Berlibur Selama Seminggu

1427 Kata
Ezra mengetuk pintu ruangan kerja Jacky. Belum ada sahutan. Ezra melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia datang lima menit lebih cepat dari yang diminta Jacky. Ezra coba mengetuk pintu sekali lagi. "Masuk!" Ezra membuka pintu. Ia melihat Jacky sedang duduk di kursi dengan kedua kaki menyilang ke atas meja. Wajah direktur itu tampak mendung. Itu membuat Ezra menduga hal-hal buruk. Setelah menutup pintu, Ezra berdiri di hadapan Jacky. Ia mengangguk hormat. Jacky menarik kedua kaki dari atas meja. "Duduk!" Dengan perasaan berdebar-debar, Ezra duduk. Ia tidak berani menatap wajah Jacky berlama-lama. Jacky menatap Ezra tanpa bersuara. Itu membuat Ezra semakin berdebar. Suasana ruangan menjadi hening, hanya bunyi tik-tok tik-tok dari jam dinding. "Bapak memanggil saya ada apa ya, Pak?" Ezra tidak mau terlalu lama dalam suasana hening. Jacky menghunus tatapan tajam. "Kamu masih ingat apa pesan saya waktu menjadikanmu asisten Alika?" "Ingat, Pak," jawab Ezra. "Bapak bilang saya menjadi asisten Alika hanya untuk satu kasus saja, setelah itu saya akan kembali menjadi office boy." "Hanya itu?" "Saya harus bekerja dalam pengawasan Mbak Alika, tidak boleh jalan sendiri. Jika punya inisiatif harus disampaikan dulu kepada Mbak Alika." "Apa lagi?" Ezra melirik Jacky. "Intinya hanya itu saja, Pak." "Bagus!" sahut Jacky. "Berarti ingatan kamu masih cukup baik. Memang intinya hanya dua itu. Pertama kamu menjadi asisten hanya untuk satu kasus saja, setelah itu kembali kepada posisi semula. Kedua, kamu bekerja harus dalam pengawasan Alika, tidak boleh berjalan sendiri." "Kamu tahu kenapa sejak awal saya menegaskan itu padamu?" Jacky menegakkan badan. "Bapak yang lebih tahu," ujar Ezra dengan nada bergetar. Ia bisa menangkap ada kemarahan dalam setiap tekanan nada suara Jacky. Ia takut kemarahan itu ditujukan kepadanya. Ezra curiga, jangan-jangan benar, kasus hilangnya Septi akan ditunda dan ia akan dikembalikan ke posisi semula yaitu menjadi office boy. "Saya tahu kamu banyak belajar tentang bagaimana cara detektif bekerja. Saya juga yakin kamu sedikit banyak paham teknik-teknik dasar memecahkan sebuah kasus. Kamu bisa mempelajarinya dengan baik. Hanya saja, kamu belum pernah terjun langsung dalam pengungkapan kasus. Kamu belum tahu seberapa besar resiko yang harus dihadapi seorang detektif. Itulah kenapa saya memproteksimu dari resiko tersebut. Sehingga saya mewanti-wantimu agar jangan pernah bertindak sendiri. Kamu paham maksud saya?" Ezra mengangguk. "Paham, Pak." Jacky menggeleng. "Enggak, kamu belum paham!" Ezra menunduk. Ia sadar Jacky marah kepadanya. Ia curiga, jangan-jangan direkturnya itu mengetahui kalau kemarin ia bekerja tanpa pendampingan Alika. "Kalau paham, kamu nggak akan berjalan sendiri!" Intonasi Jacky meninggi. Ezra menelan ludah. Kecurigaannya benar, Jacky mengetahui kalau ia berjalan sendiri. "Tatap saya!" suruh Jacky. Terpaksa Ezra menatap wajah Jacky. "Kamu menganggap saya atasanmu atau bukan?" Suara Jacky penuh penekanan di setiap suku kata yang diucapkannya. "Iya, Pak." "Iya apa?" "Saya menganggap bapak atasan saya." Jacky mengerjap sinis. "Serius?" "Serius, Pak!" "Enggak, kamu nggak serius!" sanggah Jacky. "Kalau menganggap saya atasanmu, seharusnya kamu mengindahkan kata-kataku, bukan mengabaikannya!" Ezra menunduk. Wajahnya memerah. "Tatap mata