Penawaran Menarik

1535 Kata
Jam istirahat Ezra tersisa kurang dari setengah jam. Ia harus sholat zuhur dulu, baru makan siang. Di dekat kosan Gina ada sebuah mushola. Ia segera menuju ke sana. Baru saja Ezra memarkir sepeda motornya, seorang lelaki berbadan tegap mendekatinya. "Ezra, aku mau tanya sama kamu!" ujar lelaki itu. Ezra yang sedang menyampirkan jaket ke atas setang stir, kaget karena orang itu mengetahui namanya. Lebih terkejut lagi setelah sadar kalau orang itu adalah lelaki berkalung dengan liontin huruf R yang pernah ia lihat di depan kosan Gina, malam minggu kemarin. Ezra waspada. "Tanya apa ya?" Lelaki itu menatap Ezra penuh selidik. "Di mana Regina?" Meski yakin siapa yang dimaksudkan lelaki itu, tapi Ezra harus memastikan dulu. "Regina siapa?" Lelaki itu menatap Ezra tajam. "Regina yang malam minggu lalu mau kamu temui di kosan." "Gina maksudnya?" "Iya." Ezra tersenyum. "Aku nggak tahu di mana Gina. Coba mas cari saja di kantornya atau di kosannya." Lelaki itu mendengus. "Kamu pasti tahu di mana Regina!" Ezra terkekeh geli. "Mas, aku memang kenal Gina, tapi bukan berarti aku selalu tahu ia sedang berada di mana saja. Tempat tinggal kami berjauhan." Lelaki itu terus menghunus tatapan penuh selidik. "Kamu dekat kan sama Regina?" Ezra mulai kesal dengan sikap lelaki itu. "Kalau boleh tahu, mas ini siapa ya?" Lelaki itu diam, masih menatap tajam kepada Ezra. "Jawab saja pertanyaanku, di mana Regina?" Kesabaran Ezra mulai sulit ditahan. "Aku sudah menjawabnya tadi." Lelaki itu mendengus. "Tolong kooperatif." Kesabaran Ezra sudah sulit ditahan. Ia mendengus sambil balas menatap lelaki itu. "Aku sudah kooperatif sejak tadi. Kamu saja yang cenderung nggak mempercayaiku. Jadi terserah kamulah. Aku ada urusan lain!" Ia bermaksud meninggalkan lelaki itu. Lelaki itu mendaratkan telapak tangan ke pundak Ezra. "Kamu boleh menyembunyikan Regina, tapi kami akan terus mengawasi kalian. Sampaikan padanya sebelum maghrib aku akan ke kosannya. Ia harus menemuiku!" Ezra melepaskan telapak tangan lelaki itu. Sambil menatap tajam, ia menjauhi lelaki itu dan beranjak menuju mushola. Ezra telah kehilangan cukup banyak waktu istirahatnya. Sehingga ia mempercepat gerakan sholatnya. Selesai sholat zuhur, ia berzikir sambil berjalan meninggalkan mushola. Ketika menyalakan mesin sepeda motor, ia sudah tidak mendapati lelaki itu. Ia pun segera meninggalkan area itu, khawatir lelaki itu muncul lagi. Jam istirahat Ezra tinggal sepuluh menit lagi ketika ia sampai di kantin dekat kantor Eraneo. Ia langsung membeli segelas teh hangat dan sebungkus roti.  Ezra duduk di pojok kantin. Dengan terburu-buru ia menghabiskan roti dan meneguk tehnya.  "Ezra!" Ezra menoleh ke sumber suara. Gina tahu-tahu sudah duduk di sebelahnya.  "Tumben makan siang di kantin," tegur Gina. "Bukan makan siang, cuman ngemil roti sama minum teh." Ezra melirik arloji pada pergelangan tangan. Waktu istirahatnya tersisa beberapa menit lagi. Buru-buru ia meneguk habis sisa tehmya. "Segitu sibuknya ya sampai-sampai cuman sempet makan roti?" Alih-alih merespon ucapan Gina, Ezra menatap lekat-lekat gadis itu. "Tadi di dekat kosan kamu, ada seorang lelaki berpostur tinggi kekar menanyakanmu." Gina mengernyit. "Siapa?" "Orangnya pakai kalung dengan liontin berhuruf R." Wajah Gina sedikit pucat. "Terus kamu jawab apa?" "Ya, aku jawab saja nggak tahu," ujar Ezra. "Tapi lelaki itu nggak percaya dan memaksaku untuk memberitahukan keberadaanmu." Gina menelan ludah. Wajah cerianya seketika lenyap. "Siapa lelaki itu!" Ezra penasaran. "Kenapa ia tahu namaku?" Gina terdiam. "Siapa?" desak Ezra menyelidik. Gina mendesah tertahan. "Kalau aku jelaskan, kamu akan kaget mendengarnya. Lagipula waktu istirahatmu sebentat lagi habis." Ezra mengambil ponsel dari saku jaket. Ia melirik layar, memeriksa kalau-kalau ada orderan masuk. "Selama belum mendapatkan orderan, aku masih punya waktu bersantai di sini." Gina tampak gelisah. Selagi bertemu Gina, Ezra merasa harus mendapatkan informasi tentang lelaki itu. "Jelaskan saja sekarang, mumpung belum ada orderan masuk." Gina menatap Ezra bimbang. "Katakan saja!" desak Ezra. Gina mengedarkan pandangan ke sekitar. Suasana kantin sudah lengang, menyisakan dirinya, Ezra, dan dua orang lagi. Sejurus kemudian ia mendekatkan kepala ke arah Ezra. "Lelaki itu bernama Ono. Ia mantanku." "Mantan pacar?" Ezra memastikan. Gina mengangguk. "Kamu harus berhati-hati sama Ono." "Kenapa?" Gina berbisik. "Ono itu pengawas Eraneo!" Seketika sepasang bola mata Ezra terbelalak. Ia menatap Gina seolah tidak mempercayai ucapan gadis itu. Serta merta ia menjadi gelisah sekaligus heran kenapa Gina tahu kalau Eraneo punya pengawas. "Karena kamu tampaknya sangat penasaran, ya sudah aku jelaskan sekalian!" ujar Gina. Ezra diam. Ia harus berhati-hati dalam berucap karena ia curiga jangan-jangan benar bahwa Gina adalah polisi. "Sudah lama aku tahu ada yang tidak beres pada Eraneo. Aku menyelidikinya. Kesimpulanku sampai saat ini adalah, para kurir Eraneo mendapatkan pengawasan ketat. Itu sangat aneh. Buat apa coba kalian diawasi. Bukankah kalian bekerja sesuai sistem pada aplikasi?" Ini pembahasan yang selalu Ezra hindari. Ia merasa harus menyudahi obrolan ini. "Aku harus bekerja lagi!" Telapak tangan Gina mencekal lengan Ezra. "Kumohon beri waktu sebentar saja. Aku harus menyampaikan sesuatu sama kamu. Ini sangat penting!" Ingin sekali Ezra melepaskan cekalan tangan Gina, tapi ia tidak tega menyakiti perasaan gadis itu. Gina menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian menatap Ezra sambil berkata lirih. "Aku adalah polisi!" Ezra kaget bukan main. Meskipun ia sudah curiga tapi tetap saja pengakuan Gina membuatnya gelisah. "Dulu aku mendekati Ono demi memudahkan penyelidikan," beritahu Gina. "Sampai akhirnya ia bilang padaku bahwa ia sudah tahu kalau aku adalah seorang polisi. Tentu saja aku menyangkalnya." Ezra melepaskan cekalan Gina dengan halus. Ia tidak mau gadis itu tahu kalau tubuhnya sedikit gemetar karena gugup. "Ono nggak percaya begitu saja. Ia mendesakku agar mengakui bahwa aku adalah seorang polisi. Ia selalu mengikutiku. Maka itu aku selalu pindah kosan agar bisa menghindarinya." Gina mendesah pelan. Ezra ingat, ia beberapa kali memergoki Ono saat ia sedang bersama Gina. Pertama ketika ia makan malam bareng gadis itu di teras kosan Gina. Besoknya saat ia dan Gina sedang jalan pagi, ia juga mendapati Ono sedang menguntit mereka. Terakhir adalah malam minggu kemarin, ia bertemu gadis itu di teras kosan Gina. "Jadi sebenarnya, malam minggu kemarin kamu ada di kosan atau enggak?" Ezra curiga, Gina berbohong soal itu. Gina menunduk dengan ekspresi menyesal. "Malam minggu kemarin aku terpaksa bersembunyi di kamar kos dan meminta tolong ibu kos untuk menyampaikan kepada Ono bahwa aku nggak ada di kosan. Aku nggak mau konfrontasi dengan Ono." Ezra mendengus kecewa. Gina meraih telapak tangan Ezra. "Karena Ono masih ada di teras, nggak mungkin aku menemui kamu waktu itu. Nanti Ono tahu kalau aku bersembunyi dan membohonginya. Maafkan aku, Ezra. Aku tidak bermaksud membohongimu." Ezra bisa memahami alasan Gina. Bukan itu yang menggelisahkannya tapi karena sekarang ia sedang ngobrol dengan orang yang mengaku sebagai polisi. "Kamu marah?" Gina menatap Ezra dengan mimik merasa bersalah. Ezra menggeleng tanpa memandang Gina. "Tapi dari wajahmu aku bisa merasakan kalau kamu kecewa sama aku." Ezra menoleh. "Enggak kok. Aku cuman lelah saja." "Beneran?" Ezra mengangguk sambil memaksakan tersenyum. Gina tersenyum lega. "Makasih ya sudah memahamiku?" "Iya." Ezra mengusap layar, melihat penunjuk waktu. Sekarang pukul 13:19 wib. Dalam hati ia berdoa agar orderan segera masuk. Dengan begitu ia punya alasan untuk mengakhiri obrolan. "Oh iya, aku mau tanya," ujar Gina. Ezra mengerjap malas. Ia takut Gina akan bertanya-tanya soal Eraneo. "Selain menanyakanku, Ono bilang apa saja sama kamu?" tanya Gina penasaran. "Ia bilang akan mengawasiku dan kamu," jawab Ezra. "Ia juga menyuruhku agar menyampaikan sama kamu bahwa ia akan ke kosan kamu sebelum maghrib. Ia bilang kamu harus menemuinya." "Cuman itu?" Ezra mengangguk. Gina mendesah gelisah. "Boleh aku minta tolong sama kamu?" "Minta tolong apa?" Ezra berharap Gina tidak meminta tolong sesuatu yang berkaitan dengan Eraneo. Gina menatap Ezra penuh harap. "Tolong nanti sore kamu datang ke kosanku." Ezra mengernyit. "Ada apa?" "Kamu pasti tahu kan kalau antara area parkiran sepeda motor dan teras kosanku terhalang dinding?" Ezra mengangguk bingung. "Nah, aku minta kamu datang ke kosanku sebelum Ono datang. Begitu ia datang, tolong kempesin ban sepeda motornya." Gina menatap Ezra dengan ekspresi memohon. Ezra terperanjat. "Kalau ketahuan bisa habis aku!" "Aku yakin kamu bisa melakukannya," bujuk Gina. Ezra bimbang. "Tolong, Ez!" Gina mengusap telapak tangan Ezra. "Kalau kamu mau menolongku, aku janji nggak akan bertanya lagi soal Eraneo." Penawaran Gina membuat Ezra tertarik. "Janji?" Gina mengangguk sambil jarinya membentuk formasi huruf V. "Baiklah!" ujar Ezra tanpa mempertimbangkannya lebih jauh. Gina merasa senang. "Terima kasih, Ez!" "Memangnya kamu punya rencana apa?" Ezra penasaran. Gina tersenyum. "Maaf, itu urusan polisi." Ezra mengangguk paham. Ponsel Ezra berdering. Ia melirik layar, ternyata Dian meneleponnya. "Halo!" ucap Dian ketus. "Iya, ada apa?" "Aku sudah dengar percakapanmu dengan Gina. Sekarang kamu tahu kan kalau ia seorang polisi?" Ezra melirik Gina. "Iya." "Terus kenapa kamu mau membantunya?" "Aku punya alasan kuat. Nanti aku kasih tahu lewat WA." "Oke." Panggilan telepon berakhir. "Dian?" tanya Gina. Ezra mengangguk. Ia segera mengirim pesan lewat WA kepada Dian: Aku terpaksa mau menolong Gina karena ia janji nggak akan bertanya-tanya lagi soal Eraneo. Pesan Ezra langsung terbaca. Dian membalas: Oke, alasanmu diterima. Ezra tersenyum lega. "Ya sudah, aku ke kantor dulu ya?" Gina berdiri. Ia menatap Ezra. "Jangan lupa nanti sore sebelum maghrib." Ezra mengangguk. Ia merasa lega karena jika nanti ia berhasil menolong Gina, gadis itu tidak akan lagi bertanya soal Eraneo. Gina meninggalkan meja. Ezra bersiap untuk kembali bekerja. Belum sempat ia bangkit dari duduk, Dian kembali menelepon. "Ada apa lagi?" tanya Ezra sedikit kesal. "Ke kantor sekarang!" "Ada apa memangnya?" "Buruan!" Dian mengakhiri panggilan telepon. Ezra mendengus sambil beranjak dari tempat duduknya. Meskipun malas, ia harus memenuhi panggilan Dian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN