Keluar dari kantor polisi, Ezra diajak Dian ke kantor PT. Eraneo menggunakan taksi online. Selama perjalanan, managernya itu tidak bersuara sedikit pun. Bibirnya terkatup. Wajahnya muram, kontras sekali dengan ketika menyambut Ezra pertama kali.
Dian tidak merespon ketika Ezra mengucapkan terima kasih. Jangankan menjawab, melirik pun tidak. Seolah manager itu tidak menganggap ada orang lain di dekatnya sejak dari kantor polisi hingga sampai di parkiran gedung Mulia Merdeka. Itu membuat Ezra menduga Dian sedang marah.
Turun dari taksi online, Dian membayar jasa tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada pengemudinya.
"Terima kasih, Pak!" ucap Ezra kepada pengemudi taksi online. Ia mengucapkannya karena sudah terbiasa.
"Sama-sama, Mas!" timpal pengemudi. Ia kembali menjalankan mobilnya, meninggalkan Ezra dan Dian.
Setelah taksi online pergi, Ezra membalikkan badan. Ia kaget ketika mendapati Dian sedang bersedekap sambil menatapnya tajam.
Dengan isyarat bola mata, Dian menyuruh Ezra memasuki gedung.
Ezra mengekor Dian menuju kantor PT. Eraneo. Managernya itu masih tetap bungkam hingga sampai di meja kerjanya.
"Duduk!" suruh Dian, akhirnya membuka mulut. Tatapannya menghunus tajam.
Ezra duduk menghadap Dian. Ia menduga akan dimarahi. "Saya minta maaf karena tidak bisa mengantarkan orderan sampai ke pemesan."
"Saya yang bicara lebih dahulu!" potong Dian ketus. "Jangan menyela. Jangan mengucapkan apa pun kecuali untuk menjawab pertanyaan atau karena saya mempersilakannya."
Ezra mengangguk.
Dian menangkupkan kedua lengan ke atas meja. Ditatapnya Ezra. "Saya harus katakan sama kamu, dalam tahun ini, PT. Eraneo menerima sembilan belas karyawan baru, termasuk kamu. Hingga detik ini, hanya empat orang yang masih bertahan. Kamu tahu kenapa?"
"Nggak tahu."
"Karena mereka cerdas, baik secara inteligensia, juga secara emosi," Dian menjawab pertanyaannya sendiri. "Saya berharap kamu juga begitu."
Ezra mengangguk.
Dian tersenyum sinis. "Maksud kamu mengangguk itu apa?"
"Saya akan bertahan."
Senyum sinis Dian berubah tawa. "Kamu yakin?"
"Iya,"
Seketika tawa Dian berhenti. Tatapannya menusuk mata Ezra. "Saya nggak yakin!"
"Saya akan berusaha," ujar Ezra meyakinkan.
"Oke, mari kita buktikan!" Dian bersedekap sambil menyandarkan punggung ke kursi. "Saya akan katakan satu kalimat. Reaksi kamu akan memberitahu saya, apakah kamu bisa bertahan atau tidak!"
Ezra tidak paham maksud ucapan Dian.
"Kamu siap mendengarnya?" Dian mengerjap.
"Siap!" jawab Ezra, meskipun tidak lantang tapi tegas.
"Siapkan hatimu dan pasang telinga baik-baik karena saya hanya akan mengucapkannya satu kali!"
Ezra mengangguk penasaran.
Dian menatap Ezra lekat-lekat. "Sekarang kamu adalah kurir narkoba!"
Ezra terhenyak, antara percaya dan tidak atas ucapan Dian. Wajahnya seketika pucat. Badannya mengejang, kemudian lemas. Jika ucapan Dian benar, maka ia tidak akan sudi meneruskan pekerjaannya.
"Salah besar, kalau kamu menganggap saya sedang bercanda apalagi nge-prank!" Dian tersenyum sinis.
Ekspresi dan ucapan Dian sudah menjelaskan kalau manager itu tidak main-main dengan ucapannya. Sekarang Ezra paham kenapa PT. Eraneo menyembunyikan profil perusahaannya. Ternyata mereka adalah sindikat mafia pengedar narkoba berkedok perusahaan jasa pengantaran makanan.
"Eraneo merekrut karyawan untuk dijadikan kurir narkoba. Kamu salah satu di antaranya." Dian memberitahu.
Ezra tidak habis pikir, perempuan secantik Dian bisa dengan santai mengucapkan kalimat itu. "Jadi kalian menjebak kami?"
Dian mengangguk tegas.
Ezra menelan ludah. Lututnya bergetar. "Keji sekali kalian!" makinya lirih tapi penuh tenaga.
Dian mengedikkan bahu. "Jadi, apakah kamu akan mundur?"
"Tentu saja!" jawab Ezra lantang. "Saya nggak mau diperalat!"
Dian mematung, menatap Ezra dengan ekspresi datar. "Sayangnya kamu nggak punya pilihan!"
Ezra terkekeh sumbang. "Saya bisa keluar dari pintu kantor ini dan melaporkan kalian kepada polisi!"
Dian balas terkekeh sinis. "Silakan saja kalau kamu punya nyali!"
"Kenapa enggak?" Ezra tidak yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya.
Menurut logika Ezra, setelah Dian membuka kedok perusahaan, mereka pasti tidak akan membiarkan siapa pun untuk membongkar kejahatan mereka. Mereka pasti telah bersiap untuk mengantisipasi segala kemungkinan.
"Sebelum kamu meninggalkan pintu kantor ini, sebaiknya kamu tahu bahwa Eraneo tidak akan membiarkan karyawan sepertimu melapor kepada polisi."
Ezra mengernyit. "Ibu mengancam saya?"
Dian mendekatkan wajah ke arah Ezra. "Mulai sekarang, berhentilah memanggiku dengan sebutan 'ibu'. Mulai sekarang, persiapkan hatimu untuk menerima kenyataan bahwa kamu terjebak dalam situasi ini dan enggak bisa keluar dengan mudah."
"Nggak usah bertele-tele!" Ezra beranikan diri untuk lebih mendekatkan wajahnya ke arah Dian. "Apa yang akan kalian lakukan kalau aku mundur dari pekerjaanku?"
Melihat keberanian Ezra, Dian mengangguk puas. Ia tersenyum senang karena menemukan seseorang yang selama ini telah lama dinantikan.
"Kenapa diam, Dian?" Ezra sengaja merubah panggilannya dan hanya menyebutkan nama managernya tersebut.
"Kita akan lihat nanti, apakah nyalimu itu akan menciut atau enggak." Dian menatap Ezra tajam. "Dengarkan aku baik-baik, Detektif Gagal!"
Ezra terperangah, mendengar Dian menyebutnya sebagai 'Detektif Gagal'.
"Kamu pasti kaget kenapa aku bisa mengetahui latar belakangmu bukan?" Dian tersenyum sinis. "Padahal dalam CV, kamu enggak menyebutkan pernah bekerja sebagai asisten detektif pada CV. J-Sukma!"
"Aku seorang office boy!" sanggah Ezra untuk menutupi ekspresi keterkejutannya.
Dian mengangguk. "Iya, seorang office boy yang beruntung menjadi asisten detektif kondang bernama Alika Sisilia."
Ezra mendengus pasrah. Ia baru sadar kalau latar belakangnya sudah diketahui Dian. Itu membuatnya dalam posisi semakin sulit.
"Eraneo nggak segoblok yang kamu bayangkan, Detektif Gagal!" maki Dian. "Jadi bagaimana, apa kamu sudah punya bayangan, kira-kira apa yang akan dilakukan Eraneo kalau kamu berani melaporkan kepada polisi?"
Ezra tidak mau diintimidasi. Meskipun sekarang nyalinya menciut, ia akan tetap berlagak berani. "Aku akan dihabisi bukan?"
Dian mengerjap. "Kamu siap dengan resiko itu?"
Nyali Ezra semakin menciut. Saat ini seolah-olah badannya mengecil di hadapan Dian. Meskipun begitu ia terus menatap Dian tajam.
"Sayangnya, menghabisimu adalah opsi paling ringan yang kemungkinan akan dilakukan Eraneo." Dian menyandarkan punggung ke kursi. Ia menyilangkan kaki sambil terus mengamati perubahan ekspresi Ezra.
"Kenapa kalian nggak menghabisi aku saja sekarang?" Ezra mengatakan itu sambil berusaha meredam rasa takut yang luar biasa di dalam hati.
"Kalau kamu mati, Eraneo akan kehilangan aset bagus sepertimu," ujar Dian berdalih. "Eraneo membutuhkan orang-orang pemberani sepertimu. Asal kamu tahu saja, kami telah menyeleksi ratusan pelamar kemudian mengerucutkannya menjadi sembilan orang. Dari sembilan orang itu kami selidiki latar belakangnya. Kami tahu siapa orang tua mereka, teman mereka, dan orang-orang yang dekat dengan mereka. Kami tidak sembarangan merekrut orang."
"Dasar sindikat mafia!" maki Ezra geram.
Dian menegakkan badannya. "Aku bisa merasakan ketakutanmu."
Tangan Ezra terkepal. Ia menatap Dian tajam. Ingin rasanya ia mencakar wajah cantik itu.
Dian mengambil air mineral kemasan gelas dari kardus di belakang kursinya. Ia menyodorkannya kepada Ezra. "Kamu nggak punya pilihan, Ezra. Lebih baik kamu terima kenyataan ini kemudian kembali fokus pada pekerjaanmu. Tenang saja, Eraneo nggak akan membiarkan kurirnya tertangkap polisi. Kami akan memastikan paket narkoba yang kalian kirim akan sampai ke pelanggan dengan aman."
"Kalian benar-benar mafia licik!" maki Ezra, setengah putus asa.
Dian mengedikkan bahu. "Kamu sudah membuktikan sendiri bagaimana kami membebaskanmu dari masalah hukum."
"Jadi serbuk putih dalam plastik itu narkoba beneran?"
Dian mengangguk enteng. "Tentu saja."
Ezra merasa heran. "Lalu bagaimana kalian bisa membebaskanku padahal polisi memiliki bukti kuat kalau itu adalah narkoba?"
"Kamu nggak perlu tahu. Itu urusan kami. Kamu yakinkan saja dirimu sendiri bahwa kamu akan aman selama bekerja pada kami. Kamu akan tetap mendapatkan gaji besar. Jadi kenapa nggak kamu nikmati saja pekerjaanmu ini?"
"Aku nggak sudi menjadi pengedar narkoba!" ucap Ezra dengan nada meratap.
Dian mendengus. "Kamu belum mengerti juga!"
Ezra melengos. Semakin geram hatinya, semakin lemas badannya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena sebelumnya tidak memperhitungkan resiko terburuk saat akan melakukan penyamaran pada perusahaan Eraneo. Sekarang ia terjebak pada sindikat mafia. Ia harus menjadi kurir narkoba. Itu membuatnya sangat terpuruk.
"Agar kamu paham, aku akan jelaskan resiko yang akan kamu terima jika berani melarikan diri atau melapor polisi." Dian mengambil dua lembar kertas berukuran A4 yang dilaminating. Ia meletakkan kertas-kertas itu persis di dekat Ezra dengan posisi berjejeran. "Kertas di sebelah kiri kamu itu adalah kliping berita koran tentang tewasnya seorang lelaki berusia dua puluh dua tahun, akibat kecelakaan tunggal. Sepeda motornya menabrak truk yang sedang berhenti di pinggir jalan. Korban sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi, tapi sebelum sampai, ajal telah lebih dulu menjemputnya."
Ezra melirik kertas di atas meja. Kertas di sebelah kiri itu berisi sebuah kliping berita koran dengan judul 'Kecelakaan Tunggal Menewaskan Seorang Kurir Makanan'. Dalam berita itu menampilkan sebuah gambar korban yang bersimbah darah tertutup daun pisang. Yang membuat Ezra merasa miris adalah korban mengenakan seragam perusahaan Eraneo, mirip yang sedang dikenakannya saat ini.
"Peristiwa itu terjadi lima bulan lalu. Korban adalah karyawan Eraneo yang mencoba melarikan diri dan terindikasi akan melapor polisi." Dian menjelaskan. "Polisi menutup kasus tersebut dan menyatakan kalau korban mengalami kecelakaan tunggal. Padahal, Eraneo telah merekayasa kecelakaan tersebut."
Bergidik bulu kuduk Ezra. "Sadis kalian!"
Dian membetulkan hijabnya. "Eraneo sangat rapi melakukannya."
Ezra membuang muka. Tidak ia sangka, orang berwajah polos seperti Dian ternyata sebengis itu. Ia pun semakin terpuruk.
"Kertas di sebelahnya adalah sebuah iklan kehilangan orang. Dua tahun lalu, ia bekerja di Eraneo sebagai pengantar makanan sepertimu. Setelah tahu kalau di dalam makanan yang ia bawa ada paket narkoba, ia melarikan diri," cerita Dian. "Ia memang tidak melapor polisi atau cerita kepada orang lain, tapi sering mangkir dari tugas. Eraneo akhirnya mengirimkannya ke luar negeri."
"Maksudnya?"
Nadia membelalakkan mata. "Orang itu dijual ke sindikat perdagangan orang!"
Ezra terhenyak. Sejurus kemudian ia melirik kertas itu sekilas.
"Nggak usah malu-malu kalau mau mmbacanya." Dian terkekeh meledek. "Kedua macam ancaman itu masih belum seberapa. Ada yang lebih pedih dari itu."
Nyali Ezra semakin menciut.
"Jika kamu enggak melapor polisi atau nggak melarikan diri, tetapi bertemu dengan orang lain, maka Eraneo akan memastikan orang yang kamu dekati itu akan mendapatkan teror pedih," ujar Dian.
"Maksudnya?"
Alih-alih menjawab, Dian membukakan tutup botol air mineral lalu menyodorkannya kepada Ezra. "Santai saja, enggak usah tegang begitu. Minumlah, biar kamu sedikit rileks."
Ezra menepis botol yang disodorkan Dian. Ia tidak sudi menerimanya.
Dian menutup kembali tutup botol tersebut. "Kamu tentu tahu kalau Alika sering mendapatkan teror bukan?"
Ezra terbelalak kaget. "Apa itu ulah kalian?"
Dian terkekeh. "Kamu pasti penasaran bukan?"