Menjelang asar, selepas pulang dari penyelidikan kasus teror, Alika menemui Ezra yang sedang membongkar karburator sepeda motor bututnya.
Alika menceritakan pertemuannya dengan Jacky tadi pagi dari awal sampai akhir.
"Jadi kasus itu akan dilimpahkan ke detektif dari kantor lain?" tanya Ezra kecewa.
Alika mengangguk, merasa menyesal. "Seandainya waktu itu aku nggak menyuruhmu jalan sendiri pasti nggak akan seperti ini situasinya."
"Tapi aku puas, Kak!" ujar Ezra sambil mengelap tangannya yang kotor. Ia baru saja selesai memasang kembali karburator sepeda motornya.
"Puas karena berhasil memecahkan kode?" Alika mengelus jok sepeda motor Ezra.
"Nggak masalah aku diskors seminggu karena aku sudah mendapatkan pengalaman menakjubkan." Ezra menyalakan sepeda motornya. Ia menggeber-geber gas, hingga asap mengepul dari lubang knalpot.
Brumm! Brumm! Bunyi dari lubang knalpot cukup memekakakan telinga.
"Tapi kamu akan kehilangan kasus itu," desah Alika. "Kesempatanmu menjadi asisten detektif juga semakin sulit."
Ezra mematikan mesin sepeda motornya. Ia melirik Alika. "Itu aku anggap sebagai ujian."
Alika mengacak rambut Ezra. "Dasar!"
Ezra terkekeh. "Kita duduk di teras saja yuk?"
Alika mengernyit."Sejak kapan rumah kamu memiliki teras?"
Ezra tertawa sambil berjalan menuju teras rumah. Bagian depan rumahnya tidak memilki penutup atas, sehingga terkesan tidak memiliki teras.
Alika mengekor Ezra. Mereka duduk di kursi kayu panjang depan rumah.
"Apa rencanamu selama seminggu ke depan?"
Ezra tersenyum. Pandangannya menerawang langit sore yang tertutup awan. "Aku akan meneruskan uji rute!"
Alika mendelik. "Jangan macam-macam!"
Ezra tertawa, menatap Alika. "Apa itu ilegal?"
"Ya pastilah!" semprot Alika.
"Cuman jalan-jalan!" dalih Ezra.
Alika menggeleng. "Jangan menambah masalah."
Ezra menatap Alika sambil terkekeh. "Aku punya hak untuk jalan-jalan, Kak."
Alika kesal. "Yang kamu lakukan itu berkaitan dengan kasus, Ez!"
"Jadi aku harus menyerahkan rute itu kepada detektif dari kantor lain?" gugat Ezra serius.
"Memang harus begitu!"
"Kak!" Mimik Ezra menunjukkan keseriusan. "Aku yang susah payah menganalisa kode-kode itu, lalu aku harus memberikannya begitu saja kepada orang yang nggak aku kenal?"
Alika mendengus. "Jangan egois, Ez!"
Ezra tertawa sinis. Ia menunjuk dadanya sendiri. "Aku egois?"
Alika menghunus tatapan tajam. "Kalau kamu mau menyimpan sendiri hasil penyelidikanmu, berarti kamu egois, Ez!"
"Egoisnya kenapa?"
Alika menahan kesal. "Pak Jacky berkorban uang untuk membiayai kasus hilangnya Septi. Ia membayar detektif dari kantor lain demi sahabatnya yang kehilangan anak selama dua tahun. Tidakkah kamu ingin membantunya juga?"
Ezra terdiam.
"Hasil analisamu itu sangat berharga dalam pengungkapan kasus itu." Alika berkata lebih pelan dari sebelumnya tapi lebih menyentuh.
Ezra menunduk, meskipun membenarkan kata-kata Alika tetapi ia masih belum bisa merelakan kalau hasil usahanya akan diberikan kepada orang lain.
Alika merengkuh bahu Ezra. "Aku tahu perasaanmu, Ez. Sejujurnya aku pun nggak terima kalau usahamu harus diberikan kepada detektif lain, tapi demi kemanusiaan kita harus ikhlas."
Ezra mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha ikhlas. "Kak Alika benar. Kalau diminta, aku akan menyerahkan hasil usahaku itu. Tapi, apa aku salah kalau ingin meneruskan rute itu sampai selesai? Aku terlanjur penasaran, Kak. Anggap saja itu ambisi pribadi."
Alika menggeleng lemah. "Kumohon jangan lakukan itu."
"Kenapa?" gugat Ezra.
"Usahamu dibiayai perusahaan. Ketika kamu nanti memberikan hasil kerjamu, kamu juga harus menghentikannya. Biarkan detektif yang meneruskannya."
Ezra melengos. Ia terlanjur penasaran. Ia ingin tahu sejauh mana rute itu akan berakhir.
***
Malam menjelang. Ezra membaringkan badan ke atas kasur. Rasa penasarannya sulit dibendung. Sekuat apa pun ia berusaha melupakan rute itu, pada akhirnya ia harus berperang dengan dirinya sendiri. Satu sisi, ia ingin mengindahkan larangan Alika agar tidak meneruskan penelusuran rute itu, tapi sisi hati yang lain memberontak.
Pemberontakan dalam hati Ezra semakin menjadi ketika ia tidak melakukan sesuatu. Sehingga selama seharian tadi, ia menyibukan diri dengan melakukan sesuatu yang melelahkan seperti menyapu, mengepel lantai, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Setelah lelah, ia rebahan sambil memainkan rubik.
Alih-alih teralihkan pikirannya, Ezra justru menjadi teringat kembali kepada rute itu gara-gara main rubik karena rute itu berhasil ia susun berkat rubik.
Ponsel Ezra berdering. Nadia meneleponnya.
"Hai, Dik!" sapa Nadia riang.
"Hai, Nad," sahut Ezra kurang bersemangat.
"Lagi ngapain nih?"
"Rebahan."
"Pak Maman cerita sama aku, katanya beliau ikut kamu menelusuri rute," beritahu Nadia. "Beliau seneng banget karena katanya rutenya sama dengan jalur angkot."
Ezra tidak menyangka kalau Pak Maman akan menceritakan itu kepada Nadia.
"Tahu nggak, Ez, setelah itu Pak Maman selalu ceria. Hidupnya penuh optimis. Aku seneng sih lihatnya, cuman khawatir aja kalau itu membuat ekspektasinya menjadi tinggi."
Ezra juga khawatir, seperti yang sedang dirasakan Nadia. Jika Pak Maman memiliki ekspektasi terlalu tinggi, takutnya lelaki itu akan kecewa jika nanti rute itu tidak berhasil memberi petunjuk berarti.
"Kamu nggak lanjutin lagi rute itu?" tanya Nadia.
Ezra mendesah. Ia tidak akan memberitahukan situasi yang sebenarnya bahwa ia sekarang sudah tidak dilibatkan lagi dalam kasus itu.
"Aku kepo banget sumpah!"
Ezra terkekeh. "Sekarang aku justru khawatir ekspektasi kamu lebih tinggi dari Pak Maman."
Nadia balas terkekeh. "Bisa jadi."
"Aku belum tahu kapan penelusuran rute itu akan dilanjutkan. Yang pasti aku tidak akan lagi terlibat. Kasus itu akan ditangani detektif lain yang barangkali lebih hebat." Ezra harus memberitahu Nadia, meskipun ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya diskors selama seminggu.
Nadia kaget. "Lho, bukannya rute itu hasil analisamu ya?"
"Iya memang tapi kami kan bekerja secara tim."
"Begitu ya?"
"Iya." jawab Ezra. "Seandainya nanti ada tim detektif yang menemui kamu, tolong bantu mereka ya?"
"Kenapa bukan kamu saja sih?"
Ezra terkekeh sumbang. Ia merasa sedih karena tidak bisa terlibat lagi dalam kasus itu. "Aku kan cuman asisten sementara, hanya terlibat ketika diperlukan saja. Lagipula sebenarnya aku ini office boy."
"Hah, serius?"
"Iya."
"Nggak percaya!"
"Kenapa?"
"Tanpa bermaksud under estimate kepada profesi office boy, tapi apa yang telah kamu lakukan itu seperti layaknya seorang detektif."
"Faktanya aku ini hanya seorang office boy."
"Aku masih bingung dah!"
Ezra terkekeh. "Bingung kenapa?"
"Kamu mengaku sebagai office boy tapi kok ikut melakukan penyelidikan?"
"Direktur menugaskanku menjadi asisten Alika khusus untuk kasus hilangnya Septi. Setelah kasus itu selesai aku harus kembali lagi menjadi office boy."
"Oh begitu?" desah Nadia. "Tapi kasusnya kan belum selesai, kenapa kamu nggak dilibatkan lagi?"
Ezra tertawa sumbang. "Mungkin karena kantor kekurangan office boy. Hehehe!"
Nadia terkekeh, menganggap Ezra sedang bercanda. "Padahal aku mau memberi tahumu sesuatu. Kali aja itu bisa jadi petunjuk."
"Kamu bisa memberikan informasi itu kepada detektif yang menangani kasus itu," saran Ezra.
"Kalau kamu yang meneruskan info itu ke detektifnya bisa nggak?" tanya Nadia. "Kamu nggak harus ketemu aku kok. Nanti aku kasih link status f*******: Septi. Kamu bisa melihatnya sendiri."
Ezra sebenarnya keberatan karena cara itu menurutnya tidak efektif. Seharusnya Nadia memberikannya kepada detektifnya langsung. Namun ia tidak mau mengecewakan Nadia.
"Aku kirim link-nya via w******p ya?" tanya Nadia.
"Iya, silakan."
"Oke," sahut Nadia. "Jadi, status itu dikirimkan lima hari sebelum Septi hilang. Itu status terakhirnya di akun fake Septi."
Ezra menjadi penasaran. "Septi punya akun fake?"
"Iya. Septi punya dua akun f*******:. Yang satu akun asli, satunya akun fake buat nyari temen online." Nadia menjelaskan. "Hanya aku yang diberitahu. Septi meminta aku agar jangan memberitahukannya kepada orang lain."
"Kok kamu memberitahukannya kepadaku?"
"Terpaksa karena aku merasa itu akan berguna buat menemukan jejaknya," dalih Nadia. "Aku kirimkan sekarang saja ya?"
"Iya, Nad."
"Kalau ada perkembangan soal kasus itu, tolong aku dikabari," pinta Nadia.
"Aku nggak janji, Nad, karena sudah nggak terlibat. Lagipula kasus itu hanya detektifnya saja yang tahu."
"Begitu ya?" Nadia kecewa
"Iya, Nad," sahut Ezra. "Kamu bisa menanyakannya kepada Pak Maman."
"Oke, kalau begitu udah dulu ya ngobrolnya. Aku mau nyari referensi buat skripsi."
"Oke."
"See you soon!"