Kode Lagi

1562 Kata
Di dalam setiap boks makanan yang baru saja diberikan pengawas Eraneo ternyata berisi sebuah ponsel model lama. Pada bagian belakangnya terdapat nama. "Ini punyamu, Sarah!" Ezra mengacungkan ponsel kepada Sarah. Sarah mendekati Ezra dan menerima ponsel. Ia memeriksanya sambil tertawa geli. "Hehehe, ini mah ponsel zaman aku masih balita." Ezra melirik Sarah. "Memangnya waktu kamu balita sudah mainan ponsel?" "Enggak sih, cuman aku pernah lihat ibuku menggunakan ponsel ayahku buat ngulek sambel. Hahaha!" Ezra tergelak meskipun merasa tidak menemukan kelucuan pada candaan Sarah. Nawira melongok ponsel pada tangan Sarah. Ia penasaran seperti apakah ponsel yang katanya bisa buat ngulek sambel itu. "Ini punyamu, Wira!" Ezra mengacungkan ponsel ke arah Nawira. "Lempar saja!" pinta Nawira ketus "Aku malas dekat-dekat sama kamu!" "Nih, tangkap!" Ezra melempar ponsel kepada Nawira. Nawira berusaha menangkap ponselnya, namun meleset. Ponsel terhempas ke atas matras. Ia memungutnya. "Untung ponsel jadul, jadi nggak perlu takut retak touchscreen-nya." Ezra mengambil ponsel milknya. Ia memeriksanya dengan teliti bagian luarnya. Tidak ada sesuatu yang aneh di sana. Ia pun membuka penutup bagian belakangnya, tetap saja ia tidak menemukan sesuatu yang aneh. "Mungkin penyadapnya sudah tertanam di dalam komponennya," ujar Ezra menebak-nebak. "Bodo amatlah!" umpat Nawira pasrah. "Aku sudah terbiasa disadap dan diawasi selama delapan bulan." "Berapa gaji yang sudah kamu kumpulkan selama delapan bulan ini?" tanya Sarah penasaran. Nawira mencoba mengkalkulasi. "Kalau rata-rata lima juta saja, mungkin sekarang saldo di rekeningku sudah sekitar 40 jutaan." "Kalau kerja di perusahaan lain, belum tentu kamu bisa mengumpulkan uang sebanyak itu, Wira," ujar Sarah bermaksud bercanda. Nawira menanggapinya secara serius. "Kalaupun saldoku saat ini 40 milyar, buat apa uangnya? Kita nggak bisa membelanjakan barang-barang berharga, apalagi mengirimkannya kepada orang tua. Lagipula aku menganggap itu semua uang haram." "Kalau kamu nggak mau, biar buat aku saja!" goda Sarah. Nawira mencibir. "Nggak usah sok-sokan mengharamkan uang sendiri kalau masih butuh," hardik Sarah sebal. Sebelum kedua perempuan itu berdebat lebih lanjut, Ezra memutuskan untuk beranjak ke toilet. "Mau ke mana?" tegur Sarah. Ezra menunjuk ke arah toilet. Kalau ia menjelaskan bahwa ia akan memeriksa rubik kubus dari Septi, khawatirnya suaranya akan tertangkap penyadap dalam ponsel jadul itu. Sarah memberi kode agar Ezra meninggalkan ponselnya di kamar. Ezra mengangguk. Ia membuka tas, mengambil rubik, memasukkan ponsel, lantas bergegas ke toilet. Saat memasuki toilet, Ezra mendengar Sarah dan Nawira sedang memulai perdebatan. Ia tersenyum gemas menyaksikan tingkah keduanya. Di dalam toilet, Ezra mengawasi seluruh sudut ruangan. Ia harus memastikan tidak ada kamera tersembunyi atau pun penyadap suara. Diperiksanya seluruh sudut dan sesuatu yang mencurigakan. Setelah memastikan aman, ia baru merasa lega. Agar nyaman, Ezra duduk di atas kloset tanpa membuka celana. Ia mulai memeriksa rubik kubus di tangannya. Dari luar, rubik tersebut tampak normal, masih bisa difungsikan seperti permainan rubik kubus lainnya. Ezra mencoba mencongkel 'edge' pada sisi warna putih. Edge itu pun terlepas. Matanya mengamati bagian dalam pada posis edge tersebut, namun ia belum menemukan sesuatu yang menurutnya janggal. Ezra memutuskan untuk melepas satu per satu bagian pada rubik kubus tersebut. Ia sudah sering melakukan itu sehingga tidak ada kendala baginya. Semua bagian rubik itu terlepas, menyisakan bagian center yang memang posisinya tidak bisa dipindah-pindah. Ezra curiga, ada sesuatu di dalam center tesebut. Dengan hati-hati ia melepas satu per satu center-nya yang semuanya berjumlah enam. Setelah terlepas semua, ia menemukan lipatan kertas pada bagian dalam salah salah satu center berwarna kuning. Ezra membuka lipatan kertas berukuran tiga kali enam sentimeter tersebut. Ada sebuah tulisan tangan dengan huruf berukuran sangat kecil. Ezra harus memicingkan mata agar dapat membacanya. Rupanya tulisan itu adalah sebuah kode yang diadaptasi dari algoritma rubik kubus 3x3x3. Tulisan tersebut adalah: Layer Kuning. l l r r. Layer Merah. Jika mengacu kepada dua kode yang pernah Ezra dapatkan dari Septi sebelumnya, maka ia menebak kode kali ini pun merupakan sebuah rute. Sekarang ia harus memastikan dari mana memulai perjalanannya. Pada kode sebelumnya, Septi menggunakan kode Layer Kuning sebagai identitas kantor Eraneo. Pada kode ini, Layer Kuning dijadikan sebagai lokasi untuk memulai rute. Ezra yakin berarti ia harus memulainya dari kantor Eraneo menuju sebuah tempat yang diidentifikasikan sebagai Layer Merah. Tok! Tok! Ezra terkesiap mendengar pintu toilet. "Siapa?" Tidak ada sahutan. Tok! Tok! "Sebentar!" sahut Ezra. Ia segera mengumpulkan bagian-bagian rubik kubus yang berantakan. Pintu toilet kembali diketuk, namun tidak ada suara orang berteriak. Ezra curiga, jangan-jangan pengetuk pintu bukan Sarah ataupun Nawira tapi pengawas. Buru-buru Ezra memasukkan bagian-bagian rubik ke dalam saku celananya. Terlintas sebuah ide di benaknya untuk menghafal kode dalam kertas di tangannya. Kode itu tidak terlalu panjang sehingga mudah saja bagi Ezra untuk langsung hafal. Sambil beranjak menuju pintu, ia terus mengingat kode tersebut. Begitu sampai di depan pintu ia baru sadar kalau kertas di tangannya harus segera dihilangkan. "Keluar!" teriak seseorang. Dari jenis suaranya yang bass, Ezra menduga itu milik seorang lelaki. Ia mulai panik. Tanpa berpikir panjang, ia segera memasukkan kertas di tangannya kemudian menelannya. Tok! Tok! Ezra membuka pintu. Di depannya sudah berdiri Leo dengan dikawal seorang lelaki yang mengenakan helm tertutup rapat. "Geledah Ezra!" suruh Leo kepada lelaki berhelm. Lelaki berhelm langsung mendorong tubuh Ezra sehingga menyandar dinding. Ia menggeledah semua saku dan meraba tubuh Ezra. Ia mengambil dompet dari saku celana belakang dan bagian-bagian rubik kubus dari saku celana depan kanan. Semua diserahkan kepada Leo. Leo memeriksa isi dompet dan bagian-bagian rubik kubus. Ia melirik Ezra dengan tatapan curiga "Apa ini?" "Itu rubik kubus, Pak!" jawab Ezra. "Kamu dapat dari mana?" selidik Leo. "Dian menitipkannya sama saya, Pak." Leo menatap Ezra lekat-lekat. "Awas kalau kamu bohong!" "Enggak, Pak. Dian memberikannya kepada saya sehari sebelum jabatannya sebagai manager berakhir." Ezra menjelaskan. Leo menyita rubik kubus yang berantakan itu. Ia hanya mengembalikan dompet Ezra. "Rubik saya mau dikemanakan, Pak?" tanya Ezra cemas. Rubik kubus itu adalah titipan dari Septi yang bisa saja nanti diminta kembali. Alih-alih merespon pertanyaan Ezra, Leo berlalu dari hadapan Ezra. Ezra mendengus pasrah. "Pelorotkan celanamu!" suruh lelaki berhelm. Meski keberatan, Ezra pasrah saja ia menutup pintu toilet kemudian memelorotkan celananya. "Celana dalam kamu juga!" Ezra menelan ludah. Meskipun di depannya adalah seorang lelaki tapi tetap saja ia merasa risih. "Pelorotkan!" Terpaksa Ezra memelorotkan celana dalamnya sebatas lutut. Lelaki berhelm itu langsung memeriksa celana dalam Ezra. Ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. "Oke, kamu boleh betulkan lagi celanamu!" Ezra menarik napas lega. Lelaki berhelm itu membuka pintu, kemudian keluar dari toilet. "Auw!" pekik Nawira sambil menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya. Buru-buru Ezra menarik kembali celana dalamnya ke atas. Ia tidak menyangka kalau Nawira berada di ambang pintu toilet. Tadi saat lelaki berhelm membuka pintu, Nawira sedang berdiri di depan pintu. Ia kaget ketka melhat tubuh bagian bawah Ezra terbuka. Ia sempat melihat burung Ezra, membuatnya terpekik kaget. "Ngapain kamu masih di situ?" tegur Ezra sambil membetulkan posisi celana. Masih menutup mata, Nawira berlalu dari pintu toilet. Ezra keluar toilet. Di dalam kamar sudah tersedia tiga bungkus nasi dan tiga botol air mineral. Sarah melirik Ezra sambil-senyum-senyum. "Nawira teriak kenapa, Ez?" "Nggak tahu!" jawab Ezra merasa malu mengingat kejadian tadi. "Nawira kaget karena baru pertama kali melihat burung dewasa ya? Hahaha!" Sarah meledek Nawira. "Apaan, sih?" Nawira membuang muka dengan pipi merona merah karena malu. Ezra juga merasa risih. Ia segera mengalihkan topik. "Kalian juga digeledah Pak Leo?" "Enggak!" jawab Sarah. "Sebenarnya Pak Leo datang hanya mengantarkan makan siang. Cuman mungkin karena tidak melihatmu, sehingga ia nanya kamu lagi di mana." "Terus kamu menjawab aku lagi di toilet?" tebak Ezra. Sarah melirik Nawira. "Nawira yang menjawab begitu." Nawira pura-pura tidak mendengar ucapan Sarah. "Apa mungkin Pak Leo curiga sama rubik kubus itu ya?" Ezra berpikir. "Bisa jadi!" timpal Sarah. "Ayo kita makan!" ajak Nawira. Ia membuka salah satu bungkusan. Sarah mengambil satu bungkusan dan sebotol air mineral. Ia meletakkannya di depan Ezra. Ezra melirik saja nasi bungkus di depannya. "Aku masih kenyang." Sarah mengangguk. "Aku juga belum lapar." "Telur lagi!" keluh Nawira. "Tadi pagi sudah sarapan telur padahal." Sarah melirik Nawira dengan maksud meledek. "Ezra juga sarapan telur juga kan?" Nawira tidak acuh karena sadar sedang diledek. "Iya, kayaknya lebih enak nasi telur masakan Nawira ketimbang nasi bungkus ini," ujar Ezra berusaha agar Nawira berhenti bersikap ketus kepadanya. Sarah senyum-senyum, menoleh ke arah Ezra dan Nawira secara bergantian. "Cie, cie! Ezra merasa cocok dengan makanan kamu, Wira." "Uhhuk!" Nawira tersedak. Buru-buru ia membuka tutup botol air mineral, kemudian meneguk isinya sedikit. Ezra merasa tidak nyaman dengan ledekan Sarah. Ia pura-pura tidak mendengarnya dan lebih memilih membuka tas untuk mengambil ponsel. Spontan Ezra terbelalak ketika tanpa sengaja tangannya menyentuh sebuah benda padat yang berada di antara tumpukan baju. Ia memeriksanya dengan teliti. Ternyata itu adalah alat GPS. Ezra merasa tidak pernah memasukkan benda itu ke dalam tasnya. Ia pun berusaha mengingat-ingat sesuatu. Tiba-tiba ia teringat Ono. Ia curiga, jangan-jangan orang itu yang memasukkan alat GPS itu. Serta merta Ezra mendesah berat. Sekarang ia membenarkan ucapan Ono bahwa di tempat yang baru ia akan mengalami hal buruk dan terpenjara. Sekarang ia sedang mengalaminya, berada di dalam sebuah kamar yang dikunci dari luar. Namun ada ucapan Ono yang sedikit menghibur Ezra yaitu akan ada satu momen untuk melarikan diri. Ono juga berkata akan menciptakan momen itu. Ezra menduga, Ono akan membantunya keluar dari sini dan alat GPS ini kemungkinan adalah untuk melacak keberdaannya. "Siapa sebenarnya Ono?" tanya Ezra lirih kepada diri sendiri. "Kamu nanya apa barusan, Ez?" tanya Sarah penasaran. "Ah enggak papa kok." Ezra merasa perlu untuk menyimpan perihal ini sendirian. Lagipula ia tidak mungkin menceritakannya kepada Sarah karena takut disadap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN