Setelah Ezra menjelaskan situasinya dengan perlahan, akhirnya Nawira mulai tenang. Berangsur-angsur ia mempercayai Ezra.
Selepas masing-masing melaksanakan sholat isya, mereka duduk menyandar dinding dengan jarak cukup jauh. Bagaimanapun juga, Nawira merasa harus tetap waspada karena Ezra adalah laki-laki.
"Aku nggak akan berani menyentuhmu apalagi berniat buruk padamu, Wira!" ujar Ezra.
Nawira diam, hanya melirik Ezra sekilas.
"Aku paham kok kalau kamu ketakutan, mungkin karena tadi kamu melihatku memegang paku, kain penyekat terlepas, dan Sarah nggak ada di ruangan ini." Ezra menoleh kepada Nawira. "Nanti aku pasang lagi kain penyekatnya."
Nawira menoleh. "Memangnya boleh?"
"Yang penting dipasang dulu saja. Kalau akhirnya dilarang ya itu urusan nanti," ujar Ezra.
Nawira berselonjor. "Kalau kamu beneran nggak akan berniat macam-macam, sebenarnya nggak usah dipasang sekat juga nggak papa."
Ezra mendesah. "Tapi sepertinya kamu belum sepenuhnya percaya sama aku. Iya kan?"
Nawira diam. Sebenarnya ia percaya kepada Ezra. Masalahnya adalah ia yakin Ezra lelaki normal dan semua oramg bisa khilaf. Lagipula ia merasa risih berada satu ruangan dengan lelaki.
Ezra memiliki solusi. "Atau begini saja, aku akan tidur di toilet, gimana menurutmu?"
Nawira terkekeh. "Memangnya kamu mau?"
Ezra mengedikkan bahu. "Kalau itu bisa membuatmu merasa nyaman, kenapa enggak?"
Nawira menatap Ezra. "Beneran?"
Ezra mengangguk. Untuk menunjukkan keseriusannya, ia mengambil salah satu matras dan membawanya ke dalam toilet. Matras itu ia gelar di depan kamar mandi, lalu rebahan di atasnya.
Nawira kaget, tidak menyangka Ezra benar-benar akan tidur di dalam toilet. Ia pun menjadi serba salah. Kalau membiarkan Ezra melakukannya, itu akan membuatnya merasa tidak enak hati. Sementara cara itu memang yang paling aman bagi dirinya.
Nawira melirik jam pada ponselnya. Sekarang pukul 19:49 wib. Perutnya mulai terasa lapar. Eraneo belum memberi jatah makan malam. Di dalam tasnya masih ada sebungkus roti isi cokelat keju. Namun ia merasa tidak tega jika menghabiskannya seorang diri, sementara Ezra terbiar lapar.
Nawira mengambil roti tersebut. Ia membawanya menuju ke toilet, bermaksud membaginya separuh kepada Ezra. Ketika membuka pintu, ia kaget melihat Ezra sedang berbaring di atas matras dengan mata terpejam.
Sungguh Nawira merasa tidak tega melihat Ezra tidur di dalam toilet, apalagi di sana banyak nyamuk.
Ezra sebenarnya belum tidur. Ia memejamkan mata sambil berpikir keras, mencari cara agar bisa kabur dari tempat ini. Ia bahkan bisa menyadari keberadaan Nawira yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Ezra!" panggil Nawira, membangunkan Ezra.
Mata Ezra terbuka. "Ada apa, Wira?"
Nawira mengacungkan sebungkus roti ke arah Ezra. "Kamu mau roti?"
Ezra bangkit dari rebahan. "Memangnya kamu punya berapa banyak?"
"Cuman satu sih, tapi kalau kamu mau, kita bisa berbagi." Nawira menyunging senyum.
"Buat kamu saja," ujar Ezra. "Bukannya menolak tapi nasi bungkus jatah tadi siang belum aku makan."
"Apa nggak basi?"
"Semoga saja enggak."
Nawira menepuk nyamuk pada dahinya. Plok! Tepukannya meleset karena nyamuknya lebih gesit.
"Tutup saja pintunya!" saran Ezra.
Nawira memandang iba kepada Ezra. "Kamu yakin akan tidur di situ?"
"Sejujurnya aku nggak tahan sama nyamuknya, tapi ya sudahlah nggak papa, cuman semalam ini, paling besok kita akan dipindahkan ke kota lain."
Ada perasaan iba yang berperang dengan perasaan khawatir dalam hati Nawira. Satu sisi ia merasa tidak enak hati membiarkan Ezra tidur di toilet, tapi sisi lain ia merasa perlu mengantisipasi kalau-kalau lelaki itu khilaf.
"Kamu boleh tutup pintunya biar nyamuknya nggak masuk ke ruanganmu," ujar Ezra.
Dengan perasaan campur aduk, Nawira memandang Ezra. "Aku minta maaf ya? Gara-gara aku, kamu sampai harus tidur di toilet!"
"Santai saja!" Ezra tersenyum.
Nawira menutup pintu toilet secara perlahan. Ia kembali ke pojokan ruangan.
Begitu pintu toilet tertutup, Ezra bangkit dari rebahan. Ia berdiri sambil memperhatikan lubang angin-angin di dinding yang ia perkirakan berukuran tinggi tiga puluh sentimeter dan panjang setengah meter. Jika bisa menjebol lubang angin-angin itu, ia punya kesempatan untuk kabur. Namun butuh alat untuk melakukannya. Lagipula harus ada tangga baginya untuk memanjat menuju ke sana.
Ezra masuk ke kamar mandi. Ia melihat kotak kontrol pada plafon. Dengan hati-hati ia menaiki bak mandi. Sayang, tangannya tidak bisa menjangkau kotak kontrol tersebut. Ia pun turun ke lantai.
Ezra keluar kamar mandi. Ia memperhatikan dengan teliti setiap celah, namun hanya lubang angin-angin dan kotak kontrol saja akses menuju keluar. Padahal keduanya tidak mungkin ia jebol tanpa peralatan memadai.
Pikiran Ezra terus berkutat pada bagaimana cara melepaskan diri. Ia harus segera pergi dari tempat ini sebelum Eraneo benar-bemar menjualnya ke sindikat lain.
Tok! Tok!
"Ezra!"
Mendengar Nawira memanggilnya, Ezra membuka pintu. Ia melihat wajah Nawira tampak pucat.
"Kita akan dipindahkan sekarang!" beritahu Nawira dengan suara parau. Ia tidak bisa menyembunyikan ekspresi kepanikannya.
Ezra melihat di pintu ruangan telah berdiri seorang lelaki berhelm tertutup rapat. Dengan langkah gontai ia mendekati lelaki berhelm.
"Ayo cepetan!" hardik lelaki berhelm.
Ezra mendesah tertahan. Hatinya gelisah dan takut. Ia mengambil tas dengan malas.
"Tinggal saja tasnya!" suruh lelaki berhelm.
Ezra meletakkan tas ke lantai dan mengambil ponsel dari dalam tas itu.
"Ponselnya juga tinggal!"
Ezra menatap lelaki berhelm. "Tapi tadi Sarah boleh membawa tasnya."
"Nggak usah membantah!" hardik lelaki berhelm. "Ayo cepetan, jangan banyak protes!"
Ezra melirik kepada Nawira yang tampak ketakutan.
Tidak sabar, lelaki berhelm menarik tangan Ezra dan tangan Nawira secara bersamaan hingga keluar dari ruangan.
Lelaki berhelm terus menarik tangan Ezra dan Nawira menyusuri lorong. Mereka melewati seorang lelaki berambut gondrong yang tergeletak di dekat anak tangga.
Ezra sempat memperhatikan dengan sekilas wajah lelaki yang tergeletak itu. Ia penasaran, apa sebenarnya yang terjadi dengan lelaki gondrong tersebut?
Ezra dan Nawira pasrah saja ditarik lelaki berhelm menuruni anak tangga dari lantai tiga hingga akhirnya sampai di lantai satu.
"Ke sini!" Lelaki berhelm terus menarik tangan Ezra dan Nawira menuju sebuah pintu samping.
Ezra merasa heran kenapa ia dan Nawira dipaksa melalui pintu samping, bukan pintu depan yang lebih mudah menuju area parkir. Ia menduga, itu karena Eraneo tidak ingin mengundang perhatian pada proses pemindahan para kurir.
Setelah keluar lewat pintu samping, lelaki berhelm mengarahkan Ezra dan Nawira agar masuk ke sebuah mobil sedan.
Ezra dan Nawira pasrah saja ketika mereka didorong ke dalam mobil yang mesinnya masih menyala. Mereka berada di jok belakang, sedangkan lelaki berhelm langsung menuju ke jok depan kanan secara terburu-buru.
Setelah berada di balik kemudi, lelaki berhelm itu melepas helmnya dan menoleh ke belakang. "Kalian nurut saja ya?"
Sontak Ezra terbelalak kaget setelah tahu ternyata lelaki berhelm itu adalah Ono. "Jadi, kamu pengawas Eraneo?"
Alih-alih menjawab Ono memasukkan persneleng ke posisi R. Ia mengatretkan mobil dengan kecepatan cukup tinggi, kemudian berbelok, mencari ruang agar bagian depan mobil mengarah ke area parkir. Dengan lincah, ia memindahkan persneleng ke gigi satu dan melesat kencang meninggalkan area parkir ruko.