Merasa Tidak Enak Hati

1031 Kata
Ezra duduk di tepi serambi mushola, di dalam gedung perkantoran di mana Eraneo berada di dalamnya. Ia baru saja selesai mengikuti sholat asar berjamaah. Diliriknya arloji pada pergelangan tangan. Hingga jam setengah empat sore, ia belum mendapatkan orderan. Seharusnya ia senang karena itu berarti ia bisa santai, namun justru karema tidak ada kegiatan, ucapan-ucapan Dian tadi di kantor membuatnya terngiang-ngiang terus.  Ezra tidak habis pikir kenapa Dian mengusulkan kepada pimpinan besar untuk mengangkatnya sebagai salah satu pimpinan. Secara logika susah diterima akal. Seoraang manager mempromosikan bawahannya untuk menjabat posisi di atasnya. Namun mengingat bahwa Eraneo adalah perusahaan fiktif, maka Ezra merasa itu menjadi hal biasa. Mereka tidak mengikuti norma yang lazim seperti kebanyakan perusahaan pada umumnya.  Jika nanti benar-benar diangkat sebagai salah satu pimpinan, Ezra akan semakin jauh terperangkap ke dalam lingkaran mafia. Posisinya akan semakin sulit untuk keluar dari perangkap tersebut.  Memang Ezra percaya kepada ucapan Dian bahwa jika nanti menjadi salah satu pimpinan Eraneo, ia akan aman karena jika ada masalah dengan pihak luar, semuanya ditangani manager. Bukan itu yang ia takutkan, tapi menjadi bagian sindikat mafia adalah sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya.  Sejak kecil Ezra bercita-cita menjadi penegak hukum atau pemberantas kejahatan. Ia pernah ingin menjadi polisi, namun setelah lulus SMA, ia justru terobsesi menjadi seorang detektif. Kesempatan itu terbuka ketika ia diterima bekerja pada sebuah kantor jasa detektif terkenal di kota ini. Meskipun hanya menjadi seorang office boy, ia belajar banyak tentang dunia penyelidikan dan pemecahan kasus. Di sela pekerjaannya, ia tidak pernah malu bertanya langsung kepada para agen detektif.  Tidak semua agen detektif mau berbagi ilmu dan pengalaman. Beruntung Alika mau mengajarinya sedikit demi sedikit. Bahkan beberapa waktu lalu, Alika memberinya kesempatan untuk menjadi asisten detektif. Sayangnya, Ezra terlalu gegabah dan ambisius. Akibatnya ia bukan hanya kehilangan kesempatan menjadi detektif, tapi juga kehilangan pekerjaan.  Setengah jam lagi jam kerja Ezra berakhir. Ia memutuskan untuk menghabiskan jam kerjanya di sini berharap bisa menikmati sepoi-sepoi angin. Sayangmya alih-alih merasakan ketenangan, pikirannya justru melayang-layang tidak tentu arah.  "Ezra!"  Ezra celingukan, mencari sumber suara yang sudah dikenalnya tersebut. Tampak olehnya, Gina sedang berjalan menuju ke arahnya.  "Kamu habis sholat?" tanya Gina basa-basi.  Ezra mengangguk saja. Ia sudah kehilangan rasa nyaman berada di dekat Gina sejak mendengar desas-desus kalau gadis itu diduga seorang polisi. Jika ada kesempatan menghindar, ia sudah melakukannya sejak tadi.  Gina berdiri di hadapan Ezra. "Wajah kamu kok tampak lelah begitu? Banyak orderan ya?"  Ezra menggeleng malas. Kebetulan ia kepergok Gina di sini. Ia akan menggunakan kesempatan ini untuk bertanya apakah benar gadis itu membohonginya, seperti yang dikatakan Dian.  "Duduk, Gina!" Ezra menggeser p****t, memberi ruang bagi Gina.  "Aku lagi haid, jadi nggak bisa duduk di serambi mushola," ujar Gina.  "Oh!" Hanya itu yang bisa keluar dari bibir Ezra. Ia bingung harus mulai bertanya dari mana.  "Aku kok nggak melihat Rusli?" selidik Gina.  Pertanyaan itu membuat Ezra gelisah. Ia yakin Gina pasti akan bertanya macam-macam.  "Biasanya Rusli makan siang di kantin, tapi hari ini aku belum melihatnya sejak pagi."  Ezra menarik napas dalam-dalam. "Rusli pulang!"  Gina mengerjap. "Cuti?"  Ezra menggeleng. "Aku nggak tahu!"  "Memangnya Rusli nggak pamitan sama kamu?"  "Pamit sih, tapi Rusli cuman bilang mau pulang."  "Berarti Dian sendirian dong di kantor."  Ezra mengedikkan bahu. Ia harus segera mengalihkan topik. "Kamu kok ke sini? Memangnya nggak ada pekerjaan ya?"  "Banyak sih, tapi sudah aku selesaikan semua. Sekarang saatnya aku bersantai." Gina tersenyum. "Oh iya gimana keadaan kamu. Apa sudah baikan?"  "Iya," jawab Ezra malas.  "Syukurlah!" Gina menggerai rambutmya, menggelungnya ke atas, kemudian menjepitnya.  Ezra menatap Gina. Dikumpulkannya keberanian untuk bertanya. "Aku mau tanya sesuatu."  "Tanya aja!" ujar Gina santai sambil menata gelungan rambut.  "Malam minggu kemarin, kamu beneran nggak ada di kosan?" tanya Ezra dengan nada merasa tidak enak hati karena meragukan pengakuan gadis itu.  Gina mematung, menatap Ezra lekat-lekat. Sejurus kemudian ia mendesah.  Ezra buru-buru menjelaskan. "Aku selalu mempercayaimu, Gina. Kalau sekarang aku bertanya seperti itu karena ada orang lain yang mengatakan kalau malam minggu kemarin kamu memang berada di kosan. Aku hanya ingin mengonfirmasikannya sama kamu."  Gina mengangguk lemah. "Aku mengerti." Wajahnya tiba-tiba berubah masam.  "Kamu nggak harus menjawabnya jika memang kamu merasa berkata benar," ujar Ezra. "Maafkan aku."  "Kalau boleh tahu, siapa yang mengatakan itu padamu?" Gina melirik Ezra sekilas, kemudian menambatkan pandangan ke arah parkiran.  "Aku rasa nggak perlu kukatakan siapa orangnya. Kamu tahu atau nggak, itu nggak ada hubungannya dengan kebenarannya." Ezra berujar diplomatis.  Gina menatap Ezra lekat-lekat. "Apakah Dian orangnya?"  Ezra bungkam.  "Oke, kamu benar, nggak penting siapa orangnya. Yang pasti orang itu berkata tanpa memberi bukti bukan?"  Dalam hati, Ezra mengakui tuduhan Gina. Dian memang tidak memberikan bukti.  "Aku pun sadar, kamu perlu bukti agar bisa mempercayaiku." Gina melengos.  Ezra semakin merasa tidak enak hati, melihat wajah kecewa Gina. "Aku nggak bermaksud meragukanmu. Aku hanya...."  Gina menoleh dengan wajah memerah. "Aku nggak bisa memberikan bukti karena di kosanku nggak ada CCTV, tapi kalau kamu mau, aku bisa menghadirkan saksi."  "Nggak perlu, Gina." Ezra menjadi serba salah. "Maaf aku sudah membuatmu marah."  "Kamu nggak perlu minta maaf. Kamu memang berhak tidak mempercayaiku. Aku juga nggak bisa memaksamu untuk percaya."  Ezra berdiri. Ia meraih tangan Gina. "Aku percaya sama kamu."  Gina memandang tangannya yang disentuh Ezra.  Buru-buru Ezra melepaskan pegangan tangannya. "Sebaiknya kita nggak perlu membahasnya lagi. Itu hanya akan membuat kekakuan di antara kita."  Gina terkekeh. "Santai saja, Ez. Kamu nggak perlu terlalu serius merespon perubahan ekspresi wajahku. Aku moody yang bisa dalam waktu sekejap berubah dari ceria menjadi masam, atau sebaliknya."  "Tapi aku merasa nggak enak hati," ujar Ezra jujur.  "Kamu baperan juga ya ternyata? Hehehe!"  Ezra menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya jika Gina mengaku dirinya telah berbohong, ia ingin sekalian menanyakan tentang lelaki berkalung liontin huruf R itu.  "Kamu pakai sampo apa?" Gina mengerjap.  Ezra terkekeh geli. "Aku nggak pernah sampoan. Makanya suka garuk-garuk kepala."  Gina ikut terkekeh.  Suasana yang semula kaku kembali mencair.  "Astaga!" pekik Gina panik.  "Kenapa?"  "Sebentar lagi kantorku tutup. Tasku masih di dalam."  Ezra melirik arloji pergelangan tangan. "Aku juga harus pulang."  "Ke mes apa ke rumah?"  "Ke mes dong!"  "Kamu nggak kangen rumah?"  Ezra tersentak. Ia yakin Gina sedang memancingnya. Buru-buru ia tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya. "Kan belum sepuluh hari aku meninggalkan rumah."  "Belum kangen berarti?"  "Sedikit sih!"  Ezra dan Gina terkekeh bersamaan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN