"Hujan sudah reda. Aku pulang ya?" pamit Gina.
"Kamu mau pulang naik apa?" tanya Ezra.
"Angkot." Gina mengambil tas dari atas meja. Ia memakainya, kemudian bangkit dari duduk.
"Aku pesankan taksi online ya?" Ezra menawarkan bantuan. "Tapi aku harus instal aplikasinya dulu."
Gina menggeleng pelan. "Nggak usah. Ponsel kamu itu milik perusahaan dan hanya dipergunakan untuk urusan pekerjaan saja."
"Tapi kamu pengecualian!"
Gina mengerjap. "Oh ya?"
"Faktanya begitu. Orang lain nggak boleh tahu nomorku tapi kamu diperbolehkan. Kalau bukan pengecualian lalu apa namanya?"
Gina tersenyum. Ia mendekati Ezra. "Bisa jadi seperti itu. Aku kok jadi merasa tersanjung ya?"
"Sebentar, aku instal aplikasinya dulu." Ezra mengambil ponsel dari atas meja. Ia bermaksud menginstal aplikasi taksi online.
Tangan Gina mendarat di atas layar ponsel Ezra. Ia tersenyum manis. "Aku naik angkot saja."
Ezra menatap Gina serba salah. Satu sisi ia tidak tega membiarkan gadis itu harus menggunakan angkot, sisi lain ia sadar kalau menginstal program baru ke dalam ponsel milik perusahaan adalah pelanggaran.
Gina menarik tangan dari atas layar ponsel. "Aku sudah menyebabkan kamu sakit dan aku nggak mau kamu mendapatkan teguran dari perusahaan gara-gara mau membantuku."
Ezra mengurungkan niat untuk menginstal aplikasi. "Oke, kalau kamu bersikeras mau naik angkot. Hati-hati ya?"
Gina mengangguk. Sebelum berlalu dari hadapan Ezra, ia sempat menatap lelaki itu selama beberapa detik, kemudian berjalan menuju pintu.
"Gina!" panggil Ezra ketika Gina membuka pintu depan.
Gina menoleh. "Iya, ada apa?"
"Terima kasih ya sudah memperhatikanku!" ucap Ezra. "Maksudku kamu selalu baik sama aku."
Gina mengangguk sambil mengulas senyum manis. "Dimakan ya buah-buahannya?"
Ezra mengangguk, membalas senyum Gina.
Gina keluar dari mes dan menutup kembali pintunya. Ia berjalan melipir, sesekali berjingkat, menghindari genangan. Sementara itu hujan sudah reda sejak beberapa menit lalu.
Ezra bangkit dari duduknya dan berjalan menuju jendela. Melalui gorden, ia memandangi kepergian Gina hingga gadis itu menghilang di sebuah tikungan.
Meskipun sosok Gina sudah tidak tampak, Ezra masih saja mematung di depan jendela. Ada perasaan aneh dalam hatinya saat ini. Ia tidak tahu perasaan macam apa itu, yang pasti ia merasa yakin kalau itu bukan perasaan suka kepada lawan jenis.
Di mata Ezra Gina memang cantik, seksi, baik hati, dan begitu perhatian, namun itu belum cukup membuatnya jatuh cinta. Ia sedang tidak ingin memikirkan soal asmara. Ia masih ingin mengejar mimpi menjadi seorang detektif handal seperti Alika.
Hembusan angin kencang masuk ke mes melalui ventilasi. Hawa dinginnya membuat Ezra menggigil. Reflek ia bersedekap. Ia harus kembali ke tempat tidur dan meringkuk di balik selimut.
Baru saja akan beranjak, Ezra dikejutkan dengan datangnya sebuah sepeda motor yang baru saja berhenti di depan mes. Dari posturnya, Ezra menebak kalau pengendaranya adalah Dian.
Tebakan Ezra benar. Dian baru saja melepas helm dan jaketnya. Gadis itu merapikan hijabnya yang sedikit miring, kemudian turun dari sepeda motor.
Dengan langkah anggun, Dian melangkah memasuki teras sambil menjinjing sebuah kresek hitam. Ezra membuka pintu, menyambut managernya itu.
Senyum Dian terkembang melihat Ezra berdiri di ambang pintu. "Assalamu alaikum!"
"Wa alaikum salam!" jawab Ezra. "Ada apa?"
Dian mengernyit. "Buset, jutek banget sama manager kamu sendiri!" Selepasnya ia terkekeh sendiri.
"Aku nggak pernah menganggapmu manager!" Ezra keluar dan menutup pintu.
Jika bukan karena sudah memahami karakter Ezra dan terbiasa dengan sikap tidak bersahabat lelaki itu, Dian pasti sudah tersinggung. Namun ia berusaha santai.
"Kamu nggak mempersilakan aku masuk?" protes Dian.
"Kita di teras saja!" Ezra duduk di kursi dengan harapan Dian juga akan duduk.
"Sebaiknya di dalam saja!" Alih-alih duduk, Dian membuka pintu. Ia masuk dan duduk di kursi ruang depan.
Sikap Dian membuat Ezra kaget. Buru-buru ia menyusul gadis itu ke ruang depan. Ia merasa kesal. "Apa karena kamu managerku, terus membuatmu berhak masuk tanpa seizinku?"
Dian meletakkan kresek ke atas meja. Ia duduk di kursi, tidak menggubris teguran Ezra.
Ezra duduk di kursi. "Kupikir kamu seorang manager yang punya attitude baik, ternyata...."
"Mes ini punya perusahaan. Pimpinan Eraneo berhak memasuki privasi bawahannya." Gina menatap Ezra tajam. "Kamu mengakui atau enggak, aku tetap manager kamu!"
Ezra terkekeh sinis. "Iya, aku lupa kalau Eraneo berhak memasuki privasiku. Ada kamera tersembunyi di semua ruangan mes ini. Aku juga diawasi selama dua puluh empat jam. Ponselku disadap dan aku nggak boleh berhubungan dengan dunia luar."
"Bagus kalau kamu sekarang ingat!" Dian menyandarkan punggung ke kursi.
Rasa kesal Ezra semakin besar. "Kamu berhijab, sholat, dan aku yakin kamu paham soal ilmu agama. Seharusnya kamu tahu seorang lelaki dan seorang perempuan yang bukan mahram, enggak boleh berduaan saja di ruangan tertutup."
Dian mengerjap, kemudian tersenyum geli. "Kamu paham tentang itu dan bisa menasehatiku, tapi kamu baru saja melakukan sesuatu yang tadi kamu bilang enggak boleh!"
Ezra merasa tertampar karena ia tadi juga hanya berduaan saja bersama Gina di ruangan ini.
Dian membuka kresek bawaan Gina yang berisi buah-buahan dan kue brownies. Ia melirik Ezra. "Ini buktinya bukan?"
Ezra melengos. "Hanya karena ada orang lain yang tadi masuk ke sini, lalu kamu juga merasa berhak melakukan hal yang sama?"
"Aku lebih berhak ketimbang Gina!" hardik Gina. Suaranya pelan tapi penuh tekanan.
Ezra mengedikkan bahu. "Oke!"
Dian membuka kresek bawaannya. Ia mengeluarkan sebuah boks berisi ponsel dan meletakkannya ke atas meja. "Ini ponsel kamu yang baru. Ponsel yang lama aku tarik!"
Ezra mengernyit kaget. "Kenapa?"
"Kamu keberatan?" Dian balik bertanya sambil sedikit membelakkan mata.
Ezra melengos.
"Bawa ke sini ponsel kamu yang lama!" suruh Dian.
Tidak mau berdebat dengan Dian, Ezra mengambil ponsel dari saku celana. Ia meletakkannya dengan kesal ke atas meja. "Ambilah! Lagian aku juga nggak peduli mau diberi ponsel apa saja."
"Bagus," sahut Dian. "Sudah seharusnya begitu!"
Ezra mengambil boks dari atas meja. Ia membukanya dan mengeluarkan ponsel. Diperhatikannya ponsel tersebut. "Ponselnya sama persis sama yang lama!"
"Memang!" sahut Dian. "Di dalamnya sudah ada SIM Card-nya. Kamu tinggal pakai saja."
"Kalau sama, terus buat apa ganti ponsel?' Ezra penasaran apa sebenarmya alasan Gina menukar ponsel.
"Karena nomor kamu sudah diketahui pihak luar."
"Bukannya kamu mengizinkannya ya?"
Dian menarik napas dalam-dalam, lalu mendesahkannya. "Kalau aku melarang Gina, nanti ia curiga. Maka itu terpaksa aku mengizinkannya."
Ezra tertawa sinis. "Kalian ribet!"
"Terserah kamu mau ngomong apa!" Dian membetulkan posisi duduk.
"Berarti sekarang nomor ponselku baru nih?" Ezra tersenyum dengan ekspresi mencibir.
"Jangan beritahukan nomor baru kamu ke pihak luar!" Dian mengingatkan. "Aku rasa kamu sudah paham soal itu!"
Sadar kalau Dian menyalahkannya, Ezra meluruskan. "Aku nggak pernah memberitahukan nomorku ke siapa pun. Gina membuka ponselku ketika aku sedang ke kamar mandi. Ia missed called nomorku ke nomornya."
"Berarti kamu teledor, tidak bisa menjaga aset perusahaan dengan baik. Seharusnya kamu simpan ditempat aman dan beri password!!" semprot Dian. "Jangan menyalahkan orang lain. Kalau kamu berhati-hati, kejadian semacam itu nggak akan terjadi. Jadikan ini pelajaran!"
"Iya, Bu Guru," ledek Ezra. "Terima kasih atas pelajarannya. Hehehe!"
Dian melirik Ezra sebal. Ia mengambil dua boks nasi ayam geprek dari dalam kresek. Satu boks ia sodorkan kepada Ezra. Satunya ia pegang. "Kamu harus sarapan. Jangan membantah, ini perintah!"
Dua kata terakhir Dian, mengingatkan Ezra kepada Alika. Ia merindukan detektif itu yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri, meskipun usia mereka hanya terpaut kurang dari satu tahun.
"Kenapa bengong?" hardik Dian. Ia membuka boks jatahnya sendiri. Aroma bumbu ayam geprek menguar. "Ayo makan!"
Ezra menelan ludah, bukan karena berselera kepada ayam gepreknya, tapi ia merasa kesal karena di Eraneo sarapan pun adalah perintah. Sungguhpun demikian, ia memang butuh asupan gizi. Sejak bangun tidur ia baru makan roti.
Ezra melirik Gina yang tampak lahap memakan ayam gepreknya. Ia ingin bisa seperti managernya itu yang bisa begitu tabah menjalani hari-hari dalam tekanan.
Meski malas, tapi Ezra akhirnya memakan ayam geprek jatahnya. Lidahnya masih saja terasa asam dan sedikit pahit. Maka itu ia tidak terlalu lama mengunyahnya karena akan membuat perutnya mual.
"Kamu sudah seminggu di Eraneo. Masa trainingmu sudah berakhir. Mulai besok kamu akan bekerja bukan hanya siang hari saja, tapi juga malam hari," beritahu Dian sambil mengunyah.
"Kalau malam hari apa dihitung lembur?" tanya Ezra.
"Biar aku jelaskan. Kamu diam dulu sebelum aku selesai bicara!" tegur Dian.
"Oke!"
Dian menelan makanan yang telah dikunyahnya. "Ponsel lama itu untuk kurir baru. Orderan yang masuk diseting mulai dari jam enam pagi sampai jam empat sore. Sekarang di ponsel yang baru, kamu akan menerima orderan sampai malam."
Meskipun malas mendengar penjelasan Dian, Ezra tetap merasa perlu mendengarkannya. Itu membuat selera makannya semakin buruk.
"Aplikasi Erafood itu memang aslinya untuk mengantar paket narkoba. Tapi seperti yang sudah kamu ketahui, Eraneo menggunakan aplikasi jasa pemesanan makanan itu hanya sebagai kedok saja. Sehingga akan tampak aneh kalau aplikasi Erafood nggak bisa diakses publik. Maka itu, siapa saja bisa memesan makanan melalui aplikasi tersebut, bukan hanya narkoba saja. Imbasnya, kita juga harus siap mengantar makanan dan waktunya bisa kapan saja."
Ezra ingin protes tapi ia urungkan karena pasti akan dihardik Dian. Maka itu ia menunggu sampai managernya selesai menyampaikan.
"Jadi, kamu harus bisa bedakan mana orderan narkoba dan mana yang bukan," ujar Dian. "Tenang saja, pada aplikasi sudah diberi tanda khusus untuk menandai perbedaan keduanya. Untuk orderan makanan, kamu bisa menolaknya tapi itu akan mempengaruhi penilaian kami terhadapmu. Untuk orderan narkoba kamu harus siap kapan saja dan nggak boleh menolak."
Ezra mendengus. Ia menjadi kehilangan selera makan.
"Untuk pesanan sebelum pukul 06:00 dan setelah pukul 16:00, kamu akan mendapatkan bonus lemburan," lanjut Dian. "Lumayan jumlahnya. Total gaji yang akan kamu dapatkan per bulan bisa sampai empat kali lipat dari gajimu di perusahaanmu yang lama. Pendapatanmu sebulan bahkan bisa melebihi gaji yang didapatkan Alika."
Mendengar penjelasan Dian membuat Ezra meletakkan boks makanannya ke atas meja. Ia malas menghabiskannya.
"Ada yang ingin ditanyakan?" tanya Dian.
Ezra membuka kresek. Ia mengambil satu botol air mineral dan meneguknya sedikit.
"Jadi di dalam ponsel yang lama nggak bisa memesan selain narkoba?" tanya Ezra.
"Enggak, karena menu yang tersaji di sana hanya yang ada paket narkobanya saja. Hanya member saja yang bisa mengakses ke aplikasi itu."
"Lalu kenapa Alika bisa memesan makanan?" selidik Ezra. "Aku sudah memeriksa salah satu boksnya dan nggak ada paket narkobanya di sana."
Dian berhenti mengunyah. "Alika menjadi member!"
"Apa?" Ezra terperanjat, seolah tidak mempercayai pendengarannya sendiri.
"Alika itu detektif. Mudah baginya untuk menemukan aplikasi yang khusus untuk pemesanan paket narkoba. Tapi Eraneo sangat selektif. Kami memverifikasi dan memeriksa calon member secara teliti. Mereka yang ingin menjadi member harus memberikan informasi data pribadi secara benar, jika tidak, pasti kami tolak."
"Alika bisa menjadi member, berarti ia mengisi data dengan benar?"
Dian mengangguk. "Maka itulah Alika diterima, tapi Eraneo langsung memasukkannya ke daftar hitam karena ia seorang detektif."
"Daftar hitam?"
Dian mengangguk. "Member yang masuk daftar hitam, bila memesan makanan maka hanya akan mendapatkan makanan saja. Mereka nggak bisa memesan narkoba."
Ezra geleng-geleng kepala. Dalam hati ia mengakui kalau Eraneo sangat teliti dan hati-hati.
"Ada pertanyaan lagi?"
Ezra mengerjap. "Kenapa Alika bisa mendapatkan kurir aku? Apakah itu sebuah kebetulan atau apa?"
"Member yang masuk daftar hitam bisa kami kendalikan, termasuk memilihkan kurir tertentu untuk mengantar pesanan mereka," ujar Dian. "Eraneo tahu, Alika ingin menjebakmu. Kami ikuti permainannya, maka itu kami pilih kamu sebagai kurirnya."
"Siapa yang mengedalikan server apliksi kalian?" tanya Ezra penasaran.
"Aku nggak tahu apa-apa. Aku ini nggak ubahnya seperti robot." Dian terkekeh sumbang. "Sudah pernah kukatakan sama kamu bukan, kalau jabatan manager adalah jabatan hukuman? Nggak ada yang mau berada pada posisiku."
Ezra melengos, tidak peduli. Meskipun sebenarnya ia kasihan kepada Dian tapi ia tetap saja sulit untuk memberi respek kepada managernya itu.
Dian menghabiskan makanannya. Setelah minum, ia menyandarkan punggung ke kursi.
Selagi bertemu Dian, Ezra ingin menggunakan kesempatan ini untuk bertanya soal Gina. "Aku mendengar desas-desus bahwa diduga Gina adalah seorang polisi. Apa kamu mendengarnya juga?"
Dian melirik Ezra. "Kamu pasti dengar dari Rusli."
Ezra diam. Percuma ia menutupinya karena Eraneo tahu segala sesuatu yang ia lakukan.
"Aku memang sudah mendengar desas-desus itu sejak beberapa minggu lalu dari pimpinan," ujar Dian.
"Terus kenapa kamu membiarkan aku berinteraksi dengan Gina?"
Dian menegakkan badan. "Kalau benar Gina seorang polisi, maka ia akan curiga kalau aku menjauhkanmu darinya."
"Tapi Gina memang sepertinya mencurigai Eraneo," sergah Ezra. "Ia bilang kalau Eraneo sangat aneh dan tertutup!"
"Aku sudah tahu itu!"
"Kenapa kamu membiarkannya?" gugat Ezra.
Dian menatap Ezra. "Kamu merasa nggak nyaman?"
"Tentu saja!" jawab Ezra kesal. "Gina ingin mengorek keteranganku. Itu membuatku nggak nyaman."
Dian mengangguk. "Aku paham itu."
"Tolong jauhkan aku darinya. Aku akan kelabakan kalau ditanya perihal Eraneo. Lebih baik aku nggak bertemu dengannya lagi."
Dian mengerjap dengan ekspresi meledek. "Masa?"
Ezra melengos.
"Bukannya Gina sangat perhatian sama kamu ya? Ia juga cantik dan seksi. Cuman lelaki bodoh saja yang nggak menyukainya."
Ezra melirik Dian kesal. "Jauhkan Gina dariku!"
Dian mengatupkan bibir.
"Tolong!"
Dian menatap Ezra pasrah. "Itu di luar kemampuanku."
Ezra mendengus.
"Ikuti saja alurnya, tapi kamu harus berhati-hati," saran Dian.
Ezra mendongak, memandang langit-langit. Pikirannya menjadi semakin kusut.
Dian memandang Ezra dengan perasaan campur aduk. Sebagai orang yang bernasib sama, ia sangat memahami perasaan lelaki itu, namun ia harus menjalankan tugas dari pimpinan. Jika tidak bisa melakukannya dengan baik, hukuman berat siap menantinya. Hukuman yang akan ia terima jauh lebih pedih ketimbang anak buahnya.
Ruang depan menjadi sunyi. Ezra dan Dian hanyut dalam pikirannya masing-masing. Mereka membisu selama beberapa menit.
"Aku mau tanya sesuatu," ujar Ezra memecah kesunyian.
Dian menoleh. "Nggak semua pertanyaanmu bisa aku jawab."
"Kalau pertanyaanku dijawab, aku akan menceritakan sesuatu yang aku rasa penting buat Eraneo." Ezra menawarkan kesepakatan.
"Aku nggak mau mengadakan kesepakatan apa pun dengan kurir!" tegas Dian. "Aku berhak menolak menjawab pertanyaanmu, juga berwenang memaksamu untuk menceritakan sesuatu yang kamu sembunyikan."
Ezra menelan ludah. Ia menyesal telah menawarkan kesepakatan.
"Informasi apa yang kamu sembunyikan?" desak Dian.
"Jawab dulu pertanyaanku!" Ezra tidak mau menceritakannya sebelum menjawab pertanyaannya. Ia menatap Dian lekat-lekat. "Eraneo pasti mengetahui banyak hal, termasuk Gina. Pertanyaanku adalah, benar nggak kalau Gina itu polisi?"
Dian membalas tatapan Ezra. "Aku menolak menjawabnya. Itu bukan urusanmu!"
"Tapi kalau tahu kebenarannya, aku bisa bersikap lebih hati-hati kepada Gina," dalih Ezra.
Dian menggeleng, kukuh pada pendiriannya. "Kamu lupakan saja rasa penasaranmu itu dan sebaiknya ceritakan saja apa yang ingin kamu sampaikan itu."
Ezra membuang muka.
"Aku bisa memaksamu, Ezra!" Intonasi Dian meninggi. "Hanya dengan menyentuh sebuah ikon pada aplikasi di ponselku, eksekutor Eraneo akan datang kurang dari tiga menit. Mereka bisa memaksamu untuk membuka mulut!"
Diancam Dian, sebenarnya membuat Ezra takut, tapi ia pantang menunjukkan rasa itu.
Dian menggertak. "Aku hitung sampai tiga. Satu...."
Ezra melirik gelisah.
"Dua...."
Ezra mendengus.
"Ti...."
"Oke!" ujar Ezra geram.
Dian memajukan kepala ke arah Ezra. "Kamu bisa menceritakannya mulai dari sekarang!"
Ezra menggebah napas dengan kasar. "Ini soal Septi Nofiasari!"
Dian mengernyit. Urat-urat wajahnya menegang.
"Gina cerita padaku kalau ia punya teman bernama Septi Nofiasari. Temannya itu bekerja pada Eraneo, namun akhirnya menghilang tanpa kabar. Itulah kenapa Gina mendekatiku dan selalu kepo." Ezra sengaja menceritakan itu, ingin tahu reaksi Dian. Ia berharap gadis itu memberinya informasi tentang Septi.
Dian membetulkan posisi duduk. Ditatapnya Ezra tajam. "Bukankah Septi adalah orang yang sedang kamu cari jejaknya?"
Ezra mengangguk. "Memang!"
"Kenapa bisa kebetulan sekali ya?" Dian bersedekap. "Jangan-jangan Gina tahu kalau kamu pernah menyelidiki kasus Septi?"
"Aku nggak pernah menceritakan latar belakangku kepada Gina!" sergah Ezra menegaskan.
"Jadi karena itukah kamu ingin tahu Gina polisi atau bukan?" tebak Dian.
"Iya," jawab Ezra jujur.
"Jika ternyata Gina seorang polisi dan tahu kalau kamu pernah menjadi asisten detektif pada kasus Septi, gimana?" pancing Dian.
"Aku tetap akan bungkam setiap kali ia mengorek keteranganku!"
"Bagus! Itu sudah seharusnya."
Ezra mendekatkan kepala ke arah Dian. "Jadi, Gina polisi atau bukan?"
Dian menatap Ezra tajam. "Gina polisi atau bukan, kamu harus berhati-hati kepadanya. Jangan pernah mempercayainya atau kamu akan menyesal!"
Ezra melengos, kecewa karena pertanyaannya soal Gina tidak dijawab Dian.
"Tapi sebagai bentuk apresiasi karena kamu telah memberi informasi soal Gina, aku akan memberimu informasi penting!" Dian tersenyum.
Ezra menoleh malas. "Apa itu?"
Senyum Dian semakin terkembang. "Semalam, Gina berada di kosannya ketika kamu ke sana. Ia berbohong soal terpaksa menginap di rumah temannya!"
Ezra kaget, tidak tahu harus mempercayai Dian atau tidak.
"Ia sebenarnya menunggumu, tapi ia terpaksa tidak menemuimu karena sebuah alasan," lanjut Dian. "Kamu tahu apa alasan itu?"
"Apa itu?" Ezra penasaran.
"Kamu ingat nggak di teras kosan itu ada seorang lelaki berbadan tegap?" tanya Dian.
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
Dian mendengus. "Aku tahu semuanya, Ez! Aku selalu mendapatkan informasi dari para pengawas Eraneo."
"Oke, aku paham," ujar Ezra. "Iya, semalam memang ada lelaki berbadan tegap. Menurut ibu kos, orang itu sedang menunggu Gina."
"Gina takut bertemu lelaki itu!" beritahu Dian.
Ezra mengernyit. "Kenapa?"
Dian terkekeh. "Tanyakan saja kepada Gina!"
Ezra semakin yakin kalau lelaki berkalung liontin hurif R itu ada kaitannya dengan Gina. Dua kali ia mendapati orang itu ketika ia bersama Gina; malam minggu ketika mereka makan malam bersama dan minggu pagi ketika mereka jogging.
"Aku punya saran buatmu!" ujar Dian. "Kalau Gina mendesakmu untuk membuka mulut soal Eraneo, kamu balik tanyakan soal lelaki itu kepadanya!"
Ezra menatap Dian dengan pandangan kosong. Kepalanya semakin pusing.