Dikuasai Curiga

1254 Kata
Kamar ini memiliki satu jendela kaca yang dilengkapi dengan palangan-palangan besi. Sayangnya jendela itu ditutupi tripleks, sehingga sinar matahari tidak bisa masuk. Penerangan ruangan ini hanya mengandalkan lampu pijar LED yang sudah redup. Selepas mandi dan mengganti baju, Ezra melirik jam pada ponsel. Sekarang pukul 17:46 wib. Ia tidak mendengar suara Sarah dan Nawira. Ia menduga dua perempuan itu tertidur di senja ini. Sejak tadi siang, Ezra berusaha memejamkan mata, namun ia tidak merasa mengantuk. Selama berjam-jam ia berbaring dalam berbagai posisi. Pikirannya melayang-layang tidak tentu arah. Ia merindukan keluarga, Alika, tetangga, dan teman-temannya. Hatinya sesak mengingat mereka. Sehingga ia mengalihkan pikirannya dengan menyusun rencana-rencana untuk keluar dari tempat ini. Sayangnya perut kosong membuatnya sulit berkonsentrasi. Nasi bungkus jatah siang tadi belum ia sentuh sama sekali. "Wira, Wir!" Ezra mendengar Sarah membangunkan Nawira. "Bangun, Wir, sudah sore!" Terdengar suara menguap dari Nawira. "Kamu masih punya pembalut?" tanya Sarah. "Punyaku ketinggalan di kosan." "Ada, ambil saja di tasku!" jawab Nawira. Ezra tersenyum mendengar obrolan khas perempuan itu. Ia bersyukur terlahir dengan jenis kelamin lelaki sehingga tidak pernah mengalami siklus bulanan yang menurutnya sangat merepotkan. "Aku ngambil dua ya, Wir?" ujar Sarah. "Iya," sahut Nawira. Suaranya terdengar masih mengantuk. Sarah beranjak menuju toilet. Ia melewati Ezra yang sedang duduk menyandar dinding. Ia melihat nasi bungkus lelaki itu masih tergeletak di lantai. "Kamu belum makan, Ez?" tanya Sarah. "Selera makanku sedang terjun bebas," jawab Ezra. Sarah berhenti di ambang pintu toilet. "Sebaiknya kamu makan, Ez, karena kapan saja kita bisa dipindahkan ke tempat lain." "Iya, nanti aku makan!" ujar Ezra agar Sarah segera berlalu dari hadapannya. "Masakannya lumayan enak kok buat tahanan seperti kita." Sarah mengatakan itu sambil melangkah masuk toilet. Ezra terkekeh mendengar kata 'tahanan' yang tadi diucapkan Sarah. "Sar!" panggil Nawira. "Sarah sudah masuk toilet!" beritahu Ezra. Nawira diam. "Ada apa nyari Sarah?" tanya Ezra basa-basi, sekadar cara untuk memperbaiki komunikasinya dengan gadis itu yang sedang tidak baik-baik saja. "Kepo!" hardik Nawira. Ezra mendengus sebal. Ia tidak habis pikir kenapa Nawira begitu membencinya. Sayup-sayup terdengar azan maghrib berkumandang dari masjid terdekat. Ezra mendengarkannya sampai selesai. Tadi setelah mandi ia berwudhu. Sampai saat ini ia belum batal. Sehingga ia bisa langsung melaksanakan sholat maghrib tanpa harus berwudhu lagi. Ezra menggelar sajadah. Sebenarnya ia tidak tahu persis ke mana arah kiblat yang benar. Tadi siang saat melakukan sholat zuhur, ia hanya mengira-ira saja. "Kurang miring ke kanan sedikit sajadahnya!" tegur Nawira. Ia mengintip Ezra melalui celah kain penyekat. Ezra menggeser sajadahnya lebih miring ke kanan sedikit. Tanpa menoleh, ia bertanya kepada Nawira. "Begini?" "Iya!" Ezra menoleh senang karena ternyata Nawira tidak begitu membencinya seperti yang ia bayangkan sebelumnya. "Terima kasih, Wir!" Alih-alih menjawab, Nawira menjauhi Ezra dan kembali ke pojokan. Ezra menusatkan pandangan ke arah tempat sujud. Ia mengucapkan niat sholat maghrib, kemudian takbirotul ikhrom. "Allahu akbar!" Nawira menelan ludah. Sejak masuk Eraneo, ia jarang sholat. Teman-teman kosnya juga sama dengannya. Hanya beberapa orang saja yang rajin sholat, salah satunya adalah Sarah. Nawira kembali mendekati Ezra. Melihat lelaki itu melaksanakan sholat, membuat hatinya terketuk. Ia malu pada diri sendiri yang berubah menjadi lebih jauh dengan Tuhan. Sekarang timbul keinginan dalam hati untuk kembali bersujud. Perasaan Nawira membuncah, memperhatikan setiap gerakan sholat yang Ezra lakukan. Ia mematung di balik kain penyekat hingga Ezra pada posisi tahiyat akhir. Nawira terkesiap ketika menyadari Sarah baru saja selesai dari toilet.  "Kamu ngapain?' tegur Sarah. Buru-buru Nawira menggeleng. Ia kembali ke pojok ruangan. "Diam-diam kamu memperhatikan Ezra ternyata ya?" goda Sarah. Nawira menggeleng. "Terus tadi itu ngapain!" Sarah mengerjap. Sepasang mata Nawira sembab. "Aku sudah lama nggak sholat." Sarah tertegun. Sejurus kemudian ia tersenyum. "Kamu boleh pakai mukena punyaku." Nawira diam. Perasaannya bimbang. Melihat Nawira diam, Sarah mengambil mukena dari dalam tasnya. Ia meminjamkannya kepada Nawira. "Pakailah!" Nawira menerina mukena Sarah dengan perasaan campur aduk. Sarah membiarkan Nawira tenggelam dalam pikirannya. Ia lebih memilih untuk membetulkan hijabnya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Nawira memutuskan untuk melaksanakan sholat maghrib. Ia bangkit dan berjalan ke toilet untuk mandi sekalian berwudhu. Saat Sarah sedang memasukkan baju bekas pakainya ke dalam kresek, tiba-tiba pintu terbuka. Leo masuk ditemani dua lelaki berhelm tertutup rapat. Sarah menoleh kaget. "Sarah, kemasi barang-barangmu sekarang!" suruh Leo. Sarah punya firasat tidak enak. "Memangnya ada apa, Pak?" "Semua karyawan akan dipindahkan ke kota lain secara bertahap. Sudah ada enam yang berangkat. Sekarang enam orang lagi, termasuk kamu berangkat sekarang!" "Kenapa nggak semuanya secara berbarengan, Pak?" protes Sarah. Ia menjadi gelisah takut akan dijual ke sindikat lain dengan kedok dipindah ke kota lain. "Itu kebijakan perusahaan. Kamu ikuti saja!" Sarah menatap Leo ragu. "Boleh saya menunggu teman saya yang lagi mandi buat pamitan?" Leo menggeleng. "Kamu sudah ditunggu teman-teman kamu yang lain!" Mendengar kegaduhan membuat Ezra mengakhiri zikirnya. Ia melipat sajadah. "Kalau begitu izinkan saya berpamitan sama Ezra!" tawar Sarah memohon. Leo mengedarkan pandangan ke setiap penjuru ruangan. "Di mana Ezra?" "Sedang sholat, Pak!" Leo memasuki ruangan lebih jauh. Ia marah melihat ada kain penyekat. "Apa-apaan ini?" "Itu penyekat, Pak," jawab Sarah. Leo melirik kedua lelaki berhelm. "Lepas kain-kain ini!" Dua lelaki berhelm melepas tali yang merentangkan kain penyekat secara kasar. "Ada apa, Pak?" tanya Ezra keberatan karena kain penyekat dilepas. Sarah tahu Ezra tidak terima atas ulah Leo dan dua pengawasnya. Tidak mau terjadi keributan, ia mendekati Ezra. "Sudahlah, Ez, biarkan saja. Jangan cari masalah!" Ezra mendengus kesal. "Aku tadi dengar kamu akan dipindah." Sarah mengangguk. Ia tersenyum getir. "Nanti kamu juga akan mendapatkan giliran." Ezra menelan ludah. Sarah menepuk bahu Ezra. "Fokus sama tujuan ya?" Ezra menatap Sarah sedih. "Iya, pasti. Tadi aku berdoa agar bisa bertemu kamu lagi di pasar Karangmalang." Sarah tersenyum sambil menahan pedih. "Aamiin." "Buruan!" tegur Leo kepada Sarah. Ditegur membuat Sarah merasa gugup. Buru-buru ia memeluk Ezra erat-erat. "Aku mengandalkanmu, Ezra," bisiknya. Kemudian ia melepas pelukan. Ezra mengangguk. "Iya, hati-hati, Sar!" Sarah mengangguk, kemudian mengambil tas. Untuk kali terakhir, ia melempar senyum pedih kepada Ezra. Ezra membalas senyum Sarah. Ia melihat kedua lelaki berhelm mendorong Sarah secara kasar. Adegan itu begitu cepat. Tahu-tahu, Sarah sudah tidak berada di ruangan. Ezra mematung sendirian. Saat terkesiap, ia terduduk lemas. Hampir lima menit, Ezra termenung memikirkan kepergian Sarah. Jika benar para kurir Eraneo akan dijual, maka ia harus segera melakukan sesuatu sebelum gilirannya tiba. Ia harus meloloskan diri dari ruangan ini. Ia pun bangkit berkeliling ruangan, mencari sesuatu yang sekiranya bisa menjadi celah baginya untuk kabur. Ezra berhenti di depan jendela. Dirabanya setiap sekrup pada papan tripleks yang menutupi jendela. Ia membutuhkan obeng atau benda yang bisa berfungsi untuk melepas sekrup-sekrup itu. Ezra melirik tumpukan kain penyekat di dekat pintu. Ia mengambil paku pada ujung talinya. Ia harus memipihkan ujung paku tersebut, tapi sayangnya tidak ada palu di sini. Berusaha tenang, Ezra mencari benda padat yang sekiranya bisa digunakan untuk memipihkan ujung paku. Namun ia tidak menemukannya. Ezra menatap paku dalam genggamannya, berpikir keras bagaimana memipihkan ujungnya. "Astaga!" Nawira yang baru saja keluar dari toilet serta merta kaget melihat Ezra berdiri sambil memegangi paku. Pikiran buruknya bekerja. Ia takut Ezra berniat jahat kepadanya, apalagi ia melihat kain penyekat sudah terlepas semua. Ezra menoleh. Melihat ekspresi ketakutan Nawira, ia mencoba menenangkannya. "Aku cuman...." "Kamu apakan kain penyekatnya?" Nawira jalan melipir agar jauh dari Ezra. Matanya terus mengawasi paku yang dipegang Ezra. "Kain penyekatnya dirusak sama pengawas Eraneo." Ezra berusaha menjelaskan. Nawira tidak percaya begitu saja. Ia masih saja ketakutan. "Mana Sarah?" "Sarah dibawa Leo," jawab Ezra. "Katanya mau dipindahkan." "Nggak mungkin!" elak Nawira. "Kalau dipindah pasti bareng-bareng!" Ezra sadar Nawira masih dikuasai perasaan curiga dan ketakutan. "Tolong tenang, Wira!" Alih-alih tenang, Nawira berlari masuk ke toilet. Ia menguncinya dari dalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN