Seorang berseragam yang sama dengan Ezra, baru saja masuk ke kantor. Ia membawa sebuah kantung kresek lalu mendekati meja Dian. "Permisi, satu porsi siomay atas nama pemesan Ibu Dian Senosa!"
"Taruh ke atas meja!" suruh Dian. "Berapa?"
"Sepuluh ribu, sesuai aplikasi."
Dian membuka laci. Ia mengambil uang pecahan sepuluh ribuan dan memberikannya kepada pengantar makanan.
"Terima kasih, Bu!"
"Sama-sama." Dian membuka kresek dan mengeluarkan mika kemasan siomay. Ia melirik Ezra. "Kalau kamu mau nanti aku pesankan!"
Ezra membuang muka. Ia sedang tidak membutuhkan apa pun kecuali bisa terlepas dari situasi buruk ini.
"Kalau nggak mau ya sudah!" Dian membuka kemasan. Ia mencomot irisan tahu lalu melahapnya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku!" tegur Ezra kesal.
Dian menatap Ezra sambil mengunyah tahu di dalam mulutnya. "Lebih enak kalau kamu mendengarkannya sambil menyantap makan siang. Sebentar lagi zuhur. Kamu pasti lapar bukan?"
Ezra bangkit dari kursi. Ia pindah tempat duduk ke sofa di pojokan ruangan. Pikirannya kacau. Hatinya tidak keruan.
Dian membiarkan Ezra. Ia lebih memilih untuk menikmati siomay.
"Di dalam kemasan itu ada narkobanya?" sindir Ezra geram.
Dian tidak merespon sindiran Ezra. Ia terus menikmati siomaynya dengan lahap. Sesekali ia melirik Ezra iba. Sungguh tidak mudah baginya berperan sebagai manager tegas dan terkesan sadis. Ia melakukan itu karena terpaksa. Jika tidak, ia yang akan terkena masalah.
Melihat wajah pucat Ezra, mengingatkannya pada situasi yang sama dulu. Ia pernah berada pada posisi lelaki itu. Waktu itu, ia menangis histeris ketika managernya memberitahu kalau dirinya menjadi kurir narkoba dan tidak bisa keluar dari situasi buruk tersebut.
Ketika itu Dian sempat mencoba bunuh diri karena tidak kuat menerima kenyataan pahit terperangkap dalam sindikat pengedar narkoba. Beruntung, ketika ia hampir saja menyilet urat nadinya, temannya memergokinya. Ia gagal mati, tapi sejak itu akhirnya ia berusaha untuk menerima keadaan. Ia berusaha mengikuti alurnya sambil mencari cara bagaimana keluar dari situasi tersebut. Satu hal yang membesarkan hatinya adalah saldo tabungannya dari gaji yang diterimanya hampir mencapai lima puluh juta.
Dian optimis, suatu hari ia akan bisa keluar dari situasi buruk ini. Saat itu tiba, ia berharap saldo tabungannya akan semakin banyak. Jika pada akhirnya sesuatu hal buruk menimpanya, paling tidak ia punya uang banyak yang akan diberikan kepada orang tuanya.
Saat ini Dian tidak bisa mentransfer uang tabungannya kepada orang tuanya. Jika ia melakukannya, ia takut orang tuanya akan mendapatkan teror.
Selama terjebak pada situasi buruk ini, Dian mengambil pelajaran bahwa kematian itu pasti akan terjadi. Ia hanya perlu mempersiapkan diri dan mencari bekal akhirat. Ia juga terus menabung agar ketika ajalnya tiba, punya sesuatu yang bisa ditinggalkan untuk orang tuanya. Dian telah membuat kesepakatan dengan pihak bank bahwa jika dirinya meninggal, semua saldo tabungannya akan diwariskan kepada orang tuanya di kampung.
Terdengar kumandang azan zuhur dari mushola di samping gedung. Dian terkesiap. Ia menyingkirkan sisa siomay dalam kemasannya kemudian berdiri.
"Mau ke mana?" tegur Ezra. Urusannya dengan Dian belum selesai.
"Sholat zuhur!"
Ezra tertawa sumbang. "Mafia sepertimu juga sholat?"
Dian tersenyum ke arah Ezra. "Eraneo memberikan kebebasan kepada semua karyawannya untuk beribadah sesuai keyakinan masing-masing."
Tawa Ezra semakin kencang. "Lucu, sungguh lucu! Hahaha!"
Dian mengabaikan Ezra. Ia bergegas menuju kamar mandi.
Diabaikan Dian, membuat emosi Ezra yang sejak tadi dipendam menjadi meluap-luap. Ia memukul-mukul sofa secara membabi buta. Tenaganya akhirnya lemas, ia pun terkulai di sofa.
Ezra membaringkan badan di atas sofa. Ia mencoba memejamkan mata, berharap hatinya akan sedikit tenang. Alih-alih berhasil, pikirannya semakin dijejali hal-hal buruk. Hatinya juga semakin ketakutan.
Ezra bangkit dari rebahan. Ia keluar dari kantor. Dicarinya mushola. Di sana ia berwudhu dan mengikuti jamaah sholat zuhur. Selepas salam, sambil menitikkan air mata, ia berdoa agar segera keluar dari situasi buruk ini.
Cukup lama Ezra berdoa, hingga seseorang mencolek bahunya.
Ezra menoleh. Di dekatnya telah berdiri seorang lelaki seusianya yang juga mengenakan seragam Eraneo.
"Mas, ditunggu Ibu Dian di kantor!" Selepas mengatakan itu, lelaki tersebut meninggalkan Ezra.
Ezra mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangan. Ia bangkit, keluar dari mushola. Dipakainya sepatu, kemudian kembali ke kantor Eraneo.
Sampai di kantor, Ezra mendapati Dian sedang duduk di sofa yang tadi ia gunakan untuk membaringkan tubuh.
Dian menepuk sofa di sebelahnya. "Duduklah, nggak usah canggung dengan manager kamu."
"Aku nggak mau lagi menganggapmu manager!" Dengan malas, Ezra duduk di sofa. Ia sengaja menjaga jarak dengan Dian. Ia tidak sudi berdekatan dengan perempuan itu yang telah menjerumuskannya pada situasi sulit.
Dian mengerjap. "Itu tidak akan merubah fakta bahwa aku managermu dan kamu bawahanku!"
Ezra melengos.
"Sekarang aku akan menjawab rasa penasaranmu soal Alika," ujar Dian.
Ezra menoleh. Ia mengernyit, merasa ada yang berubah pada wajah Dian, tapi ia tidak tahu apa.
"Kenapa?" Dian membenahi hijabnya yang sedikit kurang simetris. Tangannya meraba lekuk wajahnya sendiri.
Ezra terus menatap wajah Dian. Seingatnya, tahi lalat Dian posisinya sedikit jauh dari cuping hidungnya, tapi ia heran kenapa tahi lalat tersebut sedikit bergeser lebih mendekati hidung. Namun buru-buru, ia membuang pikiran itu karena menurutnya itu nggak penting. Ia juga menganggap barangkali itu hanya perasaannya saja.
"Jangan kurang ajar sama manager kamu!" hardik Dian.
Ezra terkekeh sinis. "Nggak usah kepedean karena meskipun wajahmu cantik tapi aku sama sekali enggak tertarik!"
Dian tergelak. "Baguslah. Meskipun kamu agak ganteng, tapi kamu juga bukan tipeku."
Ezra sedang tidak punya selera humor. "Langsung saja, nggak usah bertele-tele!"
Dian tergelak. "Oke, soal Alika, aku nggak bisa cerita secara mendetail. Yang penting substansinya adalah kamu harus tahu kalau Eraneo nggak main-main dengan ancamannya."
Ezra mendengus.
"Tadi di mushola, aku menyuruh seorang staf bagian administrasi buat menyampaikan pesan padamu bahwa aku menunggumu di sini. Lelaki itu adalah salah satu orang yang memilih bertahan di Eraneo setelah tahu kalau dirinya menjadi kurir narkoba. Sayangnya, diam-diam ia masih sering chatan dengan pacarnya yang anak orang kaya di kota ini. Kamu tahu sikap apa yang diambil Eraneo?"
"Aku nggak peduli!" ujar Ezra, memalingkan wajah.
Dian mendengus. Ia terpancing emosi atas sikap Ezra, namun ia berusaha tenang dan tetap menunjukkan sikap elegan. "Eraneo memindahkannya ke bagian staf administrasi agar lebih mudah mengawasinya. Ia pikir Eraneo tidak tahu apa yang dilakukannya di luar jam kerja. Ia tetap kencan dengan pacarnya. Mereka selalu chatan dan teleponan."
Ezra tidak sabar. "Apa kaitannya lelaki itu dengan Alika? Nggak usah bertele-tele!"
Dian berusaha untuk tidak terprovokasi. "Eraneo menegurnya dan akan melakukan sesuatu jika ia masih berhubungan dengan orang luar, tapi ia tetap melakukannya. Maka itulah Eraneo meneror pacarnya."
"Pacarnya nggak tahu apa-apa!" gugat Ezra.
"Eraneo bisa melakukan apa pun!" Dian tidak mau kalah.
Ezra melengos geram.
"Orang tua si pacarnya itu membayar detektif buat menyelidiki kasus teror itu. Kebetulan Alika yang menangani. Detektif itu hampir saja mengungkap siapa pelaku teror. Eraneo nggak tinggal diam. Akhirnya Alika kena teror sekalian."
Ezra melongo. Kini ia tahu siapa pelaku teror klien Alika.
"Silakan kalau kamu mau melaporkan itu kepada Alika. Kamu sudah tahu akibatnya," tantang Dian. "Aku yakin jika kamu nekat melakukamnya, Eraneo akan melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar rekayasa kecelakaan lalu lintas saja."
Ezra memejamkan mata kuat-kuat. Ternyata Eraneo sekejam itu.
Dian beranjak dari sofa. Ia mengambil nasi bungkus dari atas meja kerjanya. Tadi ia menyuruh seseorang untuk membeli nasi bungkus tersebut ketika Ezra sedang sholat.
Dian kembali ke sofa dan meletakkan nasi bungkus tersebut di dekat Ezra.
"Kamu butuh energi buat memikirkan sikap apa yang harus kamu ambil. Jadi makanlah!" suruh Dian. Ia kembali ke meja kerjanya. "Aku harus bekerja!"
"Apa yang kalian ketahui tentangku?" tanya Ezra penasaran.
"Makan saja dulu, nanti aku beritahu. Barangkali saja setelah mendengarnya akan membuatmu semakin mantap bekerja pada Eraneo." Dian mengatakan itu sambil menginput data ke dalam komputer. Ia sama sekali tidak memandang Ezra.