Ono menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke arah barat.
"Kami akan dibawa ke mana?" tanya Ezra.
Ono melirik Ezra melalui spion yang tergantung di atas plafon kabin depan. "Sementara ini kalian bebas dari Eraneo!"
Ezra bingung. "Bukannya kamu bagian dari Eraneo ya?"
Ono tertawa lepas.
Ezra menjadi semakin bingung. "Aku pikir kamu pengawas Eraneo!"
Nawira ikutan bingung. Ia mencolek lengan Ezra. "Kamu mengenalnya?"
Ezra mengangguk. "Iya, Ono ini yang menyerangku waktu aku bersembunyi di sebuah rumah kosong."
"Aku yang menolongmu!" sergah Ono. "Kamu harus mempercayaiku. Kalau enggak kalian akan rugi sendiri."
Ezra semakin bingung. "Jadi sebenarnya kamu ini siapa?"
"Aku intel polisi yang sedang menyelidiki Eraneo!" jawab Ono.
Ezra mengernyit. "Tadi pagi kamu bilang bukan polisi. Sekarang mengaku intel polisi. Mana yang benar?"
"Nanti aku jelaskan!" ujar Ono. "Sekarang kalian harus pastikan tidak ada ponsel yang terbawa karena itu akan membuat pelarian ini menjadi lebih sulit."
"Aku nggak bawa apa-apa," timpal Ezra.
"Temen kamu?" Ono melirik Nawira melalui spion dalam.
Nawira hanya menggeleng saja karena masih ketakutan.
"Bagus kalau kalian nggak bawa ponsel!" ujar Ono. "Sekarang kalian aman karena Eraneo tidak bisa melacak kita."
Ezra mengarahkan pandangan keluar kaca jendela. Suasana kota Semarang cukup lengang. Jalanan terlihat basah karena baru saja diguyur hujan lebat.
Mobil memasuki sebuah jalan perumahan. Ezra pernah melewati jalan ini beberapa tahun lalu ketika mengunjungi teman SMA-nya. Dulu jalannya rusak parah, sekarang tampak dibeton.
"Kamu asli Semarang?" tanya Ono kepada Ezra.
"Iya, kenapa memangnya?" Ezra balik bertanya.
"Pernah ke sini?"
"Iya."
"Baguslah!"
Ono memutar setir ke kiri. Sekarang mobil memasuki gang yang lebih sempit. "Kalau gang ini kamu tahu nggak tembusnya ke mana?"
"Gang ini bisa tembus ke mana saja," jawab Ezra. "Di perumahan ini nggak ada jalan buntu."
"Oke, kalau begitu nanti di depan aku akan beebelok ke kanan," ujar Ono. "Kamu tahu gang itu?"
"Iya, di pojok gang ada sebuah bangunan angker," jawab Ezra.
Ono mengangguk senang. Ia membawa mobil memasuki pelataran sebuah rumah.
"Ini rumah siapa?" Ezra memperhatikan rumah berlantai dua yang dari luar tampak gelap dan tampak tidak terawat.
Ono memarkir mobil di depan rumah tersebut. "Rumah ini dijual murah, tapi nggak ada orang yang mau membelinya."
"Kenapa?" Ezra penasaran.
"Pemilik rumah ini seorang janda muda tewas bunuh diri," jawab Ono. "Konon ia mengalami depresi setelah kalah di pengadilan atas sengketa rumah angker itu!"
Spontan Ezra dan Nawira melirik ke rumah angker yang berada di seberang gang.
Ono tertawa ngakak. "Hahaha!"
Ezra mendengus sebal. Ia tahu kalau Ono hanya bercanda saja. Sementara Nawira masih saja mempercayai ucapan Ono.
"Ayo, kita keluar!" Ono keluar dari mobil. Ia berdiri di tepi jalan memperhatikan sekitar yang tampak sepi.
"Ayo keluar!" ajak Ezra kepada Nawira.
Nawira mengangguk ragu. Melihat Ezra keluar mobil, terpaksa ia ikut keluar.
Ono menoleh kepada Ezra dan Nawira. "Dalam hitungan ketiga kita bersama-sama berjalan cepat menuju rumah itu!"
Dengan bulu kuduk merinding, Nawira memandang rumah yang ditunjuk Ono.
"Satu!" hitung Ono sambil terus mengawasi sekitar.
Ezra menatap Nawira. "Jangan takut!"
"Dua!" hitung Ono.
Nawira menelan ludah. Ia sebenarnya takut menuju rumah di seberang gang, tapi ia tidak mungkin berdiri di sini sendirian.
"Tiga!" Ono berjalan cepat menyeberangi gang.
Ezra menggandeng tangan Nawira. Mereka berjalan cepat di belakang Ono.
Ono terus berjalan cepat. Sampai di pintu, ia menunggu Ezra dan Nawira yang tertinggal beberapa langkah.
"Rumah ini nggak seangker kata orang!" Ono memandang Ezra dan Nawira bergantian. "Aku sudah lama tinggal di rumah ini dan tidak pernah mengalami hal-hal aneh."
Ezra mengangguk. Ia memang pemberani, tidak mempercayai hal-hal mistis.
"Aku takut!" Bibir Nawira bergetar.
Ono menatap Nawira. "Siapa nama kamu?"
Nawira diam.
"Nawira!" ucap Ezra bantu menjawab.
Ono tersenyum kepada Nawira. "Percayalah sama aku, Nawira, kamu akan baik-baik saja jika bersembunyi di rumah ini. Di luar sana, pengawas Eraneo sedang mencari kamu dan Ezra. Kalian akan dijual ke Hongkong."
Ezra terbelalak kaget. "Hongkong?"
Ono mengangguk. "Itu informasi yang kudapatkan."
Nawira menelan ludah. Ia memang takut dijual ke Hongkong, tapi ia juga tidak berani jika harus bersembunyi di rumah yang tampak angker.
"Kita nggak bisa berlama-lama di sini. Kita harus segera masuk sebelum ada orang yang melihat keberadaan kita!" Ono menatap Ezra dan Nawira secara bergantian.
Ezra mengangguk. "Oke, kalau begitu kita masuk saja!"
Ono menepuk bahu Ezra. "Ayo!"
Ezra berjalan di belakang Ono, memasuki pintu. Meskipun takut, mau tidak mau Nawira ikut masuk.
Tidak seangker seperti yang tampak dari luar, ruang tamu rumah ini lebih bersih. Ada sebuah lilin yang menyala di atas sebuah meja.
Ono menutup pintu dan menguncinya. Ia menyalakan senter pada ponselnya.
Ruang tamu menjadi lebih terang berkat senter dari ponsel Ono. Lantainya kelihatan bersih.
"Kita ke ruang tengah saja." Ono meniup lilin hingga mati. Ia menatap Ezra dan Nawira. "Ayo ikuti aku!"
Ono berjalan menuju ruang tengah. Ezra mengekornya. Sedangkan Nawira menempel ketat Ezra sambil matanya mengawasi sekitar, ketakutan.
Sampai di ruang tengah. Ono langsung menyalakan lampu penerangan portable di atas sebuah lemari. Ruangan menjadi terang.
Ezra duduk di kursi busa. "Kursi ini tampak baru!"
"Aku membelinya!" timpal Ono. Ia duduk di atas matras. "Matras ini juga aku beli di Simpanglima."
Nawira duduk di sebelah Ezra. Posisinya mepet lelaki itu karena masih dilanda ketakutan.
"Aku sengaja mengajak kalian ke ruang tengah karena cahaya di sini penerangannya tidak bisa dilihat dari luar. Dengan begitu orang tidak akan tahu kita sedang berada di sini."
"Sejak kapan kamu tinggal di sini?" tanya Ezra heran kenapa Ono bisa menemukan tempat ini.
"Dua bulanan, itu pun nggak setiap hari kutinggali. Komandanku yang menyediakan. Rumah ini sebenarnya milik seorang polisi yang terbiar mangkrak." Ono menjelaskan. "Kebetulan rumah pakdeku memang tidak jauh dari sini."
"Jadi beneran kamu seorang polisi?" Ezra mengerjap.
Ono mengeluarkan sebuah kartu identitas kepolisian dari dalam dompet. Ia menyerahkannya kepada Ezra.
Ezra menerima kartu identitas tersebut dan memeriksanya dengan teliti. "Nama kamu Alvino Mahendra?"
Ono mengangguk sambil terkekeh. "Dulu pas kenalan sama Regina aku mengenalkan diri dengan sebutan Ono. Hehehe!"
Ezra mengerjap. "Pantesan!"
Nawira melirik kartu identitas milik Ono yang dipegang Ezra. Ia memeriksanya agar yakin kalau Ono memang benar-benar seorang anggota polisi.
"Sekarang kalian percaya kan?" Ono terkekeh puas.
Meski mempercayai Ono, Ezra masih penasaran kepada polisi itu. "Lalu apa kegiatan kamu di Semarang?"
"Sudah kubilang kalau aku ini intel polisi yang sedang menyelidiki Eraneo," ujar Ono menegaskan. "Tadi di rumah kosong itu aku sengaja membantah karena kalau saat itu kamu tahu bahwa aku polisi pasti kamu akan menghindariku."
Ezra menjadi teringat kepada Gina. "Kalau Gina, apa ia juga seorang intel sepertimu?"
Dahi Ono berkerut. "Maksudnya?"
Ezra menjelaskan. "Gina mengaku kalau dirinya seorang polisi. Ia bahkan mengatakan kalau kamu justru seorang pengawas Eraneo."
Ono tertawa geli. "Regina bilang begitu?"
Ezra mengangguk. "Gina cerita kalau ia dan kamu sempat dekat, tetapi setelah kamu tahu bahwa Gina seorang polisi, akhirnya kamu terus mengejarnya."
Tawa Ono semakin menjadi, membuat Ezra semakin kebingungan.
Melihat wajah bingung Ezra, Ono berhenti tertawa. "Aku akan menjelaskan sebuah fakta yang mengejutkanmu!"
Dahi Ezra berkerut. "Jelaskanlah!"