"Ada apa memanggilku?" tanya Ezra begitu duduk di depan Dian.
Dian menatap Ezra sebal. Kadang ia tidak tahan juga menghadapi sikap anak itu. "Aku berhak memanggilmu kapan saja. Kamu nggak perlu tahu alasannya."
"Oke, kamu bosnya di sini!" ledek Ezra.
Dian tidak mau terprovokasi. Ia kembali fokus pada tujuannya memanggil Ezra. "Kamu sudah melakukan keputusan yang tepat."
"Soal apa?" Ezra bingung.
Dian tersenyum. Ia sudah menyiapkan sebuah kejutan manis untuk membalas semua sikap kurang ajar Ezra selama ini. "Rusli mengajak kamu ikut bersamanya dan kamu menolak, kenapa?"
"Apa kamu harus tahu?"
"Nggak penting sih buatku."
"Terus kenapa kamu tadi tanya?"
Dian terkekeh, antara kesal atas sikap Ezra dan geli karena sejauh ini rencananya berhasil. "Kalau kamu mau mengatakannya itu lebih baik, kalau enggak, juga nggak papa."
"Kamu memanggilku hanya untuk itu?"
"Tentu saja enggak." Dian mendekatkan kepala ke arah Ezra. "Aku pikir ini hari yang kamu tunggu. Kamu butuh kebebasan bukan?"
Membuncah hati Ezra mendengar kata 'kebebasan'. Ada harapan terselip di lubuk hatinya kalau Dian akan memberinya kabar baik. Namun buru-buru ia menepiskan harapan itu karena rasanya mustahil.
"Mungkin saja definisi kebebasan Eraneo denganmu berbeda, tapi kebebasan tetaplah kebebasan," lanjut Dian.
"Nggak usah bertele-tele!" hardik Ezra.
Dian terkekeh sebal. "Galakan kamu sama atasanmu!"
Ezra melengos.
"Kamu nggak cocok jadi anak buah," ujar Dian. "Kamu lebih cocok jadi pemimpin."
Ezra semakin bingung kepada arah pembicaraan Dian.
"Aku mau kok kita bertukar posisi." Dian mengulas senyum meledek. "Aku jadi kurir, kamu jadi managernya. Oh maaf, bukan manager tapi direktur!"
"Kamu nyindir?"
Dian menggeleng. "Menyindir bukan gayaku. Aku lebih suka berterus terang."
"Jadi sebenarnya aku disuruh ke sini karena apa?" Ezra menjadi tidak sabar.
"Bukan disuruh, tapi diundang!"
"Maksudnya?"
"Disuruh itu artinya diperintah, sedangkan diundang artinya mendapatkan kehormatan." Dian mengerjap. "Bukan aku yang mengundangmu tapi pimpinan Eraneo cabang Semarang."
"Diundang untuk apa?"
Dian terkekeh, merasa senang berhasil membuat Ezra penasaran. "Kamu ingin tahu?"
Ezra mulai kehilangan kesabaran karena Dian berbelit-belit. "Terserah kamu!"
Kekehan Dian semakin menjadi. "Oke, terserah aku ya?"
Ezra melengos.
"Aku mengapresiasi sikap kamu yang menolak diajak ikut serta dengan Rusli. Apa pun alasanmu, menurutku itu sikap yang sangat tepat." Dian menatap Ezra serius. "Kalau ikut Rusli, kamu akan menyesal nanti karena hingga saat ini polisi masih sebatas mendalami laporan Rusli. Laporan Rusli hanyalah pengakuan sepihak. Ia tidak memiliki bukti yang cukup bagi polisi untuk menindaklanjuti pelaporan itu."
Ezra mendengus. Ia mencemaskan nasib Rusli.
"Aku pernah cerita sama kamu bukan bahwa sejak dulu belum pernah ada yang berhasil melapor kepada polisi?" Dian mengerjap. "Justru akhirnya mereka rugi sendiri karena Eraneo menghukum dengan sangat pedih."
Ezra penasaran kepada nasib Rusli. "Apa yang akan kalian lakukan kepada Rusli?"
Dian menggeleng. "Aku nggak tahu dan itu bukan urusanmu!"
Ezra tidak mau kalah. "Aku harus tahu. Ia sahabatku!"
Dian menyeringai. "Kamu ingin tahu?"
Ezra mengangguk.
"Kamu harus menjadi pimpinan Eraneo dulu!" ujar Dian.
Ezra terdiam.
Dian tersenyum senang karena sebentar lagi berhasil membalas sikap buruk Ezra kepadanya. "Kamu hebat, Ez, karena setia kepada Eraneo."
"Aku nggak sudi setia kepada Eraneo!" Ezra tidak terima. "Aku menolak Rusli karena ingin menyelamatkan diri sendiri dari kekejaman Eraneo!"
Dian mengangguk-angguk. "Apa pun itu, kamu keren. Pimpinan sangat mengagumi keberanianmu itu."
"Persetan dengan mereka!" umpat Ezra.
Dian tersenyum masam. "Kamu akan bersama mereka!"
Ezra kaget. "Maksudnya?"
Dian menatap Ezra tajam. "Kamu akan menjadi salah satu pimpinan Eraneo. Aku akan menjadi anak buahmu. Sehingga kamu bisa bebas bersikap apa saja dan bisa mengatakan apa saja kepadaku."
"Aku nggak mau!" Ezra takut.
"Mau nggak mau, kamu harus mau!"
Ezra menggeleng, semakin ketakutan. Ia tidak sudi menjadi bagian dari sindikat mafia.
"Kalau aku jadi kamu, pasti aku akan senang." Dian tersenyum senang, berhasil membuat Ezra ketakutan. "Dengan menjadi pimpinan Eraneo, kamu bisa memiliki banyak uang. Kamu bisa memegang nasib anak buahmu. Kamu tetap akan aman karena jika ada masalah, managerlah yang akan menanggungnya."
"Aku nggak mau jadi mafia!" elak Ezra semakin takut. "Atas dasar apa mereka memilihku?"
Dian menyandarkan punggung ke kursi. Ditatapnya Ezra. "Setidaknya ada dua alasan. Pertama, aku yang mengusulkan dan mereka mengabulkannya. Kedua, karena kamu dianggap kompeten."
Ezra kaget. "Kamu mengusulkanku?"
"Aku bisa melakukan apa pun. Ingat aku manager kamu!" Dian menatap Ezra tajam. "Hanya karena aku membiarkan kamu memiliki atitud jelek terhadapku, bukan berarti aku lemah, Ezra!"
Ezra diam. Sekarang ia mulai paham dengan situsinya.
"Aku bisa saja balas bersikap kasar padamu, tapi buat apa? Aku nggak sebodoh kamu, Detektif Gagal!" Dian tertawa mencemooh.
Mendidih hati Ezra mendapat cemoohan Dian.
"Sekarang kamu punya kesempatan untuk semakin bersikap buruk kepadaku. Kalau kamu menjadi pimpinanku, aku nggak akan berani membantahmu. Kamu puas?"
Ezra menggeleng. "Aku nggak mau!"
"Kamu nggak bisa menolak!"
Ezra diam.
"Dua orang pengawas akan mengantarkanmu kepada pimpinan besar. Beliau akan melantikmu."
"Enggak mau!" Ezra panik, hingga hampir jatuh dari kursi. "Kamu nggak bisa seenaknya main usul kepada pimpinan tanpa meninta persetujuanku!"
"Aku nggak perlu persetujuanmu!"
Ezra melirik Dian kesal. "Kamu jahat!"
"Kamu akan lebih jahat dariku jika menjadi salah satu pimpinan. Hahaha!" Dian memegang perutnya. Ia merasa puas.
Ezra sadar sedang berhadapan dengan siapa. Selama ini ia telah menganggap Dian lemah sehingga ia merasa bisa bersikap apa saja kepada gadis itu. Sekarang ia menyesalinya.
"Aku nggak mau jadi pimpinan," ratap Ezra lemah. "Tolong bantu aku!"
Dian mengerjap. "Kamu meminta tolong padaku? Apa aku nggak salah dengar?"
"Plis, tolongin aku," rengek Ezra.
Dian membuang muka. "Pada saat butuh seperti sekarang ini, kamu mau merengek padaku. Padahal biasanya kamu nggak pernah mau bersikap baik pada manager kamu sendiri!"
Ezra menyesal. "Aku minta maaf."
"Kamu minta maaf hanya agar aku mau membantumu saja, bukan karena merasa bersalah."
"Aku mengaku salah."
"Aku nggak percaya."
Ezra menunduk dalam-dalam. Hatinya semakin gelisah. Jika ia menjadi pimpinan Eraneo, ia akan semakin sulit keluar dari situasi buruk ini.
Segala cara harus Ezra lakukan asal tidak menjadi pimpinan Eraneo. Ia beranjak dari kursi, kemudian bersimpih di dekat Dian. "Aku mohon, bantu aku agar tidak menjadi pimpinan."
"Kamu minta bantuan sama aku?" Dian membuang muka. "Bukannya selama ini kamu nggak pernah menganggapku ada ya?"
Ezra menelan ludah. "Sekali lagi aku minta maaf."
Dian melirik Ezra sebal. "Duduk kembali ke kursimu."
"Aku nggak mau duduk sebelum kamu membantuku." Ezra bersikukuh.
"DUDUK!" bentak Dian. Suaranya sampai terdengar keluar kantor. Belum puas, ia mengangkat kerah baju Ezra. "Kalau kubilang duduk, ya duduk!"
Ezra pasrah saja dalam cengekeraman Dian. "Oke!"
Dian melepaskan cengekeramannya. Ezra segera kembali ke kursinya.
"Jadi kamu nggak mau jadi pimpinan?" Dian membelakakkan mata sadis. "Oke, aku akan usulkan kepada pemimpin besar agar mencabutnya."
Ezra menarik napas lega. "Terima kasih!"
Dian menatap Ezra tajam. "Aku nggak bisa menjamin itu akan berhasil."
Ezra menunduk gelisah.
"Kamu boleh pergi!" usir Dian.
Ezra menatap Dian dengan penuh permohonan. "Tolong bantu aku!"
"Pergi!"
Ezra menelan ludah. Ia bangkit dari duduk dan melangkah gontai, meninggalkan meja Dian.
Begitu Ezra pergi, Dian tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menjinakkan Ezra. Sebenarnya ia tadi hanya nge-prank saja.