Ezra menjebol eternit kamar mandi mesnya dengan cara menjejakkan kaki kanannya berkali-kali. Sedikit demi sedikit eternitnya berlubang. Serpihan dan kepingan-kepingannya berserakan di kloset.
Setelah lubang yang Ezra ciptakan cukup besar, ia menurunkan tangga lipat yang ia ambil dari mes Nawira. Ia pun menuruni anak tangga tersebut secara hati-hati.
Ezra berhasil mendaratkan kedua kaki di lantai. Ia membuka pintu. Dengan mengendap-endap ia meninggalkan kamar mandi.
Hal pertama yang Ezra lakukan adalah memastikan para polisi itu sudah tidak berada di mesnya. Ia berjingkat menuju ruang depan yang pintunya sedikit terbuka. Ia yakin Anas dan rekan-rekannya membuka pintu itu menggunakan kunci serep karena ia tidak menemukan tanda kerusakan pada pintunya.
Ezra membiarkan pintu itu terbuka. Ia melangkah ke ruang tengah. Alangkah kesalnya ia ketika melihat pintu lemari terbuka dan isinya berantakan.
Mes ini sudah tidak aman. Ezra harus meninggalkan tempat ini segera, sebelum polisi datang lagi. Sehingga tanpa membuang waktu, ia memasukkan semua baju dan barang-barangnya ke dalam tas.
Ezra baru sadar kalau baju dan buku-buku Rusli tidak ada di dalam lemari. Ia heran, siapa yang mengambilnya? Atau jangan-jangan Rusli ke sini, tanyanya dalam hati.
Tidak mau membuang waktu dengan memikirkan Rusli, Ezra segera menelepon Nawira.
"Halo, Nawira?"
"Ezra?"
"Kamu mau tinggal di mes atau mau ikut pergi sama aku?"
"Pergi ke mana?"
"Belum tahu, yang penting menghilangkan jejak dari polisi."
"Pakai sepeda motor siapa?"
"Punya kamu. Sepeda motorku pasti sudah dikenali polisi."
"Oke, aku siapin dulu."
"Beri tanda kalau kamu sudah siap," pinta Ezra.
"Apa tandanya?"
"Klakson dua kali dan pastikan sepeda motormu siap berangkat."
"Kamu yang nyetir ya?"
"Oke," jawab Ezra. "Kalau begitu nanti setelah membunyikan tanda klakson, kamu perhatikan sekitar ketika aku bergerak ke arahmu."
"Siap!"
Selepas menelepon Nawira, Ezra menggendong tas ranselnya di badan bagian depan.
Ezra mengintip keluar. Sejauh matanya memandang, tidak tampak ada orang-orang mencurigakan yang bisa saja sedang mengawasi mesnya. Sungguhpun begitu ia sadar, para pengintai tidak akan pernah menampakkan dirinya. Sehingga, ia harus cermat menghitung waktu dan kesempatan ketika meninggalkan tempat ini.
Dari tempatnya mengintip, Ezra melihat Nawira mengeluarkan sepeda motor dari teras ke jalan. Tidak berselang lama, terdengar bunyi mesin menyala. Ezra bersiap menunggu tanda klakson dari Nawira.
Tin! Tin!
Ezra keluar mes. Dengan gerakan cepat ia mengunci pintu, kemudian berlari cepat menuju sepeda motor Nawira.
Nawira mengawasi sekitar, memastikan tidak ada orang yang mencurigakan. Saat Ezra memegang kendali stir, ia segera membonceng.
"Siap?" tanya Ezra.
"Siap!" jawab Nawira.
Ezra menarik tuas gas. Sepeda motor pun melaju kencang menyusuri jalan permukiman. Ia mengendalikan setang stir dengan lincah, menyalip beberapa kendaraan bermotor lain. Hingga sampailah ia di jalan raya.
"Sial!" Melalui spion, Ezra melihat sepeda motor Ono tengah menguntitnya.
"Ada apa, Mas?" Nawira menjadi cemas.
Kalau Ezra berterus terang, ia takut Nawira panik. "Nggak papa!"
Ezra menambah kecepatan. Ia ngebut di jalanan yang sedang padat. Dengan lincah ia menyalip kendaran-kendaraan roda empat melalui celah-celah sempit. Ono terus saja membuntutinya.
Dua ratus meter di depan, lampu merah sedang menyala. Mau tidak mau Ezra berhenti. Melalui spion, ia melihat sepeda motor Ono berada persis di belakangnya. Ezra pun panik, takut Ono akan turun dari motornya kemudian menangkapnya.
Apa yang ditakutkan Ezra tidak terbukti. Ono tetap berada di atas sepeda motornya. Lelaki kekar itu tampak santai, seolah tidak mengetahui keberadaan Ezra di depannya.
Lampu hijau menyala. Ezra langsung tancap gas. Di belakangnya, Ono terus membuntutinya dengan menjaga jarak aman.
Dalam pemikiran Ezra, Ono punya banyak kesempatan untuk menangkapnya, tetapi lelaki itu tidak menghentikannya. Ezra yakin, Ono hanya ingin membuntutinya saja. Sehingga ia pun sedikit merasa tenang.
"Kita mau ke mana?" Nawira cemas.
"Kamu punya ide nggak?" Ezra balik bertanya. "Intinya kita mencari tempat persembunyian agar tidak diketahui polisi."
Nawira berpikir, mencari ide.
"Gimana, ada ide nggak?" tanya Ezra sambil melirik spion. Ia melihat Ono masih terus berada di belakangnya.
"Aku nggak bisa mikir, Mas!" ucap Nawira setengah berteriak karena jalanan cukup berisik.
Ezra mendengus. Ia juga belum punya ide. Yang bisa ia lakukan sementara ini adalah melepaskan diri dari Ono. Itu cukup sulit karena sepeda motor Ono adalah jenis sporty. Kalau ia ngebut juga percuma, Ono akan dengan mudah mengejarnya.
"Mas!" panggil Nawira sambil menepuk bahu Ezra.
"Iya, ada apa?"
"Kayaknya bensinnya mau habis!" beritahu Nawira.
Ezra melirik indikator bahan bakar. Jarumnya berada di bawah, tanda kalau bahan bakarnya tinggal sedikit. "Sial!"
Nawira diam, merasa bersalah kepada Ezra.
"Kita ke pom bensin dulu!" Terpaksa Ezra harus mengisi bahan bakar dulu.
Ezra masuk ke pom bensin. Ia melihat antreannya tidak begitu panjang. Di depannya ada satu sepeda motor dan satu mobil. Ia pun ikut mengantre, tidak peduli apa pun yang akan terjadi.
Ono ikut mengantre, persis di belakang sepeda motor Ezra.
Ezra berbisik kepada Nawira. "Jangan menengok. Aku cuman mau ngasih tahu kalau persis di belakang kita adalah orang yang sejak tadi membuntuti kita. Nggak usah panik, ia itu pengawas Eraneo."
Meskipun sudah disuruh agar tidak panik, Nawira justru malah semakin panik. "Apa yang akan kita lakukan, Mas?"
"Ia cuman mengejarku. Kamu aman, beritahu Ezra. "Aku punya ide."
Ezra memajukan sepeda motornya karena satu sepeda motor di depannya baru saja selesai mengisi bahan bakar.
"Setelah mengisi bahan bakar, kamu bawa saja motor ini ke kantor Eraneo. Di sana kamu akan aman. Aku yakin Ono nggak akan mengejarmu, karena targetnya adalah aku," ucap Ezra menjelaskan idenya.
"Tapi aku takut, Mas!" Nawira memeluk erat Ezra.
"Aku jamin kamu akan aman!" Ezra berusaha meyakinkan Nawira.
"Teru kamu mau ke mana?"
"Tenang saja, aku sudah punya rencana."
"Rencana apa?"
"Kamu nggak usah khawatir. Pokoknya nanti setelah kamu mengisi bensin kamu langsung saja ke kantor Eraneo."
Nawira sebenarnya keberatan, tapi ia percaya rencana Ezra adalah yang terbaik. Lagipula, yang akan dikejar adalah lelaki itu bukan dirinya.
Sekarang giliran mobil di sebelah Ezra yang mengisi bahan bakar. Sambil menunggu giliran, Ezra memantapkan rencananya. Ia memperhatikan sekitar. Di pompa sebelah, ada seorang pengemudi ojek online sedang mengisi bahan bakar.
Ezra berbisik kepada Nawira. "Kamu nggak papa kan kalau aku nggak ikut kamu?"
Nawira mengangguk dengan perasaan gelisah.
Ezra memajukan sepeda motornya. Sekarang gilirannya mengisi bahan bakar. Ia dan Nawira turun.
"Dua puluh ribu, Mas!" ucap Nawira kepada seorang lelaki yang menjadi petugas pom bensin.
Petugas pom bensin mengatur ulang pompanya. Ia menunjuk angka pada panel. "Mulai dari nol ya, Mbak?"
Nawira mengangguk.
Petugas mengisi bahan bakar. Tidak lama, pengisian selesai. Nawira memberikan selembar uang pecahan dua puluh ribuan kepada petugas.
"Terima kasih, Mbak!" ucap petugas pom bensin.
Ezra menuntun sepeda motor, memberi ruang bagi pengantre di belakangnya. Ia menepikan sepeda motornya.
"Aku pergi sekarang ya?" bisik Ezra kepada Nawira. Ia melirik ke arah Ono yang sedang membuka penutup tangki.
"Hati-hati, Mas!" ucap Nawira cemas.
"Nanti aku telepon kamu!" Ezra mengerjap kepada Nawira.
Ezra melirik ke arah Ono. Ia menunggu momen yang tepat untuk melepaskan diri dari lelaki kekar itu. Ia melihat petugas mulai mengisi tangki sepeda motor Ono.
Inilah saatnya bagi Ezra untuk melepaskan diri. Ia berlari kencang menuju pengemudi ojek online yang baru saja selesai mengisi bahan bakar pada pompa sebelah.
Ezra mencolek bahu pengemudi ojol tersebut. "Mas, antar saya ke Simpanglima sekarang!"
Pengemudi ojol bingung. "Harus lewat aplikasi, Mas!"
Ezra menyodorkan selembar uang pecahan lima puluh ribuan kepada pengemudi ojol. "Ini mendesak, Mas. Ayo cepetan, istri saya mau melahirkan!"
Pengemudi ojol terbawa suasana gugup yang diciptakan Ezra. Ia menerima uang tersebut. "Ayo, naik!"
Tanpa membuang waktu, Ezra segera membonceng. Ojek online pun segera melesat cepat, meninggalkan area pom bensin.
Ezra melambaikan tangan kepada Nawira. Ia juga melirik kepada Ono yang masih mengisi bahan bakar.
Sejauh ini, strategi Ezra melepaskan diri berhasil. Ono tidak bisa mengejarnya sekarang karena sedang mengisi bahan bakar.
Sampai di sebuah pertigaan, Ezra menepuk bahu pengemudi ojol. "Belok kiri, Mas!"
"Kenapa nggak lurus saja yang lebih cepet, Mas," protes pengemudi ojol. "Kalau ke sini kita akan melalui jalan permukiman."
"Sudah belok saja!" suruh Ezra. "Ini darurat!"
Meski tidak mengerti jalan pikiran Ezra, tapi pengemudi ojol itu tetap menurut. Sepeda motor mereka memasuki jalan permukiman.
Ezra mengenal dengan baik jalan yang sedang dilaluinya ini. Ia berharap Ono kehilangan jejaknya.
"Di depan belok kanan, Mas!" suruh Ezra.
Pengemudi ojol menurut. Di sebuah perempatan, ia berbelok kanan.
"Nanti di depan, ada lapangan bulutangkis. Berhenti di situ saja, Mas," pinta Ezra.
"Katanya mau ke Simpanglima?" Pengemudi ojol heran sekaligus bingung.
"Sudah ikut saja!"
Sampai di dekat lapangan bulutangkis, pengemudi ojol menghentikan sepeda motornya. "Di sini, Mas?"
"Iya." Ezra turun dari boncengan. "Makasih ya, Mas? Uangnya ambil saja semua."
Pengemudi ojol menatap Ezra heran. Meskipun begitu ia tidak perlu protes lebih lanjut karena sudah mendapatkan lima puluh ribu hanya dengan mengantar penumpang sejauh tiga kilometer saja.
Ezra segera berlari, membelah lapangan bulutangkis menuju sebuah rumah kosong.