Ezra terbangun karena sayup-sayup mendengar pintu diketuk.
"Ez, Ezra!"
Ezra terkesiap mendengar suara merdu Gina. Ia menyingkap selimut, berusaha bangkit dari tempat tidur.
"Ezra, ini aku, Gina!"
Ezra beringsut ke tepi kasur. Ia mengucek mata, kemudian merapikan bajunya yang acak-acakan.
Kepala Ezra masih terasa pusing, meskipun nyeri di dahinya sudah berkurang signifikan. Sambil mengusap bekas ingus di sekitar pipi, ia beranjak dari tempat tidur.
"Tunggu sebentar!" teriak Ezra sengau.
Dengan langkah gontai, Ezra melangkah ke dapur. Ia mencuci mukanya di washtaffle. Air keran langsung membuat persendiannya terasa ngilu. Badannya juga seketika menggigil.
Tanpa mengelap wajah, Ezra melangkah ke depan. Hidungnya mampat sebelah, membuat napasnya terasa berat, membuatnya sedikit ngos-ngosan.
Ezra tidak mendapati sepeda motornya di ruang depan. Ia yakin Rusli yang menggunakannya. Sepatu Rusli juga tidak tampak di rak.
Meskipun tahu kalau yang berada di depan pintu adalah Gina, Ezra tetap mengintipnya melalui gorden jendela. Ia ingin memastikan gadis itu datang sendirian. Ia takut Gina datang bersama polisi lain. Namun ia berusaha menepiskan ketakutannya karena Gina belum tentu seorang polisi seperti yang didesas-desuskan.
Setelah yakin kalau Gina datang seorang diri, Ezra membuka pintu. Tampak di depannya Gina sedang berdiri sambil menjinjing kresek hitam yang cukup besar.
Gina tersenyum cemas. "Kamu baik-baik saja?"
Ezra mengangguk. Ia melangkah keluar dan duduk di kursi teras.
Gina meletakkan tas kresek ke atas meja. Ia duduk di kursi. "Aku bawakan buah-buahan."
Ezra terbatuk.
"Sudah minum obat?" tanya Gina. Wajahnya menunjukkan kecemasan.
"Sudah," jawab Ezra parau. Tenggorokannya terasa sakit.
"Semua gara-gara aku!" Gina menunduk dengan ekspresi menyesal. "Kamu semalam kehujanan kan?"
Ezra menggeleng. "Enggak kok. Uhhukk! Uhhukk! Aku pakai uhhukk! Pakai jas hujan maksudnya."
Gina mengambil tisu dari dalam tas. Ia menyodorkannya kepada Ezra.
Karuan saja Ezra menolak. Ia merasa risih karena tidak terbiasa mendapatkan perhatian seperti itu, kecuali dari ibunya.
Gina tidak peduli dengan penolakan Ezra. "Maaf," ucapnya sambil mengelap cairan bening dari hidung Ezra.
Ezra kaget. Ia hanya bisa mematung tanpa tahu harus bersikap apa. Sungguh ia merasa malu karena ingusnya dilap perempuan.
Selepas melap ingus Ezra, Gina membuang tisu ke tempat sampah.
"Kamu dari mana?" tanya Ezra basa-basi, sekadar cara untuk menyembunyikan perasaan risihnya.
"Aku dari rumah temen," jawab Gina. Ia menatap Ezra. "Aku ke sini untuk meminta maaf karena semalam nggak ngonfirmasi ke kamu kalau aku nggak bisa pulang."
Ezra tersenyum. Ia tidak mempermasalahkan itu. Yang ia gelisahkan adalah soal desas-desus tentang gadis itu.
"Sejak sore aku di rumah temenku. Rencananya selepas maghrib aku mau pulang ke kosan. Ternyata hujannya sangat deras. Rumah temenku kebocoran. Sialnya pas lagi bantuin menadah air, ponselku jatuh ke ember berisi air." Gina menjelaskan. "Ponselnya mati. Itu membuatku nggak bisa menghubungimu karena kontak kamu tersimpan di sana. Aku nggak hafal nomor kamu."
"Iya, aku paham kok," ujar Ezra. "Aku nggak mempermasalahkan itu."
"Tapi aku merasa tidak enak hati. Aku merasa bersalah!"
"Kamu nggak salah."
Gina menatap Ezra lekat-lekat. Bibirnya bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan.
"Seandainya semalam aku bisa mengabarimu kalau aku nggak bisa pulang, pasti kamu nggak akan ke kosanku, pasti kamu nggak akan sakit begini," ujar Gina merasa menyesal.
Ezra membalas tatapan Gina. "Kamu kok bisa tahu kalau aku sedang sakit?"
Gina mendesah. "Dian yang ngasih tahu."
Ezra kaget. "Dian?"
Gina mengangguk.
Ezra merasakan kejanggalan. "Kalau Dian tahu, aku nggak heran karena ia managerku, tapi kalau Dian ngasih tahu ke kamu itu aneh."
"Aneh kenapa?" tanya Gina santai.
"Ya, aku pikir kamu nggak begitu akrab dengan Dian," dalih Ezra.
Gina tersenyum. "Aku memang nggak akrab dengan Dian."
"Nah itu letak keanehannya!"
"Aneh gimana?"
"Kalian nggak akrab, terus buat apa Dia memberitahumu kalau aku sakit?" Ezra menatap Gina, menunggu reaksi gadis itu. "Lagipula, kupikir selama ini, Dian nggak tahu kalau kita....."
"Dekat?" tebak Gina sambil mengerjap.
Ezra mengangguk.
Gina tersenyum. "Itulah yang ingin aku bahas sama kamu."
Ezra tercenung. Gina memang bilang padanya ingin membahas sesuatu.
Gina menunduk dan terdiam cukup lama. Ezra pun diam. Selama beberapa saat mereka saling membisu. Sementara itu, langit tertutup awan tebal. Hujan akan segera turun, hanya tinggal menunggu waktu saja.
"Boleh aku tanya sesuatu sama kamu?" tanya Gina memecah kebisuan.
Ezra hanya mengangguk. Ia menyesal tidak mengenakan jaket karena tiupan angin membuatnya kedinginan.
"Apa kamu memberitahu Dian kalau aku menyimpan nomor ponsel kamu?" tanya Gina hati-hati.
Ezra menggeleng. "Enggak pernah."
Gina mengerjap. "Lalu dari mana Dian bisa tahu kalau aku menyimpan nomor ponsel kamu?"
Ezra mengedikkan bahu. Hanya itu respon yang bisa ia berikan. Tidak mungkin ia menjelaskan kepada Gina bahwa Eraneo bisa mengetahui semua yang ia lakukan.
"Dian juga tahu nomor ponselku," lanjut Gina. "Ia meneleponku, mengajakku ngobrol di kantornya."
"Kapan itu?' Ezra penasaran.
"Jumat siang kemarin," jawab Gina. "Aku akhirnya menemui Dian di kantornya."
Ezra mulai gelisah, takut kalau ia terkait dalam pembicaraan antara Gina dan Dian.
"Dian langsung to the point. Ia menyampaikan padaku bahwa nomor ponsel karyawan Eraneo bersifat privasi, hanya boleh diketahui pihak internal. Selanjutnya, ia bertanya apakah benar aku menyimpan nomor kamu? Aku meminta maaf dan mengakuinya. Aku sampaikan padanya bahwa semua salahku yang telah secara diam-diam missed called nomor ponsel kamu ke nomorku. Selanjutnya aku berjanji akan menghapus kontak kamu dari ponselku."
"Apa reaksi Dian?" Ezra penasaran.
"Dian mengizinkan aku menyimpan nomor kamu tapi dengan syarat jangan membagikannya ke siapa pun. Ia juga meminta nomor ponselku."
Ezra mengernyit. "Kamu nggak tanya apa alasan Dian meminta nomor kamu?"
Gina menggeleng. "Enggak."
"Terus apa lagi yang kalian bicarakan?"
Gina menatap Ezra lekat-lekat. "Gina tanya sedekat apa hubunganku sama kamu?"
Ezra terbatuk-batuk.
"Aku jawab saja kalau kita mulai dekat tapi sejauh ini hanya teman biasa," ujar Gina menceritakan. "Sebenarnya aku bisa saja menolak menjawab karena menurutku pertanyaan itu sudah masuk ke ranah privasi. Namun aku perlu menjelaskannya kepada Dian agar ia tidak salah paham."
"Iya, kamu sudah melakukan hal yang benar," timpal Ezra. "Lau Dian tanya apa lagi?"
"Nggak ada lagi sih. Selanjutnya kami hanya basa-basi dan nggak lama kemudian aku pamit karena masih ada pekerjaan."
Ezra membetulkan posisi duduk. "Aku masih heran kenapa Dian memberitahumu soal kesehatanku. Seolah-olah ia ingin agar kamu menjengukku."
Gina mengangguk. "Iya benar, menurutku juga aneh. Bahkan seandainya kita pacaran pun tetep aneh kalau ia melakukan itu. Kalau alasannya sebagai bentuk kepedulian, kenapa ia nggak menelepon orang tuamu saja?"
Ezra tersentak. Ia menangkap nada selidik dari ucapan Gina.
"Kalian memang aneh!" komentar Gina. Ekspresinya menyiratkan ungkapan geli.
"Aku juga aneh?" tanya Ezra.
Gina mengangguk pelan. "Iya, kamu juga!"
"Anehnya gimana?" Ezra khawatir Gina akan membahasnya lebih lanjut.
Gina tergelak. "Ya aneh saja. Aku merasakannya tapi susah untuk menjelaskannya. Terus terang aku semakin penasaran."
Apa yang Ezra khawatirkan terjadi. Gina mulai lagi penasaran terhadap Eraneo. Ia harus segera mengalihkannya. "Jadi itu yang ingin kamu bahas seandainya semalam kita bertemu?'
Gina mengangguk. "Aku pikir kamu harus mengetahuinya."
"Kirain mau membahas apa," ujar Ezra.
"Sebenarnya ada hal lain!" timpal Gina. "Tapi kamu sedang nggak enak badan. Mungkin lain kali saja."
Ezra penasaran. "Soal apa?"
Gina mendesah berat. "Soal perusahaanmu dan temanku yang hingga sekarang belum diketahui di mana keberadaannya."
Ini yang ingin Ezra hindari. Ia tidak mau mrmbahas apa pun perihal Eraneo, apalagi kepada Gina yang didesas-desuskan seorang polisi.
"Aku anak baru," ujar Ezra agar Gina mengurungkan niat membahas soal Eraneo. "Aku nggak tahu banyak soal perusahaan. Kalau mau membahasnya, aku sarankan kepada Dian. Ia manager kami."
Gina menggeser kursi lebih dekat kepada Ezra. "Aku hanya ingin menanyakan aktivitasmy. Barangkali saja itu bisa memberiku petunjuk untuk menemukan temanku yang hilang."
Ezra menjadi gelisah. Ia berpikir keras bagaimana caranya meyakinkan Gina agar berhenti bertanya perihal Eraneo.
"Kumohon!" Telapak tangan Gina mendarat di bahu Ezra. "Aku sadar keteranganmu nggak akan serta merta membuat temanku diketemukan, tapi satu informasi valid sekecil apa pun, bagiku sangatlah berarti."
Ezra mendengus. Ia menatap Gina sambil terkekeh. "Kamu kayak polisi saja!"
Ucapan Ezra membuat Gina tertawa. "Kalau aku polisi memangnya kenapa?"
Ezra menelan ludah. Ia belum siap seandainya nanti Gina mengaku sebagai polisi. Lebih baik ia tidak tahu karena jika tahu, ia yakin Gina akan semakin mendesaknya untuk menceritakan perihal Eraneo. Itu akan membuatnya terpojok.
"Enggak harus menjadi seorang polisi untuk mencari teman yang hilang bukan?" ujar Gina diplomatis.
"Iya memang," sahut Ezra. "Namun aku pikir, akan lebih baik jika kamu menyerahkan kasus itu kepada polisi. Mereka lebih berwenang untuk memecahkan kasus itu."
Gina mengangguk-angguk. "Kamu benar, tapi apa salahnya kalau aku juga ingin menyelidikinya?"
"Memang nggak salah tapi akan lebih baik kalau kasus itu ditangani polisi," pancing Ezra. Ia sudah tahu kalau kasus itu sudah pernah dilaporkan kepada polisi.
Gina mendesah pelan. "Itu wewenang keluarganya."
"Keluarganya sudah melapor?"
Gina menggeleng. "Aku nggak tahu. Kan aku nggak kenal keluarganya. Alamat rumahnya saja nggak tahu. Maka itu yang bisa kulakukan adalah mencoba mencari informasi."
Ezra diam. Sekarang ia merasa tidak nyaman berada di dekat Gina. Benar atau tidak desas-desus itu, Gina tetap ingin menggali informasi tentang Eraneo darinya.
Gerimis datang. Intensitasnya semakin rapat. Tiupan angin juga cukup kencang. Sontak Ezra mengangkat kedua kaki ke atas kursi karena kedinginan.
"Kamu masuk saja. Kayaknya hujannya bakal deras," saran Gina.
Ezra mendongak ke langit. Gerimis semakin rapat. Buru-buru ia beranjak masuk ke mes dan duduk di ruang depan.
Gina mengambil kresek dari atas meja. Ia membawa masuk. Bersamaan dengan itu hujan turun dengan deras, ditingkahi angin kencang.
"Sorry aku masuk!" ujar Gina tanpa sempat melepas sepatunya. Ia meletakkan kresek ke atas meja ruang depan. "Mau pulang tapi hujannya deres banget!"
"Kamu ke sini pakai kendaraan apa?" tanya Ezra, mengingat ia tidak melihat ada kendaraan di depan mesmya.
"Pakai taksi online." Gina masih berdiri. Ia menatap Ezra minta persetujuan agar dipersilakan duduk.
"Bukannya ponsel kamu rusak ya?"
Gina mengangguk. "Tadi aku ke sini pakai taksi online. Temenku yang memesan."
"Kalau begitu duduk saja dulu!" Ezra tidak tega melihat Gina terus berdiri.
Gina mengerjap. "Memangnya nggak papa?"
"Aku kan sudah mempersilakan!"
Gina terkekeh. Ia duduk di kursi. Diliriknya jam dinding, kemudian beralih menatap Ezra. "Kamu sudah sarapan belum?"
Ezra baru sadar kalau ia belum sarapan sejak makan roti tadi sehabis subuh.
"Sudah jam sembilan lho!" ujar Gina.
"Aku sudah makan roti tadi."
"Oohh!" Bibir Gina membundar. Ia menoleh ke arah jendela. Hujan semakin deras, padahal ia merasa tidak enak hati jika terus berada di sini, berduaan saja dengan Ezra.
Ezra membuka kresek bawaan Gina. Isinya buah-buahan seperti apel, jeruk, dan buah naga. Selain itu ada juga satu boks brownies.
"Browniesnya enak lho!" ujar Gina. Ia mengeluarkan boks brownies dan meletakkannya ke atas meja. Dibukanya boks kemasannya.
Selera makan Ezra sedang buruk. Meskipun ia menyukai brownies tapi kali ini ia merasa malas untuk menikmatinya.
"Udah diiris-iris lho, tinggal ambil." Gina menyodorkan boks brownies kepada Ezra. "Cobalah!"
Tidak mau membuat kecewa Gina, terpaksa Ezra mencomot satu irisan bronies. Seketika lidahnya terasa asam ketika ia baru membuka mulut. Meskipun begitu ia tetap memakannya.
"Enak kan?" tanya Gina.
"Mungkin enak, tapi lidahku lagi nggak bersahabat," ujar Ezra sambil mengunyah brownies.
"Setidaknya perutmu terisi makanan." Gina meletakkan kembali boks brownies ke atas meja.
Ezra tidak merasakan kelezatan kue brownies yang ia tebak harganya mahal itu. Namun ia merasa senang karena berhasil menelan satu irisannya.
"Lagi ya?" bujuk Gina.
"Nanti saja." Ezra menatap Gina. "Kenapa sih kamu sangat perhatian sama aku?"
Gina termenung mendengar pertanyaan Ezra. Sejak awal ia sudah menduga kalau Ezra pasti akan bertanya seperti itu.
"Maaf, bukannya aku kege-eran, tapi aku merasa diperhatikan sama kamu."
Gina tersenyum dipaksakan. Ada satu alasan kenapa ia begitu perhatian kepada Ezra. Sayangnya ia tidak bisa mengatakannya kepada lelaki itu sekarang.
"Atau mungkin itu hanya perasaanku saja?" tebak Ezra.
Gina menatap Ezra teduh. "Aku melakukannya secara spontan saja. Kalau kamu merasa diperhatikan, mungkin aku memang perhatian sama kamu."
Ezra menarik napas dalam-dalam. Ia menduga perhatian Gina tidak lebih karena gadis itu ingin mengorek keterangan darinya perihal Eraneo. Namun buru-buru ia membuang prasangka buruknya itu. Bisa saja Gina memang tulus melakukannya.
"Aku nggak tahu, apakah yang kulakukan padamu disebut perhatian. Yang pasti aku nggak melakukan itu ke semua orang." Gina melirik Ezra sekilas, lantas mendaratkan pandangan ke atas meja.
"Apa pun itu, aku harus berterima kasih sama kamu," ucap Ezra tulus.
Gina mengangguk tanpa menoleh. "Aku mau pulang."
"Masih hujan," ujar Ezra mengingatkan.
Gina menoleh. "Apa kamu mengkhawatirkan aku?"
Ezra bingung harus menjawab apa. Ia kaget, kenapa tiba-tiba Gina menjadi melankolis.
'Apakah Gina menyukaiku?' tanya Ezra dalam hati.