Meskipun memutuskannya dalam keadaan emosi, Ezra tidak menyesal kini ia kehilangan pekerjaan. Setelah memikirkannya dalam keadaan hati tenang, ia merasa telah memilih sesuatu yang tepat.
Ezra merasa tidak ada yang bisa ia harapkan lagi dari perusahaan CV. J-Sukma. Impiannya menjadi detektif semakin sulit di sana. Setelah kehilangan kepercayaan dari Jacky dan Alika, kemungkinan besar ia akan terus menjadi office boy. Karir paling bagus yang barangkali akan diraihnya di sana hanyalah supervisor.
Sekarang Ezra akan fokus untuk mencari pekejaan yang lebih baik pada perusahaan lain. Tadi begitu pulang dari kafe, ia langsung mempelajari berkas info lowongan pekerjaan yang ia dapatkan dari resepsionis di sebuah gedung perkantoran.
Ezra memeriksa dengan teliti setiap lembar pada berkas tersebut. Beberapa lowongan pekerjaan yang cocok baginya telah ia lingkari menggunakan spidol.
Sampai pada lembar ke delapan, Ezra dikagetkan dengan info lowongan pekerjaan dari PT. Eraneo. Perusahaan tersebut membutuhkan pengantar makanan. Syaratnya; lulusan SMA, memiliki SIM C, dan berusia tidak lebih dari 25 tahun. Perusahaan tersebut menyediakan fasilitas tempat tinggal dan sepeda motor.
Bersorak hati Ezra, karena akhirnya ia bisa menemukan PT. Eraneo, perusahaan yang diduga telah membuat Septi hilang selama hampir dua tahun.
Meskipun Ezra sudah tidak bekerja pada CV J-Sukma dan tidak lagi terlibat pada penyelidikan kasus hilangnya Septi, tapi ia tertantang untuk membuktikan bahwa analisanya benar. Ia akan melamar bekerja di sana. Jika pada akhirnya dugaannya salah, paling tidak ia bisa mendapatkan pekerjaan.
Dengan penuh semangat, Ezra membuat surat lamaran pekerjaan kepada PT. Eraneo. Ia juga menyusun CV, dan melengkapi berkas-berkas yang diperlukan. Ia hanya tinggal memasukannya ke amplop besar.
Tidak membuang waktu, Ezra segera pergi ke toko perlengkapan kantor di pasar dekat rumahnya. Ia membeli beberapa barang yang diperlukan.
"Berapa semua, Pak Haji?' tanya Ezra kepada Haji Syaikhu. Pemilik toko itu adalah tetangga rumah Ezra.
"Sembilan ribu, Ez!" jawab Haji Syaikhu.
Ezra menyerahkan selembar uang pecahan sepuluh ribuan kepada Haji Syaikhu.
"Kuperhatikan empat hari ini kamu selalu di rumah, Ez," ujar Haji Syaikhu sambil memberikan uang kembalian.
"Iya, Pak Haji, aku risain dari tempat kerjaku," jawab Ezra. "Ini beli amplop buat melamar pekerjaan di tempat lain."
Haji Syaikhu menatap Ezra simpati. "Mau melamar di mana?"
"Masih sekitar Semarang, Pak Haji."
Haji Syaikhu berpikir sejenak. "Berarti sampai lamaranmu diterima, sementara kamu nganggur?"
Ezra mengangguk.
"Kebetulan saya butuh orang buat mindahin barang-barang dari gudang," ujar Haji Syaikhu. "Kalau kamu nggak keberatan, aku mau minta tolong sama kamu."
Ezra terdiam sejenak. Haji Syaikhu baru saja menawarinya pekerjaan. Sebenarnya itu bukan sesuatu yang asing baginya. Ia sering menerima tawaran serupa tapi pada hari minggu. Sekarang bukan hari minggu tapi ia sedang menganggur.
Sebenarnya Ezra ingin menolak tawaran tersebut karena sekarang ia sedang fokus untuk mengajukan lamaran pekerjaan pada PT. Eraneo, namun ia segan menolaknya karena Haji Syaikhu adalah tetangga rumahnya.
"Nggak banyak kok, Ez," bujuk Haji Syaikhu. "Cuman ada sembilan karton."
Ezra tersenyum. "Iya, aku mau, Pak Haji. Kapan harus aku kerjakan?"
"Sekarang boleh."
Ezra melirik arloji pada pergelangan tangan. Sebentar lagi asar. Jika ia mengerjakannya sekarang, sebelum jam empat sudah selesai. Selepas itu ia mandi dan kembali fokus pada lamaran pekerjaan.
"Trolinya ada di depan gudang," beritahu Haji Syaikhu.
"Baiklah, Pak Haji."
Haji Syaikhu senang. Ia mengambil kunci gudang lalu memberikannya kepada Ezra. "Kalau sudah selesai, kuncinya bisa kamu antarkan ke rumah."
"Memangnya toko Pak Haji mau tutup?"
"Iya, hari ini toko tutup jam tiga sore. Selepas asar aku ada keperluan," jelas Haji Syaikhu.
"Ya sudah kalau begitu aku kerjakan sekarang saja." Ezra memasukkan kunci gudang ke saku celana.
Haji Syaikhu membuka laci meja kasir. Ia mengambil beberapa lembar uang pecahan sepuluh ribuan, lalu memberikannya kepada Ezra.
Ezra menghitung uang pemberian Haji Syaikhu. "Banyak sekali, Pak Haji?"
Haji Syaikhu tersenyum. "Ambil saja semua. Anggap saja sisanya uang rokok, karena kamu nggak merokok jadi uang saja. Hehehe."
Ezra terkekeh geli sekaligus senang. "Makasih, Pak Haji. Semoga usahanya semakin laris manis."
"Aamiin," sahut Haji Syaikhu. "Aku doakan kamu juga segera mendapatkan pekerjaan."
"Aamiin," sahut Ezra. Ia berlalu dari hadapan Haji Syaikhu menuju gudang yang lokasinya di pojok pasar.
***
Sepasang mata Alika berkaca-kaca, menyaksikan dari kejauhan Ezra yang sedang menarik troli berisi tumpukan karton.
Alika bersembunyi dari balik sebuah mobil boks. Ia tidak tega menyaksikan dari dekat, Ezra sedang berpeluh keringat. Perasaan bersalah menyergapnya melihat kenyataan itu.
Tadi, Alika dikabari Jack kalau Ezra sudah risain dari pekerjaannya. Mendengar itu ia langsung menelepon Ezra, namun panggilan teleponnya tidak dijawab. Ia pun memutuskan untuk ke rumah lelaki yang sudah ia anggap seperti adik sendiri itu.
Di rumah Ezra, Alika tidak bertemu anak itu. Kata bapaknya, Ezra pamitan ke pasar. Maka Alika pun segera menyusul ke pasar.
Tadi dalam perjalanan ke pasar, Alika sudah menduga kalau Ezra pasti sedang melakukan pekerjaan. Ezra sering bercerita kalau setiap hari minggu, anak itu menjadi kuli panggul atau menjadi suruhan orang. Ternyata dugaan Alika benar.
Seperempat jam sudah Alika bersembunyi dari balik mobil, menyaksikan Ezra bolak-balik menarik troli. Hatinya menjadi pedih.
Dalam hati Alika menyesal telah menolak tawaran Jacky untuk mengembalikan Ezra menjadi asistennya. Jika ia menerimanya, pasti Ezra tidak akan bekerja serabutan seperti itu. Kini, ia menyadari sikapnya pada Ezra terlalu berlebihan.
Penyesalan Alika dikarenakan ia tidak berpikir kalau Ezra akan risain dari pekerjaannya. Seharusnya ia berpikir sejauh itu. Namun, ia sadar penyesalannya tidak akan bisa mengembalikan lelaki itu ke kantornya. Ezra adalah tipe anak yang teguh pendiriannya yang tidak mudah dibujuk atau digoyahkan.
Ponsel Alika berdering. Jacky meneleponnya. Buru-buru ia menyingkir dari tempat itu menuju mobilnya.
Di dalam mobil, Alika menjawab panggilan telepon dari Jacky.
"Halo, Pak!"
"Alika, kamu di mana?"
"Saya di pasar dekat rumah Ezra."
"Kamu bertemu Ezra?"
"Enggak, Pak."
"Atau lagi beli sesuatu di sana?" selidik Jacky. Ia menduga Alika sedang menemui Ezra.
"Enggak juga," timpal Alika. "Tadinya saya mau menemui Ezra tapi nggak jadi."
"Kenapa?"
"Saya nggak tega melihat Ezra menjadi kuli pasar, Pak."
"Kuli pasar?" Jacky terkejut. Ia memang belum tahu kalau menjadi kuli pasar sudah biasa Ezra lakukan di setiap hari minggu.
"Iya, bagaimanapun juga ia butuh pekerjaan." Alika memberi penekanan pada saat mengucapkan kata 'pekerjaan'.
"Kalau Ezra butuh pekerjaan, kenapa ia berhenti bekerja?" gugat Jacky.
Alika mendengus. "Karena Ezra nggak mau menjalani skorsing sebulan tanpa diberi gaji, Pak!"
Jacky terdiam.
"Kalau Ezra memilih itu, sama saja ia tidak mendapatkan penghasilan selama sebulan, padahal gajinya selalu ditunggu keluarganya." Alika mengatakannya dengan nada menyalahkan. "Saya yakin bapak nggak mempertimbangkan itu lebih dulu ketika memberinya pilihan."
Dalam hati, Jacky membenarkan tuduhan Alika.
"Saya yakin, Ezra sebenarnya tidak ingin risain, Pak. Cuman kalau ia memilih menerima skorsing, ia nggak akan dapat apa-apa. Maka itu ia memilih berhenti bekerja di kantor bapak karena dengan begitu ia bisa mencari pekerjaan di tempat lain."
Perasan Jacky campur aduk, antara merasa sedih mendengar Ezra harus menjadi kuli pasar dan merasa tersinggung atas ucapan Alika yang terkesan menyalahkannya.
"Ada apa bapak menelepon saya?" Alika berusaha mengalihkan topik.
Jacky menarik napas berusaha mengusir perasaan tidak nyaman dalam hati. "Saya mau mengabarkan kalau di kantor ada Pak Maman. Kalau kamu ada waktu, saya minta kamu ke kantor sekarang."
"Apa yang mau dibahas, Pak?"
"Secara teknis nggak ada sih, cuman barangkali kamu ingin menanyakan sesuatu kepada beliau."
"Ya sudah kalau begitu saya akan ke kantor setengah jam lagi," ujar Alika.
"Iya, saya tunggu," timpal Jacky. "Hati-hati di jalan."
"Iya, makasih."