Amplop Mencurigakan

1422 Kata
Selepas subuh Ezra berangkat dari rumah menggunakan ojek online dengan tujuan sesuai lokasi yang ia dapatkan dari PT. Eraneo. Ternyata ia sampai di depan rumah bercat biru yang kemarin didatanginya. Sampai di sana matahari belum terbit. Ezra memasukkan anak kunci ke pintu yang di atasnya ada keterangan 'PRIA'. Kunci pun terbuka. Ia membuka lebar-lebar daun pintu. Begitu memasuki mes, Ezra langsung melihat sebuah sepeda motor matic terparkir di ruang depan. Ia pun mengeluarkannya dan memanasi mesinnya. Setelah itu ia menyapu seluruh ruangan dan menata baju-baju ke dalam lemari yang berada di ruang tengah. Tidak ada kamar dalam mes itu, tapi Ezra mendapati sebuah kasur busa di ruang tengah. Di bagian belakang ada sebuah kompor dan tabung gas yang masih ada isinya. Ia mencobanya dan ternyata masih berfungsi dengan baik. Ezra kembali ke ruang tengah. Ia mengeluarkan kotak nasi yang ia bawa dari rumah. Tadi ia tidak sempat sarapan karena terburu-buru. Sebelum menyantap menu masakan ibunya, ia keluar rumah dan mematikan mesin motor. Ia menyesal telah membiarkan kunci itu menempel di sepeda motor dan meninggalkannya. Beruntung tidak ada orang yang berniat jahat. Ia pun segera mencabut kuncinya lalu kembali ke dalam untuk sarapan. Selesai sarapan, Ezra memeriksa isi ponsel kalau-kalau ada orderan masuk, namun ternyata belum ada. Mulai sekarang ia hanya diperbolehkan memegang ponsel dari perusahaan saja. Beruntung slot SIM Card-nya ada dua, sehingga ia bisa memasukkan SIM Card-nya sendiri ke dalamnya. Sekarang pukul 05:57. Ezra merapatkan resleting jaket. Ia harus standbye di depan mes agar jika ada orderan bisa langsung bergerak. Pada hari pertamanya bekerja ia harus tepat waktu dan fokus. Ezra mengunci pintu. Ia duduk lesehan di teras sambil menimang-nimang ponsel. "Hai!" Ezra menoleh ke pemilik suara yang tadi menyapanya. Tanpa ia sadari ternyata di depan mesnya telah berdiri seorang perempuan cantik. Perempuan itu adalah yang pernah ia temui saat menguji rute. Ezra berdiri sambil mengulas senyum ramah. "Hai, juga!" Perempuan cantik itu mengerjap dengan mimik kaget. "Rupanya kamu dapet kosnya di sini ya?" Ezra mengangguk. "Lebih tepatnya mes. Aku nggak ngekos. Rumah ini disediakan perusahaan untuk tempat tinggal karyawan." "Wah, keren perusahaanmu!" Perempuan itu mengedarkan pandangan ke bagian depan mes. "Sendirian ya?" Ezra mengangguk. "Iya." Perempuan itu mengulurkan tangan. "Namaku Regina. Kamu boleh memanggilku Gina. Kita tetanggaan." Ezra menjabat tangan Gina. "Namaku Ezra Ardika. Rumah kamu yang mana ya?" "Itu kosanku!" Gina menunjuk ke rumah di depan mes. Ezra tersenyum senang. Di hari pertama menempati mes ini, ia bertemu tetangga yang ramah. Itu membuatnya bersemangat. "Kamu pengantar makanan ya?" tebak Gina sambil memperhatikan jaket yang dipakai Ezra. "Iya. Ini hari pertamaku kerja." "Luar biasa, ternyata kantor kita masih satu gedung." Gina tersenyum renyah. "Oh iya?" Gina mengangguk antusias. "Kamu pasti di PT. Eraneo kan? Aku hafal jaketnya. Hehehe." "Iya." Ezra balas terkekeh. "Jadi kantor kamu di sebelah mananya Eraneo?' "Di sebelah kanannya persis. Perusahaanku bergerak pada bidang jasa advertising," jawab Gina ekspresif. "Dan tempat tinggal kita pun berhadapan. Kita bisa menjadi tetangga yang kompak." "Semoga!" timpal Ezra. Sebuah notifikasi baru saja masuk. Ezra membukanya. Ia mendapatkan orderan dua porsi kebab dan dua cup es teh lemon. "Ada orderan," ujar Ezra. "Semangat!" Gina mengepal tangan ke udara, menyemangati Ezra. "Semoga lancar ya?" "Terima kasih!" ucap Ezra. "Aku jalan dulu ya?" Gina mengangguk. "Hati-hati di jalan." Ezra mengangguk. Ia mengenakan helm, kemudian menyalakan mesin motor dan menjalankan motornya. Semangat Ezra bertambah beberapa kali lipat karena diberi semangat tetangganya. Tempat pengambilan orderan tidak terlalu jauh. Ezra hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit. Hanya saja sesampainya di sana, ia harus mengantre dan menunggu lebih dari sepuluh menit. Setelah orderan siap, Ezra membayarnya. Ezra bergegas karena sudah kehilangan banyak waktu. Sambil bersenandung, ia menjalankan motornya untuk mengantarkan orderan kepada pelanggan pertamanya. Menurut aplikasi, Ezra hanya butuh waktu empat menit lagi untuk sampai ke tempat pelanggan. Namun di sebuah tikungan, jalanan mulai padat merayap. Ia menduga, pada situasi tersebut, biasanya kalau bukan adanya kecelakaan lalu lintas, kemungkinan ada operasi polisi. Ezra menyelinap di antara mobil-mobil. Ia bergerak lincah, melewati celah sempit agar tidak terjebak kemacetan. Ia harus segera sampai ke tempat pelanggan karena ia tadi telah membuang banyak waktu untuk mengantre order makanan. Sialnya, ia tetap saja terjebak macet. Semua kendaraan roda dua dan roda empat diperiksa petugas polisi. Truk dan bus diperbolehkan meneruskan perjalanan. Ezra mengeluh dalam hati. Meskipun ia yakin tidak akan mendapatkan tilang karena memiliki SIM dan membawa STNK, tapi perjalanannya akan terhambat. Ia bisa mendapatkan teguran pada hari pertamanya bekerja jika terlambat mengantarkan orderan. "Selamat siang!" Seorang petugas polisi mendatangi Ezra. Ezra membuka penutup wajah pada helm. "Siang, Pak." "Harap matikan mesin motor dan silakan turun dari kendaraan," suruh petugas polisi. Ezra merasa heran, biasanya dalam setiap operasi lalu lintas, pengendara tetap berada di kendaraan, hanya diminta menunjukkan SIM dan STNK saja. Sungguhpun begitu, ia menuruti petugas polisi dan turun dari sepeda motornya. "Harap menunjukkan SIM dan STNK!" pinta petugas. Ezra menyerahkan SIM dan STNK. Petugas memeriksanya dengan teliti. "Harap buka jok sepeda motornya!" perintah petugas sambil mengembalikan SIM dan STNK Ezra. "Saya pengantar paket makanan, Pak!" Ezra memasukkan SIM dan STNK ke dalam dompet. "Ini bukan operasi lalu lintas biasa, Dek. Kami sedang memeriksa barang-barang bawaan karena sekarang sedang marak peredaran narkoba dengan modus pengantaran barang," dalih petugas. Karena merasa bersih, Ezra mantap membuka jok sepeda motornya. Petugas polisi memeriksanya dengan cermat dan teliti. Di sana tidak diketemukan barang mencurigakan. Ezra pun menarik napas lega. "Sekarang buka boksnya!" perintah petugas. Ezra membuka boks paket sambil dalam hati mengeluh karena pemeriksaan ini telah membuatnya terlambat untuk mengantarkan paket makanan. Petugas memeriksa isi boks paket makanan. Ia membuka kemasan paket satu per satu secara teliti. Bahkan cup minuman pun dibukanya. "Ini apa?" tanya petugas sambil memungut sebuah kertas amplop yang merekat pada kemasan makanan bagian dalam. Ezra kaget sekaligus bingung. "Saya nggak tahu, Pak." "Ini paket bawaanmu. Bagaimana mungkin kamu nggak tahu?" dalih petugas. "Tapi saya menerimanya sudah dalam keadaan tertutup, Pak!" Ezra tidak mau kalah karena merasa tidak tahu apa-apa. Seorang petugas lain datang. Ia adalah komandan operasi. "Ada apa?" "Ini, Ndan, saya menemukan sebuah amplop mencurigakan," lapor petugas sambil menyerahkan amplop kepada komandan. Komandan mengernyit, menimang amplop. "Periksa semuanya!" Petugas memeriksa kemasan kebab satunya. Lagi-lagi ia menemukan amplop sejenis. "Saya buka amplop ini ya?" ujar petugas kepada Ezra. Ezra menelan ludah. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. Dalam hati ia berdoa semoga isi amplop bukan barang ilegal. Dengan hati-hati, petugas mengambil sesuatu dari dalam amplop. Ia mendapatkan sebuah plastik transparan yang berisi serbuk warna putih. "Apa ini?" tanya petugas kepada Ezra. Wajah Ezra pucat. "Saya nggak tahu, Pak!" Petugas memijat-mijat isi plastik. "Diduga ini sabu, Ndan!" ucapnya kepada komandan. Lemas lutut Ezra mendengar ucapan petugas. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa ada paket sabu di dalam kemasan makanan? Jika benar itu sabu, ia yakin itu ulah penjual kebab. Komandan menatap Ezra tajam. "Harap tunjukkan KTP!" Serasa Ezra kehilangan tenaga. Tangannya gemetar ketika mengambil KTP dari dalam dompet dan menyerahkannya kepada komandan. Komandan memeriksa KTP. "Ezra Ardika itu nama kamu?" "Iya," jawab Ezra tercekat. "Rumah kamu di mana?" "Saya tinggal di mes yang disediakan perusahaan, Pak." "Saya tanya alamat rumah kamu, bukan alamat tempat tinggal kamu!," tegur komandan. Ezra menarik napas dalam-dalam, sekadar cara untuk menenangkan hati. "Mana ponsel kamu?" pinta komandan. "Buat apa, Pak?" "Kami harus memeriksanya." Mau tidak mau, Ezra menyerahkan ponsel kepada komandan. Komandan memeriksa isi ponsel Ezra. Ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan di sana. "Sudah tidak ada lagi yang mencurigakan, Ndan!" lapor petugas kepada komandannya. "Jadi hanya ada dua amplop mencurigakan itu saja?" "Iya, Ndan." Komandan menyerahkan KTP, ponsel, dan dua amplop mencurigakan kepada petugas. "Kamu proses orang ini!" "Siap, Ndan!" Serasa langit akan runtuh dalam pandangan Ezra. Badannya gemetar dan kehilangan daya. Ia tidak menyangka pada hari pertamanya bekerja akan mendapatkan masalah seberat ini. "Kamu ikut saya!" perintah petugas kepada Ezra. "Ke mana, Pak?" Ezra panik. "Kamu saya bawa ke kantor untuk menjalani pemeriksaan." Petugas mendorong bahu Ezra agar jalan. "Sepeda motor saya gimana, Pak?" "Kamu tidak usah khawatir. Sepeda motornya aman sama kami!" Petugas terus mendorong punggung Ezra. Terpaksa Ezra berjalan dengan terhuyung karena mendapat dorongan kuat dari petugas. Ia bukan hanya merasa takut tapi juga merasa malu karena ditonton banyak orang. Ezra menoleh. Ia melihat sepeda motornya sedang dibawa petugas polisi lain. "Ayo, jalan!" Petugas mengarahkan Ezra menuju sebuah mobil polisi. "Saya nggak tahu apa-apa, Pak!" Ezra meronta. "Tolong kooperatif!" tegur petugas sambil terus mendorong Ezra. "Kamu bisa jelaskan semuanya nanti di kantor." Ezra digelandang masuk ke mobil. Ia ingin menangis tapi air matanya tidak bisa mengalir. Hatinya sangat geram. Ia merasa sedang dijebak. Terbayang di benaknya wajah cantik Dian yang senyumnya berubah seringai. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN