Hingga jam sepuluh siang, Ezra sudah mendapatkan lima orderan, tiga di antaranya adalah paket narkoba. Sejauh ini, pekerjaannya lancar-lancar saja. Ketakutannya bahwa polisi akan mengawasinya tidak terjadi. Memang ia tahu, polisi tidak mungkin terang-terangan dalam mengawasi target. Sehingga ada kemungkinan ia sedang dalam pengawasan polisi. Meskipun begitu, setidaknya ia tidak mengalami gangguan apa pun sejak pagi hingga menjelang siang.
Selagi belum ada orderan, Ezra menggunakan kesempatan ini untuk membaca kelanjutan cerbung mading. Sebenarnya secara literasi, ia tidak menyukai cerita itu yang full narasi. Ia merasa bosan membacanya. Namun karena merasa penasaran kepada penulisnya, ia tetap ingin mengikutinya.
Ezra mengendarai sepeda motornya menuju Sindangmulya. Selama dalam perjalanan, ia berharap hari ini episode kedua sudah terbit seperti yang dijanjikan penulisnya. Jika belum, sia-sia saja ia meluangkan waktu dan tenaga, menempuh perjalanan sejauh lima kilometer dalam keadaan germis.
Sampai di depan mading, ternyata episode dua sudah terbit, padahal artikel lain yang ia baca kemarin masih ada.
Gerimis tidak menyurutkan Ezra untuk membacanya:
Episode 2
Tidak pernah kubayangkan sebelumnya kalau aku akan terperangkap ke dalam sindikat mafia. Saat itu aku merasa tak ubahnya seperti zombie, hidup tapi sesungguhnya telah mati. Lagipula siapa sih yang sudi menjadi bagian pengedar narkoba?
Berbagai cara pernah kulakukan untuk keluar dari keadaan ini. Aku pernah melapor kepada polisi. Ceritanya waktu itu aku sedang mengantar paket narkoba seperti biasa. Sebelum sampai ke tujuan, tiba-tiba dari dalam hati timbul sebuah dorongan yang sangat kuat agar aku masuk ke kantor polisi terdekat. Sebenarnya aku sadar itu sangat beresiko karena pergerakanku selalu diawasi, namun nalarku sedang tidak jalan. Hatiku pun sudah membeku, sehingga jalan nekat itu aku tempuh.
Di kantor polisi, aku melaporkan tentang diriku yang menjadi korban penipuan dan intimidasi. Aku juga membongkar kejahatan perusahaan yang mengedarkan narkoba berkedok jasa pengantaran makanan. Sayangnya aku terlalu gegabah, melapor tanpa memberikan bukti, sehingga alih-alih diproses, aku justru ditahan karena polisi menemukan dua paket narkoba di dalam boks makanan yang akan kuantarkan. Selanjutnya aku menjalani tes urine. Meskipun hasilnya negatif, aku tetap dijadikan tersangka atas kepemilikan narkoba.
Sungguh mengenaskan keadaanku saat itu. Semalaman aku mendekam di sel tahanan. Besoknya managerku menjengukku. Entah apa yang ia lakukan untuk meyakinkan penyidik, tahu-tahu aku dibebaskan tanpa syarat. Pada saat itu aku menolak kembali ke perusahaan karena, bagiku lebih baik ditahan polisi ketimbang terperangkap dalam sindikat pengedar narkoba.
Aku pasrah saja ketika manager membebaskanku dari kantor polisi. Ia tidak mengantarkanku ke kosan tapi menjebloskanku ke ruang penyekapan.
Berada di sel tahanan polisi masih jauh lebih baik ketimbang mendekam di ruang sekap. Entah berapa hari aku disekap, yang pasti aku merasakan seperti berada di neraka untuk waktu yang sangat lama. Cahaya di sana sangat minim, tidak ada kamar mandi, hanya ada sebuah kloset jongkok yang sangat kotor dan kadang airnya macet.
Selama dalam penyekapan, aku makan sehari dua kali. Menunya selalu sama. Jika tidak demi bertahan hidup, aku pasti tidak mau memakannya. Begitu keluar dari sana, berat badanku turun drastis. Aku sangat kurus dan mudah sakit.
Disekap membuatku kapok. Mau tidak mau aku harus menjadi karyawan yang baik. Aku menuruti semua aturan perusahaan dan sebisa mungkin tidak melakukan kesalahan agar tidak mendapatkan hukuman lagi.
Tidak terasa tiga bulan sudah aku terperangkap dalam sindikat pengedar narkoba. Selama itu aku baru sadar kalau ternyata aku selalu dilindungi para pengawas perusahaan agar tidak tertangkap polisi. Setiap kali ada razia polisi aku selalu lolos. Entah bagaimana cara mereka bekerja. Yang pasti itu sedikit membuatku merasa aman setiap kali mengantarkan paket narkoba.
Meskipun aman dari polisi, namun kadang aku tergoda untuk kembali melapor kepada polisi. Bagaimanapun juga lebih baik aku berhadapan dengan hukum ketimbang berhadapan dengan para sindikat itu. Dalam pemikiranku waktu itu, jika aku berurusan dengan polisi, paling lama aku akan dihukum dua sampai lima tahun. Itu jauh lebih baik ketimbang seumur hidup terperangkap dalam lubang kejahatan. Sehingga, pada suatu hari aku membuat rencana agar tertangkap polisi.
Aku tahu, jika menjalankan rencana itu, tidak ubahnya aku sedang melakukan perjudian. Peluang keberhasilannya tergantung bagaimana cara memainkannya. Logikaku saat itu berkata, tertangkap dengan melapor itu berbeda. Kalau aku tertangkap, perusahaan mungkin saja akan membebaskanku dan tidak akan menghukumku karena menganggap itu sebagai sebuah resiko. Sedangkan kalau melapor, sudah jelas, aku akan dianggap menentang.
Sesuai rencana, aku sengaja melarikan diri ketika sedang ada operasi lalu lintas. Harapanku polisi akan mengejar dan menggeledah isi boks-ku. Trikku berhasil, seorang polisi mengejarku. Tanpa bersusah payah ia berhasil menghentikanku.
Setelah mintaku menunjukkan STNK dan SIM, polisi memberiku surat tilang, namun sayangnya petugas polisi itu tidak menggeledahku. Aku salah perhitungan. Polisi hanya fokus pada urusan lalu lintas karena mereka sedang operasi lalu lintas. Seharusnya aku melakukannya ketika razia narkoba. Usahaku agar tertangkap polisi pun gagal total.
Besoknya di kantor, aku dimarahi manager atas ulahku karena sampai kena tilang. Bukan hanya itu saja, ia juga menginterogasiku yang pada akhirnya berhasil membuatku mengaku bahwa aku sengaja melakukan tindakan agar ditangkap polisi. Gara-gara itu, aku kembali disekap selama tiga hari.
Dua kali mendapatkan hukuman sekap, membuatku semakin nekat dan terus mencari cara bagaimana agar bisa keluar dari perangkap sindikat pengedar narkoba. Sayangnya dalam keadaan tertekan, aku sulit berpikir logis.
Memasuki bulan keenam menjadi kurir narkoba, harapanku semakin menipis, bahkan hampir putus asa. Pada titik terendah itu, tiba-tiba ada seorang lelaki berinisial V mengajakku berkenalan. Ia mengaku sebagai pengemudi ojek online. Kami sering bertemu di warung makan langganan. Berkat V, Aku menemukan hidup kembali. Ia bukan hanya tampan tapi juga sangat baik. Diam-diam aku menyukainya.
Suatu hari, V mengungkapkan perasaannya kepadaku. Ia bilang ingin menikahiku dalam waktu dekat. Tentu saja aku bingung. V memenuhi banyak kriteria sebagai calon suami idaman. Bodoh kalau aku menolaknya, tapi bagaimana aku bisa menikah dengannya dalam situasi diriku terperangkap dalam sindikat mafia?
Tidak mau mengecewakan V, akhirnya aku menerima cintanya, tapi aku memberikan pengertian padanya bahwa aku belum siap berumah tangga dalam waktu dekat. Aku juga memintanya untuk backstreet dengan mengemukakan alasan yang dibuat-buat. Meski aku menangkap ekspresi keberatan, akhirnya V menerima dan memahamiku juga. Maka sejak itu kami resmi berpacaran secara diam-diam.
Backstreet kami akhirnya terendus pengawas perusahan. Beruntung aku tidak dihukum, namun manager mengancam jika aku masih berkomunikasi dengan V, maka salah satu di antara kami akan celaka. Aku patah hati, bukan karena putus cinta tapi karena keadaan memaksaku harus melupakan V.
Aku tidak mau V celaka. Sehingga sebesar apa pun cinta dan rinduku padanya, aku harus menjauh darinya. Sakit rasanya harus melakukan itu, namun aku terpaksa melakukannya demi kebaikan kami. Aku pindah tempat makan, pindah kosan, dan mengajukan diri untuk dipindah ke kantor agar tidak bisa bertemu V lagi. Manager mengabulkannya. Sejak itu aku tidak bertemu V lagi selama beberapa bulan.
Suatu hari, tanpa diduga, V mendatangi kantorku. Tentu saja aku kaget karena selama ini aku tidak pernah memberitahu di mana alamat kantor perusahaanku. Saat itu V menyeretku ke kantin. Di sana ia memaksaku untuk menjelaskan kenapa aku menghilang darinya. Aku bungkam, namun itu membuatnya marah besar. Kami bertengkar hingga menjadi tontonan pengunjung kantin lainnya.
Pada saat aku dalam situasi terpojok, tiba-tiba ada seorang lelaki yang tidak kukenal ikut campur masalah kami. Tadinya aku pikir ia hanya ingin melerai kami, tapi ternyata ia mengatakan kepada V agar menjauhiku karena aku adalah tunangannya.
Pengakuan lelaki yang tidak kukenal itu mengagetkan aku dan V. Namun aku hanya bisa diam, sama sekali tidak menyanggahnya. V meminta klarifikasiku. Aku bungkam sambil menangis. Pada saat itulah lelaki yang tidak kukenal itu menghajar V dan membawaku pergi dari kantin. Belakangan akhirnya aku tahu kalau lelaki yang tidak kukenal itu adalah salah satu kurir yang masih satu perusahaan denganku. Ia melakukan itu karena disuruh manager agar menjauhkan aku dari V.
Besoknya, manager memberiku dua pilihan sulit: perusahaan akan meneror V atau aku mau dipindahkan ke kota lain. Demi keselamatan V, terpaksa aku memilih opsi kedua yaitu dipindah ke kota lain.
Perusahaan bertindak cepat. Dua hari kemudian aku dipindahkan ke kota Semarang. Kupikir aku akan menjadi kurir lagi atau barangkali menjadi staf kantor. Namun di kota ini aku dipromosikan sebagai pimpinan cabang. Oh Tuhan!
Semakin tinggi jabatannya, semakin besar tekanannya. Hanya ada satu hukuman jika seorang pimpinan melakukan kesalahan berat yaitu dihilangkan nyawanya. Sungguh mengerikan. Aku terpuruk, merasa percuma meneruskan hidup.
Dua kali aku mencoba mengakhiri hidup. Entah sedang apes atau sedang beruntung, kedua percobaan itu gagal. Tak perlu kuceritakan bagaimana proses percobaan itu karena itu tidak boleh ditiru. Seburuk apa pun nasibku, seberat apa pun bebanku, dan sesakit apa pun rasanya, aku merasa harus menerimanya.
Tentu saja tidak dalam waktu sekejap, aku menemukan kesadaran itu. Prosesnya sangat panjang dan berdarah-darah hingga aku bisa meyakinkan diri sendiri bahwa selalu ada jalan keluar.
Kesadaran itu bermula di suatu malam, ketika air mataku mengering padahal hatiku masih menangis. Aku menangis karena tidak sanggup menanggung rindu kepada orang tuaku. Aku merasa bersalah karena terjerumus dalam lembah kejahatan. Meskipun aku tidak menginginkannya, tapi faktanya aku adalah bagian dari sindikat mafia pengedar narkoba.
Tak bisa kubayangkan seandainya orang tuaku tahu aku adalah kurir narkoba. Mereka pasti akan sangat terpukul. Gadis yang selama ini mereka besarkan dengan harapan akan menjadi manusia berguna, ternyata adalah bagian dari kejahatan kemanusiaan, perusak generasi bangsa.
Dalam keadaan menangis tanpa air mata, malam itu, tiba-tiba terlintas sebuah ide: aku harus untuk menabung demi orang tua. Sebelumnya aku memang pernah memiliki banyak tabungan uang tapi semuanya ludes dan orang tua tidak pernah merasakan hasil usahaku itu. Untuk itulah aku akan menebus kesalahanku. Aku akan mengumpulkan gajiku demi mereka. Harapanku cuma satu, jika seandainya sesuatu terjadi padaku, paling tidak aku meninggalkan sesuatu yang bermanfaat buat orang tuaku.
Suka tidak suka, mau tidak mau, aku harus menerima nasib sebagai salah satu bagian pengedar narkoba. Aku tidak tahu nasibku ke depan. Yang pasti, aku akan menjalaninya demi orang tua.
Perlahan, aku juga berhasil mengendalikan perasaan rinduku pada V. Namun ketika aku hampir melupakannya, V tiba-tiba muncul di depan kosanku. Yang lebih mengejutkanku adalah, saat itu ia mengaku kalau dirinya sebenarnya polisi, bukan pengemudi ojek online seperti pengakuannya sebelumnya.
Bersambung....
Ezra mendesah seiring selesainya ia membaca kisah hidup tokoh Mura pada epiode kedua itu. Tiba-tiba ia teringat kepada Dian. Kisah hidup Mura mirip dengan managernya itu.
Apakah Mura adalah Dian? Ezra mengacak rambutnya, pusing untuk menjawab pertanyaannya sendiri.
###
Tujuh menit lagi pukul sebelas malam. Ezra masih saja sulit tidur. Ia berguling ke kanan, ke kiri, lalu kembali telentang. Begitu terus sejak sejam lalu. Meskipun lelah, matanya tidak jua mau terpejam. Lanjutan cerbung Mura yang ia baca siang tadi, terbayang-bayang terus dalam benaknya.
Berdasarkan kemiripan kisah perjalanan hidup, Ezra curiga kalau tokoh Mura dalam cerbung itu adalah Dian. Ia menemukan paling tidak ada enam kemiripan. Pertama, Mura mendapatkan informasi lowongan pekerjaan dari teman lelakinya yang dikenal melalui online. Dian pun mendapatkan informasi pekerjaan di Eraneo dari pacarnya.
Kemiripan kedua adalah, baik Mura atau Dian sama-sama terjebak ke dalam perangkap sindikat mafia. Keduanya juga sama-sama baru mengetahui menjadi kurir narkoba setelah bekerja selama sebulan.
Kemiripan ketiga, keduanya sama-sama pindah kantor. Perbedaannya, kalau Dian masih di dalam kota, sedangkan Mura pindah ke luar kota. Kemiripan keempat, keduanya sama-sama dipromosikan menjadi pemimpin. Hanya saja Mura tidak secara eksplisit menyebut jabatannya, apakah sebagai manager atau lainnya.
Kelima, kemiripan yang paling menyolok adalah keduanya pernah sama-sama ingin mengakhiri hidup karena tidak kuat menerima kenyataan. Keenam, keduanya sama-sama bisa berdamai dengan keadaan karena termotivasi untuk menabung demi orang tua.
Menurut logika Ezra, kemungkinannya sangat kecil dua orang memiliki kemiripan kisah hidup hingga sampai enam macam. Atas dasar itulah, sementara ini ia menduga kalau tokoh Mura dalam cerbung itu adalah Dian.
Satu pertanyaan yang mengendap di benak Ezra adalah, jika benar tokoh Mura adalah Dian, lalu apa motif Dian memintanya untuk membaca cerbung itu? Kenapa Dian tidak menceritakan kepadanya secara langsung seperti waktu itu?
Ezra merasa perlu untuk mencari tahu siapa sebenarnya penulis cerbung itu. Selain itu ia harus memastikan kisah itu based on true story atau hanya fiksi semata. Untuk itu, ia harus menghubungi redaktur majalah dinding tersebut besok.