Meskipun sangat lelah, Ezra tetap mendatangi kosan Gina. Hujan deras juga tidak menyurutkannya. Ia merasa tidak enak hati jika membatalkannya karena kemarin ia sudah menolak dikunjungi gadis itu.
Jika menuruti keinginan, Ezra pasti sudah terlelap di mes. Keadaan hujan deras disertai tiupan angin kencang pastilah lebih nyaman jika menarik selimut di atas kasur, begitu pikir Ezra. Apalagi sejak tadi pagi sampai sore ia mendapatkan banyak orderan. Itu membuatnya sangat lelah dan membutuhkan istirahat.
Tadi sebelum keluar, Ezra ditanya Rusli perihal tujuan kepergiannya. Ia sempat kelabakan. Jika menjawab mau mengunjungi teman, itu akan membuat Rusli heran. Karyawan Eraneo tidak diperbolehkan berhubungan dengan orang luar. Namun jika ia menjawab hanya sekadar jalan-jalan pastilah lebih aneh lagi karena cuaca sedang buruk. Akhirnya sambil keluar rumah, Ezra hanya menjawab ada perlu. Beruntung Rusli tidak bertanya lagi.
Dalam perjalanan, Ezra bukan hanya harus menahan gigil dan lelah saja, ia juga harus menahan sabar karena pada sebuah ruas jalan menuju kosan Gina digenangi banjir. Jika ia memaksakan diri menerobos genangan tersebut, kemungkinan sepeda motornya bisa mogok. Terpaksa Ezra mencari jalan alternatif.
Tidak sulit bagi Ezra mencari jalan alternatif karena ia mengenal dengan baik jalan-jalan di kota Semarang. Masalahnya adalah, jarak tempuh yang harus dilalui dua kali lipat lebih jauh dari jalan utama. Ia harus memutar dan melalui gang-gang sempit.
Kendala yang harus dihadapi Ezra menuju rumah kos Gina tidak hanya itu saja. Ia masih harus melewati banjir dari luapan air sungai. Beruntung genangannya tidak terlalu dalam, sehingga ia mantap untuk melewatinya.
Setelah melewati genangan tersebut, perjalanan Ezra lancar sampai di depan rumah kos Gina. Intensitas air hujan juga mulai berkurang, hanya saja angin masih bertiup kencang.
Ezra memarkir sepeda motor di area yang disediakan pemilik kos. Ia melepas jas hujan. Saat akan menyampirkannya ke atas jok, tiba-tiba pandangannya tertambat kepada sebuah sepeda motor di sebelahnya. Plat nopolnya sama persis dengan sepeda motor yang pernah membuntutinya ketika sedang lari pagi bersama Gina hari minggu lalu.
Buru-buru Ezra menyampirkan jas hujan ke atas jok motor dan bergegas menuju teras kosan Gina. Ia yakin, pemilik sepeda motor itu berada di kosan itu.
Di teras kos, Ezra melihat ada seorang lelaki berbadan tinggi tegap sedang duduk sendirian. Rambutnya gondrong sebahu, mengenakan jaket hitam.
"Permisi!" ucap Ezra kepada lelaki itu.
Lelaki itu menoleh, kemudian mengangguk kaku. Wajahnya tampak angker, tidak ada senyum sama sekali.
Ezra melewati lelaki itu dengan sopan. Ia menuju pintu dan memencet bel.
Sambil menunggu seseorang keluar menemuinya, Ezra melirik lelaki di dekatnya itu. Spontan ia terbelalak ketika pandangannya terfokus pada kalung yang melingkar di leher lelaki itu. Pada kalung tersebut terdapat liontin bermodel sebuah huruf 'R'.
Ezra menjadi teringat kejadian ketika ia makan malam di kosan Gina yang lama, malam minggu lalu. Dari teras kosan Gina, ia melihat seorang lelaki dengan penampilan lusuh sedang duduk di pos ronda. Waktu itu ia sempat menanyakan perihal lelaki itu kepada Gina dan gadis itu memberitahunya bahwa lelaki itu adalah orang gila.
Saat itu Ezra percaya saja dengan keterangan Gina. Gadis itu lebih lama tinggal di sana sehingga mengenal lingkungannya.
Ezra belum bisa memastikan, apakah lelaki di dekatnya sekarang adalah lelaki yang berada di pos ronda malam minggu lalu? Keduanya memiliki ciri yang sama yaitu berkalung liontin berhuruf 'R'. Perbedaannya adalah dari segi penampilan keduanya tampak jauh berbeda. Andai saja Ezra bisa mengenali wajah lelaki di pos ronda itu, pasti sekarang ia bisa membandingkannya dengan lelaki di dekatnya ini.
Naluri detektif Ezra seketika muncul ketika ia teringat pada sepeda motor di parkiran tadi. Ia curiga, jangan-jangan itu milik lelaki di sebelahnya. Jika kecurigaannya nanti terbukti maka, ia merasa harus berhati-hati dengan lelaki itu.
"Cari siapa, Mas?" tanya seorang perempuan berusia empat puluh tiga tahun. Ia adalah Ririn, ibu kos di sini.
Ezra terkesiap. Buru-buru ia menyungging senyum ramah kepada Ririn. "Saya Ezra, temannya Gina."
Ririn mengerjap. "Mas mau ketemu sama Gina?"
Ezra mengangguk. "Iya, Bu. Gina ada?"
Ririn mendesah sambil mengulas senyum. "Mohon maaf, Gina belum pulang. Tadi saya sudah menghubunginya dan ia mengabarkan bahwa malam ini terpaksa menginap di rumah temannya. Jalan menuju ke sini banjir."
Ezra merasa kecewa. Jauh-jauh ia datang, mengabaikan lelah dan menghadapi rintangan, ternyata yang dituju tidak ada di tempat.
"Kenapa nggak ditelepon saja?" Ririn menyarankan.
Ezra mengangguk dengan senyum dipaksakan. "Iya, nanti saya telepon."
Ririn melirik lelaki berkalung yang sedang duduk di teras. Ia berbisik kepada Ezra. "Lelaki itu juga mengaku temannya Gina. Saya sudah memberitahu kalau Gina malam ini nggak pulang, tapi ia tetap saja menunggu. Mau saya usir tapi kok nggak tega."
Ezra tersenyum masam, merespon keluhan Ririn. Meskipun kecewa ia tidak bisa berbuat banyak. Ia harus pulang. "Kalau begitu saya pamit. Tolong sampaikan salam saya buat Gina."
Ririn mengangguk. "Iya nanti saya sampaikan."
Ezra mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Ririn. Saat melewati lelaki itu, Ezra memperhatikan dengan seksama kalung itu.
"Mari, Mas!" pamit Ezra kepada lelaki itu.
Lelaki itu mengangguk saja dengan ekspresi datar.
Hujan sudah mulai reda, menyisakan gerimis. Ezra melangkah gontai menuju parkiran. Terbayang dalam benaknya bagaimana beratnya ia harus kembali ke mes dalam keadaan lelah dan rutenya berliku.
Karena hujan sudah reda, Ezra melipat jas hujannya dan memasukkannya ke dalam bagasi jok. Ia mengenakan jaket dan helm, lalu menyalakan mesin motor.
Ezra menjalankan sepeda motor, meninggalkan area parkir. Ia tidak langsung pulang, tetapi menuju angkringan di seberang kosan Gina.
Setelah memarkir sepeda motor ia memesan segelas s**u jahe. Ia memilih posisi agar bisa memperhatikan area parkir kosan Gina dengan leluasa. Ia ingin tahu siapa sebenarnya pemilik sepeda motor yang pernah membuntutinya hari minggu lalu. Ia curiga, jangan-jangan pemiliknya adalah lelaki berkalung liontin berhuruf 'R' itu.
Sampai satu gelas besar s**u jahe Ezra habis dan lima gorengan ia santap, sepeda motor itu masih berada di tempatnya. Ezra menjadi mengantuk dan kedinginan. Ia sudah tidak tahan ingin segera beristirahat di mes. Akhirnya ia membayar makanan dan minumannya, kemudian bersiap pulang ke mes.
Baru saja Ezra akan meninggalkan angkringan, tiba-tiba ia melihat lelaki berkalung itu keluar dari kosan Gina. Ezra memperhatikannya dengan seksama. Lelaki itu mendekati sepeda motor itu dan menyalakan mesinnya.
Lelaki itu menjalankan sepeda motornya, meninggalkan area parkir kosan Gina. Kecurigaan Ezra terbukti, lelaki itu membawa motor yang pernah membuntutinya.