saya!" Ezra beranikan diri menatap mata Jacky. Perasaannya tidak keruan. "Kenapa kamu berjalan sendiri? Apakah Alika tidak sempat mengawasi dan mendampingimu?" tanya Jacky. Ezra akan menanggung kesalahan ini sendiri. Ia tidak mau beralasan kalau Alika telah memberinya kesempatan untuk berkembang. Jacky mendekatkan wajah ke arah Ezra. "Kenapa diam?" "Maafkan saya, Pak. Saya salah karena berinisiatif untuk melakukan uji analisa sendirian," ucap Ezra. "Kamu nggak memberitahukannya kepada Alika?" "Enggak, Pak?" "Jadi Alika nggak tahu apa yang kamu lakukan?" "Kak Alika ggak tahu, Pak." Jacky mengerjap, merasa ada yang janggal. "Tapi kamu menggunakan mobil Alika!' Ezra terpojok, meskipun begitu ia tetap akan menyelamatkan Alika. Ia melakukannya karena Alika sedang sakit. Ia tidak mau gadis itu mendapatkan masalah. "Menurut saya aneh kalau Alika nggak tahu apa yang kamu lakukan karena kamu menggunakan mobilnya!" Jacky berargumen. "Pada hari pertama, Alika menyuruh saya untuk menemui keponakan Pak Maman karena Septi pernah mengirimkan pesan kepadanya. Kak Alika meminjamkan saya mobil. Setelahnya, mobil itu dititipkan kepada saya karena posisi Kak Alika sedang tidak sedang berada di rumah." "Terus kamu membawa pulang mobil itu?" "Iya, Pak," jawab Ezra. "Besoknya saya mengantar Alika ke Simpanglima. Karena nggak ada kegiatan, saya berinisiatif untuk melakukan uji analisa sendirian." "Alika nggak tahu kamu melakukan itu?" "Enggak, Pak. Saya baru melaporkannya tadi pagi." Jacky mendengus. "Kamu tahu bahwa yang kamu lakukan itu salah dan berbahaya?" Ezra mengangguk. "Iya, tahu, Pak. Saya mengaku salah. Saya minta maaf." Jacky mendengus. Ia menatap wajah Ezra. Ada perasaan kesal sekaligus kasihan kepada anak muda di depannya tersebut. Sebagai direktur, ia harus bersikap tegas. "Saya pikir kamu membutuhkan waktu untuk merenungi kesalahanmu." Ezra mengangkat dagu. Ia menduga Jacky akan mengembalikannya ke posisi semula yaitu menjadi office boy dan kasus itu akan ditunda sampai waktu yang belum bisa ditentukan. "Kamu harus merenungi kesalahanmu!" Jacky mengulangi kalimatnya, sebagai penegasan. "Jadi selama seminggu ke depan, kamu libur dulu di rumah." Ezra terperanjat. "S-saya diskors, Pak?" "Iya," jawab Jacky tegas. "Saya pikir seminggu cukup bagimu untuk membenahi diri kamu agar nanti kamu bisa bekerja dengan lebih baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama." Ezra mematung. Hatinya pedih. Ia akan menganggur selama seminggu ke depan. "Gaji kamu nggak akan dipotong," ujar Jacky. "Kamu bisa memahami keputusan saya ini?" Ezra mengangguk sedih. "Iya, Pak." "Selamat berlibur!" ucap Jacky. "Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi." Dengan berat hati, Ezra berdiri dan meninggalkan ruangan Jacky. *** Alika sedang berjemur di halaman rumahnya ketika Ezra datang. Ia merasa lebih baik ketimbang kemarin. Badannya sudah tidak meriang, hanya sedikit flu dan batuk. Wajahnya juga tampak lebih segar. "Pagi, Kak!" Ezra berdiri di dekat kursi Alika. Dengan menggunakan isyarat, Alika menyuruh Ezra agar menjauh. Ia mengenakan masker penutup mulut dan hidung. Ezra mundur selangkah. "Kamu ambil kursi di teras!" suruh Alika. Suaranya kurang jelas karena terhalang masker. Ezra mengambil kursi dari teras. Ia meletakannya tidak jauh dari Alika, kemudian mendudukinya. "Nah, di situ aja. Kamu temenin aku berjemur." Ezra melepas jaket. Badannya mulai berkeringat. "Kamu ke sini naik apa?" tanya Alika. "Aku nggak denger suara motor kamu." "Naik ojek online, Kak." Ezra menyampirkan jaket pada sandaran kursi. "Memangnya motor kamu kenapa?" "Kecapean, Kak," jawab Ezra asal. Mesin motornya lagi rewel, kadang mati sendiri pas berada di lampu merah. Ketimbang mogok dan menyusahkannya, ia urung membawanya dan lebih memilih menggunakan ojek online. "Motor kamu sudah tua, sudah waktunya pensiun," ledek Alika. "Yah, maklum, Kak. Usianya sama dengan bapakku," timpal Ezra. "Jangan-jangan mereka sahabat dekat. Sekolahnya bareng kayak Pak Jacky dan Pak Maman. Hehehe!" Ezra terkekeh mendengar gurauan Alika. "Oh iya, kemarin kamu dipanggil Pak Jacky ada apa?" Alika penasaran. "Aku diberi kesempatan liburan, Kak. Hehehe." Ezra tertawa tapi hatinya merasa sedih. Alika mengernyit. Ia mencium kabar buruk. "Maksudnya liburan tuh gimana?" Ezra semakin terkekeh. "Ya liburan! Aku bisa jalan-jalan ke mana saja dan nggak perlu kerja selama seminggu." Alika menangkap maksud Ezra. "Kamu diskors?" Ezra diam. Ia tidak sampai hati mengabarkan berita buruk ini kepada Alika. "Astaga!" Alika menatap Ezra serius. Ia menduga hal-hal buruk. "Kenapa kamu diskors?" Ezra tersenyum getir. "Pak Jacky tahu kalau aku jalan sendiri." Meskipun sudah menduganya, Alika tetap terkejut. "Bagaimana Pak Jacky bisa tahu?" Ezra mengedikkan bahu. "Aku juga nggak tahu." Alika mengusap wajahnya yang berkeringat. "Seharusnya aku yang menanggung kesalahan itu. Kamu nggak salah, karena kamu nggak akan melakukan itu kalau aku nggak memberimu kesempatan untuk jalan sendiri. Aku harus menjelaskannya sama Pak Jacky!" "Sudahlah, Kak. Masalahnya sudah selesai." Ezra berpikir kalau Alika menjelaskannya kepada Jacky, percuma saja ia menutupi kesalahan Alika. Alika mendelik. "Aku nggak mau kamu menjalani hukuman atas kesalahanku!' "Kak, kalau Kak Alika kena hukuman juga, nanti kasus yang kakak tangani jadi terbengkalai. Jadi biar sajalah!" Ezra membujuk Alika untuk mengurungkan niatnya. "Kamu ngajarin aku menjadi pengecut?" Alika berkacak pinggang. "Seorang detektif haram hukumnya lari dari tanggung jawab!" Ezra menggaruk rambutnya sendiri yang tidak gatal. "Pinjami ponselmu!' Alika menodong Ezra. Ezra mengulur waktu. "Mau buat apa, Kak?" "Buat ngulek sambel!" semprot Alika. "Ya buat neleponlah. Jangan pelit-pelit jadi orang. Sini pinjemin ponselmu!" Terpaksa Ezra merogoh saku celana. "Please, jangan menelepon Pak Jacky!" Alika menatap Ezra tajam. "Aku akan ganti pulsanya!" "Bukan soal pulsa, Kak," elak Ezra meluruskan. "Aku nggak mau kakak ikut kena marah!" Alika berdiri. "Aku bisa pake ponsel sendiri!" Ezra mencegah Alika. Ia menyerah. Ia meminjamkan ponsel kepada Alika. Alika menerima ponsel sambil melirik sebal kepada Ezra. Ia segera menelepon Jacky. Nomor Jacky sedang sibuk. Panggilan telepon Alika tidak tersambung. Alika mengulanginya lagi sampai tiga kali. Hasilnya sama saja, belum tersambung. Ezra merasa lega mengetahui panggilan telepon yang Alika lakukan tidak tersambung. Dengam kesal, Alika mengembalikan ponsel kepada Ezra. "Mungkin karena kamu minjeminnya nggak ikhlas, jadi nggak tersambung." Ezra tersenyum geli. Buru-buru ia memasukkan ponsel ke saku celana. "Besok aku akan bahas soal itu kepada Pak Jacky!" Alika menghempaskan p****t ke kursi. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN