Pemimpin Cabang

1324 Kata
"Jadi Dian itu Septi?" Ezra menatap wajah Sarah lekat-lekat. Ia berusaha mendeteksi gurat-gurat canda di sana, tapi mimik perempuan itu tetap konstan menunjukkan keseriusan. "Kamu nggak nge-prank aku kan?" Sarah membalas tatapan Ezra. "Nggak ada untungnya buatku nge-prank kamu!" Ezra terdiam, masih terus menatap Sarah tanpa kedip. Setelah sekian detik masih mendapati ekspresi yang sama pada wajah Sarah, ia sadar gadis itu memang serius pada kesaksiannya bahwa Dian dan Septi adalah orang yang sama. Sejurus kemudian ia tertawa ngakak karena ternyata orang yang ia cari adalah orang yang selama ini sering ia anggap bagian dari Eraneo. Selama ini ia bahkan selalu bersikap tidak baik kepada mantan managernya itu. "Kenapa tertawa?" hardik Sarah sebal karena mengira Ezra masih belum bisa mempercayainya. "Kamu masih menganggap aku nge-prank kamu?" Ezra menggeleng. Ia berhenti tertawa. "Aku ingat saat terakhir kali bertemu dengan Dian. Ia menunjukkan rubik kubus yang katanya milik Septi dan sudah dua tahun berada di laci mejanya. Kemudian aku menanyakan kepadanya di mana keberadaan Septi." "Lalu apa jawab Dian?" tanya Sarah. "Dian enggak menjawabnya. Ia hanya memberitahuku bahwa Eraneo tahu motivasiku masuk ke sini karena ingin menemukan jejak Septi. Eraneo membiarkanku karena kata Dian aku dianggap enggak berbahaya," kenang Ezra. "Setelah itu Dian menitipkan rubik itu padaku." "Kamu nggak tanya alasan kenapa ia menitipkan rubik itu sama kamu?" tanya Sarah. Ezra mengangguk. "Dian bilang karena aku bisa dipercaya. Tentu saja aku merasa itu alasan yang dibuat-buat karena aku dan Septi tidak saling mengenal." Sarah mengerjap cemas. "Kamu menolak dititipi rubik?" "Pada akhirnya aku tetap menerimanya," jawab Ezra. "Cuman kukatakan padanya bahwa aku lebih suka bertemu Septi ketimbang mendapatkan kehormatan menyimpan rubiknya." Sarah menarik napas lega. "Syukurlah, terus kalian ngobrol tentang Septi?" "Dian justru memintaku berhenti membahas soal Septi karena takut ditegur pengawas Eraneo," ujar Ezra. "Padahal aku hanya ingin memastikan apakah Septi masih hidup atau enggak, agar bisa memberitahu ayahnya bahwa anaknya masih hidup." Sarah mengangguk-angguk. "Terus?" Ezra tergelak momen itu. "Lucunya waktu itu Dian menanyakan kabar ayahnya Septi." "Kamu anggap itu lucu?" Sarah tidak terima. "Lucu karena aku seperti orang bodoh yang enggak menyadari kalau Dian adalah Septi." Ezra terkekeh. "Waktu itu aku sempat meminta tolong kepada Dian jika bertemu Septi untuk mengabarkan bahwa ayahnya Septi baik-baik saja." Sarah mengatupkan bibir. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana gejolak perasaan Dian waktu itu. "Dian menangis setelah mendengar ucapanku itu," ujar Ezra. Ia mengusap wajah menggunakan kedua tangannya. "Selanjutnya Dian memintaku agar tidak lagi membahas soal Septi." Sarah menarik napas dalam-dalam. "Jadi kamu simpan di mana rubik itu?" "Di dalam tas." Ezra melirik tasnya yang berada di pojok ruangan. Sarah memberi isyarat agar Ezra mendekatkan telinga kepadanya. Ezra menurut. Ia beringsut agar lebih dekat kepada Sarah. Sarah berbisik kepada Ezra. "Ada sesuatu di dalam rubik itu." Ezra mengernyit. "Serius? Bagaimana kamu tahu?" "Saranku, kamu ke toilet dan carilah sesuatu di dalam rubik itu!" Ezra mengangguk. "Kalian berbisik apa sih?" Nawira yang sejak tadi diam mendengarkan obrolan Ezra dan Sarah, akhirnya bersuara karena keduanya saling berbisik. "Nggak baik berbisik ketika ada orang lain." Sarah menoleh. "Kami berbisik agar tidak didengar pengawas." "Tapi aku bukan pengawas!" protes Nawira. "Sini aku bisikin!" ledek Ezra. Nawira melotot. "Ogah!" Ezra dan Sarah tertawa bersamaan, melihat ekspresi Nawira. "Nanti aku buka deh!" ujar Ezra kepada Sarah. "Memangnya apa sih yang ada di dalam rubik itu?" "Nanti kamu juga tahu!" "Tapi kamu juga tahu kan?" Sarah menggeleng. "Septi memberimu petunjuk di sana. Wujudnya seperti apa, aku nggak tahu." "Jadi kamu tahu banyak soal rencana Septi?" tanya Ezra berharap. Sarah mendesah pelan. "Terakhir kali Septi membahas soal rencananya adalah ketika ia memberitahuku bahwa orang bernama Ezra susah masuk Eraneo. Setelah itu ia memintaku untuk menjaga jarak." "Kenapa?" "Mungkin karena pertimbangan resiko," tebak Sarah. "Jika ia ketahuan, aku nggak akan terkena imbasnya." Ezra mengangguk paham. "Lalu atas dasar apa Septi memilihku dan bagaimana caranya ia bisa membuatku tertarik untuk masuk ke Eraneo?" "Sebenarnya Septi tidak mengenalmu," ujar Sarah. "Ia baru tahu sosok Ezra seperti apa setelah kamu masuk Eraneo." Ezra mengangguk paham. "Bos kamu bernama Pak Jacky kan?" tanya Sarah memastikan. Ezra mengangguk. "Lebih tepatnya mantan bos " "Oke, aku mengerti. Aku lanjutkan ya?" Sarah merubah posisi duduk dari bersila menjadi selonjoran. "Septi ingat ayahnya punya kenalan seorang detektif bernama Jacky. Maka itu ia merencanakan cara agar ayahnya meminta bantuan Pak Jacky. Salah satunya adalah dengan membuat rekayasa seolah-olah ayahnya membuat orderan. Ia butuh bantuan dua orang, pertama adalah staf operator yang mengatur orderan manual dan kedua adalah si kurir." "Waktu itu Septi sebagai apa?" tanya Ezra. "Septi sebagai staf administrasi. Ia berhasil membujuk si operator untuk melakukan orderan atas nama Nadia, sepupunya Septi. Aku sebagai kurir yang akan mengantarkan orderan tersebut." Ezra mengangguk. Ia mengenal Nadia. "Rencananya dalam paket itu Septi mengirimkan pesan atas nama Mr. X agar menyarankan Pak Maman untuk meminta bantuan Pak Jacky." Nawira meninpali. "Kenapa Septi tidak langsung saja bilang kepada ayahnya kalau ia berada di Eraneo?" Sarah mendengus kepada Nawira. "Kalau ia melakukan itu, Pak Maman akan melapor polisi dan akhirnya Eraneo tahu. Akibatnya Pak Maman bisa celaka!" Nawira cengar-cengir, menyadari kebodohannya. "Terus?" Ezra tidak sabar mendengar kelanjutannya. Sarah mendesah berat. "Sayangnya sebelum terealisasi, rencana itu ketahuan pemimpin Eraneo cabang Semarang." Ezra menahan napas, ngeri membayangkan apa yang terjadi saat itu. "Ketika ditanya pimpinan cabang, Septi mengakuinya, tetapi ia kukuh tidak mau menyebutkan nama lain dalam rencananya." Ezra menelan ludah. "Lalu Septi dihukum?" Sarah tersenyum lebar. "Ternyata pimpinan cabang malah mengajak kerjasama dengan Septi." Ezra kaget. "Serius?" Sarah mengangguk. "Iya, pimpinan cabang juga sama seperti kita. Ia terperangkap dalam sindikat mafia dan ingin sekali bisa bebas." "Siapa nama pimpinan cabang itu?" Ezra penasaran. Sarah menggeleng. "Nggak tahu." "Bukannya Septi bertemu dengan pimpinan cabang?" Sarah menggeleng. "Mereka berkomunikasi lewat ponsel khusus yang tidak disadap pengawas." "Wow!" Ezra merasa takjub. "Terus kerjasama seperti apa yang mereka lakukan?" "Mereka sepakat akan memasukkan detektif ke dalam Eraneo," jawab Sarah. "Entah apa yang dilakukan pimpinan Eraneo, sehingga akhirnya Pak Maman meminta tolong kepada Pak Jacky untuk menyelidiki hilangnya Septi." "Jadi intinya Septi tidak masalah siapa pun detektif yang masuk Eraneo?" tanya Ezra. Sarah menatap Ezra lekat-lekat. "Septi memilihmu!" "Tapi aku bukan detektif!" sergah Ezra. "Septi membutuhkan orang yang bisa membebaskannya dan membongkar kejahatan Eraneo, tidak peduli ia detetektif atau bukan." "Lalu kenapa aku?" gugat Ezra. "Kamu bisa main rubik!" ujar Sarah menjelaskan. "Harus ada petunjuk jalan menuju kantor Eraneo. Septi memilih menggunakan algoritma rubik sebagai kodenya. Kamulah orang yang tepat untuk memecahkan kode-kode itu." "Septi tahu kalau aku bisa main rubik?" Sarah mengangguk. "Pimpinan cabang telah melakukan penyelidikan untuk mencari profil terhadap kantor kalian dan para karyawannya." Kini Ezra mulai menemukan titik terang. Ia merasa senang karena tidak berjuang sendiri. Di ruangan ini ada Sarah yang sudah terlibat dalam rencana Septi. Di sebuah tempat yang tersembunyi ada Septi dan pimpinan cabang yang ternyata adalah aktor utama di balik rencana ini. Ezra menjadi penasaran terhadap pimpinan cabang. Ia menjadi teringat kepada Mura. Ia menatap Sarah. "Kamu tahu nggak siapa itu pimpinan cabang?" Sarah menggeleng. "Aku nggak tahu. Cuman aku kok mencurigai Pak Leo!" Ezra mengerjap. Ia tidak mau buru-buru menyimpulkan. "Terus apa yang mereka rencanakan?" Sarah mengedikkkan bahu. "Selanjutnya mereka merencanakan sesuatu yang tidak bisa diketahui siapa pun, termasuk aku." "Psstt!" Nawira memberi kode agar semua diam. Ezra dan Sarah reflek diam. Terdengar suara gembok dibuka. Tidak lama kemudian pintu terbuka. Seorang lelaki berhelm menyodorkan tiga boks makanan, kemudian mengunci pintu kembali. Ezra mengedarkan pandangan ke seluruh sisi dinding, tetapi ia tidak menemukan jam. Ia menatap Sarah. "Apa sekarang waktunya makan siang?" Sarah mengernyit. "Sepertinya terlalu cepat untuk makan siang!" Ezra mengangguk sepakat. "Aneh!" Nawira berkomentar. "Memangnya kalian tahu sekarang jam berapa!" "Kamu tanya sama aku apa Ezra?" ledek Sarah. "Sama kamulah!" jawab Nawira. "Tapi kok kamu menyebutnya 'kalian'?" Sarah mengerjap. Nawira melengos. "Jangan-jangan, mereka mengirimkan penyadap dengan berpura-pura mengantarkan makanan!" Ezra curiga. Ia mendekati ketiga boks makanan dan membuka salah satunya. "Apa yang kamu temukan!" Sarah penasaran. "Ada penyadap pada makanan ini!" ujar Ezra. "Penyadap?" Sarah cemas. Ezra menoleh. "Iya, penyadap rasa, alias micin!" Sarah mendengus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN