Ezra mengeluarkan sepeda motor dengan perasaan hampa. Cerahnya pagi berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini. Ia merasa seolah hidup sendirian di muka bumi ini.
Orang tua, saudara, tetangga, sahabat, dan Alika sudah tidak bisa ia hubungi lagi karena sangat beresiko jika ia nekat melakukannya. Di dalam dunia mafia, tempatnya terperangkap saat ini pun semua orang yang ia kenal telah pergi, Rusli, Dian, dan terakhir adalah Gina.
Ezra menyalakan mesin agar panas. Ia menunggu sambil duduk di teras. Diliriknya layar ponsel, belum ada orderan yang masuk.
Setelah memanaskan mesin sepeda motor selama lima menit, Ezra mematikannya. Ia mencabut kontaknya, kemudian masuk ke mes. Diperiksanya kompor gas, barangkali mesin masih menyala. Ia kemudian ke kamar mandi, memastikan keran air telah tertutup. Semua aman, ia pun menuju pintu depan.
Ketika akan mengambil anak kunci dari pintu, Ezra mendengar bunyi mesin mobil. Reflek ia mengintipnya dari balik gorden. Dahinya berkerut ketika sadar mobil itu berhenti tepat di depan mes.
Ada dorongan dari dalam hati Ezra untuk mengunci pintu. Ia pun memutar anak kunci berlawanan arah jarum jam dan mengambil anak kuncinya lalu kembali mengintip dari balik gorden.
Seketika wajah Ezra pucat melihat Anas turun dari mobil. Polisi yang pernah menjebaknya itu datang bersama dua rekannya. Semuanya mengenakan jaket hitam.
Tenggorokan Ezra tercekat. Adrenalinnya terpacu. Sambil berjalan menuju ruang tengah, ia berpikir keras apa yang harus dilakukan. Yang jelas, ia tidak mau bertemu para polisi itu.
Ezra bisa saja pura-pura tidak sedang berada di dalam mes, tapi sepeda motornya ada di teras. Mereka pasti tidak akan mudah terkecoh karena logikanya kalau ada sepeda motor berarti ada orang di dalam rumah.
Ezra menelepon Dian, tapi nomor itu sudah tidak aktif. Kalau ia mengandalkan pengawas, itu sangat beresiko, belum tentu mereka membantunya karena yang sedang dihadapi adalah polisi. Di mana keberadaan mereka saja ia tidak tahu.
Panik melanda Ezra. Ia berputar-putar di ruang tengah sambil berpikir keras, bagaimana cara menghindari polisi itu.
Tok! Tok!
Ezra menelan ludah. Ia semakin panik. Keringat dingin mulai membasahi tengkuk dan dahi. Lututnya pun gemetar. Tiba-tiba, pandangannya melirik ke arah lemari.
Wajah pucatnya berubah cerah. Ia baru ingat kalau di balik lemari itu ada sebuah pintu rahasia.
Tok! Tok!
"Ezra! Kami tahu kamu ada di dalam!" teriak Anas.
Buru-buru Ezra menggeser bagian kiri lemari agar ada celah baginya untuk memasuki pintu. Lemari berhasil ia geser. Ia pun segera menuju pintu rahasia tersebut. Ia menarik gagang pintu, hingga terbuka. Tanpa membuang waktu ia berdiri menghadap bagian belakang lemari.
Di bagian belakang lemari itu ada sebuah pegangan. Ezra menariknya agar kembali ke posisi semula. Sekarang ia berada di mes sebelah yang aslinya diperuntukan untuk karyawan wanita. Agar aman, ia mengunci pintu tersebut.
Ruangan ini tampak bersih dan rapi. Ia tidak melihat debu atau kotoran di sini. Itu membuatnya curiga jangan-jangan mes ini sering dimasuki orang.
Kecurigaan Ezra terbukti ketika ia melangkah ke ruang depan. Di sana ia melihat seorang perempuan berambut panjang sedang berdiri di dekat jendela sambil mengintip ke arah luar melalui gorden.
Baju seragam Eraneo tampak ketat pada perempuan itu yang memiliki badan padat berisi. Ezra tidak tahu perempuan itu posisi jabatannya apa, namun yang pasti ia baru melihatnya sekarang.
Ezra berdeham pelan, sebagai tanda kehadirannya di sini.
Perempuan itu menoleh. Seketika wajahnya pucat pasi, melihat Ezra dengan ekspresi ketakutan. "S-siapa k-kamu?"
Ezra berusaha menenangkan perempuan yang ia tebak masih berusia dua puluhan itu. "Aku Ezra, kurir Eraneo yang timggal di mes sebelah."
Perempuan itu mengamati penampilan Ezra dari kepala sampai kaki. "Bagaimana kamu bisa masuk sini?" tanyanya dengan nada bergetar.
"Di ruang tengah ada pintu kan?" Ezra berusaha menjelaskan. "Aku masuk sini melalui pintu itu untuk menghindari polisi. Kamu sudah lihat kan kalau di depan mes sebelah ada mobil polisi?"
Perempuan itu menatap Ezra waspada, meskipun mimik ketakutan pada wajahnya tampak berkurang.
"Aku bukan orang jahat," ujar Ezra agar perempuan itu percaya.
"Beneran kamu kurir Eraneo?" Perempuan itu belum mempercayai Ezra sepenuhnya.
Ezra mengangguk. "Seragam dan jaketku ketinggalan di mes sebelah. Kalau kamu takut, aku akan ke ruang tengah saja."
Perempuan itu terus menatap Ezra dengan memasang kewaspadaan tingkat tinggi. Ezra mundur teratur menuju ruang tengah.
Sampai di ruang tengah ia duduk bersila di atas lantai. Kegelisahannya timbul kembali, mengingat kedatangan Anas dan rekan-rekannya.
Pikiran Ezra dipenuhi bayangan-bayangan buruk seandainya nanti Anas berhasil menemukannya. Ia curiga polisi itu mendatangi mes ini atas keterangan Rusli.
"Arrgghh!" Ezra mengacak-acak rambutnya sendiri. Setelah rambutnya berantakan ia menunduk dalam-dalam.
"Mas!"
Ezra menoleh. Perempuan itu berdiri tidak jauh darinya.
"Sepertinya mereka masuk ke dalam mes sebelah," beritahu perempuan itu.
"Bagaimana bisa?" Ezra merasa heran. "Sudah aku kunci pintu depannya."
Perempuan itu mematung, menatap Ezra dengan wajah tidak setakut sebelumnya.
"Apa mereka mendobrak pintunya?"
Perempuan itu menggeleng. "Aku nggak mendengar dobrakkan pintu."
Ezra langsung teringat Rusli. Ia curiga jangan-jangan anak itu membawa kunci serep saat meninggalkan mes itu. Dengan panik, ia merogoh saku celana, mengambil kunci. Setelah memeriksanya, ia baru sadar anak kunci pintu hilang satu. Ia yakin Rusli yang mengambilnya.
"Kenapa mereka mencarimu?" tanya perempuan itu masih dalam posisi berdiri.
"Aku nggak tahu," jawab Ezra. "Kalau boleh tahu siapa nama kamu?"
"Nawira."
"Kamu bekerja di Eraneo kan?"
Nawira mengangguk. Ia duduk di lantai, tetap menjaga jarak dengan Ezra.
"Sejak kapan?" tanya Ezra penasaran.
Nawira menelan ludah. Wajahnya seketika muram. "Delapan bulan."
"Lama juga ya?" komentar Ezra. "Kamu tinggal di sini?"
Nawira mendesah pelan. "Aku baru tadi malam dipindah ke sini."
"Oh pantesan aku baru melihatmu," ujar Ezra. "Sendirian?"
Nawira mengangguk.
"Sebelumnya tinggal di mana?"
"Sendangmulya."
Ezra mengernyit. "Iya, temenku pernah tinggal di Sindangmulya juga. Namanya Rusli. Kamu kenal?"
Nawira mengangguk.
"Kenapa kamu dipindah ke sini?"
Nawira menggeleng. "Aku nggak tahu, tapi semua yang tinggal sekosan denganku dipindah semua."
Ezra penasaran. "Yang lainnya dipindah ke mana?"
Nawira menggeleng.
"Kamu di sana berapa orang?"
"Delapan, termasuk aku."
Ezra mengangguk-angguk. Ia menduga Eraneo memindahkan semua karyawannya karena polisi sudah mulai mengendus kejahatan mereka. Tapi jika dugaannya benar, ia menjadi heran kenapa dirinya masih berada di mes ini. Bahkan Nawira pun dipindah ke sini.
"Kamu sebagai apa?" tanya Ezra.
"Kurir."
Ezra merasa iba kepada Nawira yang sudah terperangkap di Eraneo selama delapan bulan. Ia yang baru belasan hari saja sudah tidak tahan, apalagi delapan bulan.
"Kamu sudah tahu belum kalau manager kita ganti?" tanya Ezra.
Nawira mengernyit, kemudian menggeleng.
"Mulai hari ini Dian sudah nggak menjadi manager," beritahu Ezra.
Nawira mengeluh. "Padahal Mbak Dian sangat baik."
Dalam hati, Ezra sepakat dengan Nawira. Ia baru sadar kalau Dian baik setelah gadis itu pergi.
Nawira mengambil ponsel dari saku baju seragamnya. Ia memeriksa norifikasi. "Belum ada orderan masuk."
Ezra ikutan memeriksa notifikasi pada ponselnya. Ia melirik Nawira. "Sama, aku juga belum."
"Sudah hampir setengah tujuh padahal," ujar Nawira.
"Kebeneran malahan!" timpal Ezra. "Aku senang kalau tidak mendapatkan orderan. Kamu juga kan?"
Nawira tersenyum sambil mengangguk. "Kamu sudah makan?"
Ezra menggeleng. "Aku cuman minum teh hangat tadi."
"Aku masih punya nasi," ujar Nawira menawarkan. "Lauknya telor ceplok doang tapi."
Ezra tersenyum. "Kamu masak sendiri?"
Nawira mengangguk.
"Aku biasanya makan di warung," ujar Ezra.
"Kalau mau, aku akan siapkan sarapan buat kamu." Nawira mengerjap.
Meskipun selera makannya sedang buruk, tapi Ezra merasa tidak enak untuk menolak niat baik Nawira.
"Gimana?" Nawira memastikan.
Terpaksa Ezra mengangguk. "Asal enggak merepotkan kamu saja."
"Enggaklah!" Nawira bangkit dari duduk. Ia berjalan menuju dapur.
Ezra menarik napas dalam-dalam. Dalam situasi menegangkan seperti sekarang ini, ia masih bersyukur karena bertemu Nawira. Paling tidak sekarang ia punya teman lagi yang senasib.
Sambil menunggu Nawira menyiapkan sarapan untuknya, Ezra beranjak ke ruang depan. Hati-hati, ia mengintip keluar. Mobil itu masih ada. Tiba-tiba terbersit kecemasan kalau-kalau mereka menemukan pintu rahasia. Kalau Rusli mengetahuinya, pasti anak itu akan memberitahukan kepada polisi, begitu pikir Ezra.
Seingat Ezra, Rusli hanya pernah membahas soal kamera tersembunyi saja. Ia berharap anak itu tidak akan pernah tahu soal lemari rahasia.
Sebuah telapak tangan mendarat di bahu Ezra. Ezra menoleh kaget.
"Astaga, Nawira, kamu ngagetin saja!" keluh Ezra. Jantungnya sempat berdetak kencang tadi.
"Sarapannya sudah siap," beritahu Nawira. Selepas mengatakan itu, ia kembali ke ruang tengah.
Ezra mengekor Nawira. Di ruang tengah, sebuah piring berisi nasi, telur ceplok, sambal, kerupuk, dan segelas air telah menunggunya.
"Sarapan dulu!" Nawira duduk menyandar dinding.
Ezra duduk di sebelah Nawira. Ia mengambil piring dan menyisihkan sendok. "Aku terbiasa makan pakai tangan."
Nawira mengangguk paham.
Ezra mulai menyantap sarapannya. Selera makannya yang tadinya buruk, perlahan membaik karena perasaannya sedikit lebih tenang, juga karena ternyata sambal terasi bikinan Nawira enak dan pedas.
Nawira memandang pintu rahasia. "Jadi kalau membuka pintu itu kita akan ke mes sebelah?"
Sambil mengunyah, Ezra mengangguk. "Tapi nggak bisa langsung. Begitu membuka pintu, ada lemari yang menghalangi. Kita harus menggesernya dulu."
"Kenapa lemarinya menghadang pintu?" Nawira belum paham.
"Dari mes sebelah, itu pintu rahasia, makanya ditutupi lemari." Ezra menjelaskan. "Sepertinya polisi-polisi itu belum menemukannya. Kalau sudah, pasti mereka sudah mendobraknya."
"Aku takut polisi itu masuk mes ini." Nawira gelisah.
"Mereka nggak bisa sembarangan memasuki tempat pribadi orang. Jadi kamu nggak usah takut." Ezra mencoba menenangkan hati Nawira.
"Tapi mereka memasuki mes kamu tanpa izin!"
"Itu karena aku menjadi target. Kalau kamu kan enggak, makanya mereka tidak mengusikmu."
"Kalau mereka meminta izin buat memeriksa mes ini gimana!"
"Aku akan sembunyi."
"Di mana?"
Ezra berpikir. Kalau bersembunyi, polisi pasti akan menemukannya. Cara terbaik adalah kabur. "Di mes ini ada pintu belakang nggak?"
Nawira menggeleng. "Tapi ada sebuah tangga menuju plafon di ruang belakang."
"Aku ingin melihatnya!" Ezra mempercepat makannya. Ia menghabiskan sisa nasi di atas piring dengan tergesa-gesa. Selepas meneguk habis isi gelasnya, ia bangkit menuju ruang belakang.
"Kamu mau apa?" Nawira penasaran.
Ezra menoleh. Alih-alih menjawab pertanyaan Nawira, Ia memberikan ponsel kepada gadis itu. "Tolong ketik nomor ponsel kamu di sini, lalu simpan."
Nawira menurut saja. Ia menyimpan kontaknya pada ponsel Ezra, lalu mengembalikannya.
"Terima kasih," ucap Ezra. Ia menatap Nawira. "Aku mau pindah dari sini. Kamu mau ikut?"
Nawira bimbang. "Ke mana?"
"Belum tahu, yang penting pergi dulu dari sini," ujar Ezra.
Nawira berpikir, mempertimbangkan ajakan Ezra.
Ezra berkeliling ruang belakang. Di pojok dapur, ada sebuah tangga lipat yang mengarah ke sebuah lubang pada plafon. Ia segera memanjatnya. Sampai di atas, ia bingung karena tidak ada celah baginya untuk keluar. Atap mes tersusun dari asbes. Kalau genting, pasti ia akan menggesernya agar bisa keluar.
Terlanjur di atas, Ezra sekalian saja masuk ke atas plafon. Ia berjalan dengan memijak rangka plafon yang terbuat dari kayu. Ia mencari celah yang sekiranya bisa dijadikan cara untuk melarikan diri. Sampailah ia ke pojokan yang berada persis di atas kamar mandi mes sebelah. Ezra tersenyum senang karena ia baru saja punya ide.
Sementara itu di bawah, Anas mengetuk pintu mes Nawira.
"Permisi! Kami dari kepolisian!"
Nawira menjadi gelisah. Ia segera menyingkirkan piring dan gelas ke washtafle.
Tok! Tok!
Terinspirasi dari lemari yang menutupi pintu rahasia di mes sebelah, Nawira segera menggeser lemarinya untuk menutupi pintu itu. Beruntung lemarinya terbuat dari bahan plastik sehingga ia tidak terlalu kesulitan untuk melakukannya.
Tok! Tok!
Nawira menarik napas dalam-dalam. Dengan menguatkan hati, ia ke ruang depan dan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Anas dan dua orang lainnya memusatkan pandangan ke arah Nawira.
"Selamat pagi!" ucap Anas. Pandangannya menyisir penampilan Nawira.
"Selamat pagi, Pak," jawab Nawira gugup.
"Kami dari kepolisian, ingin bertanya kepada mbak." Anas tersenyum agar Nawira tidak tampak ketakutan. "Kami minta waktunya sebentar, boleh?"
Nawira mengangguk. "Boleh."
"Mbak tahu di mana penghuni rumah di sebelah?" tanya Anas.
Nawira menggeleng bohong. "Enggak tahu, Pak."
Anas mengerjap. "Mbak yakin?"
Nawira mengangguk. "Iya."
"Saya harap mbak jujur kepada kami."
Nawira menelan ludah.
"Kami dari kepolisian sedang mencari orang bernama Ezra Ardika. Mbak kenal kan?" selidik Anas.
Nawira menggeleng. "Enggak, Pak."
Dahi Anas mengernyit. "Saya tahu mbak satu perusahaan dengan Ezra. Seragam kalian sama. Tempat tinggal kalian juga bersebelahan. Bagaimana mungkin mbak nggak kenal Ezra?"
"Saya baru pindah ke sini semalam. Saya belum tahu siapa penghuni rumah sebelah."
"Mbak nggak kenal Ezra?"
Nawira menggeleng. "Enggak, Pak."
"Kedengarannya mustahil," sergah Anas. "Bukannya kalian satu perusahaan?"
Nawira mengangguk, semakin gugup. "Dulu saya tidak tinggal di sini. Mungkin Ezra orang baru. Jadi saya nggak mengenalnya, Pak."
Anas mendesah. "Saya menangkap kegugupan mbak. Sepertinya mbak menyembunyikan sesuatu."
"Enggak ada, Pak." Nawira berkeringat. Dalam hati ia berdoa agar ketiga polisi di depannya segera pergi.
"Kalau benar mbak tidak menyembunyikan sesuatu pasti nggak keberatan kan kalau kami memeriksa rumah ini?" Anas mengerjap.
Terpaksa Nawira mengangguk. "Iya."
"Iya itu berarti mbak mempersilakan kami memeriksa rumah ini?" Anas memastikan.
"Iya, silakan!" Nawira membuka pintu lebar-lebar.
"Permisi, kami masuk ya?" Anas memasuki mes, diikuti kedua rekannya.
Nawira mengekor ketiga polisi itu. Ia berharap mereka tidak tahu kalau Ezra bersembunyi di atas plafon.
Anas meminta kedua rekannya untuk berpencar. Mereka memeriksa seluruh ruangan, bahkan membuka lemari.
Ketika Anas menuju ke ruang belakang, Nawira berdebar-debar, takut polisi itu tahu kalau Ezra bersembunyi di atas plafon dengan cara menaiki tangga lipat. Ia menyusul Anas.
"Itu lubang apa?" tunjuk Anas ke sebuah lubang pada plafon.
Nawira merasa lega karena tangga di bawah lubang itu sudah tidak ada. Ia yakin Ezra telah mengangkatnya dan menyembunyikannya di atas. "Nggak tahu, Pak. Mungkin lubang kontrol."
Anas memperhatikan lubang itu dengan teliti. "Kalau itu lubang kontrol, lalu tangganya di mana?"
"Saya nggak melihat ada tangga di sini," jawab Nawira.
Anas menuju pojokan. Ia mendongak ke arah lubang di atasnya. Sejurus kemudian ia menoleh kepada Nawira. "Yakin kalau kamu tidak tahu ada tangga di rumah ini?"
Nawira mengangguk. "Yakin, Pak."
Anas tidak mempercayai pengakuan Nawira begitu saja. Ia terus memperhatikan lubang plafon itu dan memeriksa area di bawahnya.
Setelah memeriksa selama hampir lima menit, Anas dan kedua rekannya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Terpaksa mereka pamitan kepada Nawira.
"Kalau bertemu Ezra harap menghubungi kepolisian terdekat," pinta Anas ketika ia dan rekannya berada di teras, bersiap untuk pergi.
"Baik, Pak."
"Terima kasih atas izinnya kepada kami untuk memeriksa rumah ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya."
Nawira mengangguk.
Ketiga polisi itu kembali ke mobil. Nawira menarik napas lega. Ia menutup pintu kembali lalu bergegas ke ruang tengah untuk memasukkan baju dan barang-barangnya ke dalam tas. Jika sewaktu-waktu, Ezra mengajaknya pergi, ia telah siap.