Meskipun hanya sehari semalam saja, kebersamaannya dengan Rusli, namun Ezra merasa kehilangan atas kepergian anak itu. Ia bangun pagi dengan perasaan hampa.
Selesai mandi ketika membuka lemari untuk mengambil baju, Ezra mendapati barang-barang Rusli, seperti baju, buku-buku, dan peralatan mandi. Ia baru ingat, semalam Rusli pergi tanpa membawa barang-barangnya. Entah karena buru-buru atau sengaja ditinggal, Ezra tidak tahu.
Perasaan hampa terus menguasai hati Ezra hingga ia keluar mes untuk bekerja. Ia mengendarai sepeda motor sambil melamun. Gara-gara itu ia nyaris bertabrakan dengan sepeda motor lain di pertigaan. Beruntung ia masih sempat menghentikan laju sepeda motornya.
"Kampret!" maki pengendara yang hampir bertabrakan dengan Ezra.
Meskipun kesal karena mendapatkan makian, Ezra sadar kalau dirinya memang yang salah. Tadi tanpa memperhatikan keadaan sekitar dan tanpa menyalakan lampu sein, ia langsung langsung berbelok kiri, padahal dari arah kanannya sebuah sepeda motor sedang melaju.
Ezra segera menepi. Ia turun dari sepeda motor dan berjalan menuju toko langganannya.
"Permisi!" ucap Ezra.
Pemilik toko menyahut. "Mau beli apa, Mas?"
Ezra mendekat sampai badannya menyentuh etalase. Ia berkata lirih. "Saya nggak mau beli, saya Ezra yang tinggal di mes pojok sana."
"Iya saya tahu. Mas kan sering beli di sini," timpal pemilik toko. "Ada apa ya?"
Ezra menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah aman ia mendekatkan kepala ke arah pemilik toko. "Ibu kenal Rusli kan?"
Pemilik toko mengangguk dengan tatapan curiga.
"Kemarin Rusli cerita kalau ia mendapatkan pesan dari seseorang melalui ibu," ujar Ezra. "Pesan itu sudah disampaikan ke saya."
Pemilik warung lebih mendekat. Kini jaraknya dengan Ezra kurang dari setengah meter.
"Saya ingin tahu siapa pengirim pesan itu," ucap Ezra dengan nada memohon.
Pemilik toko tersenyum dengan ekspresi menyesal. "Maaf, Mas, saya nggak bisa mengatakannya."
Ezra mengangguk kecewa, tapi ia belum menyerah. "Saya menghargai sikap ibu, tapi kalau boleh tahu, orang itu laki-laki apa perempuan?"
"Maaf, Mas, saya nggak bisa memberi informasi pengirimnya."
Ezra tersenyum maklum. "Tapi ibu mengenalnya kan?"
Pemilik warung menggeleng dengan mimik gelisah. "Sekali lagi, maaf, saya nggak bisa menjawabnya."
Ezra menarik napas dalam-dalam. "Baiklah, saya memahami posisi ibu. Mohon maaf kalau mengganggu ibu. Saya permisi."
Pemilik warung mengangguk, kemudian beranjak dari hadapan Ezra.
Meskipun sudah menduga kalau usahanya tidak akan berhasil tapi Ezra tetap kecewa. Namun ia akan mencari tahunya dengan cara menuruti kemauan pengirim itu untuk membaca cerbung di mading yang disebutkan.
Ezra merogoh saku baju, mengambil ponsel. Ia memeriksa notifikasi. Ia merasa lega karena belum ada orderan. Dengan begitu ia bisa membaca cerbung seperti yang dimaksudkan si pengirim pesan misterius itu.
Sebelum ke sana, Ezra harus tahu dulu lokasi lapangan tenis yang berada di dekat kantor kekurahan Sindangmulya. Meskipun lahir dan dibesarkan di Semarang, ia baru mendengar nama kelurahan itu.
Menggunakan aplikasi map, akhirnya Ezra berhasil menemukan lokasinya. Ia akan melalui rute sesuai petunjuk aplikasi tersebut. Maka tak mau membuang waktu, ia segera menjalankan sepeda motornya.
Setelah berjalan sejauh empat kilometer, Ezra mulai curiga kalau rute yang ia lewati menuju ke daerah di mana kosan Gina berada. Menurut Rusli kosan Gina dekat dengan kosan karyawan Eraneo. Itu membuat Ezra menduga kalau pengirim pesan itu masih berkaitan dengan Eraneo.
Kecurigaan Ezra terbukti. Aplikasi map mengarahkannya ke jalan yang menuju ke kosan Gina, bedanya kalau kosan Gina belok kiri, lapangan tenis tujuannya belok kanan.
Sampailah Ezra pada lokasi tujuan. Ia berhenti tepat di pinggir lapangan tenis. Ia turun dari sepeda dan mendekat ke sebuah papan mading seukuran papan tulis sekolahan.
Sambil berjalan, Ezra mengedarkan pandangan ke sekitar. Di sebelah barat lapangan tenis ini adalah area kos-kosan dan di sebelah utaranya adalah kantor kelurahan. Wilayah di sekitar sini sangat sepi. Ia menduga karena penghuni kos-kosan kebanyakan adalah karyawan dan mahasiswa.
Ezra sampai di depan mading. Ia membaca nama majalah dinding itu. Sekarang ia tahu kalau mading ini dikelola karang taruna kelurahan Sindangmulya. Dalam hati ia memberi apresiasi kepada anak-anak muda di sini yang masih menyediakan majalah dinding. Sungguhpun begitu, menurutnya majalah dinding sudah tidak relevan lagi di zaman sekarang yang serba digital.
Ezra mencari kolom cerbung. Ia menemukannya berada di pojok kanan bawah. Posisinya yang sejajar dengan kepalanya membuatnya nyaman untuk membaca karena tidak perlu mendongak.
Judul cerbung itu adalah Perangkap Maut. Nama penulisnya cukup unik: Mura Aniger. Berdasarkan judulnya yang kurang menarik itu, Ezra menebak kalau genre cerbung itu bukan romantis tapi semacam petualangan, action, atau barangkali urban realistis. Pada catatan, penulisnya berjanji akan memposting setiap episodenya setiap hari.
Ezra mulai membaca episode pertamanya:
Aku lebih dikenal dengan panggilan Mura, meskipun sebenarnya aku tidak banyak dikenal orang. Aku bahkan tidak punya banyak teman karena lebih suka berdiam di dalam kamar. Itu membuatku masih berstatus gadis karena tidak pernah bergaul dengan lelaki, kecuali salah seseorang yang nanti akan kuceritakan.
Kamar adalah duniaku yang sesungguhnya. Di sana aku bisa melakukan apa saja yang kumau tanpa harus memikirkan dunia luar yang menurutku sangat kejam.
Di kamar, aku juga bisa menjadi apa pun. Pernah aku menjadi gadis miskin yang beruntung karena dicintai seorang CEO tampan. Pernah juga aku menjadi seorang pelajar SMA yang menikah dengan kepala sekolah. Pokoknya aku bisa menjadi siapa saja, tergantung ke mana arah imajinasiku. Ya, aku adalah seorang penulis fiksi, khususnya novel.
Cukup banyak novel karyaku yang semuanya aku publikasikan pada platform online. Aku mendapatkan banyak dolar setiap bulannya. Sehingga meskipun aku tidak ke mana-mana tapi aku memiliki tabungan yang saldonya lumayan banyak.
Di sela kesibukan menulis fiksi, aku menyempatkan diri bergaul dengan orang lain. Tentu saja itu secara online karena aku kurang pecaya diri bertemu orang secara langsung. Berbeda dengan di dunia nyata, di mana aku adalah manusia super kuper, maka di dunia maya aku adalah seorang idola.
Dengan wajahku yang cantik alami sejak lahir, aku tidak perlu mengedit foto-fotoku. Di media sosial aku memasang foto asli. Banyak cowok-cowok yang mengajakku berkenalan. Kebanyakan dari mereka meminta nomor ponselku agar bisa berkomunikasi secara pribadi, namun sebagian besar aku tolak. Aku hanya mau berinteraksi secara publik di situs jejaring sosial. Hanya beberapa saja yang kuberi kesempatan mengenalku lebih dekat. Salah satu di antaranya adalah Fero.
Selain ganteng dan cerdas, Fero adalah sosok yang menyenangkan. Ia tipe lelaki idaman. Aku merasa beruntung bisa dekat dengannya. Di i********:, ia sangat populer. Follower-nya hampir menembus satu juta. Di-followback saja sudah senang, apalagi sering di-DM Fero.
Awalnya aku tidak berharap terlalu banyak kepadanya. Meskipun aku cantik tapi aku sadar ia dikelilingi banyak perempuan yang lebih cantik dariku. Namun siapa sangka, suatu hari Fero mengajakku kopdar.
Kopi darat adalah hal yang paling kuhindari. Aku hanya nyaman di dunia maya. Di dunia nyata aku akan mati kutu, salah tingkah, minder, bahkan aku bisa pingsan bertemu lelaki seganteng dan sepopuler Fero. Namun karena Fero menyemangatiku dan meyakinkanku bahwa kopdar adalah sesuatu yang menyenangkan, sehingga akhirnya aku tidak bisa menolak pada ajakannya yang ketujuh.
Fero benar, ternyata kopdar adalah sesuatu yang menyenangkan. Memang awalnya aku merasa canggung, gugup, salah tingkah, dan sangat memalukan di hadapannya, namun dengan penuh kedewasaan Fero berhasil membuatku merasa nyaman.
Selepas pertemuan pertama itu, aku ketagihan kopdar! Fero lebih menyenangkan di dunia nyata. Aku sangat terkesan dengan caranya berbicara yang penuh kelembutan. Anganku juga dibuat melayang setiap kali ia menatap dan tersenyum kepadaku. Semua itu tidak bisa aku dapatkan di dunia maya.
Sejak mengenal Fero di dunia nyata, aku mulai menemukan rasa percaya diri untuk berinteraksi sosial dengan lingkungan di sekitar rumah. Sedikit demi sedikit aku mulai berani keluar kamar. Lambat laun aku merasa diriku menjadi manusia normal.
Namun sejak mengenal Fero, aku menjadi jarang menulis fiksi. Waktuku lebih sering kuhabiskan untuk melamunkannya dan melakukan video call. Bahkan demi tampil cantik di hadapan Fero, uang tabunganku habis untuk membeli baju-baju mahal, tas bermerk, sepatu berkelas, biaya ke salon, skincare, dan pengeluaran tidak penting lainnya.
Aku terlambat menyadari bahwa kopdar dengan Fero adalah candu yang membahayakan. Selain tabungan ludes, perhiasan emasku juga kujual satu per satu. Celakanya ketika aku sudah tidak memiliki apa-apa, Fero tiba-tiba menjauhiku. Kami memang masih sering berinteraksi di situs jejaring sosial tapi itu belum cukup. Aku hanya ingin berdua-duaan saja seperti dulu; makan malam di restauran, piknik ke tempat wisata, dan menginap di hotel.
Saat itu aku menyadari kalau Fero memiliki banyak fans. Aku hanyalah satu di antaranya yang terlanjur memberikan segala yang kupunya kepadanya. Namun, aku tidak mau menyerah. Aku terus memperjuangkannya. Tidak ada jalan lain bagiku selain mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Sayangnya, platfotm online tempatku memublikasikan novel-novelku sudah bangkrut. Kalau menggunakan platform lain, pendapatan yang bisa kudapat sangat kecil. Sehingga aku berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Sayangnya, itu tidak mudah. Lebih dari dua puluh lamaran kerjaku menguap tanpa kabar. Sekalinya dipanggil interview ternyata menjadi sales. Aku pun menjadi stres.
Pada saat aku berusaha untuk melupakan Fero, lelaki itu tiba-tiba meneleponku. Harapanku tumbuh kembali. Apalagi saat itu ia mengajakku ketemuan di sebuah kafe. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan.
Fero yang kutemui saat itu sudah bukan lagi seperti Fero yang kukenal. Ia tampak lusuh. Matanya sayu. Senyumnya hilang. Yang lebih mengejutkan ternyata maksudnya mengajak ketemuan adalah untuk pinjam uang. Tentu saja aku tidak bisa membantunya. Dengan menyesal kukatan padanya aku tidak memiliki uang, bahkan sekarang aku membutuhkan pekerjaan. Aku bisa menangkap kekecewan pada raut wajahnya, tapi ia begitu dewasa menerimanya. Bahkan ia memberiku informasi lowongan pekerjaan.
Fero memberikan informasi bahwa ada sebuah perusahaan yang sedang membutuhkan banyak karyawan baru. Tadinya aku pikir informasi itu tidak valid karena gaji yang mereka tawarkan tidak masuk akal. Namun setelah aku cek sendiri ke staf personalia, ternyata informasi itu valid.
Tidak membuang waktu, aku melamar pekerjaan kepada perusahaan itu. Aku sangat gembira ketika dua hari kemudian diberi kabar bahwa aku diterima menjadi kurir pengantar makanan.
Pada saat menerima gaji pertama, aku merasa beruntung, hanya menjadi kurir, gajiku bisa mencapai 4 juta per bulan, bisa lebih dari itu tergantung berapa banyak bonus yang kuterima. Uang sebanyak itu sedikit lebih banyak dari pendapatan yang kudapatkan dari menjadi penulis.
Namun kebahagiaanku tidak berlangsung lama. Hari itu aku sedang mengantar makanan seperti biasanya. Tiba-tiba sebuah mobil mencegat dan menggeledahku. Ternyata polisi sudah menguntitku sejak aku mengambil orderan. Mereka menemukan tiga paket narkoba dari dalam kemasan makanan yang siap kuantarkan. Tentu saja aku kaget dan merasa ada yang menjebakku. Aku menolak dibawa ke kantor polisi karena tidak tahu menahu perihal paket narkoba tersebut. Celakanya, para polisi itu tetap membawaku ke kantor polisi.
Di kantor polisi, aku diinterogasi dan menjalani tes urine. Meskipun hasil tes itu negatif narkoba, tapi aku tetap ditahan.
Beberapa jam mendekam di sel tahanan, akhirnya managerku datang. Ia membebaskanku. Aku merasa lega, namun sebenarnya itu adalah awal dari penderitaan terbesar dalam hidupku.
Manager membawaku ke kantor. Ia bertanya kepadaku, keterangan apa saja yang telah kusampaikan kepada penyidik. Aku menjelaskan semuanya apa adanya. Setelah itu ia memberitahuku bahwa sebenarnya aku adalah kurir narkoba dengan kedok jasa pengantaran makanan. Lebih lanjut manager juga menegaskan bahwa aku tidak bisa keluar dari perusahaan, tidak boleh berhubungan dengan dunia luar, dan selalu dalam pengawasan melekat selama 24 jam.
Saat itu aku merasa hidupku telah hancur. Aku terperangkap ke dalam sindikat pengedar narkoba kelas mafia dan tidak bisa keluar dari situasi buruk tersebut. Jika nekat, aku diancam dengan hukuman yang sangat berat, mulai dari penyekapan hingga nyawa melayang.
Bersambung....
Setelah membaca episode pertama itu, Ezra menarik napas dalam-dalam. Ada sesuatu yang menyesakkan hatinya. Nasib tokoh Mura sama dengan nasib yang dialaminya dan nasib para karyawan Eraneo lainnya. Ia curiga cerbung itu ditulis salah satu karyawan Eraneo, tapi siapa?"
Dalam hati Ezra bertanya, siapa sebenarnya Mura Aniger? Apa maksudnya menulis cerbung tersebut dan kenapa ia diminta untuk membacanya?
Tidak terasa hari beranjak siang. Ezra berusaha melupakan sejenak pertanyaan-pertanyaan dalam hatinya. Ia harus kembali fokus pada pekerjaannya. Diusapnya layar ponsel, namun belum ada orderan.
Kalau terlalu lama berada di sini, Ezra khawatir para pengawas Eraneo akan mencurigainya. Ia tidak mau itu terjadi. Sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.
Ezra kembali ke sepeda motornya. Ia mengenakan helm dan menyalakan mesin. Sambil menanggung perasaan tidak menentu, ia menjalankan sepeda motornya.
Ezra tidak tahu harus ke mana. Ia menjalankan sepeda motornya sambil melamun, memikirkan tentang cerbung itu. Sampai di sebuah ruas jalan, ponselnya berdering.
Ezra menepikan sepeda motornya dalam keadaan mesin masih menyala. Ia menjawab panggilan dari kontak Dian yang sudah tersimpan diponselnya.
"Halo!" ucap Ezra malas.
"Kamu di mana?" tanya Dian ketus.
Perasaan Ezra sedang kacau, sehingga ia terpancing emosi mendengar nada ketus Dian. "Kamu punya banyak pengawas. Seharusnya kamu tahu posisiku di mana."
"Jawab pertanyaanku!" nada Dian meninggi.
"Aku di jalan Mawar," jawab Ezra. "Kenapa memangnya?"
"Ngapain? Kamu kan belum mendapatkan orderan!"
"Jalan-jalan."
"Cepet ke kantor!"
"Oke!" sahut Ezra malas.