"Kamu menganggap Rusli menjerumuskan kita?" Nawira tidak terima.
"Aku nggak bilang begitu!" Sarah berusaha meredam emosi Nawira. "Aku cuman bilang yang intinya kalau mau lapor polisi kita harus membawa bukti cukup. Kalau enggak, polisi nggak akan punya dasar untuk menindaklanjuti laporan tersebut. Sementara Eraneo pasti nggak bakal diam saja. Mereka akan melakukan sesuatu."
Nawira masih belum menerima penjelasan Sarah. "Kamu memang sejak awal nggak pernah mendukung rencana Rusli. Kamu selalu mengkritiknya!"
"Justru karena aku mendukung Rusli, makanya aku berusaha agar ia melakukannya dengan persiapan yang matang," dalih Sarah.
"Kurang matang bagaimana?" Nawira semakin tidak terima. "Faktanya Rusli aman-aman saja. Ia dalam perlindungan polisi. Bahkan sekarang polisi sedang bergerak buat membongkar kejahatan Eraneo.
Lama-lama kesabaran Sarah terusik. Ia terpancing emosi. "Kamu belum paham juga ya? Gara-gara polisi menutup kantor Eraneo. Sekarang Eraneo akan menjual kita!"
"Itu hanya ketakutanmu saja!"
"Aku mendengar informasi dari sumber yang bisa dipercaya!"
Nawira terkekeh sumbang. "Dari Mbak Dian? Hahaha, kamu naif, Sar! Mbak Dian cuman menakut-nakuti saja. Sebagai manager, sudah pasti ia akan membela Eraneo."
Sarah diam agar tidak semakin emosinya. Ia merasa percuma berdebat dengan Nawira.
Diamnya Sarah membuat Nawira merasa di atas angin. "Aku sudah sering mengingatkanmu agar jangan terlalu dekat dengan Mbak Dian. Itu kulakukan karena aku nggak mau kamu terpengaruh "
Nawira menoleh tersinggung. "Kamu berkata seolah Dian adalah orang yang akan memberi pengaruh buruk."
Nawira terpojok. "Aku nggak bilang begitu!"
Sarah menata tajam kepada Nawira. "Dian banyak sekali membantumu, Wira! Apa kamu sudah lupa, ia berusaha meyakinkan pimpinan Eraneo agar kamu nggak dihukum sekap? Ia selalu membelamu lebih dari yang ia lakukan kepada kurir lain."
Nawira bungkam.
"Kamu dulu sering memuji-muji Dian." Sarah mengingatkan. "Sejak kamu suka sama Rusli, kamu berubah karena terpengaruh Rusli."
"Jangan nuduh sembarangan!" Nawira terpojok.
Berusaha meredakan ketegangan antara Sarah dan Nawira, Ezra segera melerai. "Sudah, sudah! Kalau berantem terus, kalian akan kehabisan energi, padahal belum tentu kita akan dikasih makan!"
Sarah dan Nawira sama-sama diam dan menbuang muka.
"Kita harus kompak!" pinta Ezra. "Kita harus melakukan sesuatu!"
Sarah menoleh. "Jangan melakukan yang aneh-aneh!"
"Apa kita akan pasrah saja, sementara kamu bilang Eraneo akan menjual kita?" gugat Ezra.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan?" Sarah mengerjap.
"Aku akan pikirkan rencana agar kita bisa keluar dari sini tapi aku ingin mendengar kelanjutan ceritamu soal Septi," ujar Ezra.
"Jangan sampai kamu melakukan kebodohan yang sama dengan apa yang dilakukan Rusli dan Septi dulu!" Sarah mengingatkan.
"Siapa sih sebenarnya Septi, sampai kalian begitu semangat membahasnya?" tanya Nawira penasaran.
Sarah menoleh kepada Nawira. "Septi adalah orang yang dulunya emosian sepertimu tapi akhirnya belajar dari pengalaman. Sekarang ia sangat cerdas, baik secara intelijensia ataupun secara emosi."
"Kalau begitu lanjutkan ceritamu soal Septi!" pinta Ezra.
Nawira mengangguk kepada Sarah, sepakat dengan Ezra.
Sarah diam sejenak. Sejurus kemudian ia menarik napas dalam-dalam. "Dulu Eraneo hanya merekrut karyawan yang benar-benar sesuai dengan yang mereka butuhkan. Sehingga mereka hanya perlu mengawasinya dari jarak jauh, tidak ada CCTV apalagi penyadap. Mereka hanya mengandalkan pengawas saja. Septi memanfaatkan celah itu untuk menghasut teman-temannya agar berani kabur, bahkan melawan. Ia juga beberapa kali berupaya melapor polisi tapi gagal. Gara-gara itu, bukan hanya ia saja yang mendapatkan hukuman, tapi kami semua kena imbasnya."
"Kena imbas bagaimana?" tanya Nawira.
"Gara-gara itu, Eraneo memperketat pengawasan. Mereka memasang penyadap di mana-mana, juga kamera tersembunyi. Posisi kami selalu terpantau GPS. Pokoknya privasi kami terampas."
"Lalu apa kaitannya dengan Rusli?" Nawira tidak terima.
Sarah mendesah. "Di Eraneo Semarang, Septi adalah orang pertama yang berani kabur dengan berbagai macam cara. Itu sama saja mengajari Eraneo agar lebih waspada dan memperketat pengawasan. Nah, Rusli juga orang pertama yang berhasil membuat Eraneo menutup kantor. Akibatnya mereka akan menjual kita!"
Nawira kaget setengah mati. "Jangan sembarangan kalau ngomong!"
Ezra tidak kalah kaget. "Dari mana kamu tahu?"
Sarah mendengus. "Dian yang memberitahuku. Ia mendengarnya sendiri dari pemimpin besar."
Nawira menelan ludah. Ia mulai panik.
Sarah menatap Nawira sinis. "Apa Rusli berpikir sampai ke situ? Enggak!"
Nawira terdiam lemas. Ia tidak mau dijual seperti layaknya hewan peliharaan.
Sarah semakin bersemangat memojokkan Nawira. "Septi tidak bodoh seperti Rusli. Belajar dari pengalaman, akhirnya ia berusaha sabar dalam mematangkan rencana. Ia menunggu saat yang tepat. Sejauh ini satu per satu rencananya berhasil, termasuk memancing Ezra masuk ke Eraneo."
"Apa?" Ezra kaget.
Sarah menoleh kepada Ezra. "Kamu orang terpilih, Ezra."
Ezra terperanjat. Ia menunjuk dirinya sendiri. "Aku terpilih? Maksudnya?"
Sarah tersenyum sambil menambatkan pandangan ke arah pintu. "Waktu itu Septi bilang padaku, kejahatan Eraneo hanya bisa dibongkar dari dalam tapi bukan oleh orang dalam. Paham maksudku?"
Ezra mengangguk. "Iya paham. Kalau boleh kutebak, yang dimaksud Septi adalah hanya orang yang berada di dalam saja yang mengetahui kejahatan Eraneo. Tapi 'orang dalam' seperti kurir sulit untuk membongkarnya agar orang luar tahu karena Eraneo membuat sistem pertahanan yang sangat ketat. Makanya harus ada orang luar yang pura-pura menjadi orang dalam. Begitu kan?"
Sarah mengerjap. "Nggak percuma kamu menjadi asisten detektif terkenal!"
"Kamu tahu tentang aku?"
Sarah membetulkan posisi hijabnya. "Septi yang memberitahuku."
"Bagaimana bisa Septi tahu tentang aku?" Ezra penasaran.
Sarah menarik napas dalam-dalam. "Suatu hari, Septi dipanggil Pak Leo. Ia diberi tahu bahwa ayahnya yang bernama Pak Maman melaporkan kehilangan anak kepada polisi. Polisi menindaklanjuti laporan tersebut dan langsung mendatangi kantor Eraneo karena disebut Pak Maman. Tapi waktu dimintai keterangan, Pak Leo menjawab bahwa Septi sudah resign sejak lama."
Ezra mendengus. "Polisi percaya begitu saja? Mereka nggak menyelidiki lebih lanjut?"
"Pak Maman tidak bisa menunjukkan foto Septi. Polisi hanya mendapatkan bekal ciri-ciri korban hilang berdasarkan keterangan pelapor. Sehingga meskipun polisi menelusuri semua tempat yang berkaitan dengan Eraneo, mereka tetap tidak bisa menemukan Septi."
"Sebegitu rapinyakah Eraneo menyembunyikan Septi sehingga polisi kesulitan menemukannya!" Ezra heran.
"Selain memang Eraneo selalu rapi dan antisipatif, juga karena Septi memang tidak mau diketemukan ayahnya."
Ezra mengernyit. "Kenapa?"
Sarah menatap Ezra dengan ekspresi ngeri. "Septi diancam, Eraneo akan mencelakakan Pak Maman kalau sampai polisi berhasil menemukan Septi."
Ezra menelan ludah.
Sarah melanjutkan. "Maka itulah Septi membuat penawaran, ia akan merubah identitas, asal ayahnya aman."
"Menyembunyikan identitas?" Ezra berpikir keras.
"Iya, Septi bukan hanya mengubah identitas data pribadi saja tapi juga secara fisik. Ia berhijab, menambahkan tahi lalat pada wajahnya, dan minta ditarik ke kantor untuk meminimalisir bertemu orang banyak."
"Astaga!" Ezra langsung teringat kepada Dian. "Jadi, Septi itu...."
"Iya!" potong Sarah sebelum Ezra sempat meneruskan kalimatnya. "Kalau kamu menebak bahwa Septi dan Dian adalah orang yang sama, maka tebakanmu benar."