Pulang

2043 Kata
Selepas isya, pulang-pulang, wajah Rusli ditekuk sedemikian rupa. Ia melepas sepatu dengan pandangan kosong. Bahkan ia melewati Ezra begitu saja ketika melangkah gontai menuju kamar mandi.  Sikap Rusli membuat Ezra heran, mengingat anak itu biasanya ceria. Ia yakin Rusli sedang ada masalah. Biarlah nanti ia akan menanyakannya setelah anak itu selesai mandi.  Ezra berinisiatif untuk membuatkan Rusli teh hangat. Ia ke dapur, merebus air. Tidak ada sekat antara dapur dengan kamar mandi. Seharusnya dari posisinya berdiri, Ezra mendengar bunyi gemericik air, tapi suasananya sangat senyap.   Ezra melirik tali jemuran. Ia melihat handuk Rusli masih tersampir di sana. Itu membuatnya heran dan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang dilakukan Rusli di kamar mandi.  'Mungkin Rusli pipis atau berak,' pikir Ezra.  Begitu rebusan air mendidih, Ezra menuangkannya ke teko. Ia menyeduh dua gelas teh panas dan meletakkannya ke atas baki. Ia juga menyiapkan kue-kue dan buah-buahan dari Dian dan Gina.  Ezra beranjak dari dapur, membawa baki dan meletakkannya ke dekat tempat tidur, seperti biasanya saat mereka ngopi. Ia menunggu Rusli keluar dari kamar mandi sambil menyeruput tehnya. Namun hingga isi gelasnya tinggal separuh, anak itu belum juga muncul.  Setelah menunggu sekitar dua puluh menitan, Rusli belum juga keluar dari kamar mandi. Ezra menjadi khawatir. Ia berniat untuk memastikan anak-anak itu baik-baik saja. Baru saja akan bangkit dari duduk, Rusli muncul.  Ezra tidak mencium aroma sabun atau sampo pada Rusli. Anak itu juga tidak tampak segar layaknya orang habis mandi, hanya wajahnya saja yang tampak habis dibasuh. Ezra semakin heran, sebenarnya apa yang dilakukan Rusli di kamar mandi selama dua puluh menit tadi? Menurutnya tidak mungkin anak itu pipis selama itu.  Sepasang mata Rusli tampak merah. Ezra curiga, jangan-jangan anak itu habis menangis.  "Aku bikinin teh panas," ujar Ezra. "Tapi sekarang sudah menjadi teh hangat. Hehehe."  Rusli tersenyum dipaksakan. Ia duduk di sebelah Ezra.  "Ada kue brownies dan buah-buahan dari Gina. Dian juga ke sini membawakan banyak kue." Ezra memancing suara Rusli.  Rusli hanya mengangguk saja. Ia mengambil gelas yang masih penuh, lantas meneguk teh hangat itu sampai habis. Selepasnya ia mencomot dua irisan brownies dan memasukkannya sekaligus ke dalam mulut.  "Kamu sudah makan apa belum?" tanya Ezra.  Rusli menggeleng sambil mengunyah.  "Aku nggak bisa masak, jadi nggak ada makanan. Tapi kalau kamu mau, aku bisa belikan." Ezra menawarkan.  Tawaran Ezra berhasil membuat Rusli menoleh. "Nggak usah, ini saja!" Ia mencomot lagi dua irisan kue brownies. Seperti tadi, ia langsung memasukkannya sekaligus ke dalam mulut, membuat sepasang pipinya tampak mengembang.  Ezra mengambil air mineral. Ia membuka tutup botolnya kemudian menyuguhkannya ke dekat Rusli.  Sebenarnya Ezra penasaran dengan apa yang sedang terjadi terhadap Rusli, namun ia menahan diri untuk bertanya. Ia akan membiarkan anak itu tenang lebih dulu.  Selepas menelan makanan di mulutnya, Rusli meneguk air mineral hingga separuh botol.  "Kamu baik-baik saja?" Akhirnya Ezra tidak tahan untuk bertanya.  Rusli menoleh sambil menutup botol. "Terima kasih atas pinjaman sepeda motornya."  Lega rasanya hati Ezra mendengar Rusli berbicara sepanjang itu. "Sama-sama. Lagipula itu kan sepeda motor perusahaan."  Rusli tersenyum dipaksakan. Ia merogoh saku baju, mengambil ponsel. Ia mengetikkan sesuatu pada aplikasi memo, cukup lama seperti orang sedang membuat dokumen. Setelah selesai ia menyodorkan ponselnya kepada Ezra tanpa mengucap sepatah kata pun.  "Apa ini?" Ezra menerima ponsel dengan hati penasaran, apa maksud Rusli.  Melalui ekspresi wajah, Rusli memberi isyarat agar Ezra membaca isi memo yang baru saja diketiknya.  Ezra memandang layar ponsel. Ia membaca memo Rusli:  Baca saja memo ini sampai selesai dan tolong jangan membahasnya. Ingat, pada ponsel-ponsel kita ada penyadap suara luar yang bisa mendengar percakapan kita sampai radius lima meter.  Seperti kamu tahu, ponsel kita juga disadap, tapi tenang saja, memo ini aman karena mereka hanya bisa membacanya jika sudah tersimpan. Saranku bacalah sampai selesai dan setelah itu aku akan menghapusnya.  Tadi begitu keluar dari mes, aku mampir dulu ke toko pojok gang. Penjualnya memberiku selembar kertas yang sudah terlipat tanpa amplop. Penjualnya menyuruhku langsung membacanya di tempat. Aku nggak bisa menunjukkannya sama kamu karena aku hanya disuruh membacanya saja.  Kertas itu berisi sebuah catatan yang intinya memintaku untuk menyampaikan sebuah pesan dari seseorang untukmu. Aku sudah menghafal isi pesan itu. Kurang lebih begini isinya: Ezra, aku membutuhkanmu. Kumohon mulai besok, kamu mau meluangkan waktu untuk membaca sebuah cerbung di majalah dinding yang berada di area lapangan tenis, dekat kantor kelurahan Sindangmulya.  Begitulah isi pesannya. Nggak ada nama pengirimnya. Penjual itu juga nggak mau memberitahukannya. Ia hanya berpesan agar Eraneo jangan sampai tahu. Maka itulah aku menuliskannya ke dalam memo ini.  Selepas membaca memo itu, Ezra mengembalikan ponselnya kepada Rusli. Ia menjadi penasaran, apa maksud pesan itu dan siapa pengirimnya. Mengingat bahwa Eraneo jangan sampai mengetahui pesan itu, ia sadar kalau itu sangat rahasia. Siapa pun pengirimnya, ia yakin orang itu benar-benar membutuhkannya.  Sekarang timbul pertanyaan-pertanyaan lain di dalam hati Ezra. Kenapa ia harus membaca cerbung pada majalah dinding? Apakah ada seseorang yang ingin mengirim pesan kepadanya melalui cerbung itu? Jika iya, siapa orang itu.  Ezra melirik Rusli yang sedang menghapus isi memo. Ia curiga, jangan-jangan sikap aneh Rusli ada hubungannya dengan isi pesan itu.  "Aku baru saja melakukan satu kenekatan yang kemungkinan akan membuatku mendapat hukuman dari Eraneo," beritahu Rusli dengan nada parau. "Namun, aku merasa puas sudah melakukannya."  Ezra kaget. "Nekat?"  Rusli mengangguk. Ditatapnya Ezra dengan sorot lelah. "Aku pinjam sepeda motormu untuk menemui Nita di rumahnya. Aku ingin memberikan surat kepadanya."  "Astaga!!" pekik Ezra tertahan. Ia menjadi cemas. "Surat yang pernah k****a itu?"  "Iya," jawab Rusli lirih. "Aku kehilangan akal, nggak bisa mikir lagi. Aku nggak bisa tenang jika Nita belum membaca surat itu."  Lemas tubuh Ezra. Ia khawatir Rusli akan dihukum berat.  "Tadi aku menunggu Nita di sebuah warung depan rumahnya. Dua jam menunggu, akhirnya ia keluar menggunakan mobil. Aku mengikutinya secara diam-diam."  "Terus?"  "Ternyata Nita masuk ke sebuah mall. Aku terus mengikutinya sampai parkiran." Rusli menarik napas berat. "Aku lihat ia keluar mobil bersama seorang lelaki. Lelaki itu adalah teman sekampus Nita. Aku pikir mereka akan membeli buku atau keperluan kampus. Namun melihat mereka jalan sambil bergandengan tangan membuat lututku lemas. Aku cemburu tapi nggak berani memergoki mereka."  Ezra tercengang. Ia bersimpati kepada Rusli.  Rusli menunduk pedih. "Meskipun patah hati, aku tetap penasaran, mereka mau ke ma awa. Ternyata mereka ke sebuah gerai burger. Aku mengintip kemesraan mereka dari balik kaca."  Spontan Ezra menepuk bahu Rusli.  Sepasang mata Rusli sembab. "Aku ingin berprasangka baik, tapi kemesraan mereka membuatku yakin kalau mereka ada hubungan dekat."  Sekarang Ezra paham kenapa sikap Rusli tampak aneh. Ia yakin tadi di kamar mandi anak itu meluapkan air matanya.  "Dalam keadaan pedih, aku berusaha tenang. Aku memanggil seorang waitress dan meminta tolong padanya untuk menyampaikan surat kepada Nita."  Ezra menepuk jidat sendiri, menyesalkan tindakan Rusli.  "Waitress menyampaikan suratku kepada Nita. Dari balik kaca, aku melihat Nita tampak kaget dan menanyakan sesuatu kepada waitress. Si waitress menunjuk ke arahku." Air mata Rusli menetes. "Nita menoleh ke arahku. Aku lihat ia tampak kaget, melihatku dari balik kaca. Meski pedih, aku berusaha tersenyum dan melambai kepadanya. Ia hanya bisa mematung sambil menitikkan air mata."  Ezra ikut merasakan kepedihan hati Rusli. Ia merengkuh anak itu, sekadar cara untuk memberi kekuatan.  Rusli menyeka air matanya. Ia terisak. "Aku nggak tahan melihatnya menangis. Meskipun ia telah mematahkan hatiku tapi bagaimanapun juga ia pernah memberi kebahagiaan padaku. Akhirnya aku berlalu dari tempat itu."  Ezra menarik sehelai tisu dari boksnya. Ia menyodorkannya kepada Rusli.  Rusli menolak halus tisu pemberian Ezra. Ia menarik napas panjang. "Aku mendengar derap sepatu mengejarku. Nita mengejarku sambil meneriakkan namaku. Aku tetap berjalan tanpa menghiraukannya. Ia terus mengejarku sampai di parkiran. Tiba-tiba dari arah tidak terduga, dua orang yang semuanya mengenakan helm tertutup mencekal lenganku."  "Astaga!" Ezra kaget. "Apa itu pengawas Eraneo?"  Rusli menggeleng. "Tadinya aku menduga begitu, tapi jika benar dua orang itu adalah pengawas Eraneo, pasti mereka mengejarku hingga sampai mes ini. Nyatanya sampai sekarang aku aman-aman saja."  "Kamu tetap dalam pengawasan Eraneo. Meskipun kedua orang itu enggak mengejarmu sampai ke sini, cepat atau lambat, Eraneo pasti akan tetap bertindak." Ezra cemas.  Rusli menatap Ezra pasrah. "Aku sudah siap menerima apa pun yang akan menimpaku nanti."  Ezra mendesah gelisah. "Lalu bagaimana kamu bisa lepas dari kedua orang itu?"  Rusli terkekeh mengenang kejadian itu. "Aku mendengkul s**********n salah satunya. Satunya lagi aku sikut perutnya. Selagi ada kesempatan aku langsung kabur. Saat menyalakan sepeda motor, aku melihat Nita sedang berdiri sambil membekap mulutnya, enggak jauh dari posisi kedua orang itu. Aku yakin Nita menyaksikan adegan itu."  Ezra membayangkan, kemungkinan Nita sangat shock karena kedapatan sedang berduaan dengan cowok lain dan karena melihat Rusli dicekal dua orang misterius.  "Aku pikir akan dikejar kedua orang itu." Rusli melanjutkan ceritanya. Maka itu aku ngebut sampai nyaris menabrak sebuah bus karena menerobos lampu merah. Ternyata aku berhasil lolos."  "Kejadian itu jam berapa?" tanya Ezra.  "Sekitar jam sebelasan."  "Lalu sejak jam sebelas sampai isya, kamu ke mana saja?" Ezra penasaran.  "Aku pulang ke rumah!"  Ezra tercengang, menatap Rusli dengan ekspresi tidak percaya. "Nekat sekali!"  "Aku sudah putus asa sejak melihat Nita bermesraan dengan lelaki lain. Aku juga sadar, setelah itu aku akan mendapatkan hukuman berat. Maka itulah aku pulang ke rumah." Rusli tersenyum sambil meneteskan air mata. "Jika nanti aku mati, paling enggak aku sudah bertemu dengan kedua orangtuaku dan adik-adikku."  Ezra memejamkan mata kuat-kuat. Banyak sekali pelanggaran Rusli kepada Eraneo. Ia cemas anak itu akan mendapatkan hukuman berat.  "Aku ditangisi ibu dan adik-adikku karena tidak pernah mengabari mereka. Aku masih sempat makan siang bersama mereka." Rusli tersenyum antara senang dan sedih. "Selepas melaksanakan sholat zuhur berjamaah, ayah mengajakku ngobrol di kamar. Dengan wajah cemas, beliau bercerita bahwa Nita pernah mengungkapkan keanehan-keanehanku. Setelah itu, beliau bertanya apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku?"  Ezra mematung, menahan napas. Ia cemas kalau-kalau Rusli menceritakan keadaannya yang sebenarnya. "Lalu apa respon kamu?"  Rusli mendesah panjang. "Aku nggak bisa membohongi ayah atau menyembunyikan sesuatu darinya."  Ezra menarik napas dalam-dalam. Firasatnya tidak enak.  Rusli menatap Ezra pasrah. "Akhirnya aku menceritakan semuanya."  Lemas tubuh Ezra. Seolah ia tidak mempercayai pendengarannya. "Kamu serius?"  Rusli mengangguk, lantas menunduk dalam-dalam. "Kemudian ayah meminta bantuan tetangga kami yang seorang polisi untuk mengawal kami membuat laporan ke kantor polisi."  "Astaga!" desis Ezra serasa kehilangan daya. Terbayang dalam benaknya bagaimana reaksi Eraneo setelah ini. Ia merasa ngeri, membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menimpa Rusli, bahkan dirinya.  Rusli menatap Ezra. "Aku membuat laporan kepada polisi dan menceritakan semuanya."  Ezra menelan ludah. Pahit rasanya, mengingat Eraneo sangat licik dan licin. Ia takut polisi akan mengalami kesulitan menemukan bukti kejahatan Eraneo. Jika itu terjadi, maka alih-alih bisa membongkar kejahatan Eraneo, Rusli sendiri yang akan mendapatkan celaka.  Ezra menjadi panik. "Lalu kenapa kamu ke sini? Kenapa nggak minta perlindungan polisi? Kamu sadar nggak sih, sekarang keselamatanmu terncam!"  Rusli mengangguk lemah. "Aku ke sini dengan pengawalan polisi."  Ezra terperanjat. "Maksudnya?"  "Ada banyak polisi yang sedang berjaga di sekitar lingkungan ini," beritahu Rusli. "Mereka nggak berseragam. Meskipun begitu, aku yakin Eraneo bisa mengetahuinya."  Ezra mematung, tidak tahu harus senang atau gelisah. Yang pasti ia sadar, situasinya sedang gawat.  Rusli merengkuh bahu Ezra. "Aku ke sini untuk mengajakmu."  "Maksudnya?"  "Ayo minta perlindungan polisi!" ajak Rusli berharap. "Kita akan aman, Ez!"  Reflek Ezra menggeleng. Kegelisahannya semakin menjadi. Ia tidak mau mengambil resiko dengan meninggalkan Eraneo, tapi ia juga ingin segera pulang.  "Aku mohon, Ez!"  Ezra menggeleng. "Maaf, Rus, aku nggak yakin ini akan berhasil."  Rusli mendengus kecewa. Ia terdiam cukup lama. Satu menit kemudian ia tersenyum. "Aku memahami ketakutanmu. Aku juga menghargai sikapmu. Doakan ini akan berhasil."  Ezra mengangguk pedih. Ia sangat mencemaskan Rusli.  "Jika sesuatu terjadi padaku, aku ikhlas. Paling tidak aku sudah bertemu keluargaku, Nita, dan berusaha membongkar kejahatan Eraneo," ujar Rusli serak. Air matanya kembali menetes. "Jaga dirimu baik-baik."  Spontan Ezra memeluk Rusli erat-erat sambil menangis. Keduanya larut dalam keharuan. Air mata menjadi saksi bisu perpisahan yang emosional itu.  Ezra melepas pelukannya. "Pergilah, selagi situasi masih aman."  Rusli bangkit. Dengan langkah berat ia meninggalkan Ezra. Sampai di pintu, ia menoleh. "Assalamu alaikum!"  "Wa alaikum salam," jawab Ezra parau. Ia bangkit dan bergegas ke pintu.  Rusli meninggalkan mes dengan langkah gontai. Ia berjalan menuju sebuah mobil. Ezra yakin itu adalah mobil polisi.  Rusli menbuka pintu mobil. Ia menoleh ke arah Ezra yang berdiri di ambang pintu. Tidak lama kemudian ia masuk. Mobil pun bergerak menjauh.  Ezra menyaksikan kepergian Rusli dengan hati campur aduk. Sekarang ia paham kenapa Rusli masih aman dari kejaran para pengawas Eraneo. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Ezra sangat mencemaskan anak itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN