Melamar Kerja

1290 Kata
Ezra memasukkan surat lamaran pekerjaan kepada resepsionis. Ia diberitahu, pihak perusahaan terkait akan mengabarinya dalam waktu dekat. Dalan brosur yang ia terima, semua surat lamaran pekerjaan diterima resepsionis gedung perkantoran, bukan kepada masing-masing perusahaan. Itu membuatnya tidak bisa mengetahui di manakah lokasi kantor PT. Eraneo sebenarnya. Dari ruangan resepsionis, Ezra tidak langsung pulang. Ia penasaran kepada perempuan muda yang dilihatnya kemarin. Ia duduk di lobi, berharap melihatnya lagi. Sayangnya, setelah menunggu hampir dua jam, ia tidak melihatnya lagi. Kemarin Ezra melihat perempuan muda itu memasuki sebuah kantor. Sayangnya, sebelum ia berhasil ikut masuk ke kantor tersebut, sekuriti keburu mencegahnya. Ezra menjadi heran, kenapa sekuriti tersebut melarangnya masuk. Ia penasaran, kantor apakah itu sebenarnya sehingga tidak semua orang diperkenankan masuk? Hati Ezra tergelitik untuk menyelidikinya. Barangkali saja itu kantor PT. Eraneo cabang Semarang. Ia menduga kantor tersebut sengaja tidak memasang papan nama karena memang perusahaan tersebut fiktif. Ezra mengedarkan pandangan ke sekililing lobi. Setiap orang tampak sibuk. Hanya ia yang duduk santai. Pandangan Ezra tertambat kepada seorang lelaki seusianya. Ia menebak lelaki itu adalah seorang cleaning service yang sedang mengepel lantai. Ezra segera menghampiri lelaki tersebut. "Mas, maaf mengganggu, boleh tanya nggak?" Lelaki itu melirik Ezra. "Tanya apa, Mas?" Ia kembali melanjutkan pekerjaannya mengepel lantai. "Kantor itu kok nggak ada papan namanya." Ezra menunjuk ke arah sebuah kantor. "Kalau boleh tahu itu kantor apa ya, Mas?" Lelaki itu melirik ke arah yang ditunjuk Ezra. "Kantor itu kosong, Mas." "Tapi kok ada kegiatan di dalamnya?" tanya Ezra heran. "Kemarin aja aku lihat ada orang masuk ke sana." Lelaki itu kembali mengepel lantai. "Soal itu saya nggak tahu, Mas. Maaf, saya lagi kerja." Ezra menyingkir karena tempatnya berpijak akan dipel. "Ya sudah, terima kasih informasinya, Mas." Lelaki itu hanya mengangguk. Ia terlalu fokus pada pekerjaannya. Ezra kembali ke lobi. Ia masih belum puas atas jawaban lelaki cleaning service tersebut, namun ia memakluminya. Ia berpikir lelaki itu mungkin tidak banyak mengetahui perihal kantor misterius tersebut. Tidak mau menanggung penasaran, Ezra nekat akan memasuki kantor itu. Ia berjalan mendekatinya sambil matanya mengawasi sekitar. Sampai di depan pintu, ia pura-pura sedang sibuk memainkan ponsel, padahal ia sedang memastikan tidak ada satu pun orang yang memperhatikan ke arahnya. Ezra melirik pintu. Dari modelnya, ia yakin cara membuka pintu itu adalah dengan cara mendorongnya. Maka ia menyandarkan punggung ke daun pintu yang terbuat dari kaca tersebut. Pintu itu tidak bergerak sama sekali, meskipun ia mendorong punggungya sekuat tenaga. Ia menduga pintu itu terkunci. Dua orang berjas mendekat. Mereka tampak serius mengobrol. Buru-buru, Ezra menempelkan ponsel ke telinga, pura-pura sedang menelepon seseorang. Setelah mereka lewat, Ezra kembali berniat untuk mendorong pintu itu lagi. Namun ia harus mengurungkan niatnya ketika ada lagi orang yang lewat. Ezra tidak mau memaksakan diri untuk membuka pintu kantor itu. Ia tidak akan gegabah. Sehingga ia memutuskan untuk pulang saja. Ia akan menyelidiki kantor itu lagi lain kali. Ezra meninggalkan gedung perkantoran melalui pintu samping yang lebih dekat dengan posisi sepeda motor bututnya terparkir. Sementara itu melalui pintu utama, Alika dan Jacky baru saja memasuki gedung tersebut. Sampai di area parkiran, Ezra melihat seorang lelaki berpostur tinggi sedang menyalakan mesin sepeda motornya. Baju seragam yang dikenakan lelaki jangkung itu sama persis dengan yang dikenakan perempuan muda berhijab kemarin. Sebelum kehilangan jejak lelaki jangkung itu, Ezra segera mengenakan jaket dan helm. Saat ia menyalakan mesin sepeda motor bututnya, lelaki jangkung itu baru saja meninggalkan area parkir. Segera saja ia mengejarnya. Lelaki jangkung itu melesat dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Ezra tancap gas, mencoba mengejarnya. Ia menggeber sepeda motor bututnya. Sesekali ia menyalip kendaraan lain sambil pandangannya terus mengawasi sepeda motor itu. Beberapa ratus meter di depan ada traffict light yang sedang menyala hijau. Jaraknya dengan lelaki jangkung di depannya semakin berkurang. Ia memang tidak bisa mengejarnya lebih dekat, namun paling tidak tidak kehilangan jejak. Dua ratus meter menjelang traffict light, lampu kuning menyala. Si jangkung berhasil melewatinya, sementara Ezra terpaksa harus mengerem mendadak karena lampu sudah hijau. "Sial!" Ezra memukul setang stir sepeda motor bututnya karena gagal mengikuti lelaki jangkung tersebut. Ia pun kehilangan jejak. *** Gerimis tidak menyurutkan Ezra untuk menurunkan ember berisi tahu dari bak truk. Peluhnya bercucuran, tapi dengan gesit ia menggeser ember-ember itu ke tepi. Di bawah bak truk telah menunggu dua kuli panggul yang akan mengirimkan ember-ember itu ke pedagang tahu di dalam pasar. Agar rambutnya tidak terkena air gerimis, Ezra membungkus kepalanya menggunakan kantong kresek. Cara itu memang efektif membuat kepalanya aman, tapi baju dan celananya tetap basah, apalagi intensitas gerimis semakin rapat. "Masih berapa lagi?" tanya kuli panggul yang berada di bawah bak, kepada Ezra. "Empat, Mas." Ezra membantu menurunkan ember turun dari bak truk. Dua kuli panggul di bwahnya menangkapnya secara hati-hati. Berjarak sebelas meter dari tempat Ezra, Jacky dan Alika tengah duduk di dalam warung makan. Sejak tadi mereka memperhatikan Ezra. "Miris banget!" ujar Alika sengaja ditujukan kepada Jacky. Jacky menarik napas dalam-dalam. Hatinya terasa sesak, telah melihat sendiri bagaimana perjuangan Ezra mendapatkan uang setelah tidak lagi bekerja pada kantornya. Kemarin Alika mengajak Jacky untuk melihat sendiri kegiatan Ezra setelah berhenti bekerja di kantornya. Pagi tadi, Jacky ikut Alika melakukan penyelidikan atas kasus hilangnya Septi. Mereka melakukan uji rute menggunakan petunjuk yang Ezra susun. Mereka memulainya dari halaman depan rumah Pak Maman, hingga ke sebuah gedung perkantoran. Ketika mereka memasuki gedung tersebut, pada saat yang bersamaan, Ezra keluar dari sana. Jacky ingin membuktikan sendiri ketepatan analisa Ezra seperti yang dikatakan Pak Maman dan ternyata memang benar. Ia kagum kepada kecerdasan anak itu. Tidak banyak yang dilakukan Alika dan Jacky di gedung itu. Mereka hanya menelusuri setiap sudut area di sana. Setelah itu, Alika mengajak Jacky untuk ke pasar, barangkali Ezra sedang menjadi kuli di sana. Mereka duduk di dalam sebuah warung makan. Tempat itu berhadapan langsung dengan area parkir. Sehingga bisa dengan leluasa memperhatikan lalu lalang orang. Saat mereka baru duduk sekitar lima menit, sebuah mobil truk parkir. Saat itulah mereka melihat sosok Ezra yang dengan cekatan naik ke atas bak truk, menggeser ember berisi tahu ke tepi lalu menurunkannya satu per satu. Di bawahnya, dua kuli bangunan lain membawa ember-ember tersebut dan mengirimkannya ke para pengecer. Jacky dan Ezra menyaksikan bagaimana Ezra begitu kuat menjadi kuli pasar. "Ezra anak rajin. Ia mau melakukan pekerjaan apa saja agar mendapatkan uang," ujar Alika. "Iya," sahut Jacky merasa kagum sekaligus merasa pedih. Ia menjadi merasa bersalah telah memberi dua pilihan kepada Ezra, di mana salah satunya adalah berhenti kerja. "Seharusnya saya tetap menggaji Ezra meskipun memberi skorsing selama sebulan," ratap Jacky. Alika menggeleng. "Percayalah, Pak, Ezra nggak akan mau menerima gaji itu karena ia merasa tidak melakukan apa-apa." "Apakah hukuman yang saya berikan padanya terlalu berlebihan?" tanya Jacky merasa serba salah. Alika mengangguk. "Menurut saya, iya. Kalau saya menjadi bapak, saya hanya akan menambah hukuman skorsing satu minggu. Itu cukup adil." Jacky mendesah. "Jadi menurutmu, apa yang harus saya lakukan?" Alika memperhatikan Ezra yang baru saja selesai menurunkan ember-ember berisi tahu. "Sejauh ini belum ada, Pak." Jacky mendengus. "Jadi kita nggak bisa melakukan sesuatu?" Alika menoleh. "Bapak bisa meminta Ezra masuk kerja lagi, tapi saya pesimis ia akan mau." "Kenapa Ezra nggak mau?" Alika menatap Jacky. "Karena Ezra sendiri yang memutuskan untuk risain, bukan karena bapak yang memecatnya." "Tapi apa Ezra nggak mau berubah pikiran?" Alika menggeleng. "Saya mengenal anak itu sejak lama. Ia bukan tipe anak yang mau menjilat air ludah sendiri." "Tapi Ezra membutuhkan pekerjaan!" dalih Jacky. Alika tersenyum sinis. "Ezra bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain." Jacky mendengus, baru tahu Ezra seteguh itu pendirian anak itu. "Itulah kenapa Ezra lebih memilih menjadi kuli pasar ketimbang memilih opsi pertama dari bapak!" Jacky menelan ludah. Sejak kemarin Alika terkesan menyalahkannya. "Tapi saya yakin, kelak Ezra akan berterima kasih kepada kita, terutama bapak," ujar Alika membesarkan hati Jacky. Ucapan Alika, alih-alih menghibur Jacky, justru terdengar seperti sebuah satire. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN