Penawaran Kerjasama

1004 Kata
Ezra segera menggendong tasnya. Sebelum meninggalkan kamar, ia memeriksa ponselnya. Ada sebuah pesan dari kontak bernama Eraneo yang berisi sebuah perintah untuk segera berkumpul di sebuah tempat, lengkap dengan map lokasinya. Ezra membuka map. Ia paham rute menuju lokasi tujuan itu. Hanya saja ia merasa ragu untuk pergi ke sana. Firasatnya tidak enak, namun ia tidak punya pilihan lain. Jika tidak menurut, ia akan dicari dua pihak sekaligus, yaitu pengawas Eraneo dan Anas. Kalau menuruti perintah, paling tidak ia akan aman dari kejaran kepolisian. Ezra mengantongi ponsel. Ia beranjak dari kamar. Di dekat pintu, Ono masih tergeletak. Badannya menghalangi jalan. Ezra harus melompat agar dapat melewatinya. Ezra melompati badan Ono secara pelan agar tidak menginjaknya. Gubrak! Ezra terhuyung, kemudian terjatuh akibat kakinya dicekal Ono. Ia kaget karena Ono ternyata tampak bugar, padahal jelas-jelas lelaki kekar itu terkapar akibat dihajar dua pengawas Eraneo tadi. Sebelum Ezra berhasil melepaskan cekalannya, Ono memelintir tubuh Ezra dan menindihnya kuat-kuat. "Aku pikir bodyguard-mu itu cerdas, ternyata bodoh!" ejek Ono sambil menekan tubuh Ezra. "Kalau mau, aku bisa melumpuhkan mereka, tapi itu hanya membuang-buang energi saja. Urusanku cuman sama kamu. Tadi aku pura-pura terkapar, biar urusan sama mereka selesai. Sekarang, kamu dalam penguasaanku, Ezra!" Ezra mengakui strategi Ono brilian. Sekarang ia tidak berdaya, sulit untuk melepaskan diri. "Aku nggak mau menyakitimu, Ezra. Aku cuman minta kamu kooperatif!" ujar Ono. "Aku mau mengajakmu kerjasama." Ezra meringis, menahan beban badan kekar Ono. "Aku nggak pengen punya musuh, termasuk sama kamu, Ono!" "Kalau begitu kita buat kesepakatan!" Ono melepaskan tindihannya. Ia duduk di dekat Ezra yang masih terlungkup di lantai. Ezra merasakan tubuhnya seperti remuk. Ia mengeliat kesakitan. "Siapa kamu sebenarnya?" "Kamu nggak perlu tahu!" hardik Ono. "Yang pasti aku bukan pengawas Eraneo seperti yang pernah kamu dengar dari Regina." Ezra duduk bersila di sebelah Ono. "Kalau bukan orang Eraneo, berarti kamu polisi!" Ono menggeleng. "Kamu nggak usah takut aku akan menangkapmu. Aku bukan polisi." "Kamu mengajakku kerjasama tapi nggak menyebutkan identitasmu," gerutu Ezra. "Kerjasama ini akan menguntungkanmu!" sergah Ono. Sikapnya mulai melunak. "Jadi nggak perlulah kamu tahu siapa aku." Ezra tergelak sinis. "Namanya kerjasama, harus menguntungkan semua pihak. Mustahil kalau kamu nggak punya kepentingan." Ono mendesah. "Kepentinganku cuman satu yaitu bertemu Gina." Ezra mengernyit. "Cuman itu? Seberapa penting sih Gina sampai kamu mengerjarnya setengah mati?" Ono mendengus. "Apa yang menurutmu sepele, bisa jadi penting buat orang lain." Ezra mengangguk paham. "Oke, jadi kerjasama seperti apa yang ingin kamu tawarkan?" Ono menatap Ezra tajam. "Bantu aku menemukan Regina dan kamu akan aku bantu lepas dari perangkap Eraneo." Ezra terdiam. Ia yakin Ono sedikit banyak sudah mengetahui kejahatan Eraneo. Ia harus berhati-hati dalam berucap. "Kamu kaget karena aku tahu soal itu?" Ono terkekeh. Ezra bungkam. Ono adalah orang asing di matanya, sehingga ia harus berhati-hati dalam menyikapi pancingan lelaki itu. "Aku tahu banyak soal Eraneo, hanya saja aku butuh bukti yang cukup buat membongkarnya," ujar Ono. "Kamu aneh, mengaku banyak tahu soal Eraneo tapi nggak punya bukti. Itu sama saja kamu sedang berasumsi!" sergah Ezra. Ono tidak terima. "Kamu mengakuinya atau enggak, itu nggak akan mengubah posisimu sebagai korban p********n modern, Ezra!" Ezra membuang muka. Sebisa mungkin ia harus menutupi kenyataan yang sebenarnya. Ia tidak akan mempercayai Ono sepenuhnya. "Apa kamu nggak pengen bebas, Ezra?" Ono mengerjap. "Aku nggak paham maksudmu!" Ezra berupaya untuk tidak terpancing. "Oke, sekarang kita berandai-andai. Seandainya aku menjadi korban p********n modern seperti yang kamu bilang tadi, lalu siapa kamu sehingga punya kekuatan untuk membebaskanku?" Ono tersenyum penuh arti. "Di belakangku ada kekuatan yang sangat besar." "Kalau begitu kenapa kamu masih kepayahan bahkan untuk mengejar seorang gadis lemah seperti Gina?" Ezra memojokkan. "Dalam sebuah peperangan, strategi sangat menentukan. Lagipula Gina bukan gadis lemah seperti yang kamu bayangkan," sergah Ono. "Aku yakin kamu paham maksudku!" Ezra diam. Sebenarnya ia ingin memancing Ono lebih jauh. Sayangnya ia telah kehilangan banyak waktu. "Aku harus pergi!" "Pergilah! Mereka pasti cemas menungumu," ucap Ono santai. "Aku nggak akan mempersulitmu." Ezra kaget dengan sikap Ono yang melepaskannya begitu saja. Tadinya ia pikir akan kesulitan lepas dari lelaki misterius itu. "Mereka pasti sedang mencemaskanmu!" Ono berdiri. Ia menatap Ezra sejenak, sebelum akhirnya beranjak, meninggalkan kamar. Meskipun merasa lega, Ezra merasa heran, kenapa Ono membiarkannya begitu saja. Itu membuatnya penasaran. Ezra segera bangkit dan mengejar Ono. Ia mendapati lelaki itu sedang menuruni anak tangga. "Ono!" panggil Ezra. Ono berhenti tanpa menoleh. Ezra menuruni anak tangga. Sampai di sebelah Ono, ia menatap lelaki itu dengan sorot heran. "Kamu sangat misterius!" Ono menoleh. "Jadi hanya karena aku misterius, kamu nggak mau diajak kerjasana?" Ezra bungkam. "Kamu harus tetap menuruti perintah mereka. Pergilah!" Ono meneruskan langkah, menuruni anak tangga. Ezra menjejeri langkah Ono. "Aku mau bekerjasama denganmu, tapi coba berikan alasan agar bisa mempercayaimu." "Kamu boleh punya seribu alasan buat meragukanku, tapi aku hanya perlu memberimu satu alasan agar kamu bisa mempercayaiku!" Ono mengatakan itu sambil tetap menuruni anak tangga. "Apa itu?" Ezra penasaran. Pertanyaan Ezra membuat Ono berhenti. Ia menoleh kepada Ezra. "Dengarkan aku, Ezra! Kamu akan nengalami hal lebih buruk lagi di Eraneo. Kalau dulu mereka memenjarakanmu di dalam kota, sekarang mereka akan memenjarakanmu dalam rumah tahanan. Sayangnya, saat ini kamu tidak bisa menolak. Tapi yakinlah, akan ada satu momen di mana kamu punya kesempatan untuk melarkan diri dari sana. Momen itu aku yang akan menciptakan dan kamu cari sendiri. Kamu hanya perlu melakukan apa yang menurutmu harus dilakukan. Pesanku, tetaplah berpura-pura menjadi anak baik di sana." Ezra memang tidak paham apa yang dimaksudkan Ono, tapi ia yakin itu sesuatu yang cukup mengerikan. "Sekarang kamu boleh nggak percaya, tapi nanti kamu akan mengingat kata-kataku tadi," Ono meneruskan langkah, menuruni anak tangga. Ezra mematung, memandangi punggung Ono yang semakin menjauh. Ia semakin penasaran, siapakah sebenarnya Ono? Ezra melihat, Ono keluar gedung melalui pintu samping. Lelaki itu harus bersusah payah menyelusup melalui pagar seng untuk bisa keluar area gedung. Ezra yakin, Ono tidak ingin pergerakannya diketahui pengawas Eraneo. Ezra melangkah, meninggalkan area gedung. Sepeda motor yang tadi ia tinggalkan tahu-tahu sudah berada di dekat lapangan bulutangkis. Di seberang jalan, Ezra melihat kedua pengawas Eraneo sedang berdiri di dekat sebuah sepeda motor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN