Rencana Mura

1952 Kata
Sebelum jam enam pagi, Ezra sudah berada di depan mading. Ia merasa lega ketika melihat episode tiga belum terbit. Itu berarti ia punya kesempatan untuk bertemu tim redaksi mading tersebut yang akan menerbitkan kelanjutan cerbung Perangkap Maut. Tidak mau percakapannya nanti dengan tim redaksi didengar pengawas Eraneo, Ezra sengaja meninggalkan ponsel di dalam saku jaket yang ia sampirkan pada setang sepeda motor. Sepeda motor itu ia parkir agak jauh, lebih dari tujuh meter jaraknya dengan mading. Hanya saja resikonya, ia tidak bisa mendengarkan nada notifikasi jika nanti ada orderan. Cukup lama Ezra menunggu tim redaksi datang untuk menerbitkan episode terbaru. Setelah menunggu hingga pukul 6:16 wib, akhirnya seorang lelaki seumuran dengannya mendekati mading sambil membawa dua lembar kertas. Ezra menebak, lelaki itu adalah salah satu tim redaksi. Ia pun mendekat lelaki itu yang sedang membuka kunci.  "Permisi, Mas." Ezra mengangguk ramah. "Saya Ezra, pembaca mading."  Lelaki itu tersenyum. "Saya Aan, redaktur mading ini. Semoga ada artikel yang Mas Ezra suka." Ia menggeser kaca. "Saya menyukai cerbungnya, Mas," ujar Ezra. Aan tersenyum senang. Ia melepas kertas berisi episode dua, kemudian menggantinya dengan episode tiga. Setelah itu ia menggeser kaca kembali dan menguncinya. "Silakan kalau ingin membaca kelanjutan episodenya," ujar Aan. "Terima kasih sudah memperbarui cerbungnya sepagi ini," ucap Ezra. "Sama-sama, Mas. Terima kasih juga sudah membaca mading kami." Sebelum Aan berlalu, Ezra segera mengungkapkan maksud tujuannya. "Mas Aan, boleh mengganggu waktunya sebentar?" Aan mengerjap. "Silakan, ada yang bisa saya bantu?" Ezra tersenyum berharap. "Saya penasaran kepada Mura Aniger, penulis cerbung itu. Boleh saya tahu profilnya? Barangkali Mas Aan tahu." Aan terdiam, menatap Ezra sejenak. Sejurus kemudian ia tersenyum dengan ekspresi menyesal. "Maaf, Mas Ezra, saya sudah terikat kesepakatan dengan beliau untuk tidak membuka identitas beliau." Ezra tersenyum sedikit kecewa. Namun ia tidak akan menyerah begitu saja. "Apa beliau tinggal di dekat sini?" Aan mendesah dengan mimik tidak enak hati. "Saya harap Mas Ezra memahami posisi saya. Saya tidak bisa memberitahukan apa pun soal identitas beliau." "Saya paham, Mas. Cuman kalau boleh tahu, apa Mura Aniger sering mengirimkan karya ke mading ini?" Aan menggeleng. "Baru cerbung ini saja sih, Mas." Ezra mengangguk-angguk. "Terima kasih atas informasinya. Maaf, kalau mengganggu Mas Aan." Aan tersenyum. "Enggak mengganggu kok, Mas Ezra. Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu. Selamat membaca!" Ezra mengangguk. "Oke, Mas." Aan meninggalkan Ezra. Ia berjalan kaki menuju ke arah kantor kelurahan. Sepeninggal Aan, Ezra segera menuju sepeda motornya. Ia harus memeriksa ponselnya, barangkali saja sudah ada orderan masuk. Ezra merogoh saku jaket. Ia mengambil ponsel dan memeriksa layar. Ada satu orderan masuk, tiga menit yang lalu. Sebenarnya Ezra ingin membaca kelanjutan cerbung Perangkap Maut. Ia penasaran dengan nasib Mura selanjutnya pada episode ketiga hari ini. Sayangnya ia harus bekerja. Mau tidak mau, ia harus mengantarkan paket dulu. Akhirnya ia menerima orderan tersebut. Ezra mengenakan kembali jaket dan helmnya. Setelah menyalakan mesin, ia segera berlalu dari tempat itu. Biarlah ia akan kembali ke sini nanti pada saat istirahat siang. Ezra menjalankan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Gerai tempat ia mengambil orderan cukup jauh. Beruntung lalu lintas tidak begitu padat. Perjalanannya lancar hingga ia berhasil mengantarkan paket ke tujuan. Hingga jam istirahat siang, Ezra telah mengantarkan lima orderan. Itu cukup melelahkan. Dalam hati ia merasa miris karena ternyata banyak juga pemesan paket narkoba setiap harinya. Ezra berhitung, jika rata-rata ia mengantarkan lima orderan dalam setiap harinya, maka kalau ditotal setiap bulannya paling tidak ia mengantarkan seratus lima puluh paket. Itu baru menghitung orderan yang ia terima, belum lagi kurir Eraneo yang lain. Sungguh Ezra merasa ngeri dengan peredaran narkoba di kota ini. Baru menghitung paket yang ia antarkan saja sudah segitu banyak. Tidak bisa ia bayangkan berapa banyak lagi paket yang dikirim kurir Eraneo lainnya dan paket yang dikirimkan bandar narkoba lainnya. Mengingat itu semua, membuatnya merasa sangat berdosa. Begitu masuk jam istirahat, Ezra langsung kembali ke mading. Ia mengabaikan rasa lapar dan lelah. Rasa penasaran terhadap nasib tokoh Mura membuatnya rela menempuh perjalanan yang cukup jauh dan dalam kondisi langit yang sangat terik. Untuk menempuh perjalanan, Ezra telah kehilangan waktu istirahat sekitar sepuluh menit. Begitu juga nanti pulangnya, ia harus menghabiskan waktu selama sepuluh menit pula. Sehingga waktu istirahatnya tersisa empat puluh menit saja. Ia harus bisa membaginya untuk makan siang dan sholat zuhur. Sampai di depan mading, Ezra langsung fokus pada kolom cerbung. Ia membaca epiosde ketiga sambil menahan lapar dan lelah: Episiode tiga. Antara kaget dan tidak percaya, aku mencoba bersikap tenang setelah mendengar pengakuan V bahwa dirinya adalah seorang polisi. Aku tidak menghindar tapi tetap memasang wajah ketus. Di teras, meskipun aku tidak mempersilakannya duduk, ia tetap duduk, seolah yakin aku akan ikut duduk di sebelahnya. Tidak, aku tetap berdiri di ambang pintu. Sambil menunjukkan kartu identitasnya sebagai anggota kepolisian, V menjelaskan bahwa dirinya sedang ditugaskan untuk menyelidiki perusahaan kami karena diduga menjadi jaringan pengedar narkoba. Aku sangat terkejut dan menjadi lemas. Antara takut akan tertangkap dan kecewa karena ternyata V mendekatiku hanya alasan penyelidikan, aku hanya bisa menangis tanpa suara. Sambil menyeka air mata, aku sampaikan padanya bahwa aku sudah tidak mau melihatnya lagi selamanya. Namun tanpa diduga ia mengatakan sesuatu yang sangat menyentuh hatiku, katanya ia jatuh cinta kepadaku karena terlalu lama menyelidikiku. Ia juga mengatakan bahwa demi rasa cintanya, ia ingin menyelematkanku dari para sindikat mafia. Susah payah aku berusaha menahan agar air mataku tidak semakin deras mengalir. Namun dengan berlagak tidak paham atas semua yang ia katakan, aku mengucapkan satu kata yang kuulang sampai tiga kali, yaitu pergi! Beruntung V tidak memaksakan diri untuk terus meyakinkanku. Ia meninggalkanku sambil mengatakan bahwa dirinya akan terus melakukan sesuatu agar aku tidak terlalu dalam jatuh ke jurang kejahatan. Sejak saat itu, aku sering tergoda untuk nekat meninggalkan perusahaan. Diam-diam aku mempercayai semua ucapan V. Aku yakin lelaki itu hadir dalam kehidupanku sebagai penyelamat. Namun setiap kali mengingat resikonya, aku akhirnya ragu untuk melakukannya. Beberapa bulan sejak saat itu, V tidak pernah muncul lagi. Aku merasa kehilangan, padahal aku tahu jika kembali bertemu dengannya itu hanya akan membuat posisiku semakin sulit. Suatu hari, pemimpin besar menyuruhku agar memindahkan kantor cabang yang kupimpin. Itu kabar baik buatku karena aku bisa menghilangkan jejak dari V. Namun, V selalu bisa menemukanku. Tanpa diduga, ia sering menampakkan diri tapi tidak menemuiku. Entah apa yang ia rencanakan, yang pasti aku merasa sangat terganggu. Aku menjadi semakin was-was kalau kejahatan perusahaanku akan terbongkar. Jika itu terjadi, sudah pasti aku akan terseret. Untuk menghindari V, aku sering pindah kos. Sayangnya, lelaki itu selalu bisa menemukanku. Ia terus menampakkan diri tanpa menemuiku. Aku merasa sedang diteror, bahkan diintimidasi. Sungguh aku tidak tahan. Hidupku terasa semakin hancur. Aku bukan hanya terperangkap ke dalam sindikat mafia, tapi juga terancam akan tertangkap polisi. Keduanya sama-sama menakutkan. Jika melarikan diri dari perusahaan resikonya ditembak mati, maka tertangkap penegak hukum juga akan membuatku dituntut hukuman mati. Aku berada di tengah dua kutub yang saling tarik menarik. Memilih salah satunya, berarti harus siap menerima hukuman mati. Sungguh aku bingung harus bersikap apa. Hingga akhirnya, aku menemukan sebuah ide agar bisa lepas dari perangkap sindikat mafia, juga tetap aman dari tuntutan hukuman mati, yaitu aku akan menyerahkan diri kepada penegak hukum dengan mengajukan diri sebagai justice collaborator. Aku rela mendapatkan hukuman kurungan berapa pun lamanya asal bisa keluar dari dunia mafia. Dengan begitu aku masih bisa bertemu dengan orang tua, saudara, teman, dan menghabiskan hidup dalam pertobatan. Sebelum melakukan itu, aku menyiapkan semua bukti-bukti kejahatan perusahaanku. Meskipun aku adalah pemimpin cabang tapi ternyata itu tidak mudah karena perusahaanku sangat rapi dalam menyembunyikan jejak kejahatannya. Apa yang kulakukan juga sangat beresiko karena jika ketahuan, nyawaku bisa melayang. Hingga sampai aku menuliskan kisah ini, bukti-bukti kejahatan perusahaan yang kukumpulkan sudah cukup. Aku hanya perlu menyiapkan diri, mencari jalan untuk melaporkannya kepada polisi. Aku tidak akan melaporkan diri dan membawa bukti-bukti itu seperti orang melapor polisi pada umumnya. Pengawasku akan mencegahku sebelum kakiku menginjak kantor polisi. Aku sudah menyiapkan seseorang berinisial E untuk menjadi penghubung antara aku dan kepolisian pusat. E adalah seorang yang pernah bekerja di sebuah kantor detektif swasta. Ia masuk ke dalam perusahan karena memiliki sebuah misi. Meskipun posisinya sangat lemah karena ia juga terperangkap sindikat mafia, tapi ia dikelilingi para detektif handal yang aku harapkan bisa membantuku menjadi justice collaborator. Sayangnya rencanaku terancam gagal karena pemimpin besar memberitahu bahwa aku akan ditarik ke kantor pusat. Aku takut ia melakukannya karena sudah mengendus rencanaku. Semoga saja ketakutanku tidak terjadi. Jika akhirnya terjadi pun, aku telah siap menghadapi resikonya, paling tidak aku telah menyiapkan sebuah tabungan yang saldonya mencapai milyaran yang akan otomatis terkirim ke rekening orang tuaku jika aku mati. Malam ini, saat menulis episode terakhir ini, aku sedang berdebar-debar karena besok malam, pemimpin besar memintaku untuk menemuinya di sebuah hotel. Aku takut, ia akan membongkar semua rencanaku. Jika itu terjadi, maka kemungkinan besar aku akan ditembak mati. Apakah besok pagi akan menjadi hari terakhirku melihat matahari terbit? TAMAT. Ezra tercengang membaca endingnya yang meski anti klimaks tapi mampu membuat bulu kuduknya merinding. Sebagai sebuah cerbung fiksi, Perangkap Maut tidak menarik dan sangat membosankan. Ia mau membacanya sampai tamat itu karena penasaran dengan penulisnya dan menduga itu berdasarkan kisah nyata. Jika cerbung itu diangkat dari kisah nyata, maka Ezra harus mencari tahu siapa penulisnya. Ia harus menyelamatkan Mura sebelum terlambat. Ezra curiga, penulis kisah itu adalah orang yang mengalami kisah seperti dalam cerbung itu. Menurut logikanya, seseorang memintanya untuk membaca kisah itu, berarti memiliki tujuan tertentu. Ada tokoh dengan inisial E yang dideskripsikan sebagai seorang yang pernah bekerja di sebuah kantor detektif swasta dan masuk ke dalam perusahan karena memiliki sebuah misi. E juga disebut dikelilingi para detektif handal. Semuanya mengarah kepadanya, membuatnya merasa yakin kalau tokoh E itu adalah dirinya, apalagi E adalah nama depannya. Namun Ezra tidak habis pikir, jika toko E adalah dirinya, kenapa tokoh Mura berharap ia bisa membantu menjadikannya justice collaborator? Ezra merasa tidak memiliki kemampuan untuk itu. "Ehhemmhh!" Spontan Ezra menoleh ke orang yang tadi berdeham. "Dian?" Dian bersedekap, menatap Ezra tajam. "Kamu lagi ngapain di sini?" Ezra tertawa sekadar cara untuk menyembunyikan kekagetannya. "Ini jam istirahat. Boleh dong kalau aku jalan-jalan ke mana pun yang kusuka? Lagipula aku nggak melakukan yang aneh-aneh." Dian menatap Ezra lekat-lekat, kemudian melirik ke arah mading. "Kamu jalan-jalan sejauh ini cuman buat membaca mading itu?" "Apa itu termasuk pelanggaran?" Ezra mengerjap. Dian menggeleng. "Bukan pelanggaran memang, tapi mencurigakan!" "Kalau aku melakukan yang aneh-aneh di sini, pasti pengawas sudah memberitahumu bukan?" "Mereka memang memberitahuku." Ezra terdiam. Dian lebih mendekat kepada Ezra. "Makanya aku ke sini!" Ezra masih diam. Ia cemas kalau gara-gara membaca mading akan membuatnya mendapatkan masalah. Dian melirik bagian bawah jaket Ezra. Dengan gerakan cepat ia memasukkan sebuah lipatan kertas ke dalam saku jaket Ezra lalu pura-pura menepuk-nepuk jaket lelaki itu. "Jaket kamu kotor!" Ezra tertawa geli. Ia tidak menyadari kalau sikap Dian tadi hanya untuk mengalihkan pikirannya. "Kamu perhatian sekali sama aku. Hehehe!" Dian melotot. "Jangan kepedean. Sebagai manager, aku sedang menegurmu agar memperhatikan kebersihan dan penampilanmu. Kamu harus tampil rapi ketika serang bekerja!" "Oke aku paham." Ezra tertawa meledek. Dian mendekat ke samping kiri badan Ezra dan berkata lirih. "Saranku, periksa jaketmu secara teliti di kamar mandi mes. Pastikan jaketmu bersih. Jangan ada kotoran atau sesuatu yang tidak perlu terutama di sakunya. Kamu akan menyesal kalau tidak mengindahkan kata-kataku ini!" Selepas itu, ia berjalan meninggalkan Ezra. Ezra mematung, memikirkan kata-kata Dian yang menurutnya aneh. Serta merta ia merogoh saku jaket. Jari-jarinya menyentuh sebuah lipatan kertas di saku sebelah kiri. Seingatnya, ia tidak pernah memasukkan sesuatu ke sana. Sebenarnya ia penasaran tapi kalau ia mengambilnya, pasti itu akan mengundang perhatian pengawas Eraneo. Kata-kata Dian terngiang kembali di telinga Ezra. Managernya itu tadi menyuruhnya untuk memeriksa jaketnya di kamar mandi mes. Ia menduga itu ada kaitannya dengan kertas lipatan di sakunya. Kalau begitu, ia akan menuruti Dian, mengambil kertas itu di kamar mandi mes.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN