah aku tidak bisa memilih, Pak." Jacky memejamkan mata, membayangkan betapa akan kecewanya Pak Maman nanti. "Satu kasus sebentar lagi selesai. Satu kasus lainnya sudah berminggu-minggu belum kunjung terpecahkan. Klien tersebut tidak mau, kalau kami menunda kasus itu. Jadi, dengan menyesal, aku harus menunda kasus hilangnya Septi sampai salah satu dari dua kasus itu selesai." Pak Maman mendesah pelan. "Aku paham, Pak Jack. Nggak usah merasa menyesal. Jika itu yang terbaik, aku akan menerimanya." "Terima kasih atas kebijaksanaan Pak Maman," ucap Jacky merasa lega sudah berhasil menyampaikannya, sekaligus merasa bersalah. Pak Maman teringat Ezra. "Tapi bukannya Alika punya asisten ya, Pak?" "Iya, benar, tapi ia hanya asisten sementara," ujar Jacky. "Namanya Ezra, aslinya office boy, tapi karena cerdas dan biasa membantu Alika, maka aku menjadikannya asisten Alika khusus untuk kasus hilangnya Septi. Ia tidak bisa menangani kasus itu sendirian karena bukan detektif." "Tapi Ezra bisa jalan sendiri kok, Pak!" sergah Pak Maman. Jacky mengernyit kaget. "Maksud bapak?" "Ezra berhasil memecahkan pesan berisi kode-kode yang dikirimkan Septi kepada Nadia, keponakanku. Kode-kode itu ternyata sebuah rute perjalanan dari rumahku hingga ke sebuah tempat," jelas Pak Maman. "Saya malah ikut dalam penelusuran tersebut. Sayangnya baru separuh jalan, kami kena razia. Sehingga penelusuran ditunda dulu." Jacky terhenyak mendengar pengakuan Pak Maman. Napasnya memburu menahan marah karena Ezra telah berani mengabaikan peringatannya. "Pak Maman serius?" "Iya." "Ezra melakukan itu tanpa pendampingan Alika?" "Iya, Pak." "Atau mungkin bapak tahu kalau Ezra melakukan itu atas pengarahan Alika?" "Mmhh, selama aku ikut Mas Ezra, aku nggak pernah tahu kalau ia berkomunikasi sama Mbak Alika," jelas Pak Maman. "Tapi bukannya itu hal bagus ya, Pak?" Jacky mendengus. Ia tidak mau membantah Pak Maman karena ini ranah internal. "Jika Mas Ezra bisa melakukannya sendiri, aku pikir ia punya potensi untuk melanjutkan kasus itu sendirian," argumen Pak Maman. "Maaf, itu hanya pendapatku saja yang nggak paham soal penyelidikan." Jacky memaklumi, Pak Maman tidak paham soal resiko penyelidikan, sehingga ia memilih untuk tidak merespon pendapat sahabatnya itu. "Jadi kapan Pak Maman ikut Ezra?" selidik Jacky. "Tadi siang, menjelang sore." "Kalian sampai ke mana?" "Sampai di sebuah pos polisi. Di sana ada razia, jadi kami berhenti." "Razia lalu lintas?" tanya Jacky. "Iya." "Kena tilang?" "Hampir." Pak Maman terkekeh. Ia tidak menyadari kalau pengakuannya sedang membuat Jacky marah kepada Ezra. "Maksudnya hampir itu gimana?" Kekehan Pak Maman semakin menjadi. Ia menganggap kejadian kemarin sore adalah sebagai sesuatu yang lucu. "Mas Ezra nggak bisa menunjukkan STNK kepada polisi karena lupa nggak membawanya. Untungnya polisi bijaksana, ia hanya disuruh mengambilnya. Lalu Mas Ezra ke rumah Mbak Alika untuk mengambil STNK, ternyata Mbak Alika sedang periksa ke dokter dan susah dihubungi. Mau nggak mau Mas Ezra balik ke pos dan siap menerima tilang." Jacky semakin geram kepada Ezra karena mengendarai mobil tanpa membawa STNK. "Terus?" "Untungnya Mbak Alika menelepon dan ngasih tahu kalau STNK itu ada di dalam laci dasbor mobil. Akhirnya Mas Ezra lolos dari tilang. Hehehe." Sekarang Jacky baru tahu maksud kedatangan Ezra ke rumah Alika kemarin sore yang ternyata untuk mengambil STNK. Yang membuatnya marah adalah Ezra tidak memberitahunya ketika ia menanyakan mobil Alika. Ia yakin anak itu takut kepadanya, sehingga diam saja. Jacky menduga Ezra tidak berani mengatakan kalau mobil Alika ada padanya untuk menghindari agar dirinya tidak tahu kalau anak itu sedang melakukan penyelidikan tanpa pendampingan Alika. Sungguh, kemarahan Jacky mencapai ubun-ubun karena Ezra berani mengabaikan peringatannya. "Jadi gimana nih, Pak Jack. Apakah kasus hilangnya anakku bisa dilanjutkan atau menunggu sampai Mbak Alika siap?" tanya Pak Maman memastikan. Jacky menarik napas dalam, sekadar cara untuk mengendalikan emosi kepada Ezra. "Maaf, Pak Maman, terlalu beresiko kalau kasus itu dilanjutkan Ezra tanpa pendampingan Alika. Ia hanya asisten sementara." "Baiklah, aku memahami situasinya." Pak Maman pasrah. "Sekali lagi aku minta maaf, Pak Maman. Nanti aku akan carikan solusi gimana caranya agar kasus itu tetap berlanjut. Intinya aku tetap berusaha agar Septi bisa diketemukan secepatnya." "Iya, Pak Jack, aku percaya sama kamu." "Hanya itu yang ingin aku sampaikan. Kalau ada perkembangan terbaru nanti kukabari, Pak." "Iya, terima kasih, Pak Jack." Panggilan telepon berakhir. Jacky meremas ponselnya, geram kepada Ezra. Jacky menelepon Ezra. Ia harus bersikap tegas kepada anak itu "Halo, Pak!" sapa Ezra. "Kamu temui saya jam sepuluh nanti di ruangan saya!" "Baik, Pak." Jacky mengakhiri panggilan telepon sambil menahan emosi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN