Dua Pilihan Berat

1336 Kata
Seumur-umur baru kali ini Ezra masuk ke kafe. Ketika ditanya Jacky mau pesan apa, ia bingung harus menjawab apa karena menu pada daftar semua terasa asing baginya. "Saya pesan seperti yang bapak pesan saja," ujar Ezra akhirnya. Jacky paham kalau Ezra bingung. "Atau kamu mau pesan kopi?" "Iya, itu aja, Pak!" "Mau makan apa?" Ezra menggeleng. "Nggak usah, Pak. Kopi saja." Jacky tersenyum geli. Ia melirik waitress di sampingnya dan memesan beberapa menu. Selepas memesan menu, Jacky menatap Ezra teduh. Dalam hati ia merasa bersalah telah menghukum salah satu karyawan terbaiknya itu. "Apa kegiatanmu selama tiga hari ini?" tanya Jacky. Ezra menduga itu adalah pertanyaan pancingan. Ia curiga Jacky sudah mengetahui kesalahannya yang terbaru. "Saya sebenarnya nggak tega menghukummu seperti itu, tapi saya harus menegakkan peraturan," ujar Jacky. "Memang kadang saya berpikir, skorsing selama seminggu itu terlalu berat, tapi saya merasa perlu memberikannya kepadamu." Ezra memaksakan tersenyum. "Nggak papa, Pak. Itu memang pantas saya terima." Jacky merasakan Ezra kehilangan keceriaan. Wajah anak itu tampak pucat dan kurang senyum. "Kamu anak yang cerdas, Ez. Kamu paling rajin di antara teman seprofesimu. Sehingga tidak mengherankan kalau Alika meminta sama saya agar menjadikanmu asistennya." Jacky menatap lembut Ezra seperti layaknya seorang ayah kepada anaknya. "Saya sudah mendapat laporan dari Alika bahwa kamu berhasil memecahkan kode dari pesan yang dikirimkan Septi kepada Nadia. Terlepas dari kesalahanmu dan Alika yang tidak mengindahkan peringatan saya, kamu berhasil melakukan analisa layaknya seorang detektif." Ezra tersenyum terpaksa. Kalimat Jacky terdengar di telinganya seperti bukan sebuah pujian tapi satire. Sehingga ia tidak merasa senang karenanya. "Kasus hilangnya Septi akan dilanjutkan kembali mulai besok. Alika tetap yang akan menanganinya," beritahu Jacky. "Iya, Kak Alika sudah memberitahu saya," timpal Ezra. Jacky mengerjap. "Oh iya?" Ezra mengangguk. "Iya, Pak." "Kapan?" "Sekitar sejam yang lalu." Jacky melirik arloji pada pergelangan tangannya. Berdasarkan pengakuan Ezra, ia menduga Alika menberitahu Ezra sebelum gadis itu bertemu dengannya. "Apa Alika memintamu menjadi asisten?" Ezra menunduk. "Tadinya Kak Alika bilang mau mengajukan permintaan kepada bapak agar saya bisa kembali lagi menjadi asistennya." "Kamu mau?" Ezra mengangkat dagu, tanpa berani menatap Jacky. "Tentu saja saya mau." "Tapi Alika belum mengajukan permintaan itu kepada saya." Ezra menelan ludah. Ternyata Alika benar-benar tidak mau menjadikannya asisten lagi. "Sudah lama Alika sering membanggakanmu, Ez. Ia ingin sekali memberimu kesempatan padamu untuk terus belajar menjadi detektif. Sampai akhirnya ia meminta pada saya agar menjadikanmu asisten. Kamu tahu itu artinya apa?" "Saya nggak tahu, Pak." Jacky menatap Ezra lekat-lekat. "Itu artinya Alika percaya kepada kemampuanmu. Ternyata ia benar, kamu mampu memenuhi ekspektasinya. Kerjamu bagus pada awal-awal menjadi asisten detektif. Bahkan karena itu, ia memberimu kesempatan untuk lebih berkembang dengan membiarkanmu jalan sendiri." Ezra merasa bersalah jika mengingat itu. "Saya sedang tidak membahas soal kesalahan kalian yang terkesan menentang saya, bukan!" Jacky terus menatap Ezra. "Saya sedang ingin menyampaikan padamu bahwa kalian adalah tim yang solid." Ezra tidak paham ke arah mana sebenarnya pembicaraan Jacky. "Sehingga menjadi aneh ketika sekarang Alika belum menjadikanmu asistennya," imbuh Jacky. "Padahal terus terang saya akan mengizinkan seandainya Alika memintamu menjadi asistennya lagi." Ezra kembali menunduk. Pada saat Jacky siap mengizinkan, Alika justru tidak mau lagi menjadikannya asisten detektif. Ia sadar, semua karena kesalahannya sendiri. "Pertanyaannya adalah kenapa Alika hingga saat ini belum mengembalikanmu menjadi asistennya?" Jacky mendesah tertahan. "Kamu tahu sebabnya?" Wajah Ezra pucat. Tentu saja ia tahu kenapa Alika enggan menjadikannya asisten lagi. Sekarang ia curiga jangan-jangan Jacky juga sudah tahu. Tapi siapa yang memberitahunya. Ezra yakin bukan Alika orangnya. "Kamu tahu?" desak Jacky. Ezra menelan ludah. Ia bimbang untuk menjawab pertanyaan Jacky. "Saya berhak tahu karena dua alasan," ujar Jacky. "Pertama karena saya atasan kalian. Kedua karena seperti yang sudah saya sampaikan padamu bahwa saya mengizinkannya, tapi Alika tidak mengajukannya." Ezra menunduk. "Bapak akan marah kalau saya menjelaskannya." Jacky mematung, menatap Ezra lekat-lekat. "Kalian ada masalah?" Buru-buru Ezra menggeleng. "Kalau masalah pribadi nggak ada, Pak." Jacky memajukan wajah kepada Ezra yang masih terus menunduk. "Tapi pasti Alika punya alasan bukan?" Ezra memejamkan mata. Ia menguatkan hati untuk menjelaskannya secara jujur. Ia harus siap jika nanti akan mendapatkan tambahan hukuman. "Saya belum menanyakannya kepada Alika," ujar Jacky. "Saya baru akan menanyakannya besok." Suasana tegang di antara Jacky dan Ezra seketika mencair ketika pelayan kafe datang membawa makanan dan minuman. "Satu steak dan dua kopi latte." Pelayan kafe menghidangkannya ke atas meja. "Terima kasih, Mbak!" ucap Jacky. "Sama-sama," sahut pelayan. Ia berlalu dari meja Jacky dan Ezra. "Diminum kopinya, Ez!" Jacky mengambil gelas kopi lalu menyesapnya. Ezra tidak berselera meminum apa pun. Ia meminum sedikit kopinya. "Jadi ada apa sebenarnya di antara kalian?" tanya Jacky. Ezra harus mengakuinya. Lambat laun, Jacky akan tetap mengetahuinya. "Kak Alika marah sama saya, Pak." Meski sudah menduganya, tapi Jacky tetap kaget. "Marah kenapa?" Ezra menunduk. "Kak Alika meminta saya untuk melupakan keinginan melanjutkan uji rute, tapi saya tergoda, Pak. Saya tetap melakukannya." Jacky mendengus kesal kepada Ezra. "Saya minta maaf, Pak," ucap Ezra. Jacky menatap Ezra lekat-lekat. "Saya ingin marah sama kamu, tapi percuma, nggak ada gunanya. Saya cuman mau tanya, apakah setelah itu kamu merasa menyesal?" Ezra terdiam. Ia memang merasa bersalah telah membuat marah Alika, tapi ia tidak menyesal telah melanjutkan uji rute. "Kamu nggak mau menjawabnya, Ezra?" tegur Jacky. "Saya menyesal telah membuat Alika marah," jawab Ezra. Kepala Jacky mendekat ke arah Ezra. "Kamu menikmati uji rute itu?" Ezra mengangguk. "Itu berarti kamu hanya menyesal telah membuat Alika marah, bukan menyesal karena sadar apa yang kamu lakukan itu salah!" Dalam hati Ezra mengakui tuduhan Jacky tersebut. "Pantas saja Alika enggan mengembalikanmu menjadi asisten detektif," gerutu Jacky. "Kamu sadar nggak kalau kamu bukan hanya telah membuat marah Alika saja?" Ezra diam. Ia tahu Jacky juga marah. "Kamu telah menentang Alika dan saya!" Intonasi Jacky meninggi. "Saya pikir dengan memberimu skorsing selama seminggu akan membuat sikapmu lebih baik lagi. Ternyata itu belum cukup." Ezra terus menunduk pasrah. "Saya akan memberimu pilihan." Jacky menatap Ezra tajam. "Pilihan pertama, kamu harus menjalani tambahan skorsing selama satu bulan tanpa gaji. Pilihan kedua, kamu akan menerima pemecatan karena tidak mematuhi pimpinan." Ezra menelan ludah. Pilihan yang diberikan Jacky semuanya berat. Menjalani tambahan skorsing selama sebulan akan membuatnya tidak memiliki kegiatan dan gaji selama satu bulan. Jika ia tidak mendapatkan gaji, bulan depan ia tidak bisa membantu orang tuanya. Biaya token listrik dan tagihan PDAM biasanya ia yang menanggung. Gaji bapaknya hanya cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu saja kadang masih kurang. Selain tidak akan bisa memenuhi kebutuhan keluarga, Ezra juga harus siap menerima sangsi sosial di kantornya. Rekan-rekan seprofesinya pasti ada yang akan meledeknya, terutama mereka yang iri atas pencapaiannya selama ini. Perhatian direktur dan Alika kepadanya selama ini telah membuat beberapa di antara mereka cemburu, bahkan ada yang menuduh dirinya mencari muka. Itu semua sebenarnya masih bisa Ezra atasi. Ia masih bisa bekerja serabutan di luar. Namun yang paling merisaukannya adalah sekarang ia sudah tidak memiliki motivasi terbesarnya. Ia telah kehilangan kepercayaan Jacky dan Alika. Itu berarti kesempatannya untuk menjadi detektif bisa dibilang tertutup. Untuk mewujudkan mimpi menjadi detektif, Ezra harus sering menjadi asisten detektif. Sementara Alika sudah tidak mempercayainya lagi. Kalau pada akhirnya hanya akan tetap menjadi office boy, bagi Ezra lebih baik ia mencari pekerjaan yang lebih baik di tempat lain. "Bagaimana?" tanya Jacky. "Kamu akan memilih yang mana?" Ezra terkesiap. Ia harus memilih satu di antara dua pilihan yang tidak diinginkannya. "Saya akan memberimu waktu sampai besok." Jacky menatap Ezra tidak tega. Dalam hati ia berharap anak itu akan memilih pilihan pertama. Ezra menarik napas dalam-dalam. Emosinya mulai tidak stabil. "Saya memilih berhenti saja, Pak!" Jacky mengernyit kaget. "Kamu yakin?" Ezra beranikan diri menatap wajah Jacky. "Iya, saya yakin." "Saya harap kamu memikirkannya dengan matang," bujuk Jacky yang sekarang menyesal telah memberikan dua pilihan sulit kepada Ezra. "Saya sudah memikirkannya," timpal Ezra emosi. "Terima kasih atas semua yang telah bapak berikan kepada saya. Mohon maaf atas semua kesalahan yang telah saya lakukan." Jacky menelan ludah. Tadinya ia hanya akan memberikan tambahan hukuman skorsing saja. Memberikan Ezra pilihan berhenti kerja hanyalah gertakan saja. Semula, ia berpikir Ezra pasti lebih memilih pilihan pertama. Tanpa diduga anak itu memilih berhenti bekerja. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN