Sikap Sarah membuat Ezra menduga kalau perempuan itu punya informasi penting perihal Septi, sebab jika tidak punya, pasti sudah mengatakannya sejak tadi. Oleh karena itu ia bersabar sampai Sarah mengatakannya.
"Sejujurnya aku diminta Septi untuk tidak menceritakan kepada siapa pun tentangnya," ujar Sarah pelan.
Ezra cemas, sedikit kecewa, namun ia harus berhasil mendapatkan informasi itu. "Kenapa?"
Sarah menatap Ezra bimbang. "Bukan hanya kepada aku saja ia memintaku untuk merahasiakannya, tapi juga kepada pimpinan dan pengawas Eraneo," beritahu Sarah.
"Iya, lalu apa alasannya?" Ezra semakin penasaran.
"Kalau aku menjelaskannya, itu sama saja aku membongkar rahasia Septi," dalih Sarah.
Ezra mendengus. "Tapi Septi masih hidup bukan?"
Sarah menatap Ezra nanar. Sejurus kemudian ia mengangguk. "Iya, Septi masih hidup."
Seketika wajah Ezra cerah. Ia sangat lega dan bersyukur karenanya. "Alhamdulillah. Lalu di mana ia sekarang?"
Sarah mendesah berat. "Dua hari lalu, aku masih bertemu dengannya. Sekarang aku nggak tahu di mana ia berada "
Hati Ezra membuncah. "Kemarin? Di mana? Lalu kenapa aku nggak pernah bertemu dengannya? Apa tadinya Septi kos bareng kalian?"
Sarah paham, Ezra sedang dalam puncak rasa penasaran. Hanya saja ia ragu untuk membuka rahasia yang sudah hampir dua puluh bulan dipegangnya.
Tidak mendapatkan jawaban dari Sarah, Ezra bertanya kepada Nawira. "Nawira, kamu kenal Septi kan?"
Nawira bungkam. Ia masih kesal dan curiga kepada Ezra.
"Nawira tidak mengenal Septi karena Septi menghilang dua puluh tahun lalu, jauh sebelum Nawira masuk Eraneo."
Ezra menjadi bingung. Ia menatap Sarah. "Maksudnya gimana sih? Tadi kamu bilang kemarin masih bertemu Septi, tapi setelah itu kamu bilang kalau Septi menghilang dua puluh tahun lalu. Mana yang benar?"
Nawira angkat bicara, menatap sadis kepada Ezra. "Sarah sudah diminta merahasiakannya, jadi kamu nggak usah memaksanya!"
Ezra tidak menanggapi Nawira. Ia lebih sibuk memikirkan cara agar Sarah mau memberikan informasi soal Septi.
Sarah menatap Ezra dengan ekspresi memohon pengertian lelaki itu. "Ezra, aku tahu kamu membutuhkan informasi tentang Septi, hanya saja aku harus mempertimbangkannya dulu, apakah akan menceritakannya sama kamu atau enggak."
Ezra mengangguk, berusaha memahami. Paling tidak ia sekarang merasa lega mengetahui kalau Septi masih hidup.
Ezra tidak akan grasa grusu. Ia memilih untuk bersabar sampai Sarah mau memberinya informasi tentang Septi.
Agar Sarah dan Nawira merasa tenang dan aman, Ezra mengusulkan agar ruangan ini diberi penyekat. Kedua perempuan itu sepakat. Mereka menggunakan sarung dan selimut yang disambungkan satu sama lain kemudian direntangkan di tengah.
"Kamu masih bisa mengintip kan?" ketus Nawira curiga kepada Ezra. Ia merasa belum puas karena setelah penyekat itu diterapkan, masih menyisakan celah di antara sambungan kain.
Ezra memilih untuk mengabaikan Nawira. Ia merasa percuma meladeni orang yang selalu curiga kepadanya.
"Aku ngomong sama kamu, Ezra!" Nawira kesal.
Alih-alih menanggapi, Ezra berlagak seolah tidak menganggap ada Nawira di dekatnya. Ia merebahkan diri di atas tikar kusam.
Nawira menjadi semakin kesal. "Aku menyesal tadi pagi menolongmu!"
Ezra menoleh ke arah Nawira yang terhalang kain penyekat. "Berarti kamu juga menyesal telah memberiku sarapan."
"Aku bahkan menyesal kenal sama kamu!" Nawira menjauh dari kain penyekat. Ia duduk di pojokan, bersebelahan dengan Sarah.
Sarah menepuk bahu Nawira. "Sabar, Wir!"
"Aku sebal karena ia sok hebat!" Nawira mendengus.
"Sok hebat kenapa?"
"Rusli mempertaruhkan dirinya agar bisa melapor polisi. Ia bahkan telah merencanakan itu sejak lama agar berhasil. Eh, Ezra yang tinggal menuruti polisi malah menolak. Maunya apa sih sebenarnya?"
"Rusli dan Ezra punya cara berbeda, tapi tujuan mereka sama."
"Beda! Rusli ingin membebaskan diri dan teman-temannya. Kalau Ezra cuman cari muka saja! Aku malah curiga ia bagian dari Eraneo."
"Atas dasar apa kamu menuduh Ezra begitu?"
Nawira mendengus. "Kamu selalu saja membela Ezra. Jangan-jangan kamu naksir dia!"
Sarah terkekeh. "Astaga, Nawira, kamu bukan cuma berprasangka buruk sama Ezra, tapi juga sama aku."
"Sebaiknya kalian diam!" tegur Ezra setelah mendengar percakapan kedua perempuan itu. "Salah bicara kita bisa mendapatkan hukuman!"
"Tenang saja, Ez!" sahut Sarah. "Di sini nggak ada penyadap atau kamera pengawas."
"Tahu dari mana?" Ezra heran kenapa Sarah bisa seyakin itu.
"Dian yang mengatakannya," jawab Sarah.
Ezra kaget. "Serius? Buat apa ia mengatakan itu sama kamu? Dian itu salah satu pimpinan Eraneo."
"Nggak percaya ya sudah," ujar Sarah. "Ruko ini dulunya tempat tinggal karyawan Eraneo. Yang bawah buat kantor. Leo dulu managernya, sebelum akhirnya ia dipindahkan ke kota lain."
Ezra teringat dengan foto Septi yang diambil ketika gadis itu melamar di Eraneo.
Sarah bangkit. Ia pindah tempat duduk di dekat kain penyekat.
Nawira sebal melihat Sarah pindah tempat duduk. Ia menjadi curiga, jangan-jangan temannya itu naksir Ezra.
"Aku sudah mempertimbangkannya," beritahu Sarah kepada Ezra.
"Jadi gimana? Kamu mau cerita kan?" Ezra bangkit dari rebahan. Ia duduk di dekat kain penyekat. Posisinya sangat dekat dengan Sarah.
"Tapi kamu harus janji!" Sarah mengajukan syarat.
"Janji apa?"
"Kamu harus janji nggak akan gegabah."
Meskipun belum paham apa kata 'gegabah' yang dimaksudkan Sarah, Ezra menyanggupinya. "Iya, aku janji."
"Bagus, sekarang kamu pasang telinga baik-baik karena aku akan menceritakannya dengan suara lirih."
"Oke, lanjutkan!"
Sarah melirik Nawira tampak penasaran. "Kamu juga, apa pun yang kamu dengar, tolong rahasiakan ini."
Nawira mendengus. "Aku nggak kenal Septi. Apa untungnya aku cerita ke orang lain?"
Sarah tersenyum lega.
"Kamu yakin akan bercerita kepada Ezra?" tanya Nawira dengan nada protes.
Sarah mengangguk.
Nawira mendesah. Ia sebenarnya tidak setuju, tapi itu hak Sarah. Sehingga ia akan membiarkannya saja.
"Jadi cerita nggak nih?" Ezra menjadi tidak sabar.
Sarah mengumpulkan kekuatan untuk menghalau rasa bersalahnya kepada Septi. Setelah memikirkannya secara matang, ia memang merasa perlu menceritakannya kepada Ezra. Pertimbangannya adalah, Ezra adalah orang yang telah dipilih Septi untuk membongkar kejahatan Eraneo dan membebaskan semua kurir.
Sarah menarik napas dalam-dalam. "Aku akan menceritakannya secara kronologis berdasarkan apa yang pernah Septi ceritakan padaku dan apa yang kuketahui. Kamu siap mendengarnya?"
Hati Ezra membuncah. "Iya, silakan!"
"Bisa dibilang aku dan Septi adalah pelamar gelombang pertama Eraneo. Banyak sekali pelamar waktu itu, tapi tidak semuanya lolos seleksi awal. Aku salah satu yang gagal pada seleksi awal. Sedangkan Septi adalah salah satu yang berhasil menjadi karyawan Eraneo." Sarah terkekeh sumbang. "Rasanya ironi menyebut kata 'berhasil' untuk Eraneo, tapi memang begitu yang dirasakan para pelamar saat itu, karena gaji yang ditawarkan sangat banyak."
"Terus?" Ezra membetulkan posisi duduk dari bersila menjadi selonjoran.
"Aku mencoba melamar lagi pada gelombang kedua. Di depan kantor Eraneo, aku sempat bertemu dengan Septi yang saat itu baru saja mendapatkan gaji pertama. Wajahnya sangat bahagia. Kami nggak banyak ngobrol waktu itu, tapi melihat kebahagiaan di wajahnya membuatku semakin termotivasi agar bisa menjadi karyawan Eraneo."
Nawira ikut mendengarkan dengan seksama. Ia mulai penasaran.
"Sayangnya, pada gelombang kedua, aku masih gagal seleksi awal," desah Sarah. "Tapi aku nggak putus asa. Aku mencoba lagi pada gelombang ketiga."
Nawira beringsut, mendekat ke arah Sarah. Sarah adalah satu-satunya teman yang belum pernah menceritakan kisah awal masuk ke Eraneo.
Sarah melirik ke arah Nawira. "Seperti kebanyakan karyawan Eraneo, aku pun merasa sangat beruntung setelah dinyatakan diterima menjadi karyawan. Aku dikasih ponsel, sepeda motor, dan diberi tempat tinggal."
"Kamu tinggal di ruko ini?" tebak Ezra.
"Iya, aku langsung memeluk Septi begitu bertemu dengannya," kenang Sarah. "Tapi saat itu aku sadar, Septi kehilangan wajah bahagianya, bahkan matanya seperti zombie. Saat kami berpelukan, aku tersenyum bahagia, tapi Septi menangis sesenggukan. Aku pikir Septi sedang punya masalah dengan bosnya atau teman-teman kerjanya. Maka itu aku enggak bertanya banyak kepadanya."
Ezra semakin penasaran. "Apa yang dikatakan Septi pada saat itu?"
Sarah diam, berusaha menahan sesak di hati.
Ezra memberi kesempatan kepada Sarah untuk menata hatinya. Ia bisa memahami gejolak perasaan perempuan itu.
"Septi cenderung menghindar. Aku seperti orang asing di matanya. Boro-boro bercerita, setiap kali kudekati ia selalu punya alasan agar aku tidak mendekatinya." Sarah menarik napas dalam-dalam. Sesak hatinya mengenang momen itu. "Bukan hanya Septi saja yang bersikap aneh, karyawan lama yang lain juga bersikap seperti itu. Mereka seperti mayat hidup."
"Kamu pasti menjadi bingung kan?" tebak Nawira.
Sarah mengangguk. "Aku bukan hanya bingung, tapi perasaanku juga menjadi tidak enak. Besoknya aku enggak melihat Septi. Dua hari kemudian aku melihatnya diantar seorang lelaki berjaket kulit warna gelap, memakai helm tertutup rapat yang jalannya seperti bodyguard. Saat itu Septi langsung memelukku dan menceritakan semua yang ia alami dan rasakan selama dua bulan di Eraneo."
Nawira dan Ezra sudah bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Mereka juga mengalami hal yang sama, yaitu shock ketika pertama kali sadar sedang menjadi korban perangkap Eraneo.
"Aku sangat shock setelah Septi menceritakan semuanya. Aku nyaris pingsan ketika ia mengatakan telah disekap selama dua hari gara-gara ketahuan berusaha melapor polisi." Sarah menunduk dalam-dalam. Pedih yang ia rasakan saat itu masih terasa hingga sekarang. "Seperti yang kalian rasakan, aku merasa terpuruk, depresi berkepanjangan, dan sulit menerima kenyataan itu."
Suasana ruangan menjadi hening. Semua menjadi teringat momen pertama kali masing-masing tahu ternyata sedang menjadi kurir narkoba.
"Satu per satu, kurir perempuan menghilang. Aku nggak tahu nasib mereka," lanjut Sarah. Matanya sembab. "Karyawan baru mulai berdatangan. Tinggal aku dan Septi yang merupakan karyawan lama."
"Kalian sangat dekat?" tanya Ezra.
"Iya, kami adalah dua orang yang masih sanggup bertahan hingga sekarang," jawab Sarah. "Kami saling menguatkan dan punya rencana tersembunyi. Itu yang membuat kami bisa tetap tabah menjalani ini semua."
"Rencana tersembunyi?" Ezra penasaran.
"Iya, rencana yang sangat matang karena kami menyusunnya dengan teliti dan hati-hati." Sarah tersenyum sendiri, mengingat itu semua.
"Rencana apa?"
"Melepaskan diri dari Eraneo!" Sarah mendesah. "Semua cara pernah dilakukan para kurir, mulai dari melapor polisi sampai kabur. Tidak satu pun dari mereka yang berhasil."
"Kecuali Rusli!" sergah Nawira berapi-api.
Sarah menggeleng. "Rusli melapor tanpa bukti yang cukup. Makanya polisi belum bisa menangkap kita semua. Eraneo juga masih eksis sampai detik ini bukan?"
"Tapi mereka mencari Dian dan Ezra!" sergah Nawira.
"Dian dan Ezra dicari karena namanya disebut Rusli. Kalau nama kamu disebut, pasti kamu juga dicari polisi." Dian menegaskan.
"Kantor Eraneo disegel. Itu bukti kalau polisi punya dasar kuat untuk melakukannya." Nawira tidak mau kalah.
Sarah menatap Nawira teduh. "Disegel karena Eraneo tidak memiliki izin berkantor di sana. Bukan karena mereka memiliki buktu yang cukup atas kejahatan menjadi pengedar narkoba."
Nawira sebal karena argumentasinya selalu dipatahkan. Ia memilih untuk diam saja.
Ezra kesal mendengar perdebatan Sarah dengan Nawira. "Lanjutkan saja ceritamu, Sar!"
Sarah menyingkap kain penyekat. Bagian bawah kain tersebut ia sampirkan ke bagian atas hingga antara ia dan Ezra tidak terhalang lagi.
Nawira mau protes tapi sudah terlanjur sebal kepada Sarah.
"Oke aku lanjutin!" ucap Sarah. "Intinya aku dan Septi mencari cara melepaskan diri tanpa ketahuan Eraneo."
"Bagaimana cara kalian berkomunikasi?" tanya Ezra heran. "Bukankah kalian disadap?"
"Kami dulu masih tinggal di ruko ini dan belum ada penyadap. Kamera pengawas juga tidak ada di dalam kamar, hanya di titik-titik tertentu," jelas Sarah. "Eraneo cabang Semarang masih baru dan belum secanggih sekarang."
"Kalian membahas rencananya di mana?" tanya Ezra.
"Di mana saja," jawab Sarah. "Yang pasti kami menyusunnya secara matang, membuat konsep, melakukan riset, membuat simulasi, sampai mengujinya. Kami nggak terburu-buru atau emosional seperti yang dilakukan kurir-kurir sebelumnya."
Ezra menggeser badan agar posisinya menghadap Sarah.
Sarah melirik Nawira. "Kalau mau, kami sudah melakukan seperti yang Rusli lakukan tapi kami belajar dari sejarah. Tanpa membawa bukti, bukan hanya akan menjerumuskan diri sendiri tapi juga menyusahkan teman-teman yang lain."
Dilirik Sarah membuat Nawira tersinggung. "Menjerumuskan gimana?"