Rute Kedua

1191 Kata
Selepas sarapan, Ezra mendapatkan pesan w******p, isi pesannya adalah: Selamat, Ezra Ardika, Anda diterima bekerja di PT. Eraneo cabang Semarang. Silakan hubungi manager Dian Senosa di kantor kami, Gedung Perkantoran Mulia Merdeka Blok A-7, tanggal 12 November 2021, pukul 10:00 wib. Ezra bersorak gembira membaca pesan tersebut. Lamaran kerjanya diterima dan ia diharuskan menemui manager bernama Dian besok. 'Gedung Mulia Mahardika?' tanya Ezra dalam hati. 'Di mana itu?' Ezra mencari lokasi itu di Google Map. Ternyata Mulia Merdeka adalah gedung perkantoran di mana ia mendapatkan berkas lamaran pekerjaan dua hari lalu. Dalam hati ia menertawakan diri sendiri yang begitu bodoh tidak mengetahui nama gedung itu sebelumnya. Badan Ezra sedikit lebih baik ketimbang kemarin. Ia sudah tidak meriang. Batuk juga sudah reda. Hanya badannya masih terasa pegal-pegal. Namun ia tidak mau mengeluh. Hari ini ia akan menelusuri rute kedua, sebelum besok mulai bekerja pada PT. Eraneo. Ezra meraih jaket lusuhnya. Setelah pamitan dengan kedua orang tuanya, ia menjalankan sepeda motor bututnya ke gedung Mulia Merdeka karena dari sanalah rute kedua dimulai. Rute itu sudah Ezra hafal. Sehingga ia tidak membutuhkan catatan lagi. Namun agar tidak lupa, selama perjalanan ia menghafal rutenya. "3x3x3. Layer kuning. f u l r l r. Layer biru. Jalan terus - putar arah -belok kiri - belok kanan - belok kiri - belok kanan." Sambil mengendarai sepeda motor, Ezra terus menghafal rute tersebut hingga sampai di area parkir gedung Mulia Merdeka. Di area parkir, Ezra berhenti sejenak. Ia harus menentukan dari posisi mana harus memulainya, karena jika salah, maka hasil akhirnya akan salah. Ezra perhatikan, semua kendaraan masuk melalui pintu gerbang utama dan keluar melalui pintu samping. Sehingga ia memutuskan untuk memulainya dari pintu samping. Meskipun tidak parkir, hanya lewat saja, tetapi untuk meninggalkan area gedung, Ezra harus menbayar parkir. Ia menyerahkan selembar pecahan dua ribuan kepada petugas pada pos exit. Setelah palang pintu terbuka, ia melajukan sepeda motornya pelan. Di hadapan Ezra ada sebuah perempatan. Sesuai rute, ia jalan terus, kebetulan lampu hijau sedang menyala. Baru berjalan kurang dari dua kilometer, di depannya ada rambu yang memperbolehkan untuk memutar arah. Ia pun memutar arah. "Belok kiri!" Ezra bicara pada dirinya sendiri ketika di depannya ada sebuah gang yang cukup sempit. Di depan gang tersebut ada rambu yang hanya melarang semua kendaraan beroda empat atau lebih memasukinya. Ezra menyalakan lampu sein. Ia berbelok ke kiri. Sekarang ia berada di dalam permukiman. Ia menurunkan kecepatan. "Belok kanan!" ucapnya pada diri sendiri ketika melihat sebuah pertigaan di depan yang berjarak beberapa puluh meter saja dari posisinya sekarang. Ezra melirik spion, memperhatikan situasi dari berbagai arah, kemudian setelah merasa aman, ia berbelok kanan. Ia berada pada sebuah gang yang lebih sempit lagi. Di depan Ezra ada sebuah perempatan kecil. Sesuai rute ia berbelok kiri. Di kanan dan kirinya terdapat perumahan yang mirip kos-kosan. Sepuluh meter di depan ada sebuah pertigaan lagi. Ezra tersenyum. Itu adalah akhir dari rute. Maka ia pun berbelok kanan. Ezra tertegun karena ternyata gang terakhir itu sudah dekat dengan jalan raya. Pada rumah paling ujung ada sebuah rumah bercat biru. Ia yakin itu adalah tujuan akhirnya karena dalam kode yang Septi kirimkan itu adalah 'Layer Biru'. Gang ini sangat sepi. Ia belum melihat ada satu pun orang lewat atau yang sekadar berdiri di depan rumah. Dilihat dari modelnya, ia yakin rumah-rumah di gang ini mayoritas adalah kos-kosan. Ezra memarkirkan sepeda motor pada tepi lapangan bulutangkis. Ia mendekati rumah bercat biru. Di gang ini hanya rumah itu yang bercat biru. Rumah bercat biru tersebut terdiri dari pintu. Di atas pintu sebelah kanan ada sebuah papan bertuliskan 'PRIA' dan di atas pintu sebelah kiri ada sebuah papan bertuliskan 'WANITA'. "Mas mencari siapa?" Ezra terkesiap mendengar suara merdu yang berasal dari belakangnya. Ia pun membalikkan badan. Di depannya sedang berdiri seorang perempuan muda berparas cantik yang ia tebak seumuran dengannya. Wajahnya putih bersih. Rambutnya sebahu. "Mas mau cari alamat?" Perempuan itu mengerjap. "Atau mau mencari rumah kosan!?" "Nyari rumah kosan," jawab Ezra spontan. Perempuan itu menunjuk ke arah sebuah rumah yang berjarak sekitar sepuluh meter. "Di sana ada kosan buat cowok. Mas bisa tanya ke salah satu penghuninya." Ezra mengangguk. "Terima kasih, Mbak!" Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum ramah. Sejurus kemudian ia memasuki sebuah rumah yang berhadapan dengan rumah bercat biru. Ezra menoleh ke rumah bercat biru. Pandangannya tertambat ke lampu yang berada di plafon teras. Lampu itu menyala. Itu berarti kemungkinan besar saat ini tidak ada penghuninya. Logikanya, jika ada seseorang di dalamnya pasti lampu itu dimatikan karena sudah siang. 'Lalu di mana Septi?' tanya Ezra dalam hati. Ezra tidak akan memaksakan diri untuk langsung mencari keberadaan Septi. Logikanya, jika Septi bisa dengan mudah ia ketemukan seperti sedang mencari alamat, pasti Septi tidak akan repot-repot mengirimkan pesan berisi kode-kode. Ezra merasa harus mengikuti alur. Ia harus memulainya dengan menemukan kantor PT. Eraneo yang diduga adalah tempat Septi bekerja. Ezra tersenyum. Besok ia akan menemui manager perusahaan tersebut. *** Setengah berlari, Ezra menuju ruang IGD. Ia dikabari Jacky kalau Alika mengalami kecelakaan lalu lintas. Mendengar itu, ia langsung menuju rumah sakit. Sampai di depan IGD, Ezra melihat beberapa mantan teman sekantornya sedang duduk di kursi. Ia mendekati mereka, bermaksud menanyakan kabar terkini dari Alika. "Ezra!" Ezra menoleh. Dilihatnya Jacky sedang berjalan ke arahnya. Ia pun menyongsong mantan bosnya tersebut. "Gimana kabar Alika, Pak?" Napas mengatur napasnya yang tersengal-sengal. "Alika masih belum sadarkan diri," jawab Jacky sedih. "Kita duduk di sana saja!" Jacky mengajak Ezra ke deretan kursi yang lebih dekat dengan pintu masuk ruang IGD. Mereka duduk bersebelahan. "Saya kaget banget waktu membaca pesan bapak," ujar Ezra cemas. Jacky menepuk bahu Ezra. Ia tahu kalau Ezra dan Akika sangat dekat layaknya adik dan kakak. "Dokter memberitahu kalau Alika tidak mengalami cidera kepala, tapi kakinya terluka cukup parah. Semoga saja itu tidak fatal." "Kronologinya gimana sih, Pak, kenapa Alika sampai mengalami kecelakaan?" Ezra penasaran. Ia teringat dengan pengakuan Alika semalam yang menunjukkan kepadanya sebuah paket teror. Jacky menarik napas dalam-dalam. "Seharusnya saya menyuruh orang untuk mengawal Alika, sebab kemarin Alika menunjukkan kepada saya sebuah paket teror yang isinya seperti ancaman di jalan." "Semalam, Alika juga menunjukkannya kepada saya," timpal Ezra. Pandangan Jacky menerawang jauh. "Tadi sebenarnya kami sudah membuat sebuah strategi, tapi tampaknya pelakunya nggak mudah dikelabuhi." "Strategi?" tanya Ezra penasaran. Jacky mengangguk. "Alika ada rencana untuk melakukan penyelidikan kasus hilangnya Septi. Beberapa menit sebelum keluar kantor, saya menyuruh salah satu asisten detektif untuk membawa keluar mobil Alika sebagai pengalihan. Kemudian Alika keluar menggunakan sepeda motor. Ia berdandan seperti seorang lelaki agar tidak dikenali. Saya pikir itu akan berhasil, tapi ternyata...." Ezra mendengus. "Kronologi kecelakaannya bagaimana, Pak?" "Menurut saksi mata, sepeda motor Alika ditabrak mobil truk dari belakang. Motornya kehilangan kendali kemudian menabrak sepeda motor di depannya. Mereka sama-sama jatuh. Kepala Alika aman karena membentur badan pengendara itu, tapi kakinya tertindih badan motor." "Terus truk penabrak itu gimana?" Jacky mendesah berat. "Truk itu melarikan diri." Ezra geram kepada pengemudi sopir truk itu. "Kasusnya sudah ditangani kepolisian," ujar Jacky. Ezra mengusap wajah menggunakan telapak tangan. "Sekarang saya baru paham!" Jacky menoleh, penasaran. "Bapak memproteksi saya dengan melarang saya jalan sendirian, ternyata karena menjadi detektif resikonya sangat berat," ujar Ezra. Jacky tersenyum sambil menepuk bahu. "Kamu baru saja mendapatkan pelajaran berharga." Ezra mengangguk. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN