Demi ingin meluruskan duduk perkara sebenarnya soal kesalahan Ezra, Alika sampai harus menunda penyelidikannya. Ia harus bertemu Jacky, maka ia mampir ke kantor lebih dahulu. Sialnya, direkturnya itu belum sampai di kantor.
Terlanjur ke kantor, Alika terpaksa menunggu sampai Jacky datang. Namun setelah menunggu lebih dari satu jam, direkturnya itu tidak kunjung menampakkan diri, dihubungi lewat telepon juga nomornya sedang tidak aktif.
Alika bimbang, apakah akan menunggu Jacky, atau melakukan penyelidikan dulu. Menimbang bahwa direktur belum bisa dipastikan kedatangannya, akhirnya ia memutuskan untuk melakukan penyelidikan saja.
Dengan langkah gontai karena badannya belum sepenuhnya fit, Alika meninggalkan kantor. Ia masuk ke mobil. Baru saja akan menyalakan mesin, ia melihat mobil Jacky memasuki area parkir. Ia pun keluar mobil dan mendekati mobil Jacky.
Alika melihat ada dua orang yang baru saja keluar dari mobil Jacky. Mereka adalah Jacky dan Pak Maman.
"Pak!" panggil Alika.
Jacky yang sedang berjalan menuju gedung kantor, menoleh. "Alika, gimana keadaanmu? Sudah lebih baikkah?"
Alika mengangguk tanpa ekspresi. "Alhamdulillah lebih baik ketimbang kemarin."
Pak Maman tersenyum kepada Alika. "Mbak Alika?"
Alika mengangguk sopan kepada Pak Maman. "Pak Maman apa kabar?"
"Baik," jawab Pak Maman.
"Ayo kita ngobrol di dalam kantor saja!" ajak Jacky.
Mereka berjalan menuju gedung kantor. Para karyawan memberi hormat kepada Jacky. Sang direktur membalasnya dengan senyum, sesekali menggoda salah satu karyawannya. Ia memang sosok bos yang menyenangkan dan tidak pernah menjaga jarak.
"Ke ruanganku saja!" Jacky mengarahkan Pak Maman dan Alika ke ruangannya.
Di dalam ruangan kerja Jacky, mereka duduk di sofa.
"Jangan terlalu terforsir," saran Jacky kepada Alika, membuka obrolan. "Kalau belum seratus persen fit, kamu di kantor saja dulu. Penyelidikan di luar bisa kamu lanjutkan besok."
"Dua hari di rumah malah bikin saya stres, Pak!" ujar Alika. "Saya nggak biasa rebahan."
Jacky tersenyum, paham benar kalau Alika adalah pekerja keras dan perfeksionis.
"Kebetulan kamu ada di sini, kita akan membahas soal kasus hilangnya Septi," ujar Jacky. "Saya sudah membahasnya dengan Pak Maman. Karena kasus itu kamu yang menangani sehingga kami perlu mendengar pendapatmu."
"Baiklah!" Septi menyilangkan kaki. "Saya juga ingin membahas soal Ezra, asisten saya pada kasus tersebut."
Jacky menangkap maksud Alika. "Persoalan Ezra sebaiknya kita bahas secara internal saja."
Alika mengangguk paham. "Baiklah, saya mengerti."
Jacky mengambil remote pendingin ruangan. Ia menyalakannya.
"Saya baru tahu kalau Mas Ezra ternyata hanya asisten," ujar Pak Maman kepada Alika. "Saya pikir ia seorang detektif karena analisanya luar biasa. Ia bisa menerjemahkan kode-kode itu secara baik dan sejauh ini teruji memberikan petunjuk signifikan."
Alika tersenyum. "Benar, Pak Maman. Kemarin saya mendengar laporannya juga merasa kagum. Ezra lebih cerdas dari yang saya ketahui selama ini."
Jacky yang belum mengetahui perkembangan kasus tersebut menjadi kaget mendengar pengakuan Pak Maman. "Signifikan bagaimana, Pak Maman?"
Pak Maman kaget. "Aku pikir Pak Jack sudah mengetahuinya."
Jacky mendesah sambil melirik Alika. Sejurus kemudian ia memandang Pak Maman. "Saya belum mendapatkan laporannya karena Alika baru masuk kantor hari ini."
Pak Maman tersenyum penuh harap. "Saya yakin jika pengujian rute itu dilanjutkan, akan menemukan petunjuk baru."
Jacky menjadi penasaran. Ia menatap Alika, meminta penjelasan.
"Saya akan memberikan laporan mingguan nanti, Pak," ujar Alika kepada Jacky. "Namun saya pikir bapak perlu mengetahui soal perkembangan terkini kasus tersebut. Dengan begitu saya berharap bapak akan mempertimbangkan kembali sikap bapak terhadap Ezra."
Jacky mengerjap. Ia sadar telah terburu-buru menghukum Ezra tanpa meminta pertimbangan dahulu pendapat Alika.
Alika menatap Jacky. "Saya tidak akan menjelaskannya secara mendetail. Saya hanya ingin memberitahu bapak kalau kemungkinan besar analisa Ezra akan mengarahkan kita kepada petunjuk jejak Septi. Memang itu belum teruji secara menyeluruh, tetapi hingga dua hari lalu, Ezra berhasil menelusuri rute perjalanan Septi menuju sebuah tempat."
Jacky terpana. "Suatu tempat?"
"Iya, suatu tempat yang barangkali adalah lokasi di mana Septi pernah atau masih berada di sana!" jawab Alika menjelaskan.
Sepasang mata Pak Maman berkaca-kaca. "Saya sangat berharap Septi dalam keadaan baik-baik saja. Itu yang paling penting."
Alika mendekatkan boks tisu kepada Pak Maman. "Kami akan melakukan yang terbaik, Pak."
Pak Maman mengangguk haru. Ia mengambil sehelai tisu, kemudian menyeka air mata yang belum sempat menetes.
"Benar, Pak Maman." Jacky menimpali ucapan Pak Maman. "Yang terpenting adalah Septi dalam keadaan baik-baik saja. Kami akan berusaha menemukannya. Aku harap Pak Maman bersabar dan memahami situasi ini."
"Terima kasih, Pak Jack," ucap Pak Maman. "Aku nggak tahu bagaimana membalas kebaikan Pak Jack, Mbak Alika, dan Mas Ezra."
"Itu sudah kewajiban kami, Pak Maman," ujar Jacky.
Septi mengangguk. Ia melirik jam dinding. Ia ada janji bertemu dengan klien siang ini. Setelah itu ia akan melanjutkan penyelidikan kasus teror. Jika berlama-lama di sini, waktunya akan habis.
Alika melirik Jacky. "Jadi apa yang ingin Pak Jacky bahas bersama saya?"
Jacky melirik Pak Maman, kemudian menatap Alika. "Saya merasa berat untuk menunda kasus hilangnya Septi. Semalam saya berpikir, akan tetap melanjutkannya. Di sisi lain saya juga akan tetap mengurangi bebanmu. Maka itu saya punya ide, kasus itu akan saya limpahkan kepada detektif lain. Saya sudah sampaikan itu kepada Pak Maman dan beliau menyerahkan semuanya kepada saya."
Dalam hati, Alika sepakat dengan ide Jacky. Ia berharap Ezra akan tetap dilibatkan.
"Bapak sudah punya pandangan siapa detektif yang akan menangani kasus itu?" tanya Alika.
Jacky sadar, Alika salah persepsi. "Bukan detektif dari kantor kita, tapi saya akan menyerahkan kasus ini ke kantor detektif lain."
Alika terperanjat. "Bapak yakin?"
"Saya hanya ingin Septi segera diketemukan!" tegas Jacky yang menangkap ekspresi keberatan dari tatapan Alika.
"Bagaimana dengan Ezra?" gugat Alika. "Apakah ia masih akan dilibatkan?"
Jacky mendesah. "Jika kasus ini ditangani detektif kantor lain, maka kemungkinan mereka akan membentuk tim sendiri. Memang bisa saja kita mengajukan orang kita untuk membantunya, tapi saya pastikan bukan Ezra orangnya."
"Kenapa?" gugat Alika.
"Ezra belum memberitahumu kalau ia sedang liburan?" Jacky sengaja tidak menggunakan kata "diskors'. Ia menggantinya dengan kata 'liburan' karena ada Pak Maman dalam ruangan ini.
"Sudah!" jawab Alika tidak kalah tegas. "Itulah yang ingin saya bicarakan sama bapak!"
Jacky mendengus. Ia tidak mungkin membiarkan Alika membahas soal Ezra sekarang, pada saat ada pihak luar berada di ruangan ini karena itu urusan internal.
"Saya mendukung niat bapak untuk segera menemukan Septi," ujar Alika. "Saya juga menghormati dan sepakat dengan ide bapak untuk menyerahkan kasus itu kepada detektif dari kantor lain. Hanya saja, saya berharap bapak menghargai usaha Ezra."
Jacky tidak mau beradu argumen dengan Alika di hadapan Alika, sehingga ia memilih diam, berharap Alika bisa menangkap maksudnya.
Alika menangkap kegelisahan Jacky. "Baik, jadi kapan bapak punya waktu untuk membahas soal Ezra?"
Jacky melirik Pak Maman. Yang dilirik tidak paham dengan situasi yang sedang terjadi. Ia hanya diam saja.
"Saya enggak akan menentang bapak, tapi saya berharap bapak jangan dulu menyerahkan kasus Septi kepada detektif dari kantor lain sebelum persoalan Ezra kita bahas," pinta Alika.
Jacky tahu Alika tidak mau menunggu terlalu lama. Mau tidak mau ia harus membahas soal Ezra sekarang.
Jacky melirik Pak Maman. "Pak Maman, mohon maaf, ada yang harus saya bahas soal internal dengan Alika."
Pak Maman tanggap. "Oh, baiklah, silakan. Saya akan menunggu di luar."
"Sebentar, Pak!" Jacky bangkit menuju meja kerjanya.
Pak Maman mengangguk.
Jacky menelepon sekretarisnya. "Tolong kamu ke ruangan saya dan ajak Pak Maman, tamu saya ke lobi. Jangan lupa sajikan minuman dan makakan ringan."
Tidak lama kemudian seorang gadis cantik, sekretaris Jacky mengetuk pintu.
"Masuk!" suruh Jacky.
Sekretaris masuk.
Jacky mendekati Pak Maman. "Pak Maman bisa menunggu dulu di lobi. Sekretarisku akan mengantar bapak."
"Baik, Pak Jack." Pak Maman berdiri. Ia menuju pintu dan meninggalkan ruangan ditemani sekretaris.
Sepeninggal Pak Maman, Jacky duduk di kursi kerjanya. Alika menyusulnya, duduk di depan mejanya.
Jacky menatap Alika. "Jadi, apa yang ingin kamu bahas?"
Alika membetulkan posisi duduk. "Sebelumnya saya mau mengatakan bahwa saya menghormati keputusan bapak yang telah menskors Ezra selama seminggu. Saya tidak berhak mengintervensinya karena itu sepenuhnya wewenang bapak."
Jacky mengangguk.
"Saya cuman ingin tahu apa kesalahan Ezra hingga sampai dihukum seberat itu?" ucap Alika dengan nada menggugat.
Jacky tersenyum. "Kesalahan Ezra hanya satu, ia tidak menganggap saya sebagai atasan."
Alika mengernyit. "Kesalahan apa yang sudah Ezra lakukan sampai bapak merasa kalau ia nggak menganggap bapak sebagai atasan?"
Jacky mendesah. "Saya sudah mewanti-wanti Ezra agar tidak bekerja sendirian tanpa pendampinganmu, tapi ia nggak mengindahkannya. Ia melakukan penyelidikan sendiri. Ia mengakui kalau itu dilakukannya tanpa memberitahumu lebih dahulu."
Alika mendengus tertahan. "Bapak percaya begitu saja?"
"Ezra anak yang jujur. Ia nggak mungkin membohongi saya."
"Ezra terpaksa berbohong karena ingin melindungi saya, Pak!" sergah Alika.
Jacky terpana. Ia tidak menyangka Ezra akan melakukan itu.
"Ezra nggak akan bekerja sendiri jika saya nggak memberinya kesempatan untuk berkembang," ucap Alika, meluruskan duduk persoalan. "Semua salah saya, Pak!"
Jacky mengusap dahinya. "Kenapa kamu memberinya kesempatan seperti itu? Kamu tahu itu sangat beresiko bukan?"
"Saya minta maaf, Pak. Bukan maksud saya untuk menentang bapak, tapi saya sudah mempertimbangkan segala resikonya. Apa yang dilakukan Ezra hanya sebatas menguji analisa. Itu tidak berbahaya. Ia sudah memiliki SIM dan terbiasa mengemudikan mobil."
Jacky menatap Alika tajam. "Seharusnya kamu mengoordinasikannya sama saya. Kamu sadar nggak sih, apa yang kamu lakukan secara nggak langsung telah mengajarkan Ezra untuk menentang saya?"
Alika mengangguk, merasa menyesal. "Saya minta maaf, Pak. Saya layak dihukum dan siap bertanggung jawab.
Jacky mendengus. "Saya juga salah, nggak meminta penjelasan darimu dulu."
"Sungguh saya menyesal, Pak," ucap Alika. "Saya sedang kacau waktu itu karena mendapatkan teror sehingga nggak bisa berpikir jernih."
Jacky menyandarkan punggung ke kursi. Ia menatap Alika. "Tapi saya nggak akan meralat keputusan saya. Ezra tetap diskors selama seminggu karena ia tahu kalau apa yang dilakukannya adalah bentuk penentangan terhadap saya, juga karena ia membohongi saya hanya demi membela orang yang berbuat salah sepertimu."
Alika menelan ludah. Ia paham benar, di balik kehangatan dan kedekatan Jacky terhadap semua karyawannya, lelaki itu adalah sosok pemimpin yang tegas.
"Saya juga akan menghukummu agar detektif lain tidak melakukan kesalahan seperti yang sudah kamu lakukan!"
Alika mengangguk. "Saya siap menerimanya."
"Saya akan putuskan besok," ujar Jacky. "Temui saya di ruangan ini besok jam sepuluh."
"Baik, Pak. Sekali lagi saya minta maaf."
Jacky mengangguk. "Sebagai seorang manusia biasa, saya memaafkanmu, tapi sebagai pimpinan saya harus menegakkan peraturan dan berbuat adil."
"Terima kasih, Pak," ucap Alika lirih.
"Soal kasus Septi, saya juga nggak akan melibatkan Ezra lagi, biar anak itu merenungi kesalahannya."
Alika menelan ludah. Ia menatap Jacky pasrah.