Rumah kosong ini adalah bangunan baru terdiri dari dua lantai yang mangkrak pembangunannya. Rencananya gedung itu akan dijadikan rumah toko, namun sebelum selesai, terpaksa proyek pengerjaannya dihentikan karena pemiliknya tersangkut kasus korupsi pada sebuah instansi pemerintahan kota. Ezra mengetahuinya karena ia dulu pernah bekerja sebagai kuli bangunan di sini.
Pada lantai dua bagian depan, ada sebuah kamar yang sudah dilengkapi tempat tidur tanpa kasur. Tadinya itu difungsikan sebagai tempat tidur para pekerja dari luar kota. Ezra bersembunyi di tempat ini.
Berbulan-bulan tidak pernah dijamah manusia, kamar ini dipenuhi sarang laba-laba. Ezra membersihkannya agar bisa merasa nyaman selama bersembunyi di sini. Ia juga membersihkan tempat tidur kayu yang hanya beralaskan tripleks.
Di pojokan ada kipas angin berdiri yang masih berfungsi dengan baik, meskipun pelindung depannya sudah hilang entah ke mana. Bola lampu pijar juga masih menyala. Ezra merasakan ini sungguh tempat persembunyian yang sempurna.
Satu hal yang harus Ezra lakukan adalah memastikan tidak ada polisi yang mengetahui kalau dirinya sedang bersembunyi di sini. Soal Ono, ia tidak begitu yakin lelaki itu tidak mengendus keberadaannya di sini.
Menurut pengakuan Gina, Ono adalah salah satu pengawas Eraneo. Jika itu benar, kemungkinan besar lelaki itu akan menemukan tempat ini karena Eraneo selalu mengawasinya.
Kalau hanya pengawas Eraneo, Ezra tidak begitu pusing karena ia merasa tidak berbuat yang aneh-aneh. Ia hanya akan diawasi saja.
Ponsel Ezra berdering. Ia melirik layar. Ternyata Nawira yang meneleponnya. Ezra menepuk jidat karena baru ingat kalau tadi ia sudah berjanji akan menghubungi gadis itu.
Ia segera menjawab panggilan telepon tersebut. "Halo!"
"Mas Ezra, kamu di mana?" tanya Nawira terdengar cemas.
"Aku di suatu tempat yang aman," jawab Ezra. "Kamu sekarang ada di mana?"
"Aku nggak tahu ini tempat apa," ujar Nawira. "Tadi aku ke kantor Eraneo. Di sana banyak sekali polisi. Kantornya juga dipasangi police line. Karena takut, aku menjauh dari tempat itu."
Ezra mencemaskan Nawira. "Jadi sekarang kamu di mana?"
"Nggak tahu, Mas."
"Kamu di jalan apa di mana?"
"Aku di sebuah tempat terbuka semacam resort. Ada banyak gazebo dan bunga-bunga." Nawira menjelaskan. "Tadi aku takut banget. Aku menjauh dari kantor. Karena takut ada yang mengikuti, aku masuk ke sebuah jalan dan tahu-tahu berada di sini."
"Coba kamu share loc!"
"Oke." Nawira membagikan lokasi kepada Ezra.
Sambil tetap teleponan, Ezra membuka pesan masuk dari Nawira. Ia menerima lokasi yang dibagikan gadis itu. Setelah memeriksanya, Ezra akhirnya tahu tempat itu.
"Kamu berada di sebuah ruang terbuka hijau milik sebuah perumahan," beritahu Ezra. "Lokasinya nggak begitu jauh kok dari tempatku, paling sekitar tiga kilometer. Kamu ke sini saja!"
"Memangnya Mas Ezra di mana?"
"Aku ada di sebuah rumah kosong. Di sini aman kok!"
Nawira keberatan. "Aku nggak bisa ke sana."
"Kenapa?"
"Kalau aku ke sana, takutnya nanti ada warga yang memergoki kita dan menduga yang enggak-enggak."
Ezra membenarkan ucapan Nawira. "Iya juga sih."
"Aku di sini saja dulu, Mas, sambil memikirkan rencana selanjutnya," ujar Nawira.
"Oke, saranku kamu lepas saja seragam Eraneo dan ganti dengan baju biasa."
"Sudah, Mas. Tadi aku ganti di toilet."
"Bagus."
"Kamu dapet orderan nggak, Mas?"
Ezra memeriksa notifikasi. "Belum ada. Kamu sendiri gimana?"
"Belum juga, Mas. Sepertinya Eraneo sedang kacau."
"Tapi kan orderannya pakai aplikasi?" sergah Ezra.
"Aplikasi cuman buat kedok saja, Mas," beritahu Nawira. "Mereka menggunakan operator yang menyortir orderan."
"Kamu tahu dari mana?"
"Semua anak-anak tahu."
Dahi Ezra berkerut. "Kok aku baru tahu?"
"Mas Ezra kan tinggal sendirian di mes. Jadi kalau ada isu nggak bisa tahu," ujar Nawira.
"Termasuk desas-desus soal Gina seorang polisi?" pancing Ezra.
"Mas Ezra tahu juga?" Nawira balik bertanya.
"Rusli yang ngasih tahu."
"Oh pantesan."
"Kamu tahu nggak kalau Gina itu ternyata polisi beneran?" tanya Ezra, berniat memberitahu.
"Hah? Serius?"
"Gina sendiri yang bilang sama aku."
"Mmhh, kok bisa kenal Gina?"
"Gina dulu kos di depan mes ini."
"Oh, pantesan!"
"Kamu kenal Ono nggak?" selidik Ezra.
"Ono? Nggak tuh. Aku baru denger namanya."
"Tadi yang mengikuti kita itu namanya Ono," beritahu Ezra.
"Kenapa Ono mengikuti kita?"
"Sepertinya ia mengikuti aku saja, bukan kita."
"Iya, kenapa ia mengikuti kamu?" Nawira penasaran.
"Kata Gina, Ono itu pengawas Eraneo yang sudah curiga kalau Gina itu seorang polisi."
"Terus apa hubungannya sama kamu?"
"Ono selalu mengejar Gina. Itulah alasan kenapa Gina selalu pindah kosan. Nah, Ono mengira aku selalu tahu keberadaan Gina. Makanya aku diikuti terus."
"Sebentar, sebentar." Nawira menarik napas dalam-dalam. "Kalau Ono adalah pengawas Eraneo, buat apa ia mengejar kamu? Menurutku aneh lho!"
"Mungkin Ono pengen memastikan kalau aku nggak memberi informasi soal Eraneo sama Gina," tebak Gina.
"Bukan itu yang membuatku merasa aneh," sergah Nawira. "Kalau benar Ono adalah pengawas Eraneo kenapa ia tidak menutupi identitasnya? Semua pengawas Eraneo selalu mengenakan helm tertutup setiap kali bekerja."
Ezra terdiam berusaha mencerna kalimat Nawira. Ia membenarkan ucapan gadis itu. "Iya juga ya? Kenapa Ono enggak menutupi identitasnya?"
"Jangan-jangan, Ono bukan pengawas Eraneo!" Nawira curiga.
Ezra terdiam. Ia berpikir, sebenarnya siapa Ono dan apa kaitannya dengan Gina?
"Apa mungkin, Ono adalah pengawas yang khusus diberi tugas mengawasi Gina?" tebak Nawira.
"Bisa jadi," timpal Ezra. "Cuman Gina pernah cerita kalau dulu ia mendekati Ono karena penyelidikan. Setelah itu Ono tahu kalau Gina ternyata adalah seorang polisi. Sejak itu Ono mendesak Gina untuk mengakuinya. Gina selalu mengelak dan membantahnya."
"Duh, aku jadi pusing, Mas!" keluh Nawira.
"Sama! Hehehe!"
"Hehehe!" Nawira ikut terkekeh. "Ya sudah, Mas, kamu hati-hati ya di sana?"
"Iya, makasih. Kamu juga hati-hati ya?"
Selepas teleponan, Ezra merebahkan diri di atas tempat tidur yang hanya beralaskan tripleks lusuh. Itu tidak masalah buatnya karena dulu ia sering tidur seperti itu waktu masih menjadi kuli bangunan.
Sejuk angin yang berhembus dari kipas angin, membuat Ezra mengantuk. Sejak masuk ke Eraneo belum pernah ia bisa bersantai di siang hari. Sekarang selagi ada kesempatan, ia akan memanfaatkannya.
Mata Ezra terpejam. Perlahan kesadarannya hilang. Ia pun tertidur.
Tanpa disadari Ezra, Ono sejak tadi mengawasinya. Lelaki itu memang sempat kehilangan jejak ketika Ezra dan pengendara ojol memasuki permukiman. Namun Ono sudah terlatih menjadi pengintai. Ia menghafal nomor polisi dan merk sepeda motor yang ditumpangi Ezra.
Tadi Ono cukup lama kehilangan jejak. Ia menyusuri jalan raya, namun sampai pada sebuah traffict light, loginya berkata bahwa jika benar targetnya menyusuri jalan raya tersebut, pasti ia akan menemukannya karena sepeda motornya melesat sangat kencang. Sehingga ia pun memutuskan untuk memasuki kawasan permukiman.
Ono beruntung ketika berpapasan dengan ojol yang mengantar Ezra. Ia menghentikannya dan berhasil mendapatkan informasi keberadaan targetnya.
Sampai di rumah kosong ini, ia langsung mencari Ezra. Ia menemukan targetnya itu sedang membersihkan jaring laba-laba. Ia pun bersembunyi di ruang sebelahnya, sambil memantau targetmya.
Sekarang Ono melihat Ezra sedang terbaring di atas tempat tidur. Ia berjingkat memasuki kamar tersebut. Ia mencari posisi yang pas, kemudian mengunci badan Ezra.
Ezra kaget menyadari dirinya sedang diringkus orang. Ia meronta, berusaha melepaskan diri, namun tenaganya kalah jauh. Mulutnya juga dibekap menggunakan telapak tangan, membuatnya tidak bisa berteriak. Ia melirik orang yang meringkusnya. Betapa kagetnya ketika sadar, orang itu adalah Ono.
"Jangan berteriak atau kupatahkan lehermu! Kalau kamu enggak melawan, aku akan lepaskan bekapan," Ono memperkuat kunciannya. Tangan kiri ia gunakan untuk menekuk kedua tangan Ezra. Tangan kanan ia gunakan untuk membekap. Sedangkan kedua kakinya digunakan untuk mengunci badan Ezra.
Ezra mengangguk sebagai tanda ia menuruti Ono.
Ono melepaskan bekapannya dan memindahkan tangan kanannya ke leher Ezra. "Di mana Regina?"
"Aku nggak tahu," jawab Ezra.
Ono menekan leher Ezra menggunakan lengan tangan kannnya. "Percuma kamu menutupinya!"
Napas Ezra menjadi sesak. Badannya mengejang. "A-aku nggak t-tahu," ucapnya sambil berusaha agar bisa bernapas.
Ono mengendurkan tekanan lengan pada leher Ezra. "Kalau kamu terus menutupinya, kamu bisa gagal bernapas!"
"Sumpah aku nggak tahu," ujar Ezra berusaha meyakinkan Ono. "Semalam Gina meneleponku dan pamitan sama aku. Katanya ia akan ditarik ke pusat."
Ono menekan leher Ezra sedikit sebagai shock therapy. "Jangan berani membohongiku!"
"Sumpah, Mas!" Ezra merasakan tenggorokannya sakit. Napasnya juga tersengal-sengal. "Aku bisa menunjukkan log panggilan Gina kalau kamu nggak percaya."
"Di mana ponsel kamu?" tanya Ono.
"Di saku bajuku!"
Ono mengambil ponsel dari saku baju Ezra. Sambil tetap mengunci tangan Ezra, ia membuka log panggilan. Ia menemukan satu panggilan telepon yang berlangsung tadi malam. Ia menelepon balik nomor tersebut.
Panggilan telepon yang dilakukan Ono tersambung tetapi tidak terjawab.
"Bener ini nomor yang dipakai Regina?" tanya Ono. Ia kembali menekan leher Ezra.
"Bener, Mas!" jawab Ezra.
"Awas kalau kamu berbohong!"
"Enggak, Mas."
Ono mengantongi ponsel Ezra ke saku jaketnya. Ia mengendurkan tekanan pada leher Ezra. "Kamu dalam pengawasanku!"
"Uhhuk!" Ezra terbatuk karena sejak tadi lehernya terus-terusan tertekan.
Ono melepaskan kunciannya, kemudian menendang Ezra hingga tersungkur di atas tempat tidur. Ia bangkit, meninggalkan Ezra.
Ezra hanya bisa pasrah melihat kepergian Ono yang membawa ponsel miliknya. Namun alangkah terkejutnya ia ketika di ambang pintu dua orang lelaki yang mengenakan helm tertutup rapat, langsung menghajar Ono secara keroyokan.
Ono tidak punya kesempatan untuk melakukan perlawanan. Kurang dari satu menit dua orang misterius itu berhasil membuat Ono terkapar dan tidak sadarkan diri.
Satu dari dua orang misterius itu melemparkan kunci sepeda motor ke arah Ezra. "Motor kamu ada di bawah. Cepat pergi ke sebuah lokasi. Nanti aku share loc. Kamu akan aman di sana!"
Satu orang lagi melemparkan ponsel milik Ezra yang tadi dikantongi Ono. "Jaga ponsel kamu baik-baik! "
"Kalian siapa?" tanya Ezra masih belum paham dengan situasi.
Alih-alih menjawab, kedua orang misterius itu berlalu dari hadapan Ezra.
Ezra mematung bingung. Ia menduga kedua orang itu adalah pengawas Eraneo. Mereka membawakan sepeda motor miliknya dan menyelamatkan ponselnya. Selain itu mereka juga berpenampilan seperti para pengawas Eraneo lainnya, yaitu mengenakan helm tertutup.
Satu pertanyaan yang sedang menggelitik Ezra adalah, jika benar kedua orang itu adalah pengawas Eraneo, lalu siapakah Ono?