Pahlawan

1724 Kata
Mengikuti rute pada aplikasi map, sampailah Ezra di sebuah ruko. Ia memarkirkan sepeda motornya. Seorang lelaki berhelm yang tertutup rapat, menghampirinya. "Serahkan kunci dan STNK-nya!" pinta lelaki berhelm itu. Dari penampilan lelaki itu, Ezra tahu lelaki itu adalah orang Eraneo. Sehingga tanpa curiga, ia menyerahkan STNK dan kunci sepeda motornya. "Masuk!" suruh lelaki berhelm itu sambil menunjuk salah satu pintu ruko. "Kamu sudah ditunggu teman-temanmu!" Ezra turun dari sepeda motor. Ia melangkah masuk ke pintu yang ditunjuk lelaki berhelm itu. Begitu berada di dalam, ia kaget ketika melihat ruang depan yang penampakkannya mirip dengan yang ada di foto Septi. Pada foto itu, Septi memotret tangannya. Di depannya terdapat kursi-kursi menghadap meja-meja. Di belakang meja itu ada sebuah dinding yang terdapat sebuah logo Eraneo. Apa yang Ezra lihat sekarang sama persis dengan yang ada di foto Septi itu, bedanya sekarang tidak ada kursi. Ezra melangkah ragu. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ruangan ini sangat sepi. Sampai di dekat anak tangga, ia berhenti. "Naik saja!" Ezra mendongak ke pemilik suara yang sedang berdiri di anak tangga paling atas. Orang itu bernama Leo, lelaki berusia tiga puluh lima tahun yang merupakan manager baru Eraneo, menggantikan Dian. Ragu-ragu, Ezra menapaki anak tangga. Sampai di lantai dua, belasan orang yang sedang duduk bersila di atas lantai memusatkan pandangan ke arahnya. Ia merasa risih, namun tetap melangkah. "Duduk di sana!" Leo menunjuk ke arah orang-orang yang duduk lesehan di atas lantai. Ezra mengedarkan pandangan, mengamati satu per satu orang-orang itu yang sebagian besar berseragam Eraneo. Pandangannya berhenti ke sosok Nawira yang duduk paling belakang. Ezra berjalan melipir menuju ke tempat Nawira. Hanya gadis itu yang ia kenal di sini. "Kamu sudah sampai di sini?" tanya Ezra kepada Nawira dengan suara sangat lirih, mirip bebisik. Nawira tersenyum dipaksakan sambil mengangguk. Ezra menghitung orang-orang yang duduk lesehan di depannya. Jumlahnya tujuh belas, terdiri dari delapan laki-laki, tidak termasuk dirinya dan tujuh perempuan. Ia yakin semuanya adalah kurir. Selain itu, di ruangan ini juga terdapat sembilan lelaki berbadan kekar yang semuanya mengenakan helm tertutup. Mereka berdiri di dekat tembok, mengelilingi para kurir yang duduk lesehan. Plok! Plok! Leo bertepuk tangan tangan dua kali, meminta perhatian. Semua memusatkan perhatian kepadanya. "Semuanya sudah lengkap?" tanya Leo kepada para kurir. Ia berkeliling. "Coba perhatikan di sekeliling kalian, adakah orang yang kalian kenal tidak berada di ruangan ini?" Semua diam, beberapa di antaranya saling pandang. "Apa pertanyaan saya kurang jelas?" Leo menambah level suaranya. Semua masih diam. Leo mendesah. Ia menunjuk ke arah Ezra. "Kamu yang datang terlambat!' Ezra menunjuk dirinya sendiri. "Saya, Pak?" "Iya, kamu berdiri!" Terpaksa Ezra berdiri. "Siapa nama kamu?" tanya Leo. "Ezra, Pak!" "Nama lengkap!" "Ezra Ardika!' "Sudah berapa lama kamu di Eraneo?" "Tiga belas hari, Pak!" "Kamu kurir baru?" "Iya, Pak!" "Karena kamu datang terlambat, jadi kamu belum tahu kalau saya adalah manager Eraneo yang baru." Leo mendekati Ezra. "Mulai hari ini saya menggantikan Mbak Dian." Ezra mengangguk agar urusan ini segera selesai. "Ezra, apakah ada teman kamu yang belum berada di sini?" tanya Leo. Menurut logika Ezra, mustahil kalau Leo tidak mengetahui banyak hal. Sehingga sangat beresiko kalau ia menyembunyikan sesuatu dari manager barunya itu. "Kamu belum jawab pertanyaan saya, Ezra!" tegur Leo. Terpaksa Ezra membuka mulut. "Saya tidak banyak mengenal karyawan Eraneo, Pak." "Yang kamu kenal, apakah semua sudah berada di sini?" Leo mengerjap. Ezra sadar, pertanyaan Leo hanya pancingan saja. "Ada, Pak!" Semua kurir memandang Ezra sebal. "Siapa?" tanya Leo. "Rusli, Pak!" Hampir semua melirik geram ke arah Ezra, termasuk Nawira. "Kamu tahu sekarang ia ada di mana?" selidik Leo. "Enggak, Pak," jawab Ezra. "Tapi kamu tahu kan kenapa ia tidak berada di sini sekarang?" Ezra menelan ludah. Ia mengangguk. Leo lebih mendekat kepada Ezra. "Saya ingin mendengarnya!" Ezra melirik ke orang-orang di depannya yang tampak sebal memandangnya. "Jelaskan kepada saya dan teman-teman kamu!" suruh Leo. Kepalang basah, mau tidak mau, Ezra harus mengatakannya. "Rusli lapor polisi, Pak." "Oke, penjelasanmu sangat jelas!" Leo memberi isyarat agar Ezra duduk. Ezra kembali duduk. Ia melirik kepada Nawira, tapi gadis itu beringsut, menjauh darinya sambil memasang wajah marah. Bukan hanya Nawira, perlakuan yang sama juga Ezra dapatkan dari kurir-kurir yang lain. Mereka menjauhinya. Situasi ini membuatnya menjadi tidak nyaman. "Rusli adalah pengkhianat karena telah menyebabkan kalian berada pada posisi sulit." Leo kembali berkeliling. "Kantor kita sekarang disegel polisi. Manager Dian diungsikan. Kalian juga diungsikan. Kenapa? Karena jika tidak, polisi akan menangkap kalian." Ezra melirik Nawira. Yang dilirik membuang muka. Ezra sadar, perubahan sikap gadis itu dan kurir lain dikarenakan ia telah mengatakan soal Rusli kepada Leo. "Rusli pikir dengan ia melapor polisi masalahnya akan selesai. Ia egois, hanya mementingkan diri sendiri. Apa ia memikirkan kalian?" Leo mengedarkan pandangan ke seluruh kurir. "Enggak! Justru kalian menjadi terlantar selama beberapa jam karena kantor ditutup. Beruntung tim Eraneo sigap dan berhasil mengevakuasi kalian satu per satu." Ezra beringsut ke depan agar tidak tampak terpencil. Namun orang-orang di depannya semakin menjauhinya. "Kantor Eraneo memang disegel polisi. Mereka mencari keberadaan Mbak Dian karena namanya disebut Rusli dalam laporannya sebagai saksi pelapor," beritahu Leo. "Sudah pasti nama kalian juga disebut! Apakah kalian masih menganggap Rusli sebagai pahlawan? Bodoh sekali kalau kalian berpikir seperti itu!" Para kurir memandang Leo pasrah. Di mata mereka, Rusli tetaplah pahlawan karena berani melaporkan kepada polisi dan sejauh ini berhasil. Selama ini, semua kurir Eraneo yang melapor polisi selalu gagal. Mereka melakukannya secara emosional, sedangkan Rusli melakukannya dengan perencanaan matang. Kepada Rusli, mereka menyandarkan harapan. Mereka yakin kejahatan Eraneo akan terbongkar. Semua hanya tinggal menunggu waktu saja. "Saya mendapatkan laporan dari intelijen Eraneo bahwa ada salah satu kurir di sini yang dijebak polisi dengan bantuan Rusli. Polisi itu tidak hanya menginterogasi si kurir saja tapi juga menawarkan agar si kurir mau mengikuti jejak Rusli." Leo menatap satu per satu para kurir di depannya. "Tapi si kurir itu tidak memberikan informasi apa pun. Ia menolak tawaran polisi itu dengan tegas. Ia memilih kembali ke Eraneo. Dan tadi pagi, polisi mencarinya. Secara heroik, ia berhasil lolos dan bersembunyi di sebuah tempat. Di sana, ia sempat dibekuk seseorang yang kami duga adalah polisi. Namun Eraneo akhirnya berhasil menyelamatkannya. Kalian tahu siapa si kurir itu?" Para kurir bungkam. Mereka tidak peduli siapa kurir yang dimaksud Leo. Bahkan dalam hati, mereka menganggap bodoh kurir itu. Nawira melirik Ezra sadis. Ia tahu si kurir yang dimakaud Leo adalah Ezra. Gadis itu menyesal telah membantu Ezra. "Kurir itu adalah...." Leo menunjuk ke arah Ezra. "Ezra Ardika!" Ezra menelan ludah. Alih-alih senang namanya disebut, ia malah muak mendengar cerita Leo yang menurutnya dilebih-lebihkan. "Seharusnya kalian bertepuk tangan!" gugat Leo. "Ia adalah pahlawan kalian!" Para kurir bungkam. Sebagian di antaranya melirik Ezra dengan sorot mencemooh. Ezra menunduk dalam-dalam. Ia benci situasi ini. "Ada kabar gembira buat kalian," beritahu Leo. Senyumnya terkembang. "Hingga akhir bulan ini, sementara kalian tidak ada pekerjaan. Meskipun begitu, gaji kalian akan tetap dibayarkan penuh." Para kurir saling pandang. Kebanyakan mereka merasa senang. Namun beberapa di antaranya tidak peduli karena yakin Eraneo tidak sebaik hati itu. "Kalian juga sudah tidak akan menjadi kurir lagi," lanjut Leo. Ia sengaja mengucapkan kalimat sepotong-sepotong, ingin tahu reaksi para kurir. "Kota ini sudah tidak aman. Sehingga pemimpin besar akan memindahkan kalian ke tempat yang lebih aman." Tadi ketika mendengar Leo mengatakan bahwa para kurir itu tidak akan lagi menjadi kurir, sebagian besar dari mereka merasa senang. Mereka berharap akan dibebaskan dan bisa pulang. Namun setelah Leo mengatakan bahwa mereka akan dipindah ke tempat lain, seketika harapan mereka sirna. Leo melanjutkan. "Hari ini silakan kalian beristirahat. Kami telah menyediakan tempat yang aman." Firasat Ezra tidak enak. Dalam pemikirannya, tidak mungkin Eraneo akan melepaskan para kurir itu begitu saja. Ia menduga, 'tempat yang lebih aman' yang dimaksud Leo adalah sebuah lokasi p********n yang baru. Semarang sudah tidak aman bagi Eraneo, sehingga Ezra curiga para kurir akan dipindah ke kota lain. Jika kecurigaannya benar, maka itu berita buruk baginya. Dari sebuah pintu, muncul seorang ibu-ibu berusia empat puluh tiga tahun. Ezra kaget melihat sosok perempuan itu. "Ririn?" desah Ezra pelan. Ia ingat, perempuan itu adalah ibu kos Gina. Itu membuatnya heran, kenapa Ririn bisa berada di sini? "Saya yakin sebagian besar di antara kalian mengenal beliau." Leo menunjuk ke arah Ririn. "Beliau akan mengantar para kurir wanita ke tempat peristirahatan. Jadi, silakan bagi yang wanita untuk mengikuti beliau. Namun sebelumnya kalian serahkan ponsel masing-masing kepada para pengawas!" Para pengawas Eraneo sigap. Mereka over acting dengan menyuruh para kurir wanita untuk segera bangkit dan menuju ke arah pintu segera. Mereka juga menyita ponsel semua kurir. Para kurir wanita meninggalkan ruangan. Nawira bangkit paling belakangan. Ia memandang Ezra dengan sorot geram. "Silakan Nawira!" Leo memberi isyarat mata kepada Nawira agar segera menyusul teman-temannya. Sambil meninggalkan ruangan, pandangan Nawira terus tertambat kepada Ezra. Ezra sadar, Nawira marah kepadanya. Ia pun hanya bisa mendesah perlahan. "Para kurir pria silakan ikuti saya!" Gestur Leo memberi perintah agar para kurir pria mengikutinya. Leo menapaki anak tangga menuju lantai tiga. Para kurir pria segera bangkit sebelum para pengawas memaksa mereka. Ezra mengikuti mereka. Ia menapaki anak tangga di posisi paling belakang. Sampai di lantai tiga. Para kurir pria diarahkan memasuki sebuah ruangan. Ezra berdiri di ambang pintu ruangan berukuran 4x4. Ia melihat semua kurir pria meletakkan tas masing-masing ke lantai kemudian duduk-duduk di atas matras. Di pojokan ruangan itu ada sebuah pintu yang ia duga merupakan kamar mandi. 'Lumayan!' ucap Ezra dalam hati melihat ruangan yang menurutnya lebih baik ketimbang mes yang pernah ia tempati. "Ruanganmu bukan di sini!" Leo menarik bahu Ezra agar menjauh dari pintu. Ezra mundur dua langkah. Ia melihat Leo menutup pintu, kemudian menggemboknya. Ezra kaget. "Mereka dikunci dari luar?" tanyanya kepada Leo. Leo tersenyum. "Mereka akan aman di sana!" Ezra menelan ludah. Ia ingin protes tapi tidak berani, selain itu tidak akan mengubah keadaan juga karena ia tidak mau mendapatkan masalah. "Ruanganmu ada di situ!" Leo menunjuk sebuah ruangan yang berada di sebelah ruangan yang tadi ia gembok. Ezra diam. Ia tidak mau nasibnya sama dengan teman-teman kurirnya yang lain, digembok dari luar. "Ayo masuk!" Seorang pengawas Eraneo mendorong tubuh Ezra kuat-kuat. Tubuh Ezra terdorong, nyaris tersungkur. Beruntung tangannya sigap, menapak lantai, sehingga ia bisa kembali berdiri. Pengawas Eraneo tidak sabar. Ia menarik tangan Ezra dan memasukkannya ke dalam ruangan dengan kasar. Tubuh Ezra terhuyung, hingga tersungkur. Brug! Kepalanya nyaris membentur lantai. Pintu pun dikunci dari luar. Ezra mengangkat kepala. Ia kaget melihat di ruangan ini sudah ada dua perempuan. Salah satunya adalah Nawira. Keduanya tampak pucat memandang kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN