Gejala Flu

1315 Kata
Bangun tidur, kepala Ezra rasanya pusing. Di sekitar dahi terasa nyeri. Hidungnya juga mampat. Tadi ketika menyentuh air keran untuk berwudhu, ia dilanda bersin-bersin. Badannya terasa menggigil tapi suhunya cukup tinggi.  Meskipun merasakan gejala demam dan flu, Ezra tetap memaksakan diri untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama Rusli. Sebagai penganut agama yang taat ia tidak bisa meninggalkan kewajiban sholat, dalam kondisi apa pun dan di mana pun.  Selepas salam, seperti biasa Ezra dan Rusli bersalaman.  "Suhu badanmu tinggi sekali!" Rusli cemas.  Ezra menggeleng. "Nggak papa, paling demam saja."  Rusli memutar badan, agar menghadap ke arah Ezra secara sempurna Ia memegang dahi Ezra. "Kudengar tadi kamu juga bersin-bersin. Kamu mengalami gejala flu tuh. Aku antar ke puskesmas ya?"  "Nggak usah," ujar Ezra. Suaranya serak. "Teruskan saja zikirnya."  Rusli menatap Ezra sedikit cemas. "Jangan sepelekan flu dan demam!"  "Beneran, aku nggak papa." Ezra berusaha meyakinkan Rusli. "Kalau ke puskesmas paling juga dikasih vitamin sama pereda gejala flu. Aku punya stok obat kok. Tenang saja!"  Rusli mendengus. "Jangan biasakan minum obat warung!"  Ezra terkekeh sambil terbatuk-batuk. "Uhhuk! Uhhuk! Aku juga nggak pernah minum obat warung."  "Terus kamu mau minum obat apa?" tanya Rusli heran.  "Obat yang aku beli di minimarket." Ezra berdiri dengan menanggung badan meriang. Ia melipat sajadah dan rebahan ke atas kasur.  Rusli bangkit dari sajadahnya. Ia menju lemari dan membukanya. Dicarinya obat pereda gejala flu. Ia mengacungkannya ke arah Ezra. "Ini obat siapa?"  "Obatku," jawab Ezra sambil menahan nyeri di dahi.  Rusli mendengus. "Ini namanya obat warung!"  Ezra menggeleng sambil bersin. "Aku membelinya di minimarket, bukan di warung."  Rusli melirik Ezra sebal. Ia mengembalikan obat ke dalam lemari, kemudian menutupnya lagi.  Rusli mendekati Ezra. Ia menyelimuti anak itu dari kaki hingga sebatas leher. "Aku bikinin teh hangat dulu."  Ezra diam saja. Ia menjadi tidak enak hati karena sudah membuat Rusli repot. Demam dan flu baginya hanyalah gejala umum yang tidak perlu mendapatkan perawatan medis. Namun ia sadar, Rusli memiliki pandangan berbeda.  Ezra menarik sepasang lutut. Ia meringkuk di balik selimut. Badannya terasa menggigil. Ia memejamkan mata, berharap rasa nyeri di dahinya berkurang. Pada saat seperti ini ia menjadi teringat ibunya.  Sedih hati Ezra mengingat ibunya. Biasanya saat ia sedang sakit, perempuan yang melahirkannya itu akan mengusap dahinya, kemudian memijit kakinya. Bahkan jika sakitnya cukup berat, ibunya sampai tidur dalam posisi duduk di dekatnya.  Tanpa bisa ditahan, air mata Ezra mengalir. Ia merindukan kedua orang tuanya, terutama ibunya. Hatinya sesak, mengingat kenyataan bahwa dirinya sekarang tidak bisa lagi menghubungi mereka, meskipun sekadar menelepon untuk menananyakan kabar. Eraneo tidak akan membiarkannya melakukan itu.  Pedih hati Ezra jika mengingat bahwa dirinya belum tahu akan sampai kapan terperangkap dalam sindikat mafia. Saat ini ia hanya bisa menjaga harapan saja, belum tahu harus bagaimana cara keluar dari situasi buruk ini.  Selain kepada orang tua, Ezra juga merindukan Alika. Setiap mengingat nama itu, perasaan bersalahnya semakin besar. Seandainya saja ia mau mendengarkan kata-kata detektif itu, mungkin saat ini ia masih bekerja pada perusahaan Jacky. Pasti ia juga masih bisa berkumpul dengan keluarganya.  Air mata Ezra semakin deras mengalir. Rasa bersalah kepada orang tua dan Alika membuat hatinya semakin tidak keruan. Satu-satunya hal yang bisa menguatkannya adalah ia masih memelihara harapan. Ia juga mulai menemukan kembali semangat untuk terus melanjutkan misi, menemukan jejak Septi.  Buru-buru Ezra menyeka air mata mnggunakan selimut ketika Rusli datang membawa segelas teh hangat dan dua bungkus roti.  "Minumlah biar hangat. Dimakan juga rotinya, terus minum obat minimarketmu itu!" suruh Rusli. Ia meletakkan teh dan roti ke atas meja.  Ezra bangkit. Ia duduk bersila. "Makasih, Rus. Maaf jadi merepotkanmu."  "Nggak usah berpikir begitu. Kita kan satu nasib. Kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama jika aku sakit bukan?" Rusli mengambil obat dari atas lemari. Ia meletakkannya ke atas meja. "Sebelum minum obat, kamu harus habiskan dulu minimal satu bungkus roti."  Ezra mengangguk. Ia mengambil teh hangat dari atas meja, lalu meneguknya sedikit. Badannya sedikit merasa hangat.  Rusli menyobek plastik kemasan roti. Ia menyerahkannya kepada Ezra. "Habiskan, baru diminum obatnya."  Meski lidahnya terasa pahit dan asam, Ezra paksakan untuk memakan roti pemberian Rusli. "Kamu bawa banyak banget makanan ternyata ya?"  "Aku suka ngemil!" ujar Rusli. "Aku punya asam lambung, jadi harus selalu sedia makanan. Kalau enggak, perutku bisa mual. Napasku juga terasa sesak jika asam lambungku naik."  "Mag?" tebak Ezra sambil mengunyah roti.  "Semacam itulah," jawab Rusli. "Kalau kusebut nama medisnya kamu pasti akan pusing."  Ezra tertawa, membuat perutnya tertarik dan sedikit merasa mual.  "Kamu semalam kehujanan kan?" tebak Rusli. "Sepeda motormu kotor semua. Sepatumu juga basah."  Ezra hanya melirik saja, tidak merespon ucapan Rusli.  "Sebenarnya kamu ke mana sih?"  "Ke rumah temen," jawab Ezra.  "Nggak usah melakukan yang aneh-aneh. Banyak pengawas!"  "Cuman mengunjungi temen."  Rusli mendengus. "Kita kan nggak boleh berhubungan dengan orang luar!"  "Yang ini beda," dalih Ezra keceplosan.  "Beda gimana?" Rusli penasaran.  Terlanjur keceplosan, Ezra akhirnya berterus terang. "Aku punya temen namanya Gina. Ia bekerja di kantor sebelah. Kata Dian, kalau sama Gina, nggak papa."  Rusli terhenyak. "Gina yang seksi itu?"  "Kamu kenal?" Ezra balik bertanya.  "Yang dulu kos di depan mes ini bukan?" Rusli memastikan.  Ezra mengangguk.  Dahi Rusli mengerut. "Jadi semalam kamu ke kosan Gina?"  Ezra cengar-cengir. "Kami cuman temen kok, nggak ada hubungan khusus."  Rusli menatap Ezra. "Rumah kosan Gina itu sangat jauh dari sini. Gila, kamu semalam hujan-hujanan sejauh lima kilometer cuman buat nemuin Gina?"  Ezra mengernyit. "Kamu tahu kosan Gina yang sekarang?"  Rusli mendesah. "Kosan Gina itu bersebelahan sama kosanku sebelum dipindah ke sini."  Ezra menghentikan kunyahannya. "Serius?"  Rusli lebih mendekat kepada Ezra. "Hati-hati sama Gina!"  Dahi Ezra mengernyit. "Kenapa?"  Rusli menatap Ezra lekat-lekat. "Aku nggak bisa jelasin, tapi yang pasti Gina itu aneh!"  Ezra mengerjap kaget. "Aneh kenapa?"  Alih-alih menjawab, Rusli mendesah tertahan. "Pokoknya hati-hati saja."  Ezra menelan kunyahan terakhir. Ia ingin bertanya lebih jauh soal ucapan Rusli tapi ia harus meneguk tehnya agar tenggorokannya tidak seret.  "Diminum obatnya!" suruh Rusli. "Aku mau masak dulu!"  "Masak apa?" Ezra mengambil obat yang disediakan Rusli, kemudian meminumnya.  "Sayur sop, biar badanmu cepat pulih!" Rusli beranjak dari tempat tidur. Sambil berjalan menuju dapur ia berkata. "Di kulkas masih banyak sayuran, sayang kalau dibuang."  Membayangkan sayur sop, membuat selera makan Ezra hilang. Bukannya ia tidak suka sayur, tapi dalam keadaan badan meriang seperti sekarang ini, membuatnya tidak berselera dengan makanan berkuah.  Ezra melirik satu bungkus roti tersisa. Ketimbang makan sayur, ia lebih memilih untuk memakan roti itu. Namun jika nanti ia tidak memakan sayur, ia merasa tidak enak hati karena Rusli sudah memasak untuknya.  "Sorry, Ez!" Rusli datang dari dapur sambil memasang wajah kecewa. "Baru kunyalakan beberapa saat, gas habis. Untung tadi masih sempat buat merebus air."  "Alhamdulillah!" ucap Ezra spontan. Itu berita bagus, berarti ia tidak jadi makan sayur sop.  Rusli tidak paham maksud Ezra. "Alhamdulillah?"  "Eh, maksud saya, inna lillahi wa inna ilaihi rojiun," ujar Ezra asal.  "Tenang saja, aku beli gas dulu!"  "Jam segini mau beli gas di mana? Warung kan masih pada tutup."  "Di kampung sebelah ada warung yang bukanya sejak subuh kok."  "Kejauhan. Pagi ini sarapannya beli saja."   Rusli mengedikkan bahu. "Ya sudah." Ia duduk di dekat Ezra.  Ezra kembali merabahkan diri. "Aku rebahan nggak papa kan?"  "Kamu memang harus rebahan. Istirahat saja, mumpung sekarang hari minggu."  Ezra mengangguk. Ia menarik selimut, menutupi badannya.  "Nanti aku boleh pinjam sepeda motornya enggak?" tanya Rusli berharap. "Mau ambil sesuatu di kosan. Ada barang yang tertinggal."  "Boleh."  "Makasih ya?"  "Santai saja. Itu juga kan sepeda motor perusahaan," ujar Ezra.  Rusli tersenyum. "Oh iya, sekalian aku keluar, kamu mau nitip apa?"  Ezra menggelang. "Aku nggak pengen apa-apa. Cuman pengen tidur lagi. Hehehe."  Rusli tersenyum meledek. "Nitip salam buat Gina nggak?"  Ezra tertawa.  "Aku juga cuman bercanda kok. Aku malas bertemu Gina," ujar Rusli.  "Kenapa?" Ezra penasaran. "Sebenarnya siapa sih Gina, sampai kamu minta aku hati-hati padanya?"  Rusli mendesah. "Aku sebenarnya nggak punya masalah sama Gina. Kami juga cuman saling kenal nama saja."  "Terus kenapa kamu nyuruh aku berhati-hati?"  Rusli menatap Ezra lekat-lekat. "Ada desas-desus kalau Gina itu seorang polisi!"  Mata Ezra terbelalak. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN