Wajah Dian tampak lusuh ketika Ezra datang.
Ezra duduk di hadapan meja Dian. "Ada apa memanggilku?"
Alih-alih menjawab, Dian mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.
Ezra sabar menunggu jawaban Dian. Lagipula ia butuh istirahat lebih lama setelah tadi jam istirahatnya terbuang banyak.
"Besok akan ada manager baru," beritahu Dian.
Ezra kaget. Biasanya ia tidak peduli kepada Dian, tapi kali ini ia merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya. "Terus kamu akan ke mana?"
Dian menggeleng lemah. "Aku belum tahu akan dipindah ke mana."
Ezra menelan ludah. Ada sesuatu yang menyesakkan hatinya.
"Pemimpin besar mengundangku ke sebuah tempat. Di sana nanti aku baru akan tahu nasibku." Dian mencoba tersenyum.
Serta merta Ezra teringat dengan beberapa paragraf akhir dari cerbung Perangkap Maut. Di sana dinarasikan bahwa pemimpin besar meminta Mura untuk menemuinya di sebuah hotel. Tokoh Mura merasa takut, kalau-kalau pemimpin besar akan membongkar semua rencananya Jika itu terjadi, maka kemungkinan besar tokoh Mura akan ditembak mati.
"Aku harap kamu mau bersikap baik kepada manager penggantiku agar kamu tidak mendapatkan masalah," pinta Dian. "Kamu harus menyadari bahwa posisi manager dan kurir itu sama, hanya beda gaji dan tekanan. Kamu paham maksudku?"
Ezra mengangguk. Ia paham maksud Dian bahwa manager dan kurir sama-sama tidak ingin berada dalam perangkap sindikat mafia.
Dian membuka laci, mengambil sebuah benda berbentuk kubus yang setiap sisinya memiliki warna berbeda. Ia meletakkannya ke atas meja. "Kamu pasti tidak asing dengan alat mainan ini."
Ezra terbelalak. "itu rubik kubus!"
Dian mengangguk. "Ini milik Septi Nofiasari, orang yang menjadi alasanmu masuk Eraneo. Hampir dua tahun rubik itu berada di dalam laci ini."
"Terus Septi ke mana?" tanya Ezra penasaran.
Dian menatap tajam Ezra. "Pemimpin Eraneo cabang Semarang tahu apa motivasimu masuk ke sini. Aku sudah pernah mengatakan itu padamu beberapa hari lalu. Mereka tahu kamu masih berusaha mencari jejak keberadaan Septi. Namun, tampaknya kamu tidak terindikasi membahayakan Eraneo karena sampai sekarang kamu masih bisa menjaga rahasia."
Ezra menelan ludah. Ia masih menjaga rahasia Eraneo bukan karena patuh, tapi semata-mata karena takut mendapatkan hukuman.
"Aku memohon kepada pemimpin cabang agar diberi izin untuk menitipkan rubik kubus ini kepadamu," beritahu Dian. "Beliau mengizinkan dengan syarat kamu tetap bersikap baik dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh."
Ezra bingung. "Kenapa harus aku?"
Dian menatap Ezra teduh. "Karena kamu bisa dipercaya."
Ezra terkekeh. "Aku nggak kenal Septi. Lalu buat apa aku menyimpan benda miliknya?"
Dian memajukan badan. "Kamu punya niat mulia untuk menemukan jejak Septi, padahal kamu nggak pernah mengenalnya. Sehingga kamu diberi kehormatan untuk menyimpan benda miliknya."
"Aku lebih suka menemukan Septi ketimbang mendapatkan kehormatan untuk menyimpan benda kesayangannya itu," sergah Ezra.
Dian tersenyum masam. "Kamu nggak bisa berbuat banyak untuk meneruskan penyelidikanmu. Meskipun begitu, silakan lakukan agar kamu terus memiliki harapan. Pesanku, jangan pernah berani macam-macam. Kamu sudah tahu resikonya."
Ezra mengambil rubik dari atas meja. Ia memainkannya sebentar, sehingga warnanya menjadi berantakan. "Kamu menyimpan ini atas dasar apa?"
Dian diam.
Ezra memajukan kepalanya lebih mendekat kepada Dian. "Apa Septi sendiri yang menitipkannya kepadamu?"
Dian tetap diam.
"Kamu mengenal Septi bukan?"
Dian mendengus. "Stop bertanya tentang Septi atau kamu akan ditegur pengawas!"
"Aku hanya ingin tahu apakah Septi masih hidup atau tidak!" tegas Ezra.
"Buat apa?" gugat Dian. "Setelah kamu tahu, apakah kamu akan memberitahu Alika atau orang tuanya? Kamu bisa dihukum jika berani melakukan itu!"
"Aku siap menanggung resikonya!" Ezra menegakkan badan.
Dian mendengus. Ia menunduk dalam-dalam. Sejurus kemudian ia menatap Ezra tajam. "Eraneo bisa saja menghukummu karena kamu masih bersikeras untuk menemukan Septi, tapi mereka nggak melakukannya. Mereka hanya memastikan kamu tetap bersikap sesuai keinginan mereka. Jadi saranku, jangan pernah berani-berani membuat mereka marah."
Ezra terkekeh sumbang. "Kalian aneh! Aku dibiarkan mencari tahu keberadaan Septi, bukankah itu membahayakan Eraneo? Karena setelah berhasil menemukan Septi, aku pasti akan melakukan sesuatu agar ayahnya senang mendapatkan kabar bahwa anak semata wayangnya masih hidup."
Dian termenung, menatap Ezra sambil berkaca-kaca. "Kamu pernah bertemu ayahnya Septi?"
"Iya."
"Bagaimana kabarnya?"
Ezra mengernyit. "Kenapa kamu menanyakan itu?"
Dian mendesah panjang. "Aku juga kangen dengan orang tuaku."
Ezra terdiam. Ia pun kangen dengan kedua orang tuanya. Beberapa detik kemudian ia menatap Dian. "Kalau kamu bertemu Septi, tolong kabarkan padanya bahwa ayahnya baik-baik saja."
Air mata Dian mengalir. Ia mengangguk kepada Ezra.
"Kamu mengangguk, apa itu berarti Septi masih hidup?"
Dian menyeka air matanya. "Sudahlah, Ez. Kita bahas yang lain saja!"
Ezra menarik napas dalam-dalam. "Jadi kamu memanggilku hanya ingin menitipkan rubik Septi kepadaku?"
Dian mengangguk sambil menyeka air pada lubang hidungnya.
"Oke, aku akan jaga rubik kubus ini." Ezra memasukkan rubik pada saku jaket.
"Aku minta maaf jika punya salah sama kamu," ucap Dian sendu.
Ezra terpana mendengar ucapan Dian. "Kamu berkata begitu seolah ini akan menjadi pertemuan terakhir kita."
Dian membuang muka. Ezra menjadi menebak-nebak sesuatu yang berat sedang membebani hati gadis itu.
Suasana menjadi hening selama beberapa detik.
"Kamu boleh pergi!" ucap Dian memecah kesunyian.
Ezra masih saja malas beranjak dari kursinya. Tiba-tiba ia merasa kehilangan Dian, padahal gadis itu masih ada di depannya. Ada perasaan cemas, kalau-kalau hal buruk akan menimpa managernya itu.
"Kamu nggak dengar ucapanku tadi?" hardik Dian.
Ezra menatap Dian sendu. "Aku akan merindukan manager menyebalkan sepertimu."
Dian membuang muka.
"Aku memafkanmu," ucap Ezra. "Maafkan juga atas semua sikap burukku sama kamu selama ini."
Dian menoleh. "Iya."
Meski berat, Ezra akhirnya berdiri. "Aku harap kita bisa bertemu lagi." Ia berlalu dari hadapan Dian.
Dian memandang punggung Ezra yang semakin menjauh dengan perasaan campur aduk. Setelah kurir itu keluar ruangan, Dian mengucapkan sebuah kata dengan sangat lirih. "Aamiin."
Di luar kantor, Ezra berjalan gontai. Hatinya sedih mengingat Dian akan pergi. Ia menyesali sikapnya selama ini kepada managernya itu.
Ezra menuruni undak-undakan gedung. Ia berjalan malas menuju parkiran. Sampai di dekat sepeda motornya, ia melihat Ono sedang memandangnya dari kejauhan.
"Astaga!" keluh Ezra. Ia gelisah, takut lelaki itu akan melakukan sesuatu kepadanya.
Ezra mengenakan helm. Dengan buru-buru, ia segera menyalakan mesin sepeda motor dan bergegas dari lokasi parkir.
Apa yang Ezra takutkan akhirnya terjadi. Baru saja sepeda motornya berada di jalan raya, Ono tahu-tahu mencegatnya dengan cara memalangkan sepeda motornya.
"Berhenti!" Ono turun dari sepeda motornya. Ia mendekati Ezra. "Kamu sudah ketemu Regina?"
Ezra mengangguk malas.
"Sudah kamu sampaikan pesanku padanya?"
Ezra kembali mengangguk.
"Apa katanya?"
"Gina nggak komentar apa-apa!" Ezra turun dari jok dan memundurkan sepeda motornya agar punya ruang untuk menghindari Ono.
Buru-buru Ono mencekal setang stir sepeda motor Ezra. "Kita akan bertemu lagi di tempat yang akan membuatmu menyesal karena enggak kooperatif padaku."
Ezra menyeringai. "Hanya orang lemah yang mengancam orang lain!"
Ono diam sambil tetap menatap tajam Ezra.
"Biarkan aku pergi!" hardik Ezra.
Ono melepaskan tangan dari setang stir sepeda motor Ezra. "Ingat, Ezra, jangan pernah mempercayai Regina! Kamu akan menyesal nanti!"
Ezra berlagak seolah tidak mendengarkan ucapan Ono. Ia tancap gas, meninggalkan lelaki itu.