Ezra duduk lesehan sambil menyandarkan punggung pada dinding kamar. Ia membuka link yang dikirimkan Nadia. Layar ponsel menampilkan status Septi yang berupa sebuah foto dengan objek tangan sedang memegang map. Latar belakang dari objek tersebut adalah sebuah ruangan berisi beberapa orang sedang duduk menghadap ke sebuah meja.
Ezra menduga pemilik tangan tersebut ikut duduk di belakang beberapa orang yang tertangkap kamera tersebut. Tampaknya mereka sedang mengantre atau menunggu sesuatu di sebuah ruangan.
Ezra memperbesar objek meja. Di balik meja itu ada seorang yang sedang duduk. Penampakan wajah orang tersebut tidak begitu jelas karena posisinya cukup jauh dan kamera lebih fokus ke tangan yang memegang map.
Ezra memperbesar foto hingga 5x. Ia memfokuskan pada sebuah kertas yang berdiri di atas meja. Ada tulisan di sana tapi tidak bisa terbaca karena blur.
Jempol Ezra menyapu layar, menggeser objek ke sebuah logo yeng terpampang pada dinding, persis di belakang orang yang duduk di balik meja. Logo itu membentuk huruf E dan N yang saling berdekatan. Di bawah logo tersebut ada dua buah kata yang ukuran font-nya jauh lebih kecil. Ia tidak bisa membacanya karena blur.
Ezra memicingkan mata fokus pada dua kata di bawah logo tersebut. Kata pertama terdiri dari dua huruf. Kata berikutnya terdiri dari enam huruf. Berdasarkan logo di atasnya yang membentuk huruf E dan N, ia menduga kalau kata di bawahnya adalah PT. ERANEO.
"Yess!" Ezra bersorak gembira. Meskipun blur tapi ia yakin kalau dua kata itu dibaca PT. ERANEO karena logo di atasnya membentuk huruf E dan N.
Ezra mengembalikan foto ke ukuran normal. Ia membaca caption dari foto tersebut: Menunggu sesi interview.
"Interview di PT. Eraneo?" Ezra tersenyum. Status itu semakin membuatnya yakin kalau Septi bekerja pada perusahaan tersebut.
Hanya saja Ezra merasa aneh. Status itu diposting lima hari sebelum Septi mengabari Nadia bahwa gadis itu sudah diterima kerja. Artinya sejak sesi interview dengan masuknya kerja hanya berjarak lima hari. Menurut Ezra, waktunya terlalu cepat untuk sebuah tahapan dalam sebuah seleksi penerimaan karyawan baru. Namun buru-buru Ezra menyanggah pemikirannya sendiri karena memang ada beberapa perusahaan yang tidak membutuhkan waktu lama untuk merekrut karyawan baru.
"Atau mungkin foto itu diambil beberapa hari sebelum diunggah ke f*******:?" duga Ezra, memikirkan kemungkinan lain.
Agar lebih jelas, Ezra akan menanyakannya kepada Nadia, barangkali saja gadis itu punya informasi perihal foto itu.
Ezra menelepon Nadia. Panggilannya langsung terjawab.
"Maaf, Nad, malam-malam mengganggu kamu," ujar Ezra.
"Enggak kok, aku juga belum tidur," timpal Nadia. "Ada apa?"
"Aku mau tanya soal Septi."
"Iya. Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Septi nggak pernah cerita soal lamaran pekerjaan?"
"Enggak, Septi tahu-tahu bilang akan bekerja di Semarang dan mendapatkan mes. Itu aja!"
"Kalian kan dekat?"
"Iya memang, tapi nggak semua hal Septi ceritakan sama aku."
Ezra bangkit dari duduk. Sambil tetap menempelkan ponsel ke telinga, ia pindah ke atas kasur. "Aku sudah buka status terakhir Septi dari link yang kamu kirimkan itu."
"Terus?"
"Coba deh kamu perhatikan logo di dinding pada foto itu!"
"Sebentar, aku buka laptop dulu...."
Ezra menunggu Nadia.
Beberapa menit kemudian.
"Logonya blur!" ujar Nadia. "Kalau aku zoom gambarnya pecah-pecah."
"Tapi kamu bisa menangkap kan kalau logo itu membentuk huruf E dan huruf N?"
"Mmhh, iya benar, seperti huruf E dan huruf N!"
"Sekarang coba perhatikan dua kata di bawah logo itu."
"Kecil hurufnya. Aku nggak bisa membacanya dengan pasti."
Ezra merebahkan badan. "Menurut kamu, mungkin nggak kalau dua kata itu adalah PT. ERANEO?"
"Mmhh...." Nadia fokus pada layar laptop. "Mungkin sih, meskipun aku sendiri nggak bisa memastikannya."
"Aku yakin itu logo PT. Eraneo," ujar Ezra.
"Jika keyakinanmu benar, itu menjadi petunjuk baru!" timpal Nadia merasa senang.
"Tapi foto itu nggak memberikan informasi lokasi."
"Iya juga sih!" desah Nadia.
Ezra membetulkan posisi bantal menggunakan tangan kanan. Tangan kiri ia gunakan untuk menyangga ponsel ke telinga. "Oh iya, coba perhatikan tangan yang memegang map itu. Menurutmu apakah mungkin itu tangan Septi?"
"Iya, itu tangan Septi," ujar Nadia.
"Kamu yakin?"
"Iya, aku yakin karena hafal gelang yang Septi pakai itu. Itu gelang berbahan rajutan yang dibuatnya sendiri."
"Septi bisa merajut?"
"Bisa."
"Jadi karena itu kamu yakin kalau tangan itu milik Septi?" Ezra menegaskan.
"Iya."
Ezra menarik napas lega. Keyakinannya semakin kuat kalau Septi memang bekerja pada PT. Eraneo.
***
Ezra terbangun dari tidur karena dikagetkan bunyi nada dering. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, ia meraba meja yang berada di debelah tempat tidur. Alih-alih berhasil meraih ponsel, ponsel tersebut terdorong hingga jatuh ke lantai.
Mau tidak mau Ezra bangkit. Ia memicingkan mata, mencari ke mana jatuhnya ponsel. Ia beringsut ke tepi kasur.
Karena kelamaan, nada dering berakhir. Ezra bangkit dari kasur. Sambil terhuyung ia meraih ponsel. Ia membuka layar, rupanya Alika yang tadi meneleponnya.
Ezra kembali merebahkan badan ke atas kasur. Ia menelepon balik Alika.
"Ada apa, Kak?" tanya Ezra ketika panggilan teleponnya terjawab Alika.
"Kamu baru bangun tidur?" Alika balik bertanya.
"Kok tahu?" Ezra menguap.
"Suara kamu seperti orang baru bangun tidur!"
"Iya, meman."
"Astaga, Ezra, siang bener kamu bangunnya!" gerutu Alika.
Ezra melirik penunjuk waktu pada layar ponselnya. "Baru jam enam!"
"Itu sudah siang!"
"Biasanya aku bangun sebelum subuh. Kalau sekarang kan lagi liburan jadi bangunnya jam tujuh."
"Kamu nggak sholat subuh?"
"Sholat." Ezra kembali menguap. "Tapi tidur lagi."
"Astaga!"
Ezra terkekeh. "Ada apa menelepon aku?"
"Aku mau ngabarin sesuatu sama kamu. Entah itu kabar baik atau buruk!" ujar Alika.
"Memangnya ada kabar apa?" Ezra meraih selimut di sampingnya lalu menutupi kaki dan badannya.
"Hingga sore kemaren, Pak Jacky belum mendapatkan detektif buat menangani kasus hilangnya Septi. Semua detektif di Semarang sedang sibuk."
Serta merta rasa kantuk Ezra hilang. "Itu kabar baik, Kak!"
"Kabar baik gundulmu!" semprot Alika. "Kalau kelamaan nggak dilanjutkan, aku kasihan sama Pak Maman."
Ezra menyingkap selimut. Ia sudah tidak mengantuk lagi. "Iya juga sih, tapi memang sepertinya kasus itu harus Kak Alika yang menangani."
Alika mendengus. "Kalaupun nanti tetap aku yang menangani kasus itu, kamu tetap nggak akan dilibatkan."
Ezra mengeluh dalam hati. "Tapi setidaknya aku akan ikhlas kalau hasil penyelidikanku harus aku limpahkan sama kamu, Kak. Aku punya informasi baru."
"Informasi apa?" Nada suara Alika meninggi. "Jangan bilang kalau kamu meneruskan penyelidikan!"
"Enggak kok," ujar Ezra menyanggah. "Informasi itu datang sendiri tanpa aku melakukan sesuatu."
"Kok bisa?"
"Nadia mengirimiku link status f*******: terakhir Septi. Isinya sebuah foto Septi sedang menunggu sesi interview di PT. Eraneo."
"Kamu kirimkan link-nya kepadaku!"
"Siap, Kak!"
"Sekarang!"
"Iya, Kak."
"Laporanmu sudah aku serahkan kepada Pak Jacky," beritahu Alika. "Aku juga sudah mendapatkan hukuman."
Ezra kaget. Ia memindahkan ponsel dari telinga kiri ke telinga kanan. "Kakak dihukum apa?"
"Liburan satu hari. Hehehe!" jawab Alika sambil terkekeh. "Aku yakin Pak Jacky bukan sedang berniat menghukumku tapi memberiku waktu istirahat lebih lama."
"Aku rasa begitu!" timpal Ezra merasa lega karena hukuman yang diterima Alika ringan.
"Tapi seharian nggak boleh bekerja itu bagiku hukuman yang cukup berat."
"Aduh, Kak, terima saja. Kita bisa pergi jalan-jalan bareng." Ezra tergelak.
"Ke mana?"
Sebuah ide gila mendarat di kepala Ezra. "Aku mau ngajak Kak Alika jalan-jalan dari rumah Pak Maman menuju ke suatu tempat."
Alika langsung paham. "Kamu ngajak aku menelusuri rute itu?"
Ezra terkekeh. "Ya begitulah!"
"Astaga, Ezra!" pekik Alika kesal. "Jangan ajari aku cara menentang Pak Jacky!"
"Anggap saja aku sedang membalas budi."
"Membalas budi apa?"
Ezra tertawa ringan. "Waktu itu kan Kak Alika ngajarin aku menentang Pak Jacky. Sekarang giliran aku mengajari Kak Alika menentang Pak Jacky. Hahaha!"
"Kampret!" Alika tertawa.
Ezra tertawa ngakak.
"Nggak ada yang lucu, Ez!" hardik Alika. "Aku nggak akan biarkan kamu melakukan kesalahan lagi!"
"Yah...." Ezra mendengus.
"Dengerin aku, Ez!" Alika kembali serius. "Kamu harus move on soal kasus itu. Kalau kamu nggak bisa melakukan demi Pak Jacky, paling tidak kamu mau melakukannya demi Pak Maman."
"Bukannya Pak Maman justru ingin agar kasus itu segera terpecahkan ya?" ujar Ezra. "Sementara ini kan belum ada kepastian siapa yang akan menanganinya."
"Ez!" hardik Alika dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya. "Niat baik harus dilakukan dengan cara yang baik pula!"
"Jadi kalau kita meneruskan penyelidikan itu termasuk nggak baik?" gugat Ezra.
"Enggak!" jawab Alika tegas. "Kamu menentang atasan kamu sendiri!"
Ezra mendengus kecewa.
"Move on, Ez, Move on!"
Ezra menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Sudahlah, Ez, relakan kasus itu!" bujuk Alika.
Ezra kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. "Tadi Kak Alika bilang apa?"
Alika mendengus. "Ez, aku marah sama kamu!" Ia mengakhiri panggilan telepon.
Ezra tercengang, merasa bersalah kepada Alika.