Jaminan Perlindungan

1045 Kata
Ezra duduk di depan meja kerja Dian. Ia sudah menduga kalau diundangnya ke kantor pasti karena managernya ingin meminta keterangan atas kejadian semalam.  "Gimana keadaan kamu, sudah lebih baik?" basa-basi Dian.  "Ada apa?" tanya Ezra, masih susah untuk bersikap baik kepada Dian.  Dian membuka laci. Ia mengambil dompet dan ponsel dan meletakkannya ke atas meja, dekat Ezra. "Ini ponsel dan dompet kamu. Eksekutor Eraneo sengaja mengambilnya, mengantisipasi seandainya Anas mengeledahmu."  Sebenarnya Ezra ingin mengatakan kalau yang menggeledahnya adalah Rusli, bukan Anas. Namun ia merasa perlu untuk melindungi Rusli.  "Apa yang Anas lakukan kepadamu?" selidik Dian.  Ezra mendengus. Ia merasa ngeri mengingat kejadian semalam. "Kalian tahu kalau Anas itu polisi?"  "Sebenarnya kamu nggak perlu tahu," hardik Dian. Ia menatap Ezra lekat-lekat. "Namun karena kamu telah bertindak benar, maka sebagai bentuk apresiasi, aku akan menjawabnya."  Ezra menunduk. Biasanya ia alan melengos, tidak sudi membahas apa pun dengan Dian.  "Anas itu salah satu pelanggan yang masuk daftar hitam," beritahu Dian. "Seperti halnya Alika yang ingin menjebakmu, Eraneo sengaja mengikuti alur mereka dengan tetap mengirimkanmu sebagai pengantar makanan agar semua tampak normal."  "Anas langsung menanyakan di mana paket narkobanya," beritahu Ezra.  "Tampaknya ia sangat yakin akan berhasil menjebakmu." Dian terkekeh. "Mungkin karena Rusli sudah memberikan semua keterangan yang ia ketahui."  "Kenapa polisi belum meminta keteranganmu, padahal kemungkinan Rusli sudah menceritakan kejahatan Eraneo?" Ezra merasa heran.  "Polisi bekerja sesuai SOP. Mereka membutuhkan bukti awal untuk menindaklanjuti laporan Rusli. Aku pastikan itu akan sulit mereka dapatkan. Eraneo sangat rapi dan terencana. Itulah kenapa mereka menjebakmu, agar mereka punya banyak saksi."  Ezra menggigit bibirnya sendiri. Beruntung ia berhasil melepaskan diri dari jebakan Anas semalam. Jika tidak, nasibnya pasti akan seperti Rusli yang harus sembunyi dari Eraneo.  "Kamu belum menjawab pertanyaanku!" Dian mengingatkan Ezra.  "Kalian tidak bisa mendengarkan pembicaraan kami?" Ezra balik bertanya. Ia ingin membuktikan apa benar dalan ponsel ada penyadap yang bisa mendengar pembicaraan dengan baik dari radius lima meter.  "Tinggal jawab, apa susahnya sih?" tegur Dian.  Ezra tahu, Dian tidak akan menjelaskan soal alat penyadap pada ponselnya. "Tapi tadi kamu bilang aku telah bertindak benar. Itu berarti kalian tahu apa yang kulakukan."  "Pakai logika!" Dian menunjuk keningnya sendiri. "Kalau kamu bertindak bodoh, pasti kamu nggak akan kembali ke mes."  Ezra tersenyum. Ia ingin menguji Dian. "Tapi bisa saja aku sebenarnya sudah memberikan keterangan, lalu kembali ke Eraneo agar tidak ketahuan."  Dian terkekeh. "Kamu nggak akan melakukan itu."  Ezra balas terkekeh. "Kenapa? Aku juga ingin bebas seperti Rusli!"  Dian menggeleng. "Setidaknya ada dua alasan kenapa kamu tetap menutupi Eraneo. Pertama kamu tidak yakin itu tindakan yang tepat saat ini. Kamu sadar, kepolisian belum cukup bukti untuk menggerebek kantor Eraneo. Alasan kedua adalah karena kamu masih punya misi di sini bukan?"  Ezra tertegun karena Dian bisa berpikir sejauh itu. Padahal ia sama sekali tidak mempertimbangkan misinya untuk menemukan Septi sebagai pertimbangan kenapa ia memilih masih bertahan di Eraneo.  "Misi apa?" Ezra berlagak bingung.  Dian mendengus. "Nggak usah pura-pura bodoh. Kamu masih berharap bisa menemukan Septi bukan?"  Ezra bungkam.  "Kamu itu ambisius tapi nggak cukup cerdas secara emosi. Itu yang membuatmu terperangkap di sini!" Dian mengerjap. "Sekarang jawab pertanyaanku, apa yang mereka lakukan kepadamu?"  Dalam hati Ezra membenarkan ucapan Dian. Ia mengaku memang belum cerdas secara emosi. Alka dan Jacky pun berpendapat seperti itu.  "Anas mendesakku agar mengikuti jejak Rusli. Aku nggak mau," jawab Ezra.  "Aku harus meralat ucapanku sepertinya," ujar Dian.  "Kenapa? Apa yang diralat?" Ezra bingung.  Dian tersenyum. "Kamu pasti tertekan semalam, tapi kamu mampu mengontrol emosi sehingga bisa berpikir logis. Itu berarti kamu sudah mulai cerdas secara emosi."  Ezra tergelak. "Pujian darimu nggak mengubah apa pun pada nasibku."  Dian mengangguk-angguk. "Aku tahu tapi paling tidak kamu bisa termotivasi untuk belajar mengendalikan diri."  Ezra tersenyum masam. "Polisi pasti akan terus mengawasiku."  "Bukan hanya kamu saja tapi semua, termasuk aku," sergah Dian. "Kamu pikir cuman kamu saja yang dijebak?"  Ezra mengernyit. "Memangnya selain aku, ada lagi kurir yang dijebak?"  Dian mengangguk. "Ada satu lagi, kemarin sore. Cuman ia beruntung, sebelum sampai ke tujuan, pengawas menggantikan posisinya."  "Kenapa aku enggak?" protes Ezra.  "Situasinya beda."  "Memang apa bedanya?"  Dian menatap Ezra lekat-lekat. "Kalau kamu, sejak awal kami sudah tahu kalau Anas itu seorang polisi. Sehingga paketnya murni berisi makanan. Sedangkan kasus yang satunya lagi si pemesan tidak masuk daftar hitam. Kurirmya benar-benar membawa paket narkoba. Beruntung sebelum sampai, pengawas tahu kalau itu jebakan."  "Jadi Eraneo kecolongan?"  Dian menggeleng. "Enggak juga. Polisi menggunakan salah satu mantan pecandu narkoba untuk mendaftar sebagai member. Saat verifikasi, orang itu lolos, tapi Eraneo selalu teliti dan hati-hati. Eraneo memantau situasi sampai barang itu terkirim."  "Kalian tahu kalau ternyata itu jebakan polisi dari mana?" Ezra penasaran.  Dian mengerjap. "Itu bukan urusanmu!"  Ezra melengos. Jika bukan karena ia sedang minta bantuan Dian agar dirinya tidak dijadikan salah satu pimpinan Eraneo, ia pasti akan mengatakan sesuatu yang tidak mengenakan hati kepada managernya itu.  "Oh iya, katanya kamu mau membantuku agar tidak dipilih sebagai salah satu pimpinan Eraneo, bagaimana hasilnya?" tanya Ezra berharap.  Dian tersenyum. Dalam hati ia merasa geli karena Ezra tidak menyadari kalau itu hanya akal-akalannya saja supaya Ezra bersikap baik padanya.  "Kamu belum beruntung!" ujar Dian, memasang wajah menyesal.  Ezra deg-degan. "Maksudnya?"  "Kamu belum beruntung karena belum diberi kepercayaan untuk menjadi salah satu pimpinan Eraneo."  Ezra menarik napas lega. "Syukurlah!"  "Sudah tenang kan sekarang?"  "Iya."  "Kalau begitu kamu boleh pergi!"  Masih ada yang ingin Ezra sampaikan kepada Dian. "Aku sudah menanyakannya sama Gina."  "Tanya apa?"  "Aku tanya, apa benar malam minggu kemarin ia ada di kosan," ujar Ezra. "Gina nggak mengakuinya."  Dian tergelak sinis. "Mana mungkin ia mau mengakuinya!"  "Gina juga menebak kalau kamu yang mengatakan itu padaku."  Dian mendengus. "Sepenting apa sih Gina buatmu?"  "Aku harus tahu, Gina itu polisi apa bukan."  "Sudahlah, Ez. Kamu nggak perlu takut. Eraneo akan selalu melindungimu." Dian meyakinkan. Ia melirik jam dinding. "Sudah hampir jam tujuh. Sebaiknya kamu siap-siap. Mungkin sebentar lagi ada orderan masuk."  "Aku menjadi nggak tenang sejak kejadian semalam," keluh Ezra curhat.  Dian menatap Ezra lekat-lekat. "Percayalah, Eraneo selalu melindungimu!"  Ezra mendengus. Ia benci situasi ini, di mana ia lebih takut kepada polisi ketimbang kepada sindikat mafia.  Tiba-tiba Dian menyentuh tangan Ezra. "Fokuslah pada tujuanmu!" ucapnya lirih tapi penuh tenaga.  Ezra tidak tahu apa maksud ucapan Dian. Yang pasti ia merasakan ketulusan gadis itu dalam menyemangatinya. Sikap managernya itu sangat bertolak belakang dengan sebelum-sebelumnya yang ketus, galak, dan kadang menyebalkannya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN