Pukul 17:29 wib. Dengan mengenakan sarung dan baju koko, Ezra berdiam diri di serambi mushola. Sudah lima belas menit yang lalu ia berada di sini. Dari tempatnya duduk bersila, ia bisa tahu jika nanti Ono datang ke kosan Gina.
Tadi ia sengaja memarkir sepeda motornya di dekat lapangan tenis. Di sana sedang ramai orang-orang menonton pertandingan tenis. Untuk menuju ke mushola ini, tadi ia berjalan kaki.
Demi agar Gina tidak lagi bertanya padanya soal Eraneo, terpaksa Ezra akan melakukan sesuatu yang cukup berbahaya. Mengempesi ban sepeda motor orang adalah tindakan yang memacu adrenalin. Jika ketahuan, resikonya ia bisa babak belur dihakimi masa. Namun, ia sudah bertekad untuk melakukannya.
Ono belum juga tampak. Ezra menjadi gelisah. Tiba-tiba ia teringat sebuah kertas di saku jaketnya. Seharusnya tadi ia mengambilnya waktu masuk kamar mandi mes. Namun karena benaknya dipenuhi rencana untuk menolong Gina, akhirnya ia lupa.
Terdengar bunyi mesin sepeda motor mendekat. Ezra bersiap. Namun ketika sepeda motor itu masuk parkiran kosan Gina, ternyata bukan Ono. Pengendaranya seorang perempuan yang tetap duduk di atas jok sepeda motornya.
Ezra menjadi gelisah karena jika perempuan itu masih berada di sana, ia akan kesulitan untuk melakukan aksinya. Ia harus mencari cara agar perempuan itu pergi dari sana.
Belum sempat Ezra berpikir, tiba-tiba Ono datang. Ono memarkirkan sepeda motornya di sebelah sepeda motor perempuan itu kemudian langsung bergegas menuju kosan Gina.
Ezra semakin gelisah. Rencananya, ia akan langsung beraksi begitu Ono sampai di teras kosan Gina. Ia melihat, lelaki itu sedang duduk di teras, namun ia bimbang untuk beraksi sekarang karena ada orang di parkiran.
Ezra heran, sebenarnya apa mau perempuan itu? Kenapa hanya duduk-duduk di atas sepeda motor? Apa yang dilakukannya di sana?
Jika Ezra semakin lama hanya berdiam saja, maka kesempatannya bisa hilang. Maka itu ia segera bangkit dan bergegas ke parkiran. Apa pun yang akan terjadi, ia harus tetap beraksi sekarang.
Begitu sampai di parkiran, Ezra melihat perempuan itu tampak sedang sibuk mainan ponsel sambil mengenakan headset. Ini kesempatan baginya untuk beraksi. Ia mendekati roda belakang sepeda motor Ono. Dengan gerakan cepat ia menusukkan pisau kecil yang telah disiapkannya kemudian mencabutnya lagi. Pssshhhh! Angin mendesak keluar melalui lubang bekas tusukan paku.
Selesai beraksi, Ezra segera beranjak dari tempat itu dan kembali ke serambi mushola dengan santai, seolah-olah tidak merasa berdosa.
Begitu sampai di teras mushola, Ezra menarik napas lega. Ia bersyukur perempuan itu mengenakan headset sambil mainan ponsel, sehingga tampaknya tidak menyadari aksi yang dilakukannya tadi.
Dari serambi mushola, Ezra terus memantau situasi. Ia melihat perempuan itu menyalakan mesin sepeda motornya. Ezra tidak habis pikir apa sebenarnya tujuan perempuan itu ke parkiran?
Perhatian Ezra teralihkan ke arah teras ketika melihat Gina keluar kosan. Tampak Ono mencegatnya, namun usahanya gagal karena Gina terus berjalan mengabaikan Ono.
Ono menarik lengan Gina membuat langkah gadis itu tertahan. Selanjutnya Ezra melihat keduanya tampak sedang berdebat selama beberapa detik. Perdebatan berakhir ketika Gina berhasil meloloskan diri dari hadangan Ono.
Setengah berlari, Gina menuju parkiran. Gadis itu langsung membonceng sepeda motor milik perempuan yang sejak tadi berada di parkiran. Mereka tancap gas, meninggalkan are kosan.
Ono tampak mencoba mengejar Gina. Ia menyalakan mesin sepeda motor. Namun baru berjalan beberapa meter, ia baru menyadari ban belakangnya kehabisan angin.
Dengan kesal, Ono turun dari sepeda motor dan menendang ban belakangnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar.
Ezra membungkukkan badan agar tidak terlihat Ono. Ia tidak bergerak selama beberapa saat. Setelah merasa aman, ia mengintip ke arah parkiran. Ia merasa lega ketika tidak melihat keberadaan Ono di sekitar sana.
Dalam hati Ezra merasa kagum dengan taktik Gina yang berhasil lolos dari Ono. Gadis itu telah menyiapkan dua bantuan, yaitu dirinya yang bertugas menghambat Ono dan teman perempuan yang dipersiapkan untuk membantunya melarikan diri.
Pukul 18:23 di mes, Ezra baru saja memasukkan sepeda motornya ke ruang depan. Setelah mengunci pintu, ia langsung menuju kamar mandi masih dengan mengenakan helm dan jaket. Sengaja ia melakukan itu agar pengawas mengira ia sedang kebelet pipis.
Di dalam kamar mandi, Ezra memeriksa ke dinding bagian atas, memastikan tidak ada kamera tersembunyi. Setelah merasa aman, ia merogoh saku jaket, mengeluarkan lipatan kertas. Dibukanya lipatan tersebut. Dahinya mengernyit membaca tulisan tangan pada kertas tersebut.
Pada baris pertama, tertulis kata HAFALKAN LALU HANCURKAN KERTAS INI. Pada baris kedua tertulis sebuah tautan web. Sedangkan di baris ketiga, tertulis sebuah kata sandi kombinasi huruf dan angka sebanyak delapan karakter yang cukup sulit diingat.
Butuh waktu sekitar lima menit bagi Ezra untuk menghafal semuanya. Yang paling lama adalah menghafal tautan webnya. Setelah yakin tidak akan lupa, ia membuang kertas itu ke dalam lubang kloset dan menyiramnya.
Ezra keluar kamar mandi sambil tetap mengingat-ingat isi kertas itu. Sebenarnya ia penasaran siapa sebenarnya yang memasukkan kertas itu ke dalam saku jaketnya dan apa motifnya? Ia curiga kepada Dian, tapi ia tidak ingin memikirkannya karena saat ini yang penting baginya adalah jangan sampai lupa tautan web dan kata sandinya. Ia punya firasat itu akan sangat berguna nanti.
Ezra melepas helm dan jaket. Badannya sangat lelah, ia rebahan di atas kasur. Dipejamkan matanya sambil terus mengingat tautan dan kata sandinya. Ia berharap itu akan membuatnya mengantuk dan tidur pulas.
Kesadaran Ezra berkurang secara perlahan. Ia sempat tertidur selama beberapa detik sampai bunyi nada dering mengagetkannya.
Reflek Ezra meraba saku celana, mengambil ponsel. Dengan mata masih mengantuk, ia menerima panggilan telepon tanpa memastikan siapa pemanggilnya lebih dahulu.
"Halo!" ucap Ezra seperti orang mengigau. Suaranya tidak begitu jelas.
"Ezra, ini Gina."
Ezra terkesiap. Ia kaget mendengar suara Gina. Seketika rasa kantuknya teralihkan. "Bagaimana kamu bisa tahu nomor ini?"
"Aku polisi, ingat?" Gina terkekeh.
Ezra bangkit dari rebahan. Ia duduk bersila. "Oke, pasti mudah bagimu mendapatkan nomorku."
"Aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membantuku melepaskan diri dari Ono," ucap Gina.
"Iya, sama-sama."
"Aku sudah nggak akan ngekos di sana lagi. Sekarang aku sudah berada di tempat yang baru."
"Belum dua minggu kamu sudah pindah kos dua kali. Hehehe!"
Gina terkekeh. "Resiko pekerjaan, Ez."
"Jadi kita sepakat kan?"
"Iya, aku sudah nggak akan bertanya lagi soal perusahaanmu itu." Gina terkekeh sumbang. "Bahkan mungkin kita nggak akan bertemu lagi."
Ezra kaget. "Kenapa?"
"Aku akan ditarik ke pusat."
Ezra terdiam. Ada perasaan kehilangan dalam hati, ia tidak tahu kenapa. Yang pasti ia sadar itu kehilangan sebagai seorang sahabat, tidak lebih dari itu.
Di mata Ezra, Gina adalah teman yang menyenangkan dan selalu perhatian.
"Kok diem?" tegur Gina.
"Mungkin aku kelelahan," dalih Ezra.
"Begitu ya?"
"Iya."
Suasana hening, hanya terdengar desah napas di antara Ezra dan Gina.
Terdengar Gina terbatuk.
"Kamu sakit?"
"Nggak kok, cuman agak gatal tenggorokanku."
"Ya sudah kamu istirahat saja."
"Iya, ini lagi rebahan."
Ezra diam.
Gina berdeham.
Suasana kembali sunyi.
"Ezra!"
"Iya, kenapa?"
"Jika kita enggak bertemu lagi, aku pengen kamu tahu kalau aku sangat beruntung mengenalmu meskipun cuman beberapa hari saja," ucap Gina melankolis.
"Kamu berlebihan, Gina," sanggah Ezra. "Aku nggak melakukan atau memberikan sesuatu yang berarti buat kamu."
"Nanti kamu akan tahu maksud kata-kataku tadi," potong Gina.
"Kata-katamu mengerikan!"
Gina terkekeh. "Mengerikan bagaimana?"
"Seolah kamu akan pergi dan kecil kemungkinan akan bertemu aku lagi," ungkap Ezra.
Gina terdiam.
"Ada apa, Gina?" Ezra cemas.
"Sejujurnya, aku memang nggak akan menelepon kamu lagi."
Ezra terdiam. Ada perasaan sedih terselip dalam hatinya. "Kenapa?"
"Bukannya kamu nggak boleh berkomunikasi dengan pihak luar ya?"
"Kamu pengecualian!" sergah Ezra. "Dian yang mengatakannya sama aku."
"Tapi Dian sudah bukan manager kamu lagi."
Ezra kaget. "Bagaimana kamu bisa tahu?"
Gina mendesah pelan. "Aku banyak tahu soal perusahaanmu."
Ezra terdiam. Ia menyadari bahwa Gina seorang polisi, sehingga wajar kalau gadis itu mengetahui beberapa rahasia Eraneo.
"Apa kamu juga tahu tentang latar belakangku?" Ezra cemas.
"Iya."
Deg! Ezra menjadi gelisah.
"Kamu masuk Eraneo bukan hanya karena butuh pekerjaan tapi karena kamu punya misi."
Ezra menelan ludah. Ternyata Gina mengetahui tentang dirinya sejauh itu.
"Kamu sedang mencari jejak Septi Nofiasari bukan?"
Ezra bungkam.
"Kamu nggak perlu menjawabnya. Aku sudah tahu semuanya."
Ezra memejamkan mata kuat-kuat. Ada perasaan, malu, bersalah, sekaligus takut karena selama ini ia menyembunyikan itu semua dari Gina. Ia terpaksa melakukannya karena tidak mau mendapatkan hukuman dari Eraneo.
"Ya sudah, aku paham posisimu kok," ujar Gina. "Lagipula tanpa kamu berterus terang pun, kami masih punya sumber informasi lain."
Ezra merasa terpojok. Ia harus mengalihkan topik segera. "Kalau boleh tahu kamu sekarang berada di mana?"
Gina terkekeh kecil. "Kamu mencemaskanku?"
Ezra diam.
"Aku akan baik-baik saja. Semoga kamu juga begitu," ujar Gina. "Mmhh, sudah ya? Ada yang harus aku kerjakan. Bye, Ezra!"
"Semoga kita akan bertemu lagi," ucap Ezra lirih.
Selepas teleponan dengan Gina, Ezra merasakan seperti ada sesuatu yang hilang dalam hatinya. Tadi siang Dian pamit karena sudah tidak lagi menjadi manager dan mengemukakan bahwa dirinya belum tahu akan dipindahkan ke mana. Malam ini Gina pun akan ditarik ke pusat dan mengemukakan bahwa tidak akan meneleponnya lagi.