Kehilangan Kesempatan Emas

1102 Kata
Sepeda motor bututnya sudah kembali normal setelah Ezra memperbaikinya selama dua hari ini. Ia mencoba mengujinya di jalan raya. Biasanya motor yang diproduksi pada tahun 1991 itu akan mati jika berhenti di lampu merah. Kali ini lancar-lancar saja. Tadinya Ezra hanya mengujinya di jalan raya dekat rumah, namun ia tergoda untuk mengujinya sampai jauh. Ia ingin tahu seberapa kuat mesinnya dilajukan dalam kecepatan tinggi. Tanpa Ezra sadari, ia sampai di pos polisi yang pernah membuatnya nyaris ditilang. Niat Ezra yang tadinya hanya ingin menguji sepeda motor, menjadi berubah. Sekarang ia tergoda untuk melanjutkan uji rute yang tertunda. "Tidak!" Ezra berkata pada sendiri, menolak keinginan yang kian menggebu. "Kalau aku melakukannya, bukan hanya aku saja yang akan mendapatkan masalah dari Pak Jacky tapi juga Alika." Seorang petugas polisi mendekati Ezra. "Dek, bisa baca rambu-rambu itu?" Ia menunjuk papan rambu-rambu yang melarang semua kendaraan berhenti di sekitar situ. "Iya, Pak, Maaf!" Ezra kembali melanjutkan perjalanan. Secara reflek Ezra berbelok kanan. Ia hafal rute yang telah dibuatnya. Ia sadar sedang mengikuti rute tersebut. Godaan dalam hatinya pun timbul kembali. Ezra hafal benar dalam rute itu ia harus berbelok ke kiri saat nanti bertemu pertigaan. Celakanya, ia tergoda. Ia pun belok kiri. Sepanjang jalan itu di kanan kirinya adalah komplek ruko. Ia terus menelusurinya hingga sampai di sebuah perempatan. Lampu sedang menyala merah. Sambil menunggu lampu hijau, Ezra terus berperang dengan dirinya sendiri. Jauh di dalam hati, ia ingin melanjutkan uji rute. Ia penasaran sampai di mana rute itu akan berakhir. Namun otak warasnya melarang. Ia tidak mau menentang Pak Jacky dan Alika. Tin! Tin! Ezra dikagetkan bunyi klakson mobil di belakangnya. Ia baru sadar lampu hijau sudah menyala. Reflek ia belok kanan, persis dengan rute yang sudah ia hafal. Semakin jauh berjalan, Ezra semakin sulit menahan godaan agar tidak menuruti keinginan. Ia pun menyerah dan membiarkan dirinya mengikuti rute hingga selesai. Sampailah Ezra di depan sebuah gedung perkantoran berlantai tiga. Ia memasukinya dan memarkirkan sepeda motornya. 'Apakah ini tempat yang dimaksudkan Septi?' tanyanya dalam hati sambil memandang gedung. Ezra melangkah mendekati gedung. Ia memasuki pintu utama. Ia menyusuri setiap kavling sambil memfokuskan matanya pada setiap papan nama perusahaan yang tertera di depan setiap kavling. Seluruh lantai satu telah Ezra telusuri. Ia tidak menemukan papan nama PT. Eraneo. Ia pun naik ke lantai dua. Di sana ia juga tidak menemukan kantor perusahaan tersebut. Sebelum naik ke lantai paling atas, Ezra berhenti sejenak. Ia duduk di anak tangga sambil menyeka keringat di dahi. Beberapa orang lalu lalang, turun-naik anak tangga. Ia cuek saja, toh tidak ada yang mengenalnya. Sekarang Ezra baru merasa bersalah telah menentang Pak Jacky dan Alika. Sungguh ia tidak berniat begitu. Ia hanya penasaran dengan rute yang sudah terlanjur ia uji. Ezra merogoh saku celana. Ia mengambil ponsel. Ia belum meminta maaf kepada Alika. Semalam gadis itu marah kepadanya. Ezra menelepon Alika. Cukup lama panggilannya tidak dijawab. Ia menjadi cemas, kalau-kalau gadis itu enggan bicara padanya. Ia mengulangi panggilannya berkali-kali sampai akhirnya terjawab. "Ada apa?" hardik Alika. Ezra berdeham pelan. "Kak, aku minta maaf, sudah bikin Kak Alika marah." "Jadi kamu sadar telah membuatku marah?" "Iya," jawab Ezra lirih. "Iya, aku maafkan." "Terima kasih, Kak." "Sudah nggak usah sentimentil. Kamu nelepon aku ada perlu apa?" "Cuman mau minta maaf aja sih, Kak." "Kebetulan kamu menelepon. Aku juga sebenarnya mau mengabarkan sesuatu. Tadinya mau aku sampaikan sore nanti di rumahmu." "Kabar apa, Kak?" Ezra penasaran. "Kasus perselingkuhan yang aku tangani besok resmi ditutup," beritahu Alika dengan nada senang. "Sebenarnya kasus itu memang sudah terpecahkan beberapa hari lalu, tapi klien-ku minta pendampingan untuk melaporkan suaminya ke kepolisian kasus KDRT. Tapi Pak Jacky menyarankan beliau agar minta perlindungan kepada polisi atau lembaga perlindungan saksi dan korban. Jadi, aku sudah nggak berurusan lagi dengannya." "Syukurlah." Ezra merasa lega. "Berarti Kak Alika bisa menangani kasus hilangnya Septi dong." "Iya, Pak Jacky sudah memutuskan, mulai besok penanganan kasus itu aku lanjutkan lagi." Ezra merasa senang. "Lalu aku gimana?" "Aku akan perjuangkan kamu agar bisa menjadi asistenku lagi pada kasus itu. Doakan saja!" "Aamiin!" Ezra senang bukan main. "Tapi kamu tahu sendirilah, Pak Jacky selalu tegas menerapkan aturan. Ada kemungkinan hukuman skors harus kamu jalani sampai seminggu. Jadi seandainya Pak Jacky setuju dengan usulku agar kamu dilibatkan kembali, kamu baru bisa bergabung lagi nanti, setelah hukumanmu selesai." Harapan Ezra tumbuh kembali. "Aku sudah nggak sabar menjadi asistenmu kembali." "Tapi aku nggak bisa membiarkanmu jalan sendiri. Kamu harus selalu dalam pengawasanku. Itu yang Pak Jacky mau." "Nggak papa, Kak, yang penting aku bisa menjadi asistenmu lagi." Terdengar Alika menarik napas dalam-dalam. "Kamu di rumah?" Ezra terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Jika berkata jujur, pasti Alika akan marah lagi, tapi jika berkata bohong, ia tidak berani. "Kenapa diam?" "Mmhh, aku sebenarnya lagi...." Ezra ragu untuk meneruskan kalimatnya, mengakui kalau ia sedang menguji rute. "Sebenarnya lagi di mana?" Alika mencium gelagat tidak beres. "Jangan bilang kalau kamu sedang menguji rute itu!" Ezra mendesah pelan. Ia takut Alika akan marah lagi. "Ezra, kamu kenapa diam saja? Ada yang kamu sembunyikan dariku?" Ezra gugup. "M-ma-maaf, Kak." "Kenapa minta maaf? Memangnya kamu salah apa?" Alika semakin yakin Ezra menyembunyikan sesuatu darinya. Ezra harus berterus terang, menceritakan dari awal. "Tadi aku keluar rumah buat menguji sepeda motorku yang baru aku perbaiki." "Terus?" "Aku mengujinya sampai di pos polisi yang waktu itu hampir kena tilang." Ezra menelan ludah, tidak sanggup meneruskan ceritanya. Alika merasakan sesuatu yang tidak beres. Ezra bukanlah tipe anak yang suka bertele-tele. Sehingga ia curiga kalau anak itu telah melakukan sesuatu yang membuatnya marah. "Di pos polisi itu aku tergoda buat...." Alika bisa menebak ke arah mana ucapan Ezra. Ia curiga anak itu sedang melakukan uji rute. Namun ia menunggu sampai anak itu mengakuinya. "Maaf, Kak, aku melanjutkan kembali uji rute itu." Ada perasaan lega setelah Ezra mengakuinya. Namun kini hatinya diliputi ketakutan kalau Alika akan marah padanya. Alika diam. Ia marah kepada Ezra. "Maafkan aku, Kak." Alika bungkam, sengaja mengondisikan agar Ezra terus memelihara rasa bersalah. "Kak...." "Baru beberapa menit lalu kamu minta maaf," dengus Alika. Ezra menelan ludah. Ia benar-benar menyesal telah membuat marah Alika lagi. "Kemarin aku masih bisa memahami gejolak perasaanmu. Aku pikir manusiawi kalau kamu merasa begitu. Tapi manusia juga diberi akal, Ez! Aku pikir kamu cerdas secara emosi, namun kali ini aku harus mengatakan padamu, aku sangat kecewa!" "Aku salah, Kak. Maafkan aku," ucap Ezra, mengutuk dirinya sendiri. "Aku bisa melaporkan itu kepada Pak Jack, tapi aku nggak akan melakukannya. Aku memberimu kesempatan untuk memperbaiki sikapmu. Namun, aku sudah tidak menginginkanmu menjadi asistenku lagi, bahkan seandainya Pak Jacky yang memintanya." Ezra menarik napas dalam-dalam. Dipejamkannya mata kuat-kuat. Ia baru saja kehilangan kesempatan emas dalam mencapai cita-citanya menjadi detektif. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN