"Psstt!" Jari telunjuk Ono menempel pada bibirnya sendiri. Telinganya disiagakan karena sayup-sayup mendengar suara mencurigakan.
Srek! Srek!
Hening. Bunyi itu tidak terdengar lagi.
Nawira beringsut, mendekat kepada Ezra. Wajahnya tegang.
Srek! Srek! Srek! Bunyi itu terdengar lagi, semakin lama, semakin jelas.
Ono berjingkat menuju pintu samping. Dari sanalah bunyi itu berasal. Ezra berinisiatif untuk membantu polisi itu. Ia mendekati Ono.
Situasi ini membuat Nawira kembali dilanda rasa takut. Bedanya kalau tadi ia takut hantu, sekarang takut akan tertangkap pengawas Eraneo.
Ono mengambil pistol dari tempatnya yang berada di pinggang sebelah kiri. Melalui gestur, ia meminta Ezra untuk membuka pintu samping dalam hitungan ketiga.
Ezra mengangguk, sebagai tanda mengerti dan siap melaksanakan permintaan Ono.
Menggunakan jari tangan, Ono memberi aba-aba hitungan. Pada hitungan ketiga, Ezra segera membuka pintu secara cepat. Bersamaan dengan itu Ono berjongkok sambil mengarahkan pistol ke arah luar.
Meeoong!
Ono mendesah lega. Sosok di depannya ternyata kucing.
Ezra terkekeh tanpa suara menyaksikan adegan tadi. Ia menutup kembali pintu samping.
Berbeda dengan Ezra, Ono masih memasang kewaspadaan. Ia beranjak ke ruang tamu sambil tetap menyiagakan pistolnya.
Ezra kembali duduk di kursi. Ia menoleh kepada Nawira. "Jangan takut, ada Ono yang akan menjaga kita."
Nawira mengangguk, berusaha menenangkan diri. Ia menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Hembus angin dari ventilasi udara terasa dingin, membuatnya menggigil.
"Angkat saja kakimu," saran Ezra.
Nawira mengangkat kedua kakinya ke atas kursi. Kedua lengannya ditekuk. Badannya masih saja menggigil
Melihat Nawira masih menggigil, Ezra berinisiatif mengambil sebuah kain tebal yang tergeletak di sebelahnya dan dikasihkan kepada gadis itu. "Pakailah!"
Alih-alih menerimanya, Nawira menutup hidungnya.
"Kenapa?" Ezra mencium kain tersebut. "Wangi kok!"
"Wanginya aroma melati!" ujar Nawira bergidik ngeri. "Perutku mual kalau mencium aroma melati."
"Memangnya kenapa?" Ezra heran.
Nawira menggeleng. "Takut sama aroma itu!"
"Ketimbang kedinginan," bujuk Ezra.
Nawira menggeleng. Badannya terus menggigil.
"Nggak ada kain lagi di sini!" ujar Ono yang baru datang dari ruang depan. "Ada sarung tapi agak bau karena sebulan belum sempat kucuci."
Nawira menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Badannya semakin kedinginan.
"Saranku peluk saja Nawira!" ujar Ono kepada Ezra.
Ezra melirik Nawira ragu.
"Sudah peluk saja, nggak usah pakai permisi!" desak Ono. "Ini darurat. Cuman itu cara paling tepat saat ini."
Ezra menatap Nawira. Gigilan pada tubuh gadis itu semakin hebat. "Maaf, aku peluk sekarang ya?"
Nawira diam saja.
Dengan ragu, Ezra merengkuh Nawira lalu memeluknya erat-erat. "Aku nggak akan macam-macam. Percayalah!"
Nawira tetap diam. Ia lebih sibuk memikirkan badannya yang menggigil ketimbang memikirkan hal lain. Lagipula ia percaya kepada Ezra.
Tubuh Nawira berangsur-angsur hangat. Gigilannya semakin berkurang. Ia membiarkan dirinya dalam peluk hangat Ezra.
Ono tersenyum senang melihat Nawira sudah tidak semenggigil sebelumnya. "Kalau Ezra macam-macam, aku akan bertindak tegas padanya. Kamu tenang saja, Nawira!"
Nawira mengangguk lemah.
Ezra merasa lega karena Nawira mempercayainya. Dengan memeluk gadis itu, ia juga ikut merasa hangat.
"Semoga saja para pengawas itu nggak berhasil menemukan kita!" ujar Ono.
"Aamiin!" sahut Ezra. "Oh iya, bagaimana sih ceritanya kamu akhirnya bisa membebaskan kami?"
Ono tersenyum. "Aku sudah memasang GPS pada tasmu. Dengan begitu aku tinggal mencari cara bagaimana memasuki ruko itu."
"Terus cara apa yang kamu pakai?" tanya Ezra.
"Saat kamu dan yang lainnya sedang kumpul di lanrai dua, aku menyelinap ke sana. Aku bersembunyi di sebuah ruangan yang mirip gudang di lantai satu," cerita Ono. "Ruangan itu sangat kotor dan berantakan. Celakanya, di sana aku melihat seekor ular sedang melingkar di dekatku."
Nawira bergidik takut mendengar Ono menyebut ular.
"Untungnya ular itu nggak ngapa-ngapain, diam saja. Mungkin karena aku nggak banyak bergerak, sehingga nggak dianggap sebagai ancaman."
"Bisa jadi," timpal Ezra.
"Aku mencari timing yang tepat untuk dapat memasuki ruanganmu!" lanjut Ono. "Aku melihat pengawas sangat sibuk memindahkan kurir menuju sebuah mobil."
Ezra mengangguk, mendengarkan cerita Ono dengan sangat antusias.
"Setelah aku amati, para kurir itu dibawa pergi per tiga anak menggunakan mobil yang berbeda-beda. Di setiap mobil hanya terdapat satu pengawas," lanjut Ono. "Aku akhirnya punya ide. Aku menuju lantai tiga dan bersembunyi di balik sebuah lemari. Aku menunggu sampai giliranmu tiba. Sambil menunggu, aku menelepon seorang temanku untuk menyiapkan mobil di bawah dengan posisi mesin menyala."
Ezra tersenyum. Sekarang ia paham kenapa mobil itu sudah siap di bawah.
"Ketika seorang pengawas menuju ke ruangan kalian, aku segera melumpuhkannya. Kuambil baju dan helmnya, terus kupakai," kenang Ono. Di sakunya ada kunci. Tanpa membuang waktu aku langsung buka ruangan kalian."
"Kok kamu bisa nggak ketahuan?" tanya Ezra kagum. "Saat kita menuruni tangga juga nggak terlihat ada pengawas."
Ono mengedikkan bahu. "Aku juga heran. Kalau aku tebak sih, kalian adalah kurir terakhir yang akan dipindahkan. Sepertinya setiap pengawas ikut mengawal ke setiap mobil. Sehingga kemungkinan jumlah pengawasnya sudah semakin sedikit."
Ezra menganguk. "Sepertinya mereka memindahkan anak-anak secara bertahap. Mungkin tujuannya agar tidak mengundang perhatian."
"Tapi aku sempat melihat ada satu orang pengawas yang berada di ruang depan. Maka itu aku meminta temanku memarkir mobil di dekat pintu samping."
"Memangnya pintu samping tidak dikunci?" tanya Ezra.
"Nyatanya enggak!" sahut Ono. "Ada kemungkinan pintu samping juga dipakai buat lewat anak-anak dan belum sempat dikunci kembali."
"Terus temen kamu yang membawa mobil itu berada di mana?" tanya Ezra. "Kenapa ia nggak ikut kita sekalian?"
"Ia aku suruh mengawasi sekitar," jawab Ono.
"Apa ia juga seorang polisi?"
Ono menggeleng. "Bukan, ia seorang pengusaha rental mobil langgananku."
"Tapi ia tahu kalau kamu seorang intel polisi?"
Ono mengangguk. "Tahu. Ia salah satu informan kami juga. Sebenarnya kalau tadi siang kamu sepakat, aku mau memintamu sebagai informan kami."
Ezra mengerjap. "Jadi itu bentuk kerjasama yang ingin kamu tawarkan itu?"
Ono mendesah. "Iya, salah satunya adalah kamu memberitahukan posisi Regina. Keberadaan Regina sangat penting. Ia adalah target kunci kami."
Ezra mengernyit bingung. "Target?"
Ono mengangguk. "Regina adalah pimpinan Eraneo cabang Semarang!"
Ezra tersentak kaget. Begitupun Regina yang sedang berada dalam pelukannya. Keduanya seolah tidak mempercayai pendengaran sendiri.
"Kamu yakin?" Ezra menatap Ono lekat-lekat, memastikan kalau polisi itu tidak sedang bercanda.
Ono membetulkan posisi duduk. Ia balas menatap Ezra. "Kamu membaca cerbung di mading dekat lapangan tenis itu bukan?"
Ezra semakin kaget. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
Ono tersenyum geli. "Aku ini intel polisi, Ez! Aku tahu semua yang kamu lakukan karena kamu salah satu targetku."
Ezra mendesah berat. "Kenapa aku menjadi target?"
"Karena kamu orang yang dekat dengan Regina," jawab Ono. "Aku penasaran ada kaitan apa antara kamu dengan Regina?"
Ezra mematung. Benaknya dipenuhi dugaan-dugaan.
Sebelum Ezra berpikir yang tidak-tidak, Ono segera meluruskan. "Ini murni soal penyelidikan terhadap Eraneo. Meskipun aku pernah dekat dengan Regina tetapi aku mencoba profesional."
"Aku masih belum mengerti dengan ini semua," desah Ezra.