Terpaksa Kasus Ditunda

1586 Kata
Telepon dari Pak Jacky?" tebak Alika. Ezra mengangguk. Ia melirik jam dinding. Ia masih punya waktu lebih dari dua jam untuk menemui Jacky. "Disuruh apa?" tanya Alika. "Jam sepuluh nanti aku disuruh menemui Pak Jacky di ruangannya." Firasat Alika tidak enak. "Ada apa suruh menemuinya?" Ezra menggeleng. "Nggak tahu, Kak. Aku nggak tanya." Alika menduga Jacky akan menunda kelanjutan kasus hilangnya Septi. Jika dugaannya benar, itu akan menjadi kabar baik. Sejak awal ia memang keberatan untuk menerima kasus itu. Ia juga menduga, Jacky akan mengembalikan Ezra ke posisi sebagai office boy. Alika menatap Ezra penuh simpati. Satu sisi ia memang merasa senang seandainya kasus hilangnya Septi nanti akan ditunda, namun sisi hatinya yang lain merasa iba kepada Ezra. Anak itu pasti akan kecewa karena harus kembali menjadi office boy. "Kenapa menatapku seperti itu, Kak?" Ezra merasa risih. Alika melotot. "Jangan kepedean! Aku cuman kasihan sama kamu kalau nanti kasus hilangnya Septi akan ditunda. Itu berarti kamu akan kembali menjadi office boy." Ezra mematung. Dalam hati ia berdoa agar kasus itu tetap dilanjutkan dan dirinya tetap menjadi asisten Alika. "Kemarin Pak Jacky bilang akan mengurangi bebanku. Aku hanya akan menangani dua kasus saja. Satu kasus lainnya akan dilanjutian kalau salah satu dari dua kasus itu selesai." Ezra menunduk cemas kalau kasus hilangnya Septi yang akan ditunda. "Ada kemungkinan kamu dipanggil karena akan dikembalikan ke posisi semula sebagai office boy," ucap Alika tanpa bermaksud menakut-nakuti Ezra. Ia hanya ingin agar Ezra siap menerima kenyataan. "Kalau bener begitu, aku bisa apa?" ujar Ezra pasrah. Alika menepuk bahu Ezra. "Semoga saja bukan kasus itu yang akan ditunda." "Aamiin!" ucap Ezra. "Seperti yang kamu tahu, aku sedang menangani tiga kasus sekaligus. Pertama kasus perselingkuhan yang sebenarnya sudah terpecahkan, hanya saja aku harus mendampingi masa-masa sulit klien-ku. Nggak mungkin kasus itu yang ditunda," ujar Alika. "Kasus kedua adalah teror misterius yang dialami klien-ku. Ini sangat berat karena sekarang aku ikut mendapatkan teror. Aku nggak bisa menunda kasus ini karena klien-ku sudah banyak keluar biaya." "Jadi kasus hilangnya Septi yang harus dikorbankan?" tebak Ezra gelisah. "Belum tentu juga sih, tapi jika aku menjadi Pak Jacky, pasti akan melakukan itu." Alika berujar. "Tapi Pak Maman adalah sahabat Pak Jacky. Jika aku menjadi beliau, pasti tidak akan mengorbankan kasus itu." Alika menatap Ezra lekat-lekat. "Pak Jacky harus profesional dan realistis, Ez!" Ezra membuang muka. Alika merengkuh bahu Ezra. Ia sudah menganggap lelaki itu seperti adik sendiri. "Aku tahu perasaanmu, Ez, tapi aku harap kamu memahami situasinya." Ezra mengangguk sambil berusaha membesarkan hati. "Iya." "Semangat ya?" Ezra tersenyum. Untuk mengembalikan semangat Ezra, Alika akan menanyakan progres yang dilakukan asistennya itu. "Aku sebenarnya sedang tidak bisa berpikir berat, tapi karena kasus itu adalah tanggung jawabku, jadi aku akan minta laporan darimu." Ezra merasa senang karena Alika akhirnya meminta laporan darinya. "Tapi Kak Alika kan sedang enggak fit." Alika mendelik. "Kalau aku minta laporan, ya laporkan!" Ezra terkekeh. Ia senang karena Alika kembali kepada karakternya yang galak dan tegas. "Kenapa cengar-cengir?" tegur Alika. Ezra diam. Ia kembali serius. "Jadi begini, Kak. Seperti yang sudah aku katakan sama kakak, Nadia menunjukkan dua pesan dari Septi." Alika merapatkan sweter. Badannya masih terasa dingin. "Aku coba memecahkan kode-kode tersebut. Setelah aku analisa, aku berkesimpulan kalau kode-kode itu adalah sebuah petunjuk arah perjalanan dari satu tempat menuju ke tempat lain," jelas Ezra. "Sehingga aku menerjemahkan kode-kode itu sebagai sebuah rute. Pesan pertama adalah rute perjalanan dari rumah Septi menuju ke sebuah tempat yang aku beri nama X. Pesan kedua adalah rute dari tempat bernama X menuju tempat bernama Y." Alika tersenyum kagum dengan analisa Ezra. "Kamu sudah mengujinya?" "Sudah, Kak," jawab Ezra. "Uji rute pertama mengalami kebuntuan. Setelah aku telaah ternyata ada kesalahan pada saat memulainya." Alika mengerjap. "Itu saat kamu mengajak Nadia kan?" "Lebih tepatnya Nadia yang minta diikutsertakan." Ezra mengklarifikasi. "Tapi kamu bisa menolak!" "Maaf, Kak. Aku menerimanya dengan pertimbangan Nadia mengetahui daerah setempat." "Alasanmu logis!" timpal Alika. "Cuman salah satu prinsip dasar dalam penyelidikan adalah jangan melibatkan pihak luar jika tidak diperlukan. Benar bahwa Nadia mengetahui daerah setempat tapi tanpa melibatkannya kamu masih bisa melakukannya sendirian." Ezra mengangguk, merasa bersalah. "Iya, Kak, aku akan ingat-ingat itu." Alika mengacak rambut Ezra. "Berbuat kesalahan itu sesuatu hal yang wajar. Yang penting jangan mengulangi kesalahan yang sama." Ezra menunduk. "Maaf, Kak, aku mengulangi kesalahan yang sama." Alika mengernyit. "Kesalahan yang sama?" Ezra beranikan menatap Alika dengan sorot menyesal. "Pada uji rute yang kedua aku nggak bisa menolak ketika Pak Maman meminta diajak." Alika mendengus, menatap Ezra sedikit kesal. "Apa alasan kamu mengajak Pak Maman?" "Pak Maman tahu sebelumnya aku mengajak Nadia. Beliau pun merasa berhak diajak juga karena beliau adalah bapaknya Septi." Alika membuang muka ke samping, menahan perasaan kesal. "Jangan libatkan perasaan dalam penyelidikan! Kamu pasti merasa nggak enak sama Pak Maman bukan?" Ezra mengangguk, tanpa berani menatap Alika. Alika mengusap wajahnya. "Astaga!" Ezra menunduk. Dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri. "Oke, kita bahas soal kesalahanmu itu nanti!" Alika menggosok-gosokan kedua telapak tangan untuk mengurangi hawa dingin dalam tubuhnya. "Sekarang lanjutkan laporanmu!" Ezra menarik napas dalam-dalam. "Aku menguji rute itu sekali lagi bersama Pak Maman. Hasilnya menggembirakan karena rute yang aku buat itu sama dengan rute trayek angkot. Kata Nadia, Septi pergi dari rumah menggunakan angkot." "Sampai mana kamu menelusuri rute tersebut?" tanya Alika penasaran. "Sampai di sebuah pos polisi, Kak." Ezra menelan ludah. "Kami terpaksa berhenti di sana karena ada operasi polisi. Aku ngak bisa menunjukkan STNK, sehingga polisi memintaku untuk mengambilnya, kalau enggak bisa, aku akan ditilang." "Itu sebabnya kamu ke rumahku kemarin sore?" tebak Alika. "Iya, Kak." Alika mendengus. "Itu kesalahan paling konyol yang kamu lakukan, Ezra!" Ezra menunduk. "Maaf, Kak." "Aku juga salah," desah Alika. "Seharusnya waktu menyuruhmu membawa mobilku, aku memberitahumu kalau STNK ada di dalam laci dasbor. Saat itu aku sedang nggak bisa fokus. Cuman kamu juga seharusnya menanyakannya!" "Iya, Kak. Aku salah karena nggak menanyakan STNK-nya." Ezra melirik Alika, merasa bersalah. "Terus kamu berhenti sampai di situ?" tanya Alika. "Aku menundanya, Kak, karena sudah sore. Aku harus mengantar Pak Maman pulang ke rumah." "Keputusanmu sudah tepat," puji Alika. "Jadi kesimpulan yang bisa kamu ambil apa?" Ezra membetulkan posisi duduk. Ia mengusap layar ponsel, membaca file. "Jadi begini, Kak. Menurut Nadia, pada tanggal 7 Desember 2019 Septi memberitahunya akan bekerja di sebuah perusahaan di Semarang. Septi mengatakan akan mampir ke kosan Nadia karena alamat perusahaannya tidak jauh dari alamat kosan Nadia." Alika menyela. "Bagaimana Nadia bisa ingat tanggalnya? Itu dua tahun lalu lho!" "Nadia ingat, waktu Septi meneleponnya, saat itu Nadia sedang ikut seminar. Kebetulan ia menyimpan selebaran seminar tersebut." Ezra menjelaskan. Alika mengangguk. "Oke, terus?" "Septi memberitahu Nadia kalau dirinya akan mendapatkan mes," lanjut Ezra. "Aku menduga Septi mendapatkan masalah yang membuatnya tidak bisa atau tidak berani mengirim kabar kepada siapa pun." "Kenapa kamu menduga begitu?" Alika menguji Ezra. "Sebuah dugaan harus memiliki dasar." "Kemungkinan Septi bekerja di PT. Eraneo karena ditemukan berkas-berkas surat lamaran pada perusahaan itu. Sedangkan perusahaan itu sangat misterius. Sangat aneh sebuah perusahaan dengan badan hukum perseroan terbatas profilnya tidak bisa diketahui publik. Sehingga aku menduga PT. Eraneo adalah perusahaan fiktif." Analisa Ezra. "Oke, analisamu logis. Lanjutkan!" "Itulah dasar kenapa aku menduga Septi mendapatkan masalah di PT. Eraneo. Namanya perusahaan fiktif, logikanya pasti memiliki tujuan tidak baik." Ezra melanjutkan. "Jadi kemungkinan selama dua tahun di sana, Septi berada dalam sebuah tekanan. Ia ingin keluar tapi tidak bisa, mungkin karena ada ancaman atau semisalnya." "Terus?" "Pada saat punya kesempatan, Septi mengirimkan pesan kepada Nadia untuk meminta pertolongan. Agar aman, ia mengirimkannya dalam bentuk kode-kode, berharap ada yang bisa menangkap maksudnya." "Jadi menurutmu, seandainya Septi ketahuan mengirim pesan, pihak yang mengancamnya tidak bisa mengetahui maksudnya?" Alika memastikan. "Benar, Kak." Alika terasenyum puas atas analisa Ezra. "Septi ingin ada orang yang bisa menangkap kode tersebut kemudian menemukannya." Ezra menyimpulkan. "Bagaimana kamu bisa memecahkan kode tersebut?" Alika penasaran. "Pak Maman bilang kalau Septi menyukai permainan rubik. Kebetulan aku juga menyukainya. Nah, aku perhatikan kode-kode dalam pesan Septi itu mirip dengan algoritma yang lazim digunakan untuk menyelesaikan rubik kubus," jelas Ezra. "Akhirnya aku menerjemahkan kode-kode itu menjadi sebuah petunjuk perjalanan, seperti belok kanan, belok kiri, jalan terus, dan putar arah." Alika bertepuk tangan. "Keren!" Ezra tersenyum, malu mendapatkan pujian. "Laporanmu mengobati rasa kesalku padamu!" ujar Alika. "Nanti kirimkan laporan tertulismu kepadaku via email ya?" "Siap, Kak." Alika merapatkan sweter. Perasaan senang dalam hati sedikit membuat kondisi badannya membaik. "Oh iya, katanya Kak Alika mau menceritakan soal teror itu," tagih Ezra. "Terus-terang aku khawatir." Alika menarik napas dalam-dalam. "Panjang banget kalau aku ceritakan." "Garis besarnya saja, Kak!" desak Ezra. Meskipun malas, tapi karena sudah janji, terpaksa Alika menceritakannya. "Klien-ku mendapat teror misterius. Setelah menyelidikinya selama hampir dua bulan, akhirnya aku mulai menemukan titik terang. Aku berhasil mengerucutkan para terduga pelaku dari sembilan menjadi tiga. Namun justru sekarang aku yang mendapatkan teror. Itu membuatku sempat shock karena terornya lebih sadis ketimbang yang dialami klien-ku." Ezra merasa sedih. Ia tahu benar, tanpa harus menerima teror pun, Alika memiliki beban berat untuk mengungkap tiga kasus sekaligus. Gadis itu nyaris tidak memiliki waktu istirahat, kadang malam pun masih melakukan penyelidikan. "Teror itu sangat mempengaruhi kondisi kesehatanku," ujar Alika. "Selain itu memang Kak Alika kurang istirahat," timpal Ezra. "Kenapa nggak kasus teror itu saja yang ditunda sih, Kak?" Alika menggeleng. "Klienku sudah mengeluarkan banyak biaya. Hidupnya dalam tekanan berat akibat teror. Jadi nggak ada alasan buat kita menundanya." "Tapi aku khawatir sama Kak Alika!" Alika menepuk bahu Ezra. "Itu resiko menjadi detektif, Ez." Ezra mengangguk paham. Alika melirik arloji di pergelangan tangan. "Kamu ke kantor gih! Jangan sampai telat menemui Pak Jacky." Ezra menarik napas dalam-dalam. Entah kenapa perasaannya tidak enak. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN