Ezra digiring petugas polisi menuju ke toilet. Di tangannya tergenggam wadah terbuat dari bahan plastik berbentuk mirip gelas. Ia diharuskan tes urine, untuk mengetahui apakah dirinya pernah mengonsumsi narkoba atau tidak.
Masih menanggung perasaan geram kepada situasi yang merugikannya ini, Ezra memasuki toilet. Ia memilih masuk ke kamar mandi ketimbang ke ruang khusus buang air kecil. Di dalam sana ia ingin menumpahkan gejolak emosinya tanpa dilihat orang.
Begitu berada di dalam kamar mandi, Ezra langsung menyandarkan punggung pada pintu. Hatinya menangis, namun air matanya tidak bisa tumpah. Berurusan dengan polisi bukan hal baru baginya, tapi dicurigai membawa narkoba tidak pernah terbayang sebelumnya dalam hidupnya.
Sebuah bisikan dari dalam hati menghiburnya, bahwa dirinya harus kuat menjalani cobaan ini. Ia harus siap menghadapi kemungkinan masalah yang akan diterimanya setelah ini.
"Aku nggak pernah menyentuh narkoba, apalagi memakainya. Jadi aku harus tenang." Ezra berkata pada dirinya sendiri. "Tes urine ini justru akan meringankanku."
Ezra menarik napas dalam-dalam. Ia membuka ikat pinggang. Dibukanya kancing celana dan menarik resletingnya ke bawah. Dengan satu gerakan tangan, ia mengeluarkan burung dari dalam sangkarnya.
Ezra mendekatkan kepala burungnya ke atas wadah plastik. Dengan satu tarikan napas, air kencing menggelontor, memenuhi wadah tersebut. Setelah selesai, ia meletakkan wadah tersebut ke lantai. Ia menyobek tisu gulung untuk mengelap sisa-sisa air kencing pada ujung kepala burungnya.
"Kalau sudah cepetan keluar!" suruh seseorang dari balik pintu.
Entah itu suara siapa, Ezra tidak peduli. Ia memasukkan kembali burungnya ke dalam sangkar, lalu mengancing kembali celananya. Dengan malas, ia mengambil wadah plastik berisi air kencingnya.
"Ngapain aja di dalam? Cepetan keluar!"
Ezra tidak menggubris suara teraebut. Dengan malas ia membuka pintu kamar mandi. Di depannya seorang berseragam menatapnya dengan raut kesal. Ezra digiring kembali ke sebuah ruangan.
"Yang bener bawa wadahnya. Kalau tumpah najis semua lantainya!" tegur petugas sambil terus menggiring Ezra.
Lagi-lagi Ezra tidak peduli. Ia berjalan gontai menuju ke sebuah ruangan. Sampai di sana dua orang petugas polisi tengah menunggunya.
"Letakkan di atas meja!" suruh petugas berkumis tebal.
Ezra meletakkan wadah plastik ke atas meja. Tanpa menunggu dipersilakan, ia duduk di kursi.
Petugas berkumis tebal mengacungkan sebuah alat tes strip narkoba kepada Ezra. "Ini masih segel ya?"
Ezra mengangguk malas.
Petugas berkumis tebal membuka bungkus alat tersebut kemudian mencelupkannya ke dalam wadah plastik. "Kita tunggu lima menit. Nanti akan terdeteksi apakah saudara menggunakan narkoba atau tidak."
Ezra menelan ludah. Ia merasa jijik kepada situasi ini.
"Kamu bekerja di mana?" tanya petugas lain yang berdiri di dekat meja.
"PT. Eraneo, Pak!"
"Tugasmu apa?"
"Mengantar paket makanan, Pak."
"Paket itu kamu ambil dari mana?"
"Dari gerai kebab di dekat Simpanglima, Pak."
"Apa nama gerainya?"
Ezra mencoba mengingat nama gerai tersebut. "Saya lupa namanya, Pak."
"Baru beberapa jam dari sana kok lupa?"
"Beneran saya lupa, Pak!"
"Siapa pemesannya?"
Lagi-lagi Ezra lupa. Ia hanya fokus pada aplikasi.
"Lupa juga?" hardik petugas.
"Iya, Pak, semua ada di aplikasi," jawab Ezra.
"Sudah berapa lama kamu kerja pada PT. Eraneo?"
"Ini hari pertama saya, Pak."
"Jangan bohong!"
"Beneran, Pak." Ezra harus menjelaskannya. "Saya bekerja sesuasi aplikasi dari mulai menerima orderan, mengambil barang, kemudian mengantarkannya. Saya nggak pernah membuka isi kemasan barangnya karena begitu siap, saya langsung mengantarkannya."
"Kamu nggak tahu kalau di dalam kemasan makanan itu ada amplop ini?" Petugas mengacungkan dua amplop kepada Ezra.
"Enggak tahu, Pak. Makanya saya kaget ketika petugas membukanya dan ternyata ada amplop di dalamnya," jelas Ezra.
"Jangan coba mengarang cerita!" tegur petugas. "Saya bisa tahu kalau kamu sedang bohong."
"Saya nggak bohong, Pak."
"Siapa nama manager kamu?" Petugas berkumis tebal ikut bertanya.
"Dian Senosa, Pak."
"Kamu punya nomor ponselnya?"
Ezra menggeleng. "Enggak, Pak."
"Nggak usah menutupi!" tegur petugas berkumis.
"Saya berkata apa adanya, Pak!" Ezra mendesah tertahan.
"Tapi alamat kantornya tahu kan?"
Ezra mengangguk. "Tahu, Pak!"
Petugas berkumis mengambil selembar kertas dan sebuah pulpen. Ia meletakkannya ke atas meja. "Tuliskan di sini!"
Ezra menuliskan alamat PT. Eraneo. Ia masih hafal.
Petugas berkumis menyerahkan kertas itu kepada rekannya. "Datangi alamat ini!"
***
Dalam situasi pikiran kacau balau dan hati tidak keruan, Ezra masih bersyukur karena dirinya tidak dimasukkan ke dalam tahanan. Ia ditempatkan di sebuah ruangan kosong yang di dalamnya hanya ada dua kursi dan satu meja. Di balik pintu ada seorang petugas yang berjaga.
Dua jam lebih Ezra berada dalam ruangan ini tanpa kepastian. Ia menghabiskan waktu selama itu dengan melamun. Sesekali ia pindah tempat duduk karena merasa jenuh.
Kini Ezra baru tahu begitu besarnya resiko menjadi seorang detektif. Meskipun ia bukan seorang detektif tapi petualangannya pada PT. Eraneo sama dengan penyelidikan yang dilakukan seorang detektif.
Ezra baru sadar, larangan Jacky agar ia tidak melakukan penyelidikan sendiri sangat beralasan. Ia sudah membuktikan sendiri betapa kejamnya dunia detektif. Ia juga sudah melihat sendiri bagaimana beratnya teror yang dihadapi Alika hingga membuat detektif itu mengalami celaka dan sekarang terkapar di rumah sakit.
Mengingat nama Alika membuat Ezra merasa sedih. Ia merasa bersalah telah melakukan penyamaran pada PT. Eraneo tanpa berkonsultasi dahulu dengan detektif itu. Ia melakukan itu secara diam-diam karena yakin benar kalau gadis itu pasti akan melarangnya. Sekarang ia harus membayar mahal kesalahannya itu. Ia harus berurusan dengan kepolisian karena dicurigai membawa paket narkoba. Ezra yakin kalau Jacky dan Alika mengetahui kasusnya ini, pasti mereka akan marah karena melakukan penyamaran atas kasus yang sedang ditangani mereka.
"Astaga!" Ezra meratap. Ia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati kedua orang tuanya jika nanti tahu dirinya sedang tersangkut kasus narkoba.
Ezra berpikir, pasti orang tuanya akan sangat malu jika berita ini didengar tetangga-tetangganya. Selama ini, di kampungnya ia terkenal sebagai anak baik dan rajin. Itu akan membuat orang-orang kaget dan memberinya stigma negatif.
Tadi Ezra sudah melewati satu ujian. Hasil tes urine menyatakan dirinya negatif narkoba. Ia sangat berysukur karenanya. Hanya saja, itu belum cukup untuk membuatnya dibebaskan dari dugaan membawa paket narkoba.
Plastik berisi serbuk putih yang diketemukan petugas dalam kemasan paket makanan yang dibawanya bisa membuatnya dalam posisi sulit jika nanti terbukti itu adalah narkoba. Sungguh ia masih tidak habis pikir kenapa barang itu bisa berada di dalam paket menu kebab yang dibawanya?
Tadinya Ezra berpikir itu ulah dari gerai penjual kebab karena barang itu berasal dari sana. Namun kini ia ragu karena secara logika tidak mungkin penjual tersebut akan berani mengambil resiko sebesar itu. Gerai itu sudah lama menjalankan usahanya dan selama ini tidak pernah ia dengar tersangkut kasus hukum.
Ezra menduga semua didalangi PT. Eraneo. Jelas-jelas perusahaan itu fiktif. Kantornya pun tidak berani memasang papan nama. Yang membuat ia curiga adalah perusahaan tersebut berani membayar gaji tinggi. Keanehan lain adalah karyawan tidak diperbolehkan membawa gadget selain fasilitas yang mereka berikan.
Dalam benak Ezra, ia membuat analisa, kemungkinan pihak PT. Eraneo yang menyelipkan amplop itu ke dalam kemasan paket kebab. Seseorang telah disusupkan ke dalam gerai penjual kebab kemudian kurir seperti dirinya akan mengantarkannya kepada pemesan.
Setelah kejadian ini, Ezra berkesimpulan, PT. Eraneo telah memperalat karyawannya. Mereka mengedarkan narkoba dengan kedok pengantaran makanan. Ia juga yakin, semua karyawan tidak mengetahui sedang diperalat. Namun itu baru sebatas keyakinan Ezra saja. Ia harus membuktikannya. Sayangnya, sekarang ia tidak bisa ke mana-mana karena tersangkut kasus.
Ezra tidak tahu apa yang akan terjadi padanya beberapa jam ke depan. Statusnya belum jelas. Meskipun demikian ia yakin dirinya belum menjadi tersangka karena belum dibuatkan BAP. Ia juga tidak mendiami sel tahanan.
Ezra berharap, serbuk putih itu hanya prank atau kesalahpahaman saja. Jika ternyata itu narkoba, sudah pasti ia akan mendapatkan masalah besar.
Ceklek! Daun pintu terbuka. Seorang petugas berseragam mendatangi Ezra.
"Ikut saya!" perintah petugas berseragam.
Ezra cemas dirinya akan dijebloskan ke sel tahanan. Namun buru-buru ia menepiskan kecemasan tersebut. Ia bangkit dari duduk, kemudian meninggalkan ruangan.
Ezra mengekor petugas berseragam, menyusuri lorong. Ia diarahkan untuk masuk ke sebuah ruangan.
Di dalam ruangan telah duduk seorang penyidik yang mengenakan jaket hitam. Di hadapannya ada seorang perempuan berhijab, mengenakan baju kemeja dan celana panjang. Ezra penasaran siapa perempuan tersebut. Ia hanya bisa melihat bagian belakangnya saja.
"Duduk!" perintah penyidik.
Ezra duduk di kursi sebelah perempuan berhijab. Ia melirik perempuan tersebut yang ternyata adalah Dian, managernya.
Pandangan Dian terus ke depan, seolah tidak menganggap kehadiran Ezra.
Penyidik menatap Ezra. "Saudara Ezra Ardika, kami akan membebaskan saudara dari segala dugaan. Saudara terbukti tidak bersalah. Sehingga saudara bisa pulang sekarang."
Ezra mematung seolah tidak mempercayai pendengaran sendiri. Sejurus kemudian air matanya menetes. Ia sangat bahagia, begitu bahagianya terlepas dari masalah, sampai-sampai tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya selain menangis.
"Sepeda motor dan barang-barang yang saudara bawa, sudah kami serahkan ke manager saudara," tambah penyidik. "Saya sarankan agar saudara berhati-hati dalam melakukan sesuatu agar tidak tersangkut masalah hukum."
"Iya, Pak," ucap Ezra parau. Suaranya nyaris tidak terdengar.
"Silakan kalau mau pulang." Penyidik mengulas senyum ramah.
"Baik kalau begitu kami permisi, Pak." Dian menjabat tangan penyidik. Ia melirik Ezra dengan ekspresi datar. "Ayo kita pulang.
Ezra mengangguk bahagia.