Kecerdasan Emosi

1355 Kata
Dua belas menit lagi menuju pukul tujuh petang. Hujan baru saja reda setelah menguyur kota Semarang sejak senja. Tetesan-tetesan sisa air hujan menimbulkan bunyi berisik pada asbes di rumah Ezra. Ezra duduk di kursi ruang tamu. Ia menggunting ujung saset cairan jamu tolak angin. Ia meminum isinya. Rasa pepermint menyegarkan tenggorokannya yang sedikit mengalami peradangan. Ezra meletakkan saset bekas bungkus tolak angin dan gunting ke atas meja. Badannya terasa pegal dan meriang setelah kemarin dari siang sampai sore menjadi kuli pasar dalam keadaan terkena air hujan. Ia merapatkan jaket lalu menarik kedua kaki ke kursi, mengurangi hawa dingin. Ezra sudah tidak sabar menunggu waktu isya. Ia ingin setelah sholat isya langsung merebahkan diri di atas kasur. "Assalamu alaikum." Ezra terkesiap. Ia hafal sekali pemilik suara itu. "Wa alaikum salam. Buka saja pintunya, Kak!" Daun pintu terbuka. Wajah cantik Alika menyembul sambil menyungging senyum. "Masuk, Kak!" Alika masuk, lalu duduk di kursi. Matanya menangkap bekas saset jamu tolak angin. "Kamu masuk angin?" Alika memandang Ezra prihatin. Sebenarnya tanpa bertanya pun ia bisa menebaknya. Bekas saset jamu tolak angin, jaket, dan kaki ditekuk di atas kursi, sudah menjelaskan kalau Ezra sedang tidak sehat. "Biasalah, Kak, namanya juga musim penghujan," ujar Ezra. Ia mengambil saset bekas jamu dari atas meja lalu membuangnya ke tempat sampah di dekatnya. "Kamu nggak hujan-hujanan kan?" pancing Alika. Ia sudah melihat sendiri, tadi di pasar Ezra menjadi kuli pasar sambil hujan-hujanan. Ezra tertawa. "Memangnya aku anak kecil?" Alika tersenyum getir. Ia tahu Ezra enggan berterus terang. "Ada apa, Kak?" tanya Ezra. "Ada bekas saset tolak angin!" jawab Alika asal. Ezra terkekeh sambil terbatuk-batuk. "Kuli pasar sepertimu bisa masuk angin juga ternyata?" sindir Alika. Ezra tertawa untuk menyembunyikan ekspresi salah tingkahnya. "Kamu malu kalau aku tahu kamu menjadi kuli pasar?" Alika menatap tajam Ezra. Ezra berhenti tertawa. "Enggaklah, aku kan sering cerita sama kakak kalau aku setiap hari Minggu menjadi kuli pasar." "Dan sekarang bukan hanya hari Minggu saja, tapi setiap hari kan?" Ezra tersenyum. "Baru dua hari." Alika mendengus. "Kenapa kamu memilih risain?" Ia bertanya begitu hanya memastikan saja kalau jawaban Ezra seperti yang ia duga. Ezra berubah serius. "Bulan depan aku harus tetap mendapatkan uang. Itu nggak bisa aku dapatkan kalau aku memilih menerima hukuman skorsing satu bulan tanpa gaji." Alika mengangguk pedih. Ia menatap Ezra simpati. "Jika menjadi kamu aku pun akan memilih hal yang sama." Ezra terkekeh. "Menjadi kuli pasar juga?" Alika tidak terpancing untuk tertawa. Perasaan pedih dalam hati membuat selera humornya terjun bebas. "Kamu ya, dalam keadaan seperti ini saja masih bisa bercanda." Ezra mengedikkan bahu. "Lalu aku harus sedih begitu?" Alika menatap Ezra kagum. "Kamu tangguh, Ez!" Ezra merapatkan jaket. "Aku lebih senang diberi cokelat ketimbang dipuji." Kali ini Alika tersenyum. "Pada saat aku sedang serius Kak Alika malah senyum, tadi pas bercanda malah diam saja," gerutu Ezra. Alika mendelik. "Candaanmu nggak lucu soalnya." Ezra tertawa. "Maklumlah, Kak. Aku lebih berbakat menjadi pembangkang ketimbang menjadi pelawak." "Dan kamu bangga?" Alika menghunus tatapan tajam. Ezra mengerjap. "Pada dasarnya tidak ada orang yang ingin menjadi pembangkang." "Lalu kenapa kamu melakukannya?" Ezra diam. Alika menatap lekat-lekat Ezra. "Tidak ada orang yang ingin menjadi pembangkang. Sehingga ketika ada orang yang melakukannya, kemungkinan disebabkan karena faktor luar dan faktor dari dalam diri. Aku nggak menemukan faktor luar yang sekiranya layak dijadikan faktor." Ezra mengangguk. "Iya, aku sadar semua karena dorongan dalam diri. Aku nggak mau menentang Pak Jacky dan Kak Alika tapi aku merasa perlu melakukan sesuatu yang harus kulakukan." "Meskipun tahu yang kamu lakukan itu melanggar aturan?" Ezra diam. "Ezra, aku sering bilang sama kamu, hal baik harus dilakukan dengan cara baik pula!" Ezra melengos. "Kamu cerdas, semua orang di kantor mengakui itu, tapi kecerdasan otak saja belum cukup bagimu untuk menjadi detektit. Kamu harus juga cerdas secara emosi!" Ezra menunduk. "Itu yang belum kamu punya!" Alika menunjuk ke arah Ezra. Ezra mengangkat dagu, menatap Alika. "Jadi bagaimana cara agar bisa cerdas secara emosi?" Alika mendengus. "Kalau otakmu benar cerdas, seharusnya kamu tahu caranya!" "Berarti otakku memang belum cerdas," keluh Ezra. "Kamu tahu caranya, hanya saja kamu nggak menggunakannya!" Ezra mengernyit. "Kamu tahu sebuah aturan harus dipatuhi tapi kamu mengabaikannya. Kamu tahu menuruti emosi tidak baik, tapi kamu melakukannya." Ezra diam. Dalam hati ia membenarkan ucapan Alika. "Kecerdasan otak akan menuntun jalanmu. Sedangkan kecerdasan emosi akan membuatmu tetap berada di jalan yang benar. Paham?" Ezra menunduk. "Kamu harus pandai mengendalikan dirimu jika masih bermimpi ingin menjadi detektif!" Ezra menelan ludah. "Kesempatanku menjadi detektif sudah tertutup." "Kamu menyerah?" Ezra diam. "Banyak jalan yang basa kamu lalui. Banyak cara yang bisa kamu pakai. Semua tergantung, apakah kamu mau atau enggak menghadapi kegagalan jika mencobanya." Alika melengos. "Baru gagal sekali saja menyerah. Cemen!" Ezra tertampar oleh kata--kata Alika. Ia menjadi malu. "Sudahlah, aku ke sini bukan untuk membuatmu semakin meriang!" Alika membetulkan posisi duduk. "Aku mau sharing sama kamu soal kasus Septi." Ezra mengerjap. "Sharing?" Alika mengangguk. "Penyelidikan kasus itu kamu yang memulai. Kamu berhasil memecahkan kode-kode dari kedua pesan Septi. Kamu membuat analisa dan telah mengujinya meskipun belum seratus persen. Aku telah mempelajari laporanmu dan sangat puas." Esra tersenyum haru karena Alika menghargai hasil pekerjaannya. "Tadi pagi aku sama Pak Jacky menguji rute yang kamu susun itu," beritahu Alika. Ezra kaget sekaligus senang rutenya dipakai Alika, apalagi detektif itu mengujinya bersama Jacky. "Rute pertama sudah aku dan Pak Jacky telusuri. Rute itu berakhir di sebuah gedung perkantoran." "Kapan Kak Alika dan Pak Jacky melakukannya?" "Tadi pagi sampai siang," jawab Alika. Ezra mengernyit kaget. "Sampai siang?" "Iya," jawab Alika. "Kami menelusuri semua sudut di gedung itu tapi belum menemukan kantor PT. Eraneo." Ezra diam. Sementara ini ia tidak akan bercerita bahwa ia sedang melamar pada PT. Eraneo. Ia akan menyelidikinya dulu. Jika nanti menemukan petunjuk, ia baru akan memberitahukannya kepada Alika. "Tetapi aku membuat kesimpulan kalau rute yang kamu buat itu tepat, karena jika enggak, pasti akan nyasar," ujar Alika. Ezra tersenyum. Sebelum Alika membuat kesimpulan itu ia sudah menyimpulkan yang sama. Rute itu sangat tepat karena selain tidak nyasar juga berhasil menemukan petunjuk baru tentang PT. Eraneo. "Aku yakin kamu sudah sampai gedung itu," tebak Alika yakin. "Iya, sudah, Kak." "Kamu menelusuri seisi gedung itu" "Iya, tapi aku belum menemukan kantor PT. Eraneo." "Apa analisamu selanjutnya?" tanya Alika. "Analisaku?" Ezra berpikir sejenak. "Bisa jadi memang PT. Eraneo enggak berkantor di sana, tetapi aku yakin di sana ada petunjuk yang akan mengarahkan kita ke tempat Septi berada." "Kenapa kamu yakin?" tanya Alika menguji. "Karena Septi mengarahkan kita ke sana," dalih Ezra. "Ada kemungkinan Septi meninggalkan jejak di sana dan ia berharap akan diketemukan orang." Alika mengangguk sepakat. "Besok aku akan menyelidiki gedung itu." "Iya, Kak. Semoga ada petunjuk," ucap Ezra. "Oh iya, Kak Alika mau minum apa?" "Jamu tolak angin sasetan. Hehehe!" Ezra tersindir. "Ada-ada saja!" Mimik Alika seketika berubah muram "Sebenarmya aku sedang gelisah, Ez!" "Gelisah kenapa, Kak?" Ezra cemas. Alika mendengus. "Aku masih sering mendapatkan teror. Aku yakin itu ada hubungannya dengan kasus teror yang sedang kuhadapi. Sepertinya pelaku teror itu enggak terima kalau aku mengungkap teror yang sering diterima klienku." "Kenapa nggak dilaporkan ke polisi saja, Kak?" "Sudah," timpal Alika. "Justru itu yang membuatku akhirnya ikut mendapatkan teror." Ezra menatap Alika prihatin. "Teror terbaru aku dapatkan tadi di kantor." Alika mengambil sebuah kotak kecil, mirip tempat cincin. "Aku dapat paket ini. Kamu mau melihat isinya?" Ezra mengangguk. Alika memberikan kotak tersebut kepada Ezra. "Paket itu ditujukan padaku menggunakan alamat kantor. Itu berarti pengirimnya tahu tempat kerjaku." Ezra menimang kotak tersebut. "Enteng banget." "Bukalah!" Ezra membuka, ternyata kotak itu terbuat dari kertas karton. Perlahan ia membukanya. Di dalamnya terdapat setumpuk kertas. Ia meletakannya ke atas meja lalu menyusunnya secara berurutan mulai dari atas. Setiap kertas itu tercetak huruf yang dibaca secara keseluruhan membentuk sebuah kalimat: H-A-T-I H-A-T-I D-I J-A-LA-N S-A-Y-A-N-G. "Aku yakin itu bagian dari teror yang selama ini kudapatkan karena klienku pernah mendapatkan kotak seperti itu. Isi kata-katanya pun sama." Alika mengerjap ngeri. "Besoknya, mobil klien-ku diserempet sepeda motor. Untungnya beliau nggak kenapa-kenapa, hanya mobilnya saja yang lecet-lecet." "Kok ngeri ya?" ujar Ezra. Ia tidak mau hal buruk menimpa gadis itu. Alika mendesah. "Tolong kotaknya kembalikan lagi seperti semula. Aku akan melaporkannya ke polisi." "Iya, laporkan saja, Kak." Alika tersenyum getir. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN