Sungguh apes nasib Ezra, sudah disekap, berada satu ruangan dengan dua perempuan pula. Benar bahwa ia lelaki normal yang memiliki hasrat terhadap lawan jenis. Hanya saja, ia bukanlah tipe lelaki yang mudah mengumbar nafsu. Alih-alih merasa senang, ia merasa gelisah terperangkap di sini.
Ezra menangkap wajah ketakutan dari dua perempuan di depannya. Nawira menatapnya sadis, seolah ia adalah sesuatu yang menjijikan, sedangkan perempuan berhijab di sebelah gadis itu lebih memilih membuang muka.
"Kenapa kamu masuk ke sini!" Nawira beringsut menjauh dari Ezra. Wajahnya pucat.
"Aku dijebloskan ke sini!" dalih Ezra lesu.
"Pasti kamu yang meminta, iya kan?" Nawira melotot. "Kamu kan bersekutu sama mereka!"
Ezra mendesah pelan, berusaha sabar. "Jangan menuduh sembarangan."
"Sudah jelas-jelas tadi Pak Leo memuji-muji kamu!" Volume suara Nawira meninggi. "Aku nggak yakin kamu nggak sebodoh itu menolak ajakan polisi untuk menyelamatkanmu. Aku yakin itu karena kamu memang bagian dari mereka!"
Ezra sebenarnya tersinggung atas tuduhan Nawira, namun ia berusaha memahami kegelisahan gadis itu. Dalam situasi tertekan seperti sekarang ini, ia maklum jika Nawira asal ucap.
"Kamu diam karena nggak bisa membantah bukan?" Gigi Nawira gemeletuk.
Di sebelah Ezra, perempuan berhijab yang sejak tadi membuang muka, kini memberanikan diri menatap Ezra. "Kamu kurir Eraneo juga?"
Ezra mengangguk. Ia sengaja tidak terlalu lama memandang ke arah dua perempuan itu karena tidak mau membuat keduanya semakin ketakutan.
"Sudahlah, Sarah. Nggak usah nanya-nanya sama Ezra. Ia bukan kurir seperti umumnya. Ia bagian dari mereka!"
Perempuan berhijab yang dipanggil 'Sarah' itu menyentuh telapak tangan Nawira. Ia kenbali menatap Ezra. "Kenapa aku baru melihatmu?"
"Aku tinggal di mes," jawab Ezra, melirik Sarah sekilas, lalu menunduk.
"Sejak kapan kamu masuk Eraneo?" Ketakutan pada wajah Sarah berangsur sirna. Ia merasa yakin, Ezra lelaki yang baik dari cara lelaki itu menatapnya.
"Tiga belas hari." Ezra menyandarkan pungung ke dinding. Ia menekuk lututnya.
"Kamu berasal dari mana?" tanya Sarah. "Sepertinya aku nggak asing dengan wajahmu!"
"Aku asli Semarang."
"Semarangnya mana?"
"Sarah!" hardik Nawira kesal karena alih-alih menjauhi Ezra justru malah mengajaknya ngobrol.
Sarah tersenyum kepada Nawira. Ia merengkuh sahabatnya itu, berusaha menenangkannya. "Aku mengenal Ezra kok. Tenang saja, ia anak yang baik."
Nawira terbelalak kaget mendengar pengakuan Sarah.
Ezra lebih kaget lagi. Ia menatap Sarah sambil mengingat-ingat, barangkali pernah mengenal perempuan itu. "Kamu mengenal aku?"
Sarah tersenyum. "Mengenal langsung sih enggak. Tapi aku sering melihatmu di Pasar Pagi Karangmalang beberapa tahun lalu. Kamu mungkin nggak ingat sama aku, tapi aku masih bisa mengenalimu."
Ezra mengerjap antara senang dan terkejut. "Iya, aku dulu sering jadi kuli panggul di pasar Karangmalang."
"Kamu biasanya nongkrong di depan toko milik Haji Syaikhu!"
Ezra terkekeh heran. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Aku sering belanja di tokonya Haji Syaikhu," kenang Sarah. Ia tersenyum, mengingat masa itu. "Cuman karena belanjaanku sedikit dan bisa kujinjing sendiri, makanya jarang sekali menggunakan jasamu."
Ezra mengangguk-angguk sambil berusaha mengingat Sarah.
"Kamu biasanya nongkrong bertiga!" Sarah semakin semangat mengenang masa-masa itu. "Di antara kalian, cuman kamu yang jaim kalau ada cewek lewat.
Serta merta Ezra ingat sesuatu. "Ah iya! Kamu kan yang pakai sandal beda warna, yang kanan merah, yang kiri biru."
"Enak aja!" Sarah tidak terima tapi sambil tertawa. "Itu kan bisa-bisanya kalian aja godain aku."
Ezra ikut tertawa. "Aku nggak ikut godain kamu lho!"
Nawira menyimak percakapan antara Ezra dan Sarah dengan sebal.
"Sumpah aku pangling sama kamu," ujar Ezra jujur. "Dulu kamu selalu pakai baju ketat. Sekarang kamu berhijab. Makanya aku harus menguras memori, baru bisa ingat."
"Aku berhijab juga belum lama kok, baru sekitar setengah tahunan," ujar Sarah.
"Alhamdulilah," timpal Ezra. "Oh iya, tahu nggak kalau kami bertiga dulu pernah berlomba."
Sarah mengerjap. "Lomba apa?"
Ezra tergelak malu jika mengenang masa itu. "Jadi kami bertiga berlomba, siapa yang paling pertama bisa mendapatkan nomor ponsel kamu tanpa bertanya langsung sama kamu. Hehehe!"
"Astaga!" Mata Sarah terbelalak. "Kamu ikutan juga?"
Ezra menggeleng. "Sebenarnya nggak sih, cuman pura-pura ikutan biar nggak diledek pemalu sama mereka."
"Terus siapa yang menang?" Sarah penasaran.
Ezra cengar-cengir.
Sarah semakin penasaran. "Kamu?"
Ezra mengangguk geli.
"Dari mana kamu bisa tahu nomor ponselku?"
"Aku minta bantuan salah satu pedagang tempat kamu belanja buat minta nomor ponsel kamu. Hehehe!"
"Ih, curang!"
Ezra dan Sarah tertawa bersamaan.
Nawira semakin sebal. "Ehhemmhh!"
Sarah melirik Nawira sekilas, kemudian melanjutkan tawanya saat kembali menatap Ezra.
"Betewe, kamu sudah berapa lama di Eraneo?" tanya Ezra. "Soalnya hampir dua tahun ini aku nggak melihatmu."
Tawa Sarah langsung berhenti, ibarat mobil direm secara tiba-tiba. Ia mendesah berat. "Hampir dua puluh bulan!"
Ezra kaget. "Buset, itu hampir dua tahun!"
Sarah mengangguk pedih.
"Kalau begitu kamu kenal Septi dong!" tebak Ezra berharap karena Septi juga hampir dua tahun masuk Eraneo.
Sarah tersentak halus. "Septi siapa?"
"Septi Nofiasari."
Sarah menatap Ezra nanar. Sejurus kemudian ia mengangguk.
Membuncah hati Ezra. Ia berharap Sarah akan memberikan informasi penting tentang Septi. "Kapan terakhir kali kamu bertemu Septi."
Sarah diam.
"Kamu nggak ingat?" tanya Ezra cemas.
Sarah melirik Ezra sekilas, sebelum akhirnya menunduk. "Maaf, sebaiknya kita membahas soal lain."
"Kenapa?"
Sarah menggeleng. "Nggak papa."
Ezra membujuk Sarah. "Informasi darimu sangat penting, Sar. Ayah Septi membutuhkan kabar tentang anaknya. Apa kamu nggak kasihan?"
Sarah melengos. "Bukan hanya ayahnya Septi saja yang membutuhkan kabar anaknya. Ayahmu, ayahku, ayahnya Nawira, dan ayah-ayah lain."
"Nah, makanya coba berikan informasi yang kamu tahu," desak Ezra.
Sarah menatap Ezra. "Memangnya setelah tahu kabar Septi, apa yang akan kamu lakukan?"
Ezra diam.
"Kalau kamu memberitahu keluarga Septi, kamu bukan hanya akan mendapatkan hukuman tapi juga menempatkan Septi dan keluarganya dalam bahaya," dalih Sarah.
Dalam hati, Ezra membenarkan ucapan Sarah.
"Ezra nggak akan dihukum!" ucap Nawira sinis. "Ia bagian dari Eraneo."
Sarah menoleh kepada Nawira. "Plis, Nawira, berhentilah menuduh orang lain tanpa bukti!"
Nawira mendengus. "Sekarang kamu membela Ezra. Oke, fine!"
Sarah merengkuh bahu Nawira, kemudian berbisik "Percaya sama aku, Ezra orang baik. Ia bisa membantu kita keluar dari sini."
Dahi Nawira berkerut. Ia balas berbisik. "Kamu yakin?"
Sarah tersenyum sambil mengangguk.
Nawira menatap Sarah lekat-lekat, berusaha mempercayai temannya itu. "Tapi ia laki-laki normal dan kita perempuan yang terjebak dalam satu ruangan dengannya."
Sarah tersenyum. "Seandainya ia bukan lelaki baik pun, apa yang bisa kita lakukan buat keluar dari sini? Jadi sama saja apakah kita mempercayainya atau enggak."
"Kita tetap harus waspada!" Nawira mengatakan itu sambil melirik sadis kepada Ezra.
Samar-samar, Ezra bisa menangkap pembicaraan mereka. "Tadi pagi kamu mempercayaiku, Nawira. Lalu kenapa sekarang kamu ketakutan begitu sama aku?"
Alih-alih menjawab pertanyaan Ezra, Nawira membuang muka sebal.
"Kamu harus memaklumi kami, Ezra!" ujar Sarah. "Kami perempuan dan kamu laki-laki. Kita terperangkap dalam satu ruangan sampai waktu yang belum bisa diketahui."
Ezra mengangguk. "Iya, aku maklum."
"Pak Leo sepertinya berhasil menciptakan situasi agar kamu dijauhi para kurir lain," ujar Sarah. "Aku curiga, kamu sengaja dijauhkan dari mereka agar mereka berpikir kamu mendapatkan tempat istimewa."
Ezra mencoba memahami maksud ucapan Sarah.
Sarah melanjutkan. "Aku sama Nawira juga dijauhkan dari kurir perempuan lain agar para kurir perempuan lain berpikir kalau kami mendapatkan tempat istimewa."
"Kenapa kamu seyakin itu?" Ezra penasaran.
Sarah tersenyum masam. "Aku sudah hafal cara yang mereka lakukan. Aku hampir dua tahun di Eraneo, Ezra!"
"Tapi kenapa aku dan kalian dikumpulkan dalam satu ruangan? Kenapa nggak ruangan sendiri-sendiri?" heran Ezra.
"Ruangan di sini terbatas," jelas Sarah.
Ezra merasa senang karena Sarah sepertinya banyak tahu soal Eraneo. Ia harus mendapatkan informasi lebih banyak soal Septi.
"Kami percaya sama kamu, Ezra. Jadi tolong jangan salahgunakan kepercayaan kami," pinta Sarah.
"Iya, aku akan menjaga kalian seperti aku menjaga ibuku sendiri." Ezra meyakinkan.
Nawira meralat ucapan Sarah. "Cuman Sarah yang mempercayaimu, Ez. Aku enggak. Aku bahkan muak melihat wajahmu!"
Sarah mengelus telapak tangan Nawira. "Kamu yang tenang ya?"
Nawira membuang muka.
"Kamu belum jawab pertanyaanku, Sar!" tegur Ezra. "Kapan terakhir kali kamu bertemu Septi?"
Sarah menarik napas dalam-dalam. Ia memilih diam.