"Gina polisi?' Ezra menatap mata Rusli lekat-lekat, kaget atas ucapan anak itu.
"Baru desas-desus." Rusli meluruskan. "Belum ada yang bisa membuktikannya."
Rasa penasaran Ezra meletup-letup, membuatnya mengabaikan rasa nyeri di kepala. "Desas-desus di mana? Kok aku baru dengar? Apa Dian juga tahu tentang itu?"
Sadar Ezra sangat penasaran, Rusli mencoba menenangkannya. "Aku nggak tahu siapa yang pertama kali mengutarakan itu, tapi desas-desus itu semakin menyebar, bukan hanya di kosan pria tapi juga di kosan wanita."
"Tunggu!" Ezra menyingkap selimut separuh badan. Ia bangkit dan duduk bersila. "Maksudnya kosan pria dan wanita itu di mana?"
"Karyawan Eraneo dikumpulkan di sebuah rumah kos yang cukup besar. Seperti sudah kuceritakan kemarin, kosan itu dibagi menjadi dua bagian, untuk pria dan wanita." Rusli menjelaskan. "Aku pernah tinggal di sana sebelum dipindahkan ke sini."
"Ada berapa penghuni kosan itu?"
"Setelah aku pindah ke sini, kosan pria dihuni tujuh orang. Kalau kosan wanita jumlah penghuninya aku nggak tahu. Mungkin sekitar empat sampai tujuh."
Ezra menelan ludah. Ia protes. "Kenapa aku nggak ditempatkan di sana?"
"Sepengetahuanku sih, kalau anak baru selalu ditempatkan di sini dulu, baru dipindah ke sana."
Ezra bisa menerima dalih Rusli. Ia memang masih baru sehingga ditempatkan di mes.
"Konon di kosan sana, nggak ada kamera pengawas. Ada sih tapi di ruang tamu, dapu, teras, sama di parkiran. Kalau di kamar nggak ada."
"Enak banget!"
Rusli tersenyum sinis. "Seandainya kita ditempatkan di hotel sekalipun, menjadi karyawan Eraneo itu nggak ada enak-enaknya sama sekali."
"Tapi paling enggak, kita masih punya privasi!"
Rusli memahami perasaan Ezra. "Dian pernah memberitahuku bahwa hanya yang dianggap layak yang berhak menempati kosan itu."
"Layak gimana maksudnya?"
Rusli mendesah. "Eraneo mengevaluasi setiap karyawannya. Yang mereka anggap tidak bertingkah aneh akan ditempatkan di sana. Sedangkan yang masih labil dan banyak tingkah, akan ditempatkan di sini."
"Kenapa Dian nggak ngasih tahu aku juga?" Ezra protes.
Rusli menepuk bahu Ezra. "Eraneo tidak sama dalam memperlakukan setiap karyawannya. Hak istimewa yang kamu dapatkan belum tentu aku dapatkan, begitu juga sebaliknya."
"Aku masih belum paham!"
Rusli beringsut, lebih mendekat kepada Ezra. "Contoh sederhana saja, misalnya kamu diberi toleransi berinteraksi dengan Gina, sementara yang lainnya enggak."
Sekarang Ezra mulai paham, namun ia merasa geli mendengar ucapan Rusli. "Aku bisa berinteraksi dengan Gina itu kamu anggap sebagai sebuah keistimewaan?"
"Menurut Eraneo seperti itu!" sergah Rusli.
"Kamu tahu dari siapa?"
"Dian memberitahuku!"
Ezra mengernyit. "Dian memberitahukan kepadamu bahwa aku mendapatkan hak istimewa diberi toleransi untuk berhubungan dengan Gina?"
"Kurang lebihnya seperti itu," jawab Rusli. "Dian juga bilang, keistimewaan yang aku dapatkan adalah mendapatkan banyak informasi yang karyawan lain tidak mendapatkannya. Karyawan lain pun mungkin begitu. Mereka mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan lainnya."
Ezra berusaha memahami penjelasan Rusli.
"Sekarang kamu paham kan kenapa kamu tidak mengetahui sesuatu yang aku ketahui?" tanya Rusli.
Ezra mendengus.
"Dian diberi hak istimewa juga," beritahu Rusli.
"Apa itu?" Ezra penasaran.
"Kamu belum tahu?" Rusli balik bertanya.
Ezra menggeleng.
"Dian diperbolehkan membuat kesepakatan dengan pihak bank tempatnya menabung," beritahu Rusli. "Isi kesepakatan itu adalah, jika terjadi sesuatu terhadap Dian, semua saldo rekeningnya akan diserahkan kepada orang tuanya."
Ezra sudah tahu soal kesepakatan itu. Dian sendiri yang pernah menceritakan kepadanya.
"Kita nggak diberi keistimewaan itu," keluh Rusli.
"Lalu buat apa uang gaji kita kalau nggak bisa diberikan kepada keluarga?" protes Ezra.
"Kita boleh mentransfernya atas persetujuan manager," jawab Rusli. "Kamu ajukan saja kepada Dian. Aku juga melakukan itu."
Ezra mendengus sambil memegangi dahinya. Betapa beratnya masalah yang sedang ia tanggung saat ini, terperangkap sindikat mafia dan sulit keluar dari situasi buruknya.
Bagi Ezra, lebih baik berada di tahanan polisi ketimbang terperangkap pada lingkungan mafia. Kemerdekaannya terenggut. Ia tidak bisa berhubungan dengan dunia luar. Jika nekat, akibatnya bisa fatal. Bahkan untuk melaporkan kepada polisi saja ia tidak berani. Resikonya, alih-alih berhasil, sebelum melakukannya Eraneo akan lebih dulu mencegahnya. Sudah banyak contohnya. Semua karyawan Eraneo yang berusaha melapor kepada polisi, mengalami kegagalan dan dihukum berat.
Eraneo memiliki sistem proteksi yang sangat ketat. Mereka memiliki banyak pengawas dan dilengkapi alat-alat canggih. Mereka akan langsung bereaksi jika ada karyawan yang dianggap berulah. Hebatnya lagi, para karyawan hanya mengenal pimpinan sampai pada level manager saja. Pimpinan di atas manager tidak pernah diketahui.
Ezra menjadi teringat kata-kata Dian bahwa manager adalah jabatan hukuman. Tugasnya sangat berat. Segala masalah harus berakhir di tangannya, sehingga jika kejahatan Eraneo terbongkar managerlah yang pertama kali akan dimintai pertanggungjawaban.
Jika mengingat itu, sebenarnya Ezra kasihan kepada Dian. Namun jika mengingat selama ini ia selalu ditekan manager itu, ia menjadi benci padanya.
"Kalau mengantuk, tidur saja," saran Rusli.
Ezra terkesiap. Ia kembali meringkuk di balik selimut. Efek obat pereda gejala flu membuatnya mengantuk. Namun bayangan wajah Gina membuatnya tidak bisa tidur.
Sejak pertama kali mengenal Gina, Ezra memang merasakan kalau gadis itu sedikit kepo. Gina sering bertanya tentang Eraneo yang sebenarnya bukan urusan gadis itu. Itu membuatnya berpikir bahwa tidak mustahil Gina adalah seorang polisi yang sedang melakukan penyelidikan.
Masih terbayang jelas di benak Ezra momen ketika pertama kali ia bertemu dengan Gina. Gadis itu yang lebih dulu mengajak berkenalan. Padahal kebanyakan perempuan cantik dan seksi akan bersikap jual mahal kepada lelaki yang baru dikenalnya.
Gina memang supel di mata Ezra, namun ia tetap saja merasa terkejut ketika gadis itu mengajaknya makan malam. Besoknya Gina mengajaknya jalan-jalan pagi. Setelah itu gadis itu selalu memberikan perhatian-perhatian yang menurutnya terlalu berlebihan kepada orang yang baru dikenalnya.
Ezra bukan tipe lelaki yang mudah tertarik kepada lawan jenis. Faktanya ia tidak merasa kege-eran dengan perhatian-perhatian gadis cantik dan seksi itu. Lagipula Ezra merasa sadar diri, bahwa dirinya bukan tipe lelaki yang selevel dengan Gina.
Memang Ezra sadar, wajahnya cukup tampan. Posturnya juga ideal. Namun menurut pemikirannya, ia bukanlah tipe lelaki idaman Gina. Itulah alasan kenapa sampai saat ini perasaannya kepada gadis itu biasa-biasa saja.
Perhatian-perhatian Gina dan cara gadis itu mengakrabkan diri sempat membuat Ezra merasa aneh. Sekarang ia mulai curiga, jangan-jangan Gina memang benar seorang polisi yang sedang memanfaatkannya untuk mengorek keterangan tentang Eraneo.
Jika Gina ternyata memang seorang polisi, maka Ezra penasaran dengan lelaki berkalung liontin huruf R itu. Ada kaitan apa di antata keduanya? Apakah lelaki itu adalah pengawas Eraneo yang ditugaskan khusus untuk mengawasi pergerakan Gina? Jika benar demikian, Ezra menduga kalau Eraneo sudah curiga kepada Gina.
"Ez, aku mau mandi, setelah itu aku pinjam sepeda motornya ya, buat beli gas?" ucap Rusli.
Ezra terkesiap. Ia menoleh. "Pakai saja motornya. Kuncinya ada di atas meja."
Rusli meraba kening Ezra. "Lumayan, mulai berkeringat."
"Sudahlah, aku akan baik-baik saja kok. Kamu nggak usah mencemaskanku." Ezra menarik selimut hingga menutupi wajah.
"Nanti aku kabari Dian kalau kamu sakit." Rusli merapikan selimut Ezra.
"Nggak usah."
"Manager harus tahu kondisi bawahannya!"
"Nggak usah, Rus!"
Rusli mendengus. "Aku tetap akan mengabari Dian."
Ezra mendesah pasrah. Mengingat Dian, tiba-tiba ia ingat sesuatu.
"Rus!" panggil Ezra.
Rusli yang sedang bersiap untuk ke kamar mandi, menunda niatnya. "Kamu membutuhkan sesuatu?"
Ezra memandang Rusli. "Menurutmu, Dian tahu nggak soal desas-desus itu?"
Rusli mengedikkan bahu. "Aku nggak tahu pasti. Namun logikanya, Dian pasti sudah mendengarnya. Ia kan seorang manager. Pengawas akan memberitahunya."
"Tapi kenapa Dian malah membiarkan aku berinteraksi dengan Gina?" tanya Ezra heran. "Kalau ia sudah pernah mendengar desas-desus itu, seharusnya ia menjauhkanku dari Gina."
Rusli mengatupkan bibir. Ia mematung sambil memikirkan sesuatu. Sejurus kemudian ia tersenyum sinis. "Eraneo selalu merencanakan segala sesuatunya secara matang. Mereka berpikir beberapa langkah di depan kita. Sehingga, cara pikir kita juga paling nggak harus sejajar dengan mereka."
Ezra tertegun mendengar kata-kata Rusli. Dalam hati ia sepakat dengan anak itu.
"Kamu nggak pernah tahu, apa yang sedang direncanakan Eraneo." Rusli mendesah pelan. "Termasuk kenapa mereka membiarkan kamu berhubungan dengan Gina. Bisa jadi mereka justru mendorong agar kamu dekat dengan Gina karena mereka punya maksud tertentu."
Apa yang dikemukakan Rusli membuat Ezra sadar bahwa segala kemungkinan bisa terjadi. Sekarang ia menjadi cemas, kalau-kalau Eraneo sengaja mengumpankan dirinya kepada Gina. Namun, buru-buru ia menyanggah dugaannya sendiri.
Rusli mendekati Ezra. "Aku mau tanya, Dian pernah menyinggung soal Gina nggak?"
Ezra berpikir, mengingat-ingat sesuatu. "Dian pernah mengatakan yang intinya adalah aku dilarang berhubungan dengan dunia luar, tapi Gina adalah pengecualian."
"Nah!" Rusli semakin mendekat. "Bisa jadi itu adalah hak istimewa buatmu, tapi bisa jadi itu memang direncanakan Eraneo."
Ezra menelan ludah. Ia menjadi cemas.
"Tapi kamu nggak usah terlalu takut. Yang penting kamu tetap mematuhi peraturan Eraneo," ujar Rusli memberi saran.
Ezra mendesah berat. Nyeri di dahinya mulai berkurang, tapi pikirannya menjadi pusing memikirkan desas-desus tentang Gina.