Berpenampilan rapi layaknya karyawan kantoran, Ezra mendatangi gedung Mulia Merdeka. Kemeja putih ia masukkan ke dalam celana hitam, lengkap dengan ikat pinggang hitam yang ia beli lima tahun lalu. Sepatu pantofel hitamnya menjejakkan lantai satu gedung tersebut.
Seingat Ezra blok A berada di lantai satu. Sekarang ia hanya tinggal mencari nomor 7. Itu tidak sulit baginya karena ia hanya tinggal mengurutkannya dari ujung kiri.
Ezra tercengang ketika ternyata nomor 7 adalah milik kantor yang kemarin ia coba masuki tetapi terkunci.
"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya sekuriti.
Ezra mengerjap. Ia ingat sekuriti itulah yang pernah mencegahnya memasuki kantor tersebut beberapa hari lalu.
"Saya ada janji bertemu Ibu Dian, manager PT. Eraneo cabang Semarang," beritahu Ezra.
"Mas pelamar kerja?" tanya sekuriti yang kali ini lebih ramah ketimbang waktu itu.
"Iya, saya sudah diterima kerja."
"Bisa tolong tunjukkan bukti pesannya?"
Ezra merogoh saku celana. Ia mengambil ponsel. Diusapnya layar lalu mencari pesan dari PT. Eraneo.
"Ini, Pak!" Ezra menunjukkan layar ponselnya.
Sekuriti memiringkan kepala, membaca pesan sekilas, lalu mengangguk. "Kalau begitu silakan tunggu sebentar."
Sekuriti masuk ke kantor. Ezra menunggu di depan pintu. Tidak berselang lama, sekuriti membuka daun pintu lebar-lebar.
"Silakan masuk!" ucap sekuriti.
Ezra masuk ke dalam kantor. Tidak ada siapa-siapa di ruangan ini. Pandangannya beredar ke sekeliling dan berhenti ketika mendapati sebuah meja yang bertuliskan 'Manager'.
Ezra berinisiatif untuk mendekati meja manager tersebut. Namun ia berpikir tidak sopan rasanya kalau ia duduk di kursi sebelum dipersilakan.
Ezra mematung tanpa tahu harus melakukan apa. Dalam hati ia merasa aneh kenapa tidak ada aktivitas di dalam kantor ini? Ada banyak meja kursi tapi tidak ada satu pun orang yang mendudukinya.
"Saudara Ezra Ardika?"
Ezra terperanjat mendengar suara perempuan yang bersumber dari arah belakangnya. Baginya terasa aneh perempuan itu mengetahui namanya.
Ezra membalikkan badan. Serta merta ia tercengang. Di hadapannya telah berdiri seorang perempuan muda berhijab sedang tersenyum kepadanya. Perempuan itulah yang pernah ia lihat beberapa hari lalu.
"Emmhh, iya, saya Ezra Ardika," ujar Ezra gugup.
"Silakan duduk di situ!" Perempuan berhijab tersebut menunjuk ke sebuah kursi di depan meja manager. Ia duduk di kursinya.
Ezra duduk, sedikit canggung.
Perempuan berhijab itu mengulas senyum. "Saya Dian Senosa, manager di sini. Tadi sekuriti memberitahu saya kalau saudara sudah datang."
Ezra menduga, Dian mengetahui namanya dari sekuriti di depan yang sudah membaca namanya dalam pesan yang ia tunjukkan tadi.
"Saudara datang lima belas menit lebih cepat dari yang kami minta," ujar Dian masih dengan senyum yang terus terkembang sejak tadi. "Saya anggap itu sebagai bentuk keseriusan saudara."
Ezra tersenyum. Beberapa hari lalu saat pertama kali melihat Dian, ia tidak begitu memperhatikan wajahnya. Ia lebih fokus pada seragam yang dipakainya. Sekarang ia bisa leluasa memperhatikannya dan ia merasa tidak asing dengan wajah itu.
"Saudara adalah satu di antara beberapa pelamar yang kami terima. Selamat bergabung dengan perusahaan kami," Dian membuka sebuah map yang berisi satu bendel surat lamaran pekerjaan Ezra. Ia membuka-bukanya secara sekilas. "Dalam berkas ini saudara menyertakan fotokopi SIM C. Mohon untuk menunjukkan SIM yang asli."
Ezra mengambil SIM C dari dalam dompet lalu menyerahkannya kepada Dian.
Dian memeriksa SIM C Ezra dengan teliti, termasuk mencocokkan wajahnya dengan foto yang tercetak pasa SIM.
"Baik, silakan simpan kembali SIM-nya." Dian mengembalikan SIM C kepada Ezra.
Pikiran Ezra bercabang dua. Sambil tetap mendengar ucapan Dian, ia berpikir, mengingat-ingat pernah melihat wajah itu di mana dan kapan?
"Tugas saudara adalah mengantar paket makanan berbasis aplikasi. Saudara digaji per bulan dan diperbolehkan menerima tip dari pelanggan," beritahu Dian. "Saudara akan menerima fasilitas tempat tinggal, sepeda motor, helm, jaket seragam, dan sebuah ponsel."
Ezra mengerjap, senang mendapatkan fasilitas sebanyak itu. Meskipun sebenarnya bukan itu yang ia cari.
"Perlu saya tegaskan, saudara dilarang menolak orderan. Jika ada halangan, saudara harus segera menghubungi kontak yang tertera pada aplikasi. Jam kerja saudara mulai pukul 06:00 sampai pukul 16:00. Kerja setiap hari, Senin sampai Sabtu. Di luar hari dan jam tersebut kami hitung sebagai lemburan."
Ezra mengangguk paham.
"Saudara digaji tiga juta lima ratus rupiah per bulan. Itu belum termasuk tunjangan bahan bakar sepeda motor, pulsa, dan tunjangan makan yang totalnya sekitar satu juta lima ratus rupiah. Pendapatan minimal yang akan saudara terima adalah lima juta rupiah per bulan."
Dalam hati, Ezra berdecak kagum. Gaji itu termasuk banyak untuk seorang pengantar makanan. Itu dua kali lebih banyak dari gaji yang ia dapatkan di kantor Jacky.
"Gaji itu jauh di atas rata-rata pekerja pengantar makanan di kota ini. Kami memberi lebih banyak dari perusahaan lain untuk memotivasi karyawan agar bekerja lebih baik dari karyawan perusahaan lain." Dian menatap Ezra lekat-lekat. "Untuk mewujudkan itu, kami pun memberi syarat-syarat sedikit lebih berat dari perusahaan lain. Jadi saya berharap saudara mempertimbangkannya sebelum menandatangani kontrak kerja."
Ezra beranikan diri menyela. "Maaf, kalau boleh tahu apa syarat-syaratnya?"
Dian menambah level senyum. "Pertanyaan bagus, diajukan pada saat yang tepat. Kebetulan saya baru saja akan menyebutkannya."
Ezra membetulkan posisi duduk agar lebih nyaman.
"Karena kami menyediakan ponsel, maka saudara tidak diperkenankan memegang ponsel lain. Saudara juga hanya diperkenankan untuk pulang dari mes sekali dalam sebulan dan harus mengajukan izin sehari sebelumnya kepada saya. Di mes ada televisi dan free wifi, saudara dilarang membawa barang elektronik lain dari luar."
Bagi Ezra syarat itu tidaklah berat, cuma terdengar aneh di telinganya. Ia merasa curiga, jangan-jangan mereka ingin menjauhkan karyawan dari dunia luar. Mereka ingin mengontrol penuh karyawan karena bisa jadi ponsel yang disediakan disadap.
"Saudara Ezra, bisa memahami syarat tersebut?" Dian mengerjap sambil tersenyum. "Atau barangkali ada yang ingin ditanyakan?"
"Kenapa kami tidak diperbolehkan membawa ponsel dan barang eletronik lain?" tanya Ezra.
"Kami ingin memastikan para karyawan fokus pada pekerjaan," jawab Dian.
Alasan yang dikemukakan Dian, terdengar berlebihan.
"Bagaimana kalau misal ada karyawan yang melanggar syarat tersebut?"
"Kami akan memberi surat peringatan hingga pemecatan!" jawab Dian tegas. "Ada pertanyaan lain?"
"Untuk perawatan sepeda motor siapa yang harus melakukannya dan biaya ditanggung siapa?"
Dian tersenyum. "Semua perawatan atas fasilitas yang kami berikan, kami juga yang menanggung. Saudara hanya diminta bekerja dengan fokus dan sesuai peraturan."
Bagi Ezra itu terdengar memanjakan karyawan.
"Masih ada yang ingin ditanyakan?" tanya Dian. "Jika tidak ada, saudara bisa langsung menandatangani kontrak kerja."
"Tidak ada lagi, Bu," ujar Ezra.
"Baik kalau begitu saya akan menyodorkan surat kontrak kerja." Dian mengambil sebuah map dari laci mejanya. Ia menyodorkannya kepada Ezra. "Silakan ditandatangani."
Ezra membuka map tersebut. Ia mengernyit karena ternyata isinya berlembar-lembar. Ia menebak ada lebih dari dua puluh lembar.
"Silakan dipelajari," ujar Dian. "Setiap kali ada nama saudara, silakan berikan tanda tangan di atasnya."
Ezra membaca mulai dari halaman pertama. Pada awalnya ia membaca pelan dan teliti. Namun mulai lembar keenam ia mulai lelah dan tidak sabar ingin semuanya segera selesai.
Badan Ezra belum sepenuhnya fit. Konsentrasinya mulai goyah setelah memeriksa berkas tersebut sampai halaman delapan. Pandangannya mulai berkunang-kunang. Huruf-hurufnya mulai tampak berbayang.
"Boleh saya membawanya pulang untuk dipelajari?" tanya Ezra berharap.
Dian menggeleng kuat. "Silakan dibaca di ruangan ini atau tidak usah sama sekali."
Ezra menelan ludah. Meskipun kepalanya terasa sedikit pusing tapi ia paksakan membacanya meskipun sekilas. Setelah selesai, ia pun menandatangani berkas dua rangkap tersebut.
"Sudah?" tanya Dian memastikan.
"Sudah." Ezra mengembalikan map tersebut.
Dian memeriksa tanda tangan Ezra. Setelah dianggap sudah sesuai, ia memberikan satu bendel kepada Ezra. "Surat kontrak kerja ini dua rangkap. Silakan saudara membawa satu rangkap. Satu rangkap lainnya kami simpan."
"Jadi kapan saya harus mulai mendiami mes?" tanya Ezra.
"Mulai besok, saudara sudah mulai bekerja dan menempati mes," jawab Dian.
"Baik, Bu."
Dian mengambil satu boks karton seukuran kardus mie instant. Ia menyodorkannya kepada Ezra. "Di dalamnya ada kunci sepeda motor, STNK, kunci kamar mes, ponsel, dan tiga set seragam. Silakan diperiksa dulu."
"Sepeda motornya di mana, Bu?"
"Sepeda motor dan helm ada di mes."
"Mes-nya di mana, Bu?"
"Silakan nyalakan ponsel. Sudah ada SIM Card di sana. Saudara akan menerima pesan berisi lokasi mes."
Ezra mengangguk.
"Saudara bisa membuka boks tersebut sekarang, boleh juga di rumah," ujar Dian. "Namun yang pasti, saudara sudah harus siap bekerja sebelum pukul 06:00 besok."
"Baik, kalau begitu saya buka boks ini di rumah saja. Besok selepas subuh saya akan ke mes."
"Silakan," timpal Ezra. "Kalau begitu saudara boleh meninggalkan ruangan ini."
Ezra mengangguk. "Saya permisi."
Dian mengangguk. Senyumnya seketika redup, ketika Ezra meninggalkan ruangan.