Mood Alika terjun bebas sejak mengetahui kalau Ezra telah mengabaikan peringatannya untuk tidak meneruskan uji rute. Selain ia kesal pada lelaki yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri itu, juga ia menyesali sikapnya yang pernah memberi Ezra kesempatan untuk berkembang. Kini ia tahu alasan kenapa Jacky menganggap Ezra belum layak diberi kesempatan.
Selama ini Alika hanya melihat kecerdasan dan kegigihan Ezra. Ia terlalu fokus pada pencapaian anak itu dalam mempelajari sesuatu. Kini ia sadar, Ezra belum cukup cerdas untuk mengendalikan emosi.
Kini Alika merasa asing dengan sosok Ezra. Anak yang selama ini selalu tampil ceria, rajin, dan penurut, sekarang tampak seperti sosok yang tidak dikenalnya. Alika merasa kehilangan anak itu.
"Kamu baik-baik saja?"
Alika terkesiap dari lamunan. Ia kaget karena tahu-tahu Jacky berada di depan meja kerjanya. Buru-buru ia menyungging senyum kepada sang direktur.
"Kamu ada jadwal keluar?" tanya Jacky.
Alika mengangguk. "Saya ada janji ketemu klien setengah jam lagi."
Jacky mengerjap. Ia ingin membicarakan sesuatu dengan Alika. "Kamu pakai mobil?"
Alika menggeleng. "Enggak, Pak, saya nggak bawa mobil. Rencananya mau pakai ojol saja."
Jacky memiliki ide. "Gimana kalau kamu saya antar? Sambil jalan, aku mau membicarakan sesuatu sama kamu."
Alika mengerjap. "Boleh juga. Lumayan bisa menghemat pengeluaran."
Jacky terkekeh. "Ya sudah, kabari saya kalau kamu siap jalan ya?"
Alika melirik arloji pada pergelangan tangannya. "Sekarang juga boleh, Pak."
"Ok, let's go!' Jacky mengajak Alika bangun dari tempat duduknya.
Alika mengenakan. Ia bangkit dari duduk dan mengekor Jacky yang telah lebih dulu berjalan menuju parkiran.
Alika dan Jacky masuk ke mobil. Mereka berjalan keluar dari area parkir menuju jalan raya.
"Bapak mau membicarakan soal apa?" tanya Alika beberapa saat setelah mobil keluar dari area gedung kantor.
Jacky melirik Alika sekilas, lalu kembali fokus ke depan. "Soal kasus hilangnya Septi."
Alika mengangguk. "Oke."
Jacky mengambil lajur kanan. Ia menambah kecepatan mobil selagi lalu lintas sedang tidak begitu ramai. "Kamu siap memulainya besok kan?"
"Iya dong, Pak." Alika melirik Jacky. "Saya sangat bersemangat untuk memecahkan kasus itu segera."
Jacky mengerjap, merasakan sesuatu yang kontradiktif antara pernyataan Alika dengan ekspresi yang ditunjukannya. Namun ia berusaha berprasangka baik, barangkali saja detektif itu belum fit.
"Sebenarnya saya mencemaskan kondisi kesehatanmu, ujar Jacky.
"Saya baik-baik saja, Pak!" potong Alika. Ia tidak mau kondisi kesehatannya yang belum sepenuhnya prima mengendurkan semangatnya.
"Syukurlah."
"Jadi apa yang akan dibahas soal kasus itu?" tanya Alika.
Di depan, lampu merah sedang menyala. Jacky menghentikan mobil. Ia menatap Alika. "Kamu membutuhkan asisten?"
Alika balik bertanya. "Memangnya ada asisten yang non job?"
Jacky menggeleng. "Barangkali saja kamu menginginkan Ezra."
Alika melengos. Perasaan tidak nyaman dalam hatinya muncul lagi saat nama Ezra disebut. "Ezra masih menjalani hukuman bukan?"
"Ezra sudah menjalani skorsing selama tiga hari," ujar Jacky. "Saya pikir itu cukup adil. Ezra bisa kembali menjadi asisten, kalau kamu menginginkannya."
Alika tersenyum sinis. "Bapak yakin akan mengurangi hukuman Ezra?"
Jacky mengedikan bahu. "Jika keadaan mengharuskannya begitu, kenapa tidak?"
Alika mendesah perlahan. Sejujurnya ia senang jika hukuman skorsing Ezra dikurangi. Hanya saja ia tidak mau anak itu kembali lagi menjadi asistennya.
"Bagaimana menurutmu?" desak Jacky.
"Mengurangi hukuman Ezra adalah wewenang bapak," timpal Alika.
Jacky tersenyum. "Itu artinya kamu sependapat dengan saya untuk mengurangi hukuman skorsing Ezra?"
"Iya, saya sependapat kalau bapak akan mengurangi hukunan Ezra dan anak itu bisa kembali lagi menjadi office boy," ucap Alika.
"Alasan saya mengurangi hukuman Ezra adalah karena ingin menjadikannya asisten kamu kembali."
Alika menarik napas dalam-dalam. "Kalau itu alasannya, saya tidak sependapat."
Jacky mengernyit heran. "Saya pikir kamu akan senang, ternyata enggak."
"Lampunya hijau, Pak!" Alika menunjuk ke depan.
Jacky melajukan kembali mobilnya. Dalam hati ia masih merasa heran atas reaksi Alika yang di luar perkiraannya. Ia menawarkan kepada Alika, agar Ezra menjadi asisten lagi dengan pertimbangan agar beban detektif itu tidak ditanggung sendiri. Sebelumnya ia menduga kalau gadis itu akan merasa senang. Namun dugaannya salah.
"Kalau kamu enggak mau, saya juga nggak akan mengurangi hukuman Ezra," ujar Jacky.
Alika menelan ludah. Perasaannya campur aduk. Ada perasaan lega setelah Jacky tidak mendesaknya untuk menerima Ezra sebagai asisten, namun ada juga perasaan tidak enak hati kepada Ezra karena gara-gara itu Ezra tidak jadi mendapat pengurangan hukuman. Bagaimanapun juga ia menganggap hukuman skorsing seminggu terlalu berat bagi anak itu.
"Jadi kamu nggak mau Ezra kembali menjadi asistenmu lagi?" Jacky bertanya memastikan.
Alika diam. Dalam hati kecilnya, ia ingin agar Ezra memiliki kesempatan untuk membuktikan kemampuannya dalam dunia perdetektifan, namun pikiran logisnya menginginkan agar Ezra membenahi sikapnya dulu.
"Sepertinya kamu masih bimbang," tebak Jacky.
Alika menggigit bibirnya. Ia membenarkan tebakan Jacky.
"Kalau begitu kamu pertimbangkan dulu tawaran saya ini," ujar Jacky. "Besok pagi kamu harus putuskan."
Alika menarik napas dalam-dalam. "Saya membutuhkan asisten untuk kedua kasus. Silakan kalau bapak ingin menyediakannya dari luar. Yang pasti saya ingin Ezra membenahi dirinya dulu. Ia belum layak mendapatkan kesempatan itu saat ini. Hanya saja saya berharap, bapak akan memberinya kesempatan itu padanya nanti saat ia siap."
Jacky masih merasa hera. Ia memancing Alika. "Bukankah Ezra telah berhasil menemukan petunjuk atas kasus hilangnya Septi?"
"Iya, memang."
"Di hadapan Pak Maman kamu juga dengan bangga mengatakan kalau Ezra ternyata lebih cerdas dari yang kamu ketahui sebelumnya?"
Alika mengangguk. "Iya."
"Bukankah dengan kemampuannya itu akan sangat membantumu dalam memecahkan kasus hilangnya Septi?"
Alika mendesah. "Iya, otak Ezra memang cerdas. Saya pikir bapak pun mengakuinya, tapi Ezra belum cerdas secara emosi."
Jacky mengernyit. "Apa dasarmu menilai Ezra seperti itu?"
Alika melirik Jacky. "Ezra tidak mengindahkan peringatan bapak!"
Jacky memindahkan lajur dari kanan ke kiri. Ia memperlambat laju mobil. "Setiap orang bisa berbuat salah. Ingat, ia melakukan itu juga karena kamu memberinya kesempatan!"
Alika membuang muka ke samping. Ia tidak mau memberitahu Jacky bahwa setelah itu Ezra mengulangi kesalahan yang sama.
Melihat sikap Alika yang terkesan bersikeras menolak tawarannya, akhirnya Jacky mengalah. "Baiklah jika itu keputusanmu. Hanya saja saya masih memberimu waktu untuk mempertimbangkannya lagi sampai besok."
Alika mengangguk. "Iya."
***
Selepas mengantar Alika, Jacky merasa perlu menelepon Ezra untuk janji ketemuan.
Jacky penasaran, kenapa Alika menolak Ezra kembali menjadi asistennya. Gadis itu sudah menjelaskan kalau Ezra tidak cerdas secara emosi. Itu membuat Jacky merasa curiga di antara kedua bawahannya sedang ada masalah. Ia pun tergerak untuk mencari tahu. Maka ia pun menelepon anak itu.
Berjarak tiga kilometer dari tempat Jacky yang sedang memarkirkan mobilnya, Ezra baru saja selesai menelusuri semua kavling pada sebuah gedung perkantoran.
Mendengar nada dering panggilan telepon, Ezra merogoh saku celananya, mengambil ponsel. Ia terkejut ketika mendapati kontak Jacky terpampang pada layar ponselnya.
Ezra menjawab panggilan telepon tersebut. "Halo, Pak!'
"Ezra, kamu ada di rumah?" tanya Jacky.
Ezra curiga kalau Jacky mengetahui kalau dirinya sedang menelusuri rute. Ia berusaha tenang. "Saya di luar, Pak."
"Wah, padahal saya ingin ketemu sama kamu," ujar Jacky.
"Kalau boleh tahu ada apa ya, Pak?" tanya Ezra dengan nada sedikit bergetar. Ia takut Jacky akan membahas soal kesalahan yang telah dilakukannya.
"Nanti kamu juga tahu," ujar Jacky diplomatis.
"Apa ada kaitannya sama pekerjaan, Pak?" pancing Ezra cemas.
"Tentu saja."
"Mmhh, jadi saya harus ke kantor?"
"Saya juga sedang berada di luar. Kalau kamu ada waktu kita bisa ketemuan di kafe."
"Kalau waktu ada, Pak. Saya akan ke tempat yang bapak tentukan."
Jacky merasa senang karena Ezra bisa ia temui. "Saya ada di Simpanglima. Kamu ada di mana?"
"Deket berarti, Pak," ujar Ezra. "Jadi saya harus menemui bapak di mana?"
"Kamu tahu Praha Cafe?"
"Tahu, Pak."
"Bapak tunggu di sana ya?"
"Baik, Pak."
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya?"
"Iya, Pak, terima kasih."
Selepas teleponan dengan Jacky, Ezra segera menuju anak tangga. Saat ini ia sedang berada di lantai tiga. Tadi ia menelusuri setiap sudut gedung ini, mencari barangkali ada kantor PT. Eraneo. Sayangnya ia tidak menemukannya.
Gedung tiga lantai ini tidak memiliki lift. Mau tidak mau Ezra harus menuruninya menggunakan tangga.
Setelah menuruni anak tangga dari lantai tiga, akhirnya Ezra sampai juga di lantai satu. Keringatnya bercucuran. Pahanya terasa pegal. Napasnya terengah-engah.
Untuk melepas lelah sejenak, Ezra duduk di lobi. Ia menyeka keringat di dahi menggunakan lengan baju. Diaturnya napas agar kembali normal. Tiba-tiba matanya tertambat kepada seorang perempuan muda berhijab yang baru saja melewatinya.
Sekilas Ezra menangkap logo pada baju seragamnya. Logo itu persis dengan yang ada di foto pada status terakhir Septi.
Tanpa pikir panjang, Ezra segera mengejar perempuan berhijab tersebut. Ketika berhasil menjejeri langkahnya, perempuan itu keburu masuk ke sebuah kantor.
Tidak mau kehilangan jejak, Ezra memutuskan untuk ikut masuk ke kantor tersebut. Baru saja tangannya mendorong pintu kaca sedikit, seorang sekuriti yang berdiri di dekat pintu menepuk bahunya.
"Mau ke mana?" tanya sekuriti curiga.
Ezra menoleh. Ia memasang senyum. "Mbak yang tadi itu bekerja di sini ya, Pak?"
Sekuriti menatap Ezra penuh selidik. "Anda siapa dan ada keperluan apa mau masuk kantor ini?"
"Saya sedang mencari pekerjaan, Pak," jawab Ezra asal. Hanya kalimat itu yang terlintas dalam benaknya.
"Kalau mau mencari informasi lowongan kerja, Anda bisa ke resepsionis. Itu tempatnya!" Sekuriti menunjuk sebuah ruangan di dekat lobi.
Ezra menoleh ke arah yang ditunjuk sekuriti. "Oh baik. Kalau begitu terima kasih ya, Pak?"
Sekuriti mengangguk sambli memperhatikan penampilan Ezra dari atas sampai bawah.
Agar tidak dicurigai, terpaksa Ezra menuju ruang resepsionis.
Sampai di ruang resepsionis. Ezra duduk di kursi. Selain dirinya, tidak ada siapa-siapa di barisan kursi itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya resepsionis, seorang ibu-ibu yang duduk di balik meja kerjanya.
Ezra bangkit menuju resepsionis. Ia duduk di depan meja. Sekarang ia punya ide.
"Maaf, Bu, saya butuh informasi lowongan pekerjaan. Sama seorang sekuriti, saya disarankan ke sini," ujar Ezra bergaya seperti seorang pengangguran yang sedang membutuhkan pekerjaan.
Resepsionis tersenyum. "Kalau boleh tahu, apa pendidikan terakhirnya?"
"SMA, Bu."
"Baik, mohon tunggu sebentar." Resepsionis mengambil satu bendel berkas dari tumpukan di atas mejanya. Ia menyerahkannya kepada Ezra. "Silakan dipelajari. Di situ setidaknya ada empat puluh lowongan pekerjaan."
"Terima kasih, Bu." Ezra menerima berkas dari resepsionis. Ia menghitung setidaknya ada sebelas lembar kertas. "Ini boleh saya bawa pulang?"
"Silakan!"
"Kalau begitu saya permisi."
Resepsionis mengangguk ramah.
Ezra meninggalkan ruang resepsionis. Ia melirik ke arah sekuriti yang tadi mencegahnya masuk ke sebuah kantor. Ia mengacungkan jempol.