Sehabis sholat maghrib, ketika sedang berzikir, ponsel Ezra berbunyi. Dari jenis nadanya, ia tahu, satu orderan baru saja masuk. Sambil mulutnya meneruskan bacaan zikir, ia menerima orderan tersebut.
Ini kali pertama, Ezra mendapatkan orderan di luar jam kerja. Itu tidak masalah baginya, hanya saja orderan tersebut bukanlah orderan makanan, tapi paket narkoba.
Hari minggu kemarin, Dian sudah mewanti-wanti agar Ezra bisa membedakan antara orderan makanan dan narkoba. Tidak mudah sebenarnya bagi Ezra membedakan keduanya karena memiliki tanda khusus masing-masing. Yang sulit baginya adalah menata hati untuk mengantarkannya.
Mengirimkan paket narkoba selalu membuat Ezra berdebar-debar sejak orderan masuk hingga mengantarkannya ke pemesan. Biasanya ia baru bisa merasa lega setelah paket diterima.
Dengan perasaan tidak keruan, Ezra menyudahi zikirnya. Ia segera mengganti baju koko dan sarungnya dengan seragam Eraneo.
Waktu serasa berjalan lambat bagi Ezra. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya mengantarkan paket narkoba di malam hari. Rasanya itu sangat menakutkan baginya. Namun ia berusaha tenang agar nanti tidak membuat kesalahan.
Setelah merasa siap, Ezra keluar mes. Tidak lupa ia mengunci pintu, lalu menyalakan sepeda motornya. Helm ia kenakan dan segera melesat menuju jalan raya.
Ezra singgah dulu ke gerai nasi goreng. Di sanalah paket narkoba harus diambil. Menariknya ketika ia baru sampai, pelayannya langsung menyebut namanya, pertanda dua porsi nasi goreng siap diantarkan.
Tidak mau membuang banyak waktu, Ezra langsung mengantarkan paket tersebut. Ia memacu sepeda motormya dengan kecepatan sedang.
Selama perjalanan, Ezra curiga sedang dikuntit sebuah mobil jenis jeep. Ia berusaha tenang dan menduga kalau itu adalah pengawas Eraneo. Namun dua ratus menjelang tujuan, sepeda motornya dipepet.
Ezra tidak berkutik. Jalannya terhalang. Ia berhenti dan memundurkan sepeda motornya. Terlambat! Dua orang lelaki berbadan kekar keluar dari jeep tersebut. Satu langsung meringkus Ezra. Satunya mengambil dompet dan ponsel. Setelah itu mereka langsung kembali ke dalam mobil. Kejadiannya begitu cepat. Jeep itu langsung pergi.
Ezra bisa berteriak minta tolong, namun ia tidak melakukannya. Hati kecilnya seolah menyuruhnya untuk membiarkan saja dirinya menjadi korban perampokan.
Shock sudah pasti Ezra rasakan. Ia masih mematung memandangi jeep yang terus menjauh. Anehnya sekarang ia baru sadar kalau dirinya membutuhkan pertolongan.
"TOLOOONG! TOLOOONG' teriak Ezra. Meski sadar itu terlambat, tapi ia merasa perlu melakukannya.
"TOLOOONG!"
Lengang, tidak ada siapa-siapa di area sekitar sini. Ezra pun hanya bisa menyesali kebodohannya yang terlambat meminta pertolongan.
Beberapa menit kemudian, beberapa orang keluar dari rumah masing-masing. Mereka melirik ke kanan dan ke kiri. Seorang ibu muda sambil menggendong balita mendekati Ezra. "Ada apa, Mas?"
"Saya dirampok, Bu!" jawab Ezra sedih. "Ponsel sama dompet saya diambil dua orang menggunakan jeep."
"Ke mana larinya mereka?"
Ezra menunjuk arah. "Ke sana, Bu."
Satu orang lagi mendekati Ezra. Ia adalah suami ibu muda itu.
"Di sini memang rawan pembegalan, Mas!" beritahu ibu muda tersebut.
"Iya, sebaiknya mas segera menjauh dari sini. Mereka sangat nekat. Beruntung sepeda motor mas nggak dibegal juga," ujar ibu muda itu.
"Sebaiknya mas lapor ke polisi!" saran lelaki di sebelah ibu muda itu.
Ezra mengangguk. Percuma saja ia meminta tolong mereka. "Iya, saya akan lapor polisi nanti. Saya mau mengantar paket makanan dulu."
"Atas nama siapa?" tanya ibu muda itu.
"Pak Anas."
"Pak Anas polisi?"
Ezra kaget. Serta merta ia menjadi gelisah. Menurutnya aneh, seorang polisi memesan paket narkoba. "Nggak tahu. Di aplikasi cuman disebut namanya saja."
Lelaki di dekat ibu muda itu ikut membantu. Ia menunjuk arah. "Rumah Pak Anas di pojokan sana yang bercat kuning."
Ezra melihat ke arah yang ditunjuk lelaki itu. "Yang ada pohon palm-nya itu bukan?"
Lelaki itu mengangguk. "Iya benar itu, Mas."
"Terima kasih, Pak, Bu." Ezra kembali menaiki sepeda motor.
"Sama-sama, Mas," jawab lelaki itu.
Ezra menuju ke rumah bercat kuning. Sampai di halamannya, ia memarkir sepeda motormya di dekat pohon palm.
Dengan berdebar-debar, Ezra mengambil satu kresek berisi dua paket nasi goreng dari dalam boks. Sambil melangkah menuju pintu rumah, hati Ezra dijejali ketakutan-ketakutan. Ia curiga, kejadian perampokan tadi berkaitan dengan pemesan bernama Anas yang katanya seorang polisi.
Jarak dari sepeda motor menuju pintu rumah hanya tujuh langkah saja, namun bagi Ezra rasanya jauh. Langkahnya terasa berat. Sekarang, saat ia di depan pintu, tangannya terasa kaku untuk sekadar mengetuk pintu.
Ezra menarik napas dalam-dalam. "Permisi, Erafood!"
Tidak ada sahutan, Ezra akhirnya mengetuk pintu. Tidak berselang lama, seorang lelaki setengah baya membuka pintu.
"Dengan Pak Anas?" tanya Ezra memastikan.
"Iya," jawab lelaki bernama Anas. "Erafood ya?"
"Iya, Pak." Ezra menyodorkan kresek kepada Anas. "Silakan diterima."
Anas menerima kresek. "Kamu tepat waktu, aku punya hadiah buat kamu. Silakan masuk." Ia membuka pintu lebar-lebar.
Ezra gugup. "Mmhh, maaf saya harus mengantar paket lagi."
Anas menggandeng Ezra masuk rumah. "Cuman sebentar saja."
Ezra ingin memberontak tapi ia sadar kalau melakukannya akan membuat Anas curiga. Maka itu ia pasrah saja ditarik ke ruang tamu.
"Duduklah!" Anas meletakkan kresek ke atas meja.
Keringat dingin mulai keluar melalui pori-pori Ezra. Ia takut akan terjadi hal buruk padanya.
"Silakan duduk!" pinta Anas karena melihat Ezra masih berdiri.
Terpaksa Ezra duduk. Jantungnya berdetak kencang ketika melihat Anas mengeluarkan dua paket nasi goreng dari dalam kresek.
Jka benar Anas adalah seorang polisi, Ezra berpikir pastilah lelaki itu kalau bukan oknum polisi pecandu, berarti sedang menjebaknya.
"Nama kamu siapa?" tanya Anas sambil membuka mika kemasan nasi goreng.
"E-Ezra, Pak!" jawab Ezra gugup.
Anas mengangguk-angguk. Ia meneliti isi kemasan dengan teliti. Tidak ada barang mencurigakan di dalamnya. Ia pun mendengus sambil melirik Ezra. "Paketnya mana?"
Ezra panik. "I-itu paket nasi gorengnya. Apa nggak sesuai pemesanan?"
"Tentu saja!" jawab Anas sambil membuka mika kemasan satunya lagi. Ia memeriksanya isinya dengan teliti. Lagi-lagi ia tidak menemukan sesuatu selain satu porsi nasi goreng.
Ezra menelan ludah, tidak tahu harus merasa lega atau gelisah. Jika Anas benar-benar membutuhkan narkoba, maka ia dalam masalah karena paket itu tidak ada. Namun jika Anas adalah polisi yang sedang menjebaknya maka ia merasa lega, meskipun nantinya ia harus berhati-hati menghadapinya.
"Paket narkobanya mana?" Anas membelalakkan mata.
"N-narkoba a-apa ya, Pak?" Ezra pura-pura bingung.
"Saya memesan dua paket narkoba," ujar Anas lirih tapi penuh tekanan.
Ezra tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya. "Bapak bercanda ya?"
"Enggak!" jawab Anas menunjukkan sikap kesal. "Saya sudah membayar mahal untuk itu!'
Ezra menelan ludah. "Saya hanya kurir makanan, Pak."
Anas mendengus kesal. "Bukannya kalian adalah pengedar narkoba berkedok pengantar makanan?"
Buru-buru Ezra menggeleng. "B-bukan, Pak. Kami kurir makanan saja. Nggak ada narkoba di dalamnya."
Anas menatap Ezra tajam. "Kamu nggak usah pura-pura bodoh. Percuma kamu menutupi kejahatan Eraneo. Kepolisian sudah tahu. Kalau kamu kooperatif, kami akan menolong kurir sepertimu."
Ezra semakin gelisah. Ternyata benar, Anas sedang menjebaknya. "Saya nggak paham maksud bapak."
"Kamu hanya perlu memberikan keterangan sesuai fakta. Setelah itu kami akan melindungimu. Kamu itu korban, jadi saya minta kerjasamanya." Anas menatap Ezra lekat-lekat. "Kamu nggak usah takut. Salah satu teman kamu sudah melaporkan kejahatan Eraneo. Ia aman bersama kami. Tidakkah kamu juga ingin keluar dari perangkap Eraneo seperti temen kamu itu?"
Ezra yakin yang dimaksud Anas adalah Rusli. Satu sisi ia merasa lega karena berarti anak itu aman. Sisi lainnya ia sadar sedang dalam posisi dilema. Jika ia bekerjasama dengan Anas maka Eraneo pasti tidak akan tinggal diam, tapi jika ia menutupinya, ia akan terus berada dalam perangkap sindikat mafia.
"Kenapa diam?"
Ezra cengar-cengirz berlagak bingung. "Maaf saya masih belum paham dengan maksud bapak."
"Kalau kamu kooperatif, kami akan membantumu, tapi kalau kamu menutupinya, berarti kamu bagian dari mereka." Kata-kata Anas bernada intimidasi. "Kelak jika kami berhasil membongkar kejahatan Eraneo, kamu akan ikut terseret."
Kalimat Anas membuat Ezra bimbang. Jika menuruti kata hati, ia ingin segera terlepas dari Eraneo selagi ada kesempatan. Namun ia berpikir jauh. Jika malam ini ia memberikan keterangan kepada Anas, tidak serta merta dirinya akan aman. Eraneo pasti tidak akan tinggal diam kepada siapa saja yang bermaksud membongkar kejahatan mereka.
Ezra merasa keterangannya nanti belum cukup bagi kepolisian untuk segera membongkar kejahatan Eraneo. Para pimpinan Eraneo masih aman. Kemungkinan hanya Dian saja yang akan ditangkap. Penyelidikan akan berlarut-larut dan ia akan terus dalam ancaman Eraneo sebelum pemimpin besarnya tertangkap.
Eraneo sangat rapi dan terorganisir dengan baik. Ezra sudah membuktikannya berkali-kali. Contoh paling kongkret adalah kejadian malam ini. Sebelum ia masuk dalam jebakan Anas, pengawas Eraneo telah lebih dulu mengambil dompet dan ponselnya. Hebatnya lagi, meskipun Anas mengaku telah memesan narkoba, tapi faktanya dalam paket nasi goreng itu tidak ditemukan barang mencurigakan. Itu bukti bahwa Eraneo benar-benar mampu melindungi kurirnya dari polisi.
"Bagaimana?" desak Anas.
Ezra terkesiap. Ia terpaksa akan menutupi kejahatan Eraneo karena saat ini hanya itu pilihan yang tepat.
"Kenapa melamun?" tegur Anas.
"Maaf, Pak, saya harus bekerja lagi," ujar Ezra.
Anas mendengus. "Baiklah, biar kamu nggak ragu, saya akan hadirkan seseorang yang akan membuat keraguanmu sirna."
Dari pintu ruang tengah, tiba-tiba muncul Rusli. Ia mengulas senyum kepada Ezra.
Ezra mendesah tertahan. Kehadiran Rusli akan membuat posisinya semakin sulit.
"Duduk, Rus!" suruh Anas.
Rusli duduk. Ia mengulurkan tangan kepada Ezra. "Kamu sudah sehat, Ez?"
Ragu-ragu, Ezra menjabat tangan Rusli tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Kalian saling kenal bukan?" Anas tersenyum penuh arti kepada Ezra.
"Maaf, saya nggak mengenalnya," jawab Ezra tegas. Tentu saja ia terpaksa berbohong.
Rusli tidak terima. "Sudahlah, Ez, percuma kamu mengelak."
Ezra tersenyum kepada Rusli. "Saya tahu Anda salah satu kurir Eraneo, tapi kita nggak saling mengenal bukan?"
Rusli kesal atas sikap Ezra. "Ini kesempatan kamu, Ezra. Jangan sia-siakan!"
"Maksudnya?" Ezra tetap berlagak tidak paham.
Rusli mendengus. "Kalau kamu takut menjelaskannya di sini, berikan ponsel kamu dan biarkan polisi menyelidikinya."
Ezra menunduk. "Ponsel dan dompet saya dibegal tadi dalam perjalanan ke sini."
Rusli tidak percaya. Ia yang biasanya sabar, kali ini tampak kesal. Ia mendekati Ezra. "Berikan ponsel kamu!"
Ezra tersenyum masam meskipun dalam hati ia merasa bersalah kepada Rusli. "Silakan geledah kalau Anda tidak percaya."
Rusli benar-benar menggeledah Ezra dan tidak menemukan apa yang dicarinya. "Begal itu pasti orang Eraneo! Mereka sudah tahu kamu dijebak."
"Maaf, saya punya privasi. Tolong sopanlah sedikit dan jangan kurang ajar!" Ezra mendorong Rusli pelan agar menjauh darinya.
Plak! Rusli menampar Ezra kesal. Ezra memegangi pipinya yang terasa panas.
Anas sigap. Ia segera menarik Rusli dan mendudukkan anak itu di kursi. "Sudah, tahan emosimu!"
"Ini tindakan kriminal!" ujar Ezra pura-pura marah.
Anas mendengus, kecewa karena rencananya tidak sesuai harapan. Ia menatap Ezra tajam. "Pulanglah, tapi ingat, kamu dalam pengawasan kepolisian!"
Selagi ada kesempatan, Ezra segera beranjak dari ruang tamu.sampai di pintu ia menoleh kepada Rusli dengan menanggung perasaan tidak enak hati.