Alika sudah dipindahkan ke kamar perawatan ketika Ezra menjenguknya. Di kamar itu sudah ada Jacky yang datang sepuluh menit lebih dulu dari Ezra.
"Kamu rapi banget, Ez?" komentar Alika begitu Ezra duduk di kursi.
Ezra cengar-cengir. Sepulang dari kantor PT. Eraneo, ia hanya mampir sebentar di rumah, sekadar menyimpan boks dan berkas, setelah itu ia langsung ke rumah sakit tanpa lebih dulu mengganti baju.
"Kamu habis kondangan ya?" ledek Jacky.
"Atau barangkali habis melamar kerja?" tebak Alika.
Bibir Ezra terkatup. Jacky dan Alika menatapnya serempak, membuatnya salah tingkah. Tidak mungkin ia berterus terang baru saja menandatangani kontrak kerja pada PT. Eraneo. Ia bertekad akan menyelidikinya sendiri. Ia ingin membuktikan kalau dirinya bisa menjadi detektif meskipun tidak lagi bekerja pada CV J-Sukma.
"Diam berarti iya!" goda Alika.
Ezra tertawa untuk menyembunyikan salah tingkahnya.
"Kamu melamar kerja di mana?" cecar Alika.
Ezra melirik pada Jacky.
Jacky tanggap situasi. "Kalau kamu melamar kerja ya bagus malahan. Semoga mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi."
"Aamiin!" ucap Ezra.
"Gitu aja malu, Ez!" gerutu Alika.
Ezra terkekeh.
"Itu ada banyak buah-buahan kalau kamu mau!" Pandangan Alika mengarah ke atas meja. "Aku lagi nggak punya selera makan apa pun. Aku cuman pengen cepet keluar dari rumah sakit."
"Kalau nggak mau makan gimana mau cepet sembuh," gerutu Ezra.
Alika mendelik. "Sekarang kamu pandai ya menasehatiku?"
Ezra tertawa. "Biasanya Kak Alika yang cerewet nyuruh aku makan. Sekarang gantian aku yang cerewet."
"Kamu nggak pantas jadi orang cerewet!"
"Memangnya Kak Alika saja yang pantas?"
"Iya dong!"
Jacky tertawa melihat perdebatan Alika dan Ezra. "Sudah, sudah, ini di rumah sakit, bukan di kantor."
Alika menyingkap selimut. Baru sehari semalam di rumah sakit saja ia sudah sangat bosan.
"Aku pengen cepet keluar dari sini, Ez!" keluh Alika. "Kasus Septi jadi tertunda lagi!"
"Sabar, Kak!" hibur Ezra. "Cuman nunggu beberapa hari sampai Kak Alika pulih."
"Beberapa hari?" Alika tertawa sinis. "Pahaku luka cukup parah. Dokter melakukan operasi dan menjahitnya seperti celana kolor. Setelah itu aku diharuskan istirahat selama dua minggu."
Ezra kaget. "Tapi tulangnya nggak papa kan, Kak?"
"Nggak papa sih, cuman aku belum bisa jalan selama beberapa hari ke depan." Alika menggerutu.
"Kamu pikirkan dulu kesembuhan kamu," nasehat Jacky. "Soal kasus Septi, saya sudah bicarakan itu dengan Pak Maman. Beliau memahami dan tidak keberatan kalau kasusnya harus ditunda lagi."
"Kasus teror gimana?" gugat Alika.
"Saya sudah membicarakannya dengan klien lewat telepon. Intinya beliau bisa memaklumi jika kasusnya ditunda. Bahkan ketika saya memberi alternatif agar kasus itu dilanjutkan detektif lain, beliau menerimanya."
Alika mendengus. "Bukannya saya nggak terima kalau kasus itu dilimpahkan ke detektif lain, Pak. Saya cuman khawatir detektif yang menanganinya nanti akan mendapatkan teror juga, seperti saya."
"Itu resiko," desah Jacky. "Masalahnya bukan itu, tapi kamu keberatan nggak kalau kasus teror diambil alih detektif lain?"
Alika diam. Ia menjadi dilema. Jika ia merelakan kasus itu ditangani detektif lain, kesannya ia tidak sanggup memecahkannya. Sementara jika ia keberatan, resikonya kasus itu tertunda minimal dua minggu.
Jacky memahami kegelisahan Alika. "Saya punya solusi. Kalau klien menyerahkan kelanjutan kasus itu kepada saya, maka kamu boleh tetap melanjutkannya nanti ketika sudah siap. Namun kalau klien ingin agar kasus tetap dilanjutkan, terpaksa aaya harus melimpahkannya kepada detektif lain."
Alika mengerjap. Menurutnya solusi Jacky cukup bijaksana. Ia juga merasa harus bersikap realistis. Kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk diajak kerja.
"Bagaimana menurutmu, Alika?" tanya Jacky.
"Oke, saya menerima solusi yang bapak tawarkan."
Mendengar percakapan Jacky dan Alika, membuat Ezra prihatin. Seandainya saja ia masih menjadi asisten Alika, pasti kasus hilangnya Septi masih akan terus berlanjut. Situasi ini membuatnya semakin bersemangat untuk terus menyelidiki PT. Eraneo. Ia optimis dengan bekerja pada perusahaan tersebut akan menemukan jejak Septi.
Untuk sementara ini, Ezra masih harus merahasiakan usahanya tersebut. Jika ia memberitahukannya kepada Alika, pasti gadis itu akan mengkhawatirkannya yang ujung-ujungnya akan mencegahnya.
"Ezra!" Jacky menepuk bahu Ezra.
Ezra terkesiap. "Iya, Pak."
"Kamu kan lagi melamar kerja, pasti butuh banyak biaya." Jacky mengambil amplop dari saku celana. Ia memasukkannya ke saku baju Ezra.
Ezra bingung. "Apa ini, Pak?"
"Sudah terima saja, Ez!" Alika ikut membujuk.
"Tapi saya sudah mendapatkan gaji terakhir dan uang pesangon, Pak." Ezra mengeluarkan amplop dari saku bajunya. Ia bermaksud mengembalikannya kepada Jacky.
Jacky menahan tangan Ezra. "Tolong jangan ditolak!"
Ezra melirik Alika.
Alika mengangguk.
Akhirnya Ezra mengurungkan niat untuk mengembalikan amplop kepada Jacky. "Terima kasih, Pak."
***
Ezra sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ketika ponselnya berdering. Ia melihat layar, ternyata Nadia yang menelepon. Ia menjawab panggilan tersebut sambil tangan kirinya menata isi tas.
"Hai, Nad!"
"Hai, Dik, aku gangu kamu nggak?"
"Enggak, kenapa?"
"Mmhh, aku mau nanya sesuatu, boleh"
"Tanya apa memangnya?"
"Soal kasus Septi."
Ezra menghentikan kegiatannya mengepak barang.
"Apa bener penyelidikan kasus itu ditunda?"
"Iya," jawab Ezra. Ia menduga Nadia mengetahuinya dari Pak Maman.
Nadia mendesah. "Kalau boleh tahu, apa alasannya?"
Ezra mengernyit. "Kupikir kamu sudah tahu."
"Justru itu aku menanyakannya sama kamu," ujar Nadia. "Tadi bapakku teleponan sama Pak Maman. Aku penasaran waktu bapak menyebut soal Septi. Terus aku menguping."
"Jadi kamu mendengar kabar itu nggak utuh?"
"Iya."
"Sebaiknya kamu tanyakan itu kepada bapakmu atau Pak Maman," saran Ezra. "Maaf, bukannya aku nggak mau menjelaskannya, tapi karena memang aku nggak berwenang."
"Iya, aku paham, Dik." Nadia merasa kecewa.
Ezra merasa tidak enak hati. "Sekali lagi maaf ya, Nad?"
"Iya, nggak papa kok," ujar Nadia. "Cuman aku sebenarnya punya informasi yang barangkali saja bisa membantu."
"Informasi apa?"
"Tapi ini baru dugaanku saja," ujar Nadia.
Ezra penasaran. "Sampaikan saja, barangkali itu membantu."
"Seperti pernah kubilang sama kamu, Septi punya akun fake yang ia gunakan untuk mencari temen online. Sayangnya, Septi nggak pernah cerita soal temen-temen online-nya tersebut."
Ezra menarik resleting tas, sambil tetap memasang pendengaran, menunggu kelanjutan ucapan Nadia.
"Aku memang dekat sama Septi tapi ia nggak pernah curhat soal asmara atau tentang cowok yang dekat dengannya. Tapi aku ingat, dulu Septi pernah meminjam ponselku buat menelepon seseorang yang aku duga cowok," lanjut Nadia. "Aku memang nggak mendengarkan percakapan mereka tapi yang pasti mereka teleponan sampai hampir satu jam."
Dalam logika Ezra, dua orang yang melakukan percakapan telepon selama hampir satu jam pastilah dekat satu sama lain.
"Kamu tahu nggak, Ez? Cewek yang mau diajak ngobrol lama dengan cowok, pasti cowok itu spesial," beritahu Nadia.
Ezra mengangguk, sepakat dengan pendapat Nadia.
"Setelah ngobrol lama, Septi mengembalikan ponselku. Kucek ternyata log panggilan itu sudah dihapus."
"Kenapa dihapus?" tanya Ezra curiga.
"Aku menanyakan itu dan jawaban Septi katanya ia malu sama aku," beritahu Nadia. "Menurutku alasan Septi hanya mengada-ada saja. Aku yakin ia nggak mau aku tahu nomor cowok itu."
"Peristiwa itu kapan terjadinya!" tanya Ezra.
"Beberapa bulan sebelum Septi pergi dari rumah."
"Kamu menduga kalau cowok itu ada kaitannya dengan hilangnya Septi?" tebak Ezra.
"Bukan itu maksudku," sanggah Nadia. "Maksudku adalah kamu coba hubungi cowok itu, siapa tahu punya informasi penting soal Septi."
"Berarti aku harus mencari tahu siapa cowok itu dong?" keluh Ezra. "Itu nggak efektif karena nggak ada petunjuk awal."
"Aku sudah memeriksa daftar teman f*******: akun fake Septi. Berdasarkan keakraban dalam setiap komentar Septi, aku menemukan tiga akun yang layak diduga adalah cowok yang dekat dengan Septi itu."
Sekarang Ezra paham apa yang dimaksudkan Nadia. Hanya saja ia tidak punya waktu untuk menyelidikinya. Mulai besok ia sudah tidak diperbolehkan memegang gadget kecuali ponsel yang disediakan perusahaan.
"Aku kirimkan ya profil mereka?" tanya Nadia menawarkan.
"Boleh." Meskipun tidak yakin bisa menyelidikinya tapi Ezra pikir tidak ada salahnya menerima informasi dari Nadia.
"Oke, aku kirim sekarang ya?"
"Iya, Nad."
Ezra melirik jam dinding. Sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Ia tidak bisa menyelidiki profil-profil teman Septi itu sekarang. Ia harus beristirahat karena besok adalah hari pertamanya kerja